Sweet Police

Sweet Police
Persaingan



Selama satu bulan pertemuan. Davion masih saja terganggu sejak kehadiran Anna.


Dia benar-benar bekerja keras untuk tetap fokus terhadap pekerjaannya. Hidupnya kini benar-benar berubah dratis semenjak bertemu dengan Anna. Prioritas utamanya seakan teralihkan oleh Anna. Berkali-kali Davion terlihat menghela nafas panjang dan tetap fokus dengan pekerjaannya. Bayangan Anna selalu ada dipikirannya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


" Masuk."


Zia terlihat membuka pintu.


" Ini semua dokumen yang Anda minta dan harus mendapat persetujuan dari Pak Agung."


" Ok." Davion langsung ke ruangan Ayahnya.


Agung langsung mempersilahkan putranya itu masuk ke ruangannya.


" Oya kebetulan juga ada beberapa yang perlu Ayah bahas denganmu." Tutur Agung.


" Ayah baru saja berbicara dengan Robert lewat telepon. Kamu tahu kan Robert salah satu pengusaha dalam bidang entertainment Amerika itu. Dia mencari disverifikasi. Dua bulan lagi baru kesini. Dan Ayah ingin memberikan klien ini pada Anna." Jelas Agung


Davion terkejut.


" Apa Daddy tidak salah ambil keputusan? Anna masih baru Dad."


" Tapi Anna bagus kinerjanya Dav."


" Dia baru sebulan disini Dad."


" Ya Dia baru sebulan. Tapi hasil kinerjanya benar-benar bagus. Bahkan Kau bisa lihat sendiri, Dia datang paling awal dan pulang paling terakhir. Ide-idenya baru dan cemerlang. Kau harus menilai itu Dav."


Davion benar-benar terkejut dengan penilaian dan kepercayaan Ayahnya terhadap Anna. Davion merasa benar-benar telah kecolongan. Satu bulan membuat Davion tidak fokus bekerja. Faktanya Anna malah membuat dobrakan tercepat untuk karirnya. Bahkan benar-benar tumbuh menjadi saingannya.


" Baiklah Dad. Dav mengerti apa yang Daddy katakan. Tapi Robert bukan klien biasa Dad. Seseorang yang bisa membawanya sampai zona akhir itu Aku Dad." Jelas Davion masih meragukan kemampuan Anna.


" Begini saja. Kita masih mempunyai waktu. Datanglah Kalian berdua dengan proposal masing-masing. Lalu persentasikan didepan Daddy. Siapa yang bisa membuat Daddy terkesan. Dia yang mendapatkan klien tersebut."


" Baiklah Dad."


Davion kembali keruang kerjanya. Dia meminta Zia memanggilkan Anna ke ruang kerjanya.


Anna datang dan duduk. Ekspresi wajahnya terlihat penasaran.


" Ada apa, Dav?"


Davion terlihat sekilas menggelengkan kepala. Dia mengingatkan dirinya untuk tetap fokus.


" Robet. Maksudku, Ayahku ingin Kau membuat proposal dan lalu dipresentasikan. Sebuah latihan untuk mendapatkan klien."


Anna melipat tangannya. Dia merasa terbohongi.


" Sungguh menarik. Pak Agung baru saja mengatakan pada Saya bahwa Kita harus bersaing untuk itu. Jadi klien itu bisa jatuh ke Anda atau Saya."


Davion merasa tertangkap basah. Jebakannya benar-benar gagal.


" Anda mau bermain secara kotor, Begitukah Dav?" Anna curiga dan menggeleng-gelengkan kepala.


" Jangan percaya diri dulu. Robert akan menjadi klienku. My sweety."


" Ya. Kalau Kau bermain kotor dipersaingan ini."


Cibir Anna.


" Tentu Aku akan bermain sehat. Tidak sepertimu yang sepertinya pintar mencari perhatian ke Ayahku." Tuduh Davion.


" Ok. Saya perjelas Pak Davion. Kalau Kita rekan kerja. Kurasa Kita harus meluruskan beberapa hal. Saya bukan your sweety. But my name is Anna Alexandra. You can call me is Anna. Just Anna. Dan ingat, Saya bukan orang yang suka menjilat dengan mencari perhatian atasan. Pekerjaan Saya sesuai hasil kinerja Saya. Dan Saya paham, Mungkin banyak wanita yang saling berebut mendapatkan perhatian dari Anda. Tapi itu tidak akan terjadi pada Saya. Saya tidak akan menjadi salah satu dari petualangan Anda. Jadi berikan senyum dan rayuan Anda pada wanita lain, Selain Saya."


" Anda mungkin terbiasa menjadi nomor satu di perusahaan ini karena Anda putra Pak Agung. Tapi sekarang hadapi kenyataan, Saya memang pemain baru dibisnis ini. Namun Saya telah bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan Saya ini. Dan Saya tidak akan menyerah begitu saja menghadapi patner kerja seperti Anda. Saya akan membangun reputasi Saya sendiri. Maaf kalau Anda merasa tersaingi." Jelas Anna langsung berdiri dan keluar dari ruang kerja Davion. Davion terlihat Syok, seperti seorang anak yang baru saja mendapatkan omelan dari Ibunya.


" Ada apa Dav? Kenapa Anna terlihat sangat emosi?"


" Apa Kau habis memarahinya?"


" Dia yang memarahiku." Jawab Davion masih setengah sadar.


" What?" Sean terkejut. Dia langsung tepuk tangan.


" Spektakuler." Tambah Sean.


" Apa maksudmu?"


" Aku tidak pernah melihat Kau dimarahi seorang wanita." Olok Sean sambil tertawa.


...***...



Sudah hampir satu bulan Davion melupakan jadwal one night nya setiap akhir pekan itu. Dia benar-benar fokus bersaing dengan Anna memperebutkan seorang klien. Bahkan setiap hari Dia terlihat datang lebih awal.


Anna bahkan terlihat terkejut, Dia terhenti sesaat saat melewati ruangan Davion. Davion sudah fokus dengan pekerjaannya. Anna melirik jam tangan masih menunjukkan pukul 07.00.


" Tidak biasanya. Kesambet apa itu manusia. Sepertinya besok Aku harus lebih pagi darinya." Guman Anna lalu melanjutkan langkahnya kembali.


Hari berikutnya, Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Mereka datang bersamaan namun hanya beradu pandang didepan lift. Dan tidak ada sepatah kata keluar dari Mereka. Mereka hanya berdiri mencengkeram segelas kopi berukuran gelas jumbo ditangan masing-masing sambil menunggu lift terbuka.


Hari-hari berikutnya Mereka sibuk mencari referensi buku di perpustakaan perusahaan. Hukum, undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan pekerjaan Mereka sering berubah-ubah.


Jum'at sore Anna terlihat ragu-ragu masuk ke ruang kerja Davion, secara mengingat Mereka sedang bersaing ketat.


" Masuklah." Ucap Davion saat sebuah ketukan pintu terdengar ditelinganya.


" Hai Dav, maaf mengganggu waktunya. Saya sedang mencari-cari Analisis selisih terhadap biaya biaya produksi. Itu kebetulan tidak ada diperpustakaan padahal didaftar ada. Apa Anda meminjamnya?"


"Ya." Davion menganggukkan kepalanya.


" Kira-kira, Kapan itu akan selesai?"


" Tidak yakin. Mungkin tiga... atau empat Minggu." Davion berbohong. Padahal Dia hampir selesai membaca buku itu.


" Minggu?" Anna memastikan.


Davion menganggukkan kepalanya lagi. Dan jelas Anna terlihat kesal.


" Kalau begitu lupakan! Terima kasih." Ucap Anna kembali ke ruang kerjanya.


Davion tersenyum penuh kemenangan. Seharian penuh, Davion mengerjakan proposalnya itu yang belum selesai. Dia berdiri dan meregangkan otot-ototnya dahulu. Dan lalu berjalan keluar menuju balkon, berniat mencari udara segar sebentar. Namun Dia ternganga begitu melewati ruangan kerja Anna. Davion membeku dan matanya terbelalak.


" Gila." Guman Davion. Davion hanya melihat buku-buku bertumpuk diatas meja Anna, menjulang seperti gedung pencakar langit. Davion penasaran, Diapun mengetuk pintu ruangan Anna.


" Masuklah." Anna terlihat berdiri dari tempat duduknya. Anna pun baru terlihat batang hidungnya.


" Hai Dav. Apa Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Anna dengan senyuman dan keramahan palsu.


" Tidak. Hanya penasaran, Apa Kau baik-baik saja?" Tanya Davion terkesan mengolok.


" Yes. I am fine. Thanks your attention." Jawab Anna to the points.


" Ok. " Davion kembali keluar dari ruangan Anna.


Anna hanya menaikkan alisnya dan kembali duduk seraya melanjutkan proposalnya.


To be continued