Sweet Police

Sweet Police
Sebuah Pengakuan



Yura langsung menuju ke rumah pribadinya. Tak selang lama Agung ternyata menuju ke tempatnya Yura. Tapi Dia kaget begitu sadar banyak media disitu. Agung pun memarkirkan mobilnya dipinggir jalan, selayaknya seorang pengemudi yang sedang berhenti sejenak.


Sedangkan Yura keluar dari mobil serta terlihat cuek dan hanya tersenyum sambil menundukkan kepala. Yura sedikitpun tidak menjawab banyaknya pertanyaan yang dilontarkan para wartawan kepadanya. Beruntung ada security kompleks yang membantu Yura terlepas dari kerumunan para wartawan, yang penasaran terhadapnya.


Yura langsung menuju ke kamarnya begitu sampai rumah. Kekesalan dan kemarahan jelas terpancar diwajahnya. Berkali-kali hpnya berdering.


Dengan enggan Yura mengangkatnya.


" Hallo."


" Yura, apa yang terjadi? Kenapa banyak artikel tidak jelas bermunculan?" Suara Sani terdengar sangat kawatir.


" Tanyakan saja sama putra Pillar Grup, kenapa Dia begitu bodoh menemui kekasihnya ditempat umum." Dengan kesal Yura langsung mematikan telepon dari sahabatnya.


###


Berkali-kali Agung melihat panggilan telepon dari Sella. Namun Dia terlihat enggan untuk menerimanya. Sedangkan matanya terus fokus melihat kerumunan para wartawan yang tidak jauh dari tempatnya.


Sedangkan dirinya sudah menunggu selama empat jam dan waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 malam. Dan pastinya tidak mungkin Dia meminta maaf pada Yura malam-malam. Jelas itu bukan dirinya.


Dengan kesal Agung meninggalkan parkiran dan melajukan mobilnya ke arah Malioboro.


Jalanan malam yang bebas macet, membuatnya langsung ke tujuan. Sebuah cafe bar mini, tempat biasa Dia melarikan diri dulu dimasalalunya saat masih labil. Jarangnya minum, beberapa teguk sudah membuatnya tidak jelas. Dia meraih Hpnya.


###


Dering HP yang nyaring membangunkan Yura dari tidur lelapnya. Mata Yura pun langsung terbuka. Yura langsung meraih Hpnya.


Melihat Agung yang menelepon, Dia pun merasa enggan untuk menjawabnya. Namun rasa penasaran membuat Yura mengangkatnya.


"Hallo."


" Aku tidak percaya... Kau mengangkat... teleponku... Yura ya..." Suara Agung sambil cegukan.


" Agung? Apa Kau ... ? Jangan-jangan Kau minum tidak jelas ... "


Yura berpikiran tidak jelas dan ingin memastikan.


" Tidak ... Aku hanya minum kopi aja. Tapi ini kopinya beda betul. Bukannya buat mataku terbuka, tapi buat kepalaku pusing Yura ya." Ucap Agung tidak jelas dan hampir terjatuh.


Pegawai bar langsung membantu Agung dan mengambil alih teleponnya.


"Nona, tolong jemput kekasihmu ini kalau Kau tidak ingin melihatnya mati."


Yura terkejut, dan sebuah pesan share lokasi membuat Yura mematikan teleponnya. Dia langsung meraih sebuah mantel, masker dan topinya. Dengan buru-buru Yura keluar dan menghentikan sebuah taxi.


Butuh lima belas menitan sampai lokasi. Didepan sebuah cafe bar mini sesuai petunjuk maps. Yura berhenti sejenak sebelum akhirnya masuk. Maklum baru pertama kali ini Yura datang ke sebuah bar. Sebuah dunia yang sama sekali tidak pernah terpikirkan seorang Yura. Penampilan Yura yang sangat tertutup rapat membuat beberapa orang memperhatikannya. Namun jelas mata rusanya langsung tertuju ke seorang pria yang sedang memaki-maki pegawai bar karena tidak boleh menambah minum lagi.


Dengan cepat Yura menghampiri Agung. Tanpa basa basi Yura langsung menampar Agung. Berharap Dia sadar seperti di drama-drama televisi. Namun Agung justru terjatuh.


" Oh My God, kenapa Kau malah terjatuh?" Yura heran dengan tindakannya.


" Nona ini bukan sebuah drama. Kau harus memberikan dia madu bukan menamparnya". saran pegawai bar sambil membantu Yura memapah Agung dan menaikkan ke dalam taxi.


" Agung. Sadarlah!!! Kau seorang polisi. Kenapa tindakanmu jelek sekali seperti ini. Kenapa juga Kau malah membuat Aku kerepotan. Hah! " Yura menomel serta menepuk-nepuk wajah tampan Agung. Yura terlihat bingung mau membawa Agung kemana.


Berkali-kali Yura pun menghubungi Miss. Amora tetapi tidak diangkat.


" Apa Aku harus menghubungi Pak Soni, malam-malam seperti ini? Tidak! Tidak! " Yura menggelengkan kepala.


" Apa pandangan Beliau nanti. Bisa -bisa Aku dikira wanita tidak jelas malam-malam bersama Agung minum dibar. Oh Tuhan." Keluh Yura. Sekali-sekali Yura membenarkan masker dan topinya.


Dengan kesal dan terpaksa Yura membawa Agung ke tempatnya. Dan ijin security kompleks dengan alasan menolong seorang teman yang sakit. Beruntung akting Yura meyakinkan dan diijinkan. Seperti menyeret karung berapa ton, itu yang Yura rasakan.


" Kau sungguh berat sekali. Beruntung Kau tidak muntah. Kalau sampai Kau muntah mungkin kutinggal Kau didalam taxi. Huh. " Celoteh Yura dan menghempaskan tubuh Agung ke sebuah sofa diruang tamu. Yura mengambil sebuah selimut berwarna putih dilemari tengah. Dan perlahan Dia menaruh selimut itu ke tubuhnya Agung.


Yura langsung kekamar mandi untuk mencuci muka dan tidur kembali di dalam kamar tercintanya. Dan jelas langsung mengunci pintu kamarnya. Secara Yura sadar ada seorang pria didalam rumah pribadinya. Rasa kesal dan emosi menjadi satu.


" Sudah buat sakit hati. Sekarang merepotkan. Apa benar Aku jatuh cinta padanya. Sepertinya Aku khilaf dan salah menyukainya. Huh." Gerutu Yura seraya menarik selimutnya.


###


Dengan mata redup Yura bangun dan keluar dari kamarnya, lalu menuju ke dapur dan tujuannya jelas ke sebuah kulkas. Rasa haus jelas sedang melandanya.


Namun sesosok manusia membuatnya mengambil tongkat base ball.


" Pencuri !!! "  Teriak Yura.


Agung pun langsung menghindari pukulan Yura.


Mendengar suara Agung, Yura pun langsung menghentikan pukulannya. Yura langsung menyalakan lampu ruangan. Terlihat Agung yang sedang memegang satu botol air mineral.


" Kenapa Kau disini? Jangan-jangan Kau benar-benar pria mesum." Tuduh Yura sembarangan. Sepertinya Dia belum sepenuhnya bangun dari tidurnya.


" Yaa! Jangan berpikir macam-macam. Seharusnya Aku yang tanya. Kenapa Kau membawaku ke rumahmu? " Tanya Agung penasaran.


Yura pun langsung mengingat ulang. Dan jelas Yura merasa Agung yang salah, bukan dirinya.


" Yaa! Semua ini salahmu. Harusnya Kau berterima kasih padaku karena Aku sudah menolongmu. Kalau tidak, mungkin Kau akan dibawa wanita-wanita pemburu Cuan. Apa Kau tidak memikirkan itu?" Tanya Yura membela diri.


" Tapi Aku tidak minta Kau menolongku. "  Ucap Agung polos seraya langsung duduk kembali ke sofa.


' Benar juga.' batin Yura.


Yura pun langsung mengambil air mineral di kulkas untuk menenangkan diri.


" Jadi Kau tidak marah padaku?" Tanya Agung tiba-tiba. Yura memandang Agung dengan tatapan galak.


" Kenapa Aku harus marah padamu?" Tanya Yura terkesan tidak peduli.


" Cemburu mungkin. " Ucap Agung asal tebak seraya meminum kembali air mineralnya.


" Sama sekali tidak. Aku hanya penasaran. Apa wanita yang akhir-akhir ini menemuimu adalah masa lalumu?" Rasa penasaran Yura sepertinya lebih besar.


"Iya. Apa Kau masih mau bilang tidak cemburu saudari Yura?" Agung mencoba menggoda Yura. Tapi Yura justru mengusir Agung.


" Pergilah! sebelum para wartawan terbangun dan menambah berita scandal beritanya saat ini."


"Kau benar, Kalau begitu. Kau taruh dimana mobilku?" Tanya Agung langsung panik.


" Mana Aku tahu. Aku membawamu dengan taxi." Ucap Yura.


Agung langsung terkejut mendengarnya. Dia pun langsung menelepon pak Joni selaku orang kepercayaan keluarganya agar segera menjemputnya.


" Apa Kau tidak bersiap-siap untuk kerja?" Tanya Agung seraya menunggu jemputannya.


" Bagaimana Aku bersiap-siap kalau masih ada Kau disini?" Tanya Yura menatap tajam Agung.


Agung hanya tersenyum seolah bukan salahnya lagi.


" Jadi Kau minum, membuatku repot hanya karena wanita itu. Oh sungguh tidak penting." Ucap Yura tiba-tiba lalu minum air mineral lagi.


" Tidak. Kau salah Yura." Agung mengelak. Dering HP membuat Agung terdiam.


Melihat Agung terdiam dan tidak mengangkat teleponnya membuat Yura penasaran.


" Who? " Yura terlihat semakin penasaran,


Tetapi Agung masih terdiam dan membuat Yura yakin itu dari masa lalu Agung.


" Angkatlah." Yura langsung beranjak dari tempat duduknya, berusaha menghindar. Walaupun hatinya panas dan cemburu. Namun Agung beranjak dan menarik tangan Yura.


" Semua tidak seperti yang Kau pikirkan Ra. " Agung mencoba memberikan penjelasan.


" Aku sudah tidak peduli. "


"Aku memutuskan membatalkan kontrak kerjasama dan perjanjian dengan ayahmu." Ucap Yura seraya menghempaskan tangan Agung.


Agung terkejut dengan ucapan dan sikap Yura. Agung pun langsung beranjak dan berdiri tepat dihadapan Yura.


" Apa begitu mudahnya Kau membuang sebuah perasaan yang pernah Kau ungkapkan waktu itu?Dimana sifat pantang menyerahmu terhadapku?" Agung memberanikan diri mengungkit rasa ketertarikan Yura terhadap dirinya.


" Aku sadar, Aku salah menilai perasaanku. " Ucap Yura berbohong.


" Jadi Kau tidak benar-benar menyukaiku?" Agung terlihat kecewa.


" Yes, that's right. Ini sungguh menyakitkan bagiku. Aku seperti mengharapkan suatu ketidakpastian dari perasaanmu. Serta dilanda ketakutan akan masa lalumu itu. Dan kurasa lebih baik Aku menyerah." Yura menunduk. Jelas Dia merasa lelah. Apalagi semua media tengah memberitakan scandal cinta segitiganya saat ini.


" Maaf, Aku terlalu pengecut selama ini tidak mau mengakui perasaanku terhadapmu. Hingga kejadian tadi malam membuatmu salah paham lagi terhadapku." Ucap Agung seraya memegang kedua bahu Yura.


" Apa maksudmu?" Yura masih belum mengerti.


" Aku... Aku menyukaimu, Aku mulai mencintaimu, Aku tidak ingin Kau menyerah terhadapku." Ucap Agung penuh keyakinan.


Yura terkejut dengan ungkapan Agung. Bagaimanapun Dia masih belum bisa mempercayai kata-kata Agung sepenuhnya. Mengingat kejadian saat ini, Agung masih berhubungan dengan masa lalunya.


To be Continued ...