
Mereka bertiga keluar dari restoran.
" Apa yang Kau inginkan sekarang?" Tanya Agung membuat Yura terkejut.
" Aku ingin eskrim rasa coco mint." Ucap Yura mantap tanpa pikir panjang. Dan membuat Agung semakin yakin.
" Ok. Habis itu Kita langsung ke dokter." Sahut Agung.
Dimas terlihat penasaran.
" Apa Yura sakit?" Tanya Dimas.
Agung menggeleng.
" Terus kenapa Kalian mau kedokter?"
" Rahasia. Kepo" Ucap Agung seraya menggandeng tangan Yura menuju mobil Mereka.
Dimas terlihat penasaran dan masuk ke mobilnya.
" Sebentar lagi kita punya baby." Ucap Agung sangat senang seraya membuka pintu mobilnya untuk Yura.
" Baby?" Yura masih belum percaya.
" Baby pertama kita. Aku sudah tak sabar ingin melihatnya." Ucap Agung seraya memasang sabuk pengaman.
Ditengah perjalanan, Mereka berhenti sejenak untuk membeli es krim disalah satu mini market.
Tidak selang lama Mereka sampai di rumah sakit. Dan menuju ke dokter kandungan. Agung dengan setia menunggu Yura yang sedang diruangan. Setelah pemeriksaan selesai dan sudah ada hasilnya. Seorang dokter menyatakan kepada Mereka tentang hasil pemeriksaannya.
" Selamat atas kehamilan istri anda, Kandungan istri anda sudah berjalan 3 minggu." Ucapannya membuat Agung tersenyum senang. Sedangkan Yura masih terkejut melihat hasilnya. Yura positif hamil. Dia masih terlihat syok karena bahagia. Akhirnya hadiah terindah hadir didalam pernikahan Mereka.
Mereka langsung pulang kerumah dan mengabarkan kepada Keluarga besar. Jelas Agung langsung melarang Yura banyak beraktivitas. Itu membuat Yura terlihat sangat bosan.
Suatu malam Yura tertidur tanpa menunggu suaminya. Rasa ngantuk membuatnya tidak bisa menunggu sampai Agung pulang kerja.
Agung pulang kerja disambut salah satu asisten rumah tangganya. Dia heran tidak biasanya Yura tidak menyambutnya.
Dia pun langsung melangkah menuju kamar. Agung terlihat tersenyum dan tidak tega membangunkan Yura. Namun tiba-tiba Yura dari tidurnya.
Agung langsung memberikan seikat bunga dan es krim kesukaannya.
" Untukmu dan calon anak kita." Ucap Agung tersenyum.
" Terima kasih ."
Pagi berikutnya dan berikutnya. Bahkan setiap hari dipagi hari. Agung selalu memberinya bunga.
" Kau petik darimana bunga setiap pagi?" Celetuk Yura.
" Kebun Mama." Agung tertawa.
Yura langsung memicingkan matanya.
" Terima kasih. Tapi aku bosan dirumah terus. Bolehkah hari ini aku ikut kerja denganmu?" Ucap Yura.
" Ok. " Ucap Agung seraya serius memakai kemejanya.
" Bersiaplah." Tambahnya.
" Iya. " Yura langsung bersiap-siap.
Walau ini sudah lewat 7 bulan. Tapi Yura masih merasa ringan untuk aktif bergerak. Agung yang selalu ketakutan melihat Yura banyak gerak.
" Ayo!!!" Ajak Yura tersenyum manis.
" Kau sungguh cantik sekali. Tapi apa celana jeans itu tidak membahayakan? Ganti!!!"Perintah Agung seraya mencarikan baju yang cocok untuk istrinya.
" Pakailah ini!" Ucapnya seraya memberikan pakaian yang menurutnya cocok buat Yura.
Yura pun langsung berganti pakaian.
Agung tersenyum memandang Yura.
Setelah siap,Mereka menuju gedung utama Pillar Group. Dan Yura hanya duduk disofa ruangan kerja Agung. Kadang main hp, baca majalah, atau hanya sekedar memandangi Agung yang sedang sibuk bekerja.
Satu bulan berikutnya.
Yura memejamkan mata. Tetapi tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Agung memandangnya dengan rasa khawatir.
" Sayang, Kau kenapa? " Tanya Agung khawatir.
" Tidak apa-apa. Aku hanya sudah tidak terlalu nyaman. Bisakah Kau cerita apa saja sampai Aku tertidur."pinta Yura.
" Ok. Aku mengerti." Ucap Agung tersenyum.
" Dokter bilang kemungkinan anak pertama kita laki-laki. Aku ingin dia setampan diriku dan sekuat dirimu. Dan aku ingin menamakan Dia Davion Affandra Bukankah itu unik?" Suara Agung terdengar samar-samar ditelinga Yura. Yura tertidur.
Paginya Yura mendadak membuat keributan. Agung langsung membawanya ke rumah sakit. Lalu Agung mengabari keluarga Mereka.
" Aduh bagaimana ini? " Pak Soni jadi terlihat bingung.
" Bawa alat-alat bayi. Kamera-kamera!!! " Pak Soni malah membawa kamera.
" Untuk apa Kamera Ayah?" Tanya Adi selaku adiknya Agung.
" Tentu saja untuk mengabadikan moment bahagia keluarga Kita disana." Ucap Pak Soni seraya membawa semua alat-alat yang diperlukan.
Akhirnya Mereka semua berkumpul dirumah sakit. Agung terlihat mondar mandir seperti setrikaan. Sedangkan yang lain memandang dengan pandangan kesal.
" Coba duduk tenang Kau Gung." Tegur Pak Soni.
" Ayah , Bagaimana Aku bisa tenang. Istriku sedang berjuang!" Ucap Agung sok dramatis.
" Setidaknya duduk tenang dan berdoa. Ngapain mondar-mandir seperti setrikaan begitu." Tambah Pak Soni.
Agung pun akhirnya mengalah dan duduk dengan tenang seraya berdoa.
Tak selang lama, Suara tangis bayi memecah keheningan Mereka semua. Agung langsung sujud syukur. Dan semua keluarga terlihat lega kala seorang suster mengabarkan semuanya berjalan sukses.
" Lucu sekali."
" Lucu banget."
Yura tersenyum. Agung langsung mencium kening istrinya.
" Terima kasih." Ucap Agung.
Agung langsung mengumandangkan sebuah adzan untuk buah hatinya tercinta.
Davion Pillar Affandra. Sebuah nama yang diberikan untuk putra pertama Mereka.
...***...
7 Tahun kemudian.
Yura menyiapkan sarapan buat keluarga kecilnya. Sedangkan Davion dan Agung hanya melihat Yura, yang sedang mondar mandir seperti setrikaan.
" Apa kalian berdua tidak ada yang berniat membantuku?" Yura memandang mereka seraya bergantian.
" Tidak." Jawab Mereka kompak.
Yura mendengus kesal. Sepertinya Davion memiliki sifat yang sama dengan Agung. Dari selera makanannya, sifatnya, wajahnya sampai gaya bicaranya. Hanya satu yang mirip dengan Yura yaitu matanya.
" Daddy." Ucap Davion sambil memainkan sendok diatas piringnya.
"Iya. Ada apa Dav?" Tanya Agung mendekatkan wajahnya.
" Teman-temanku bilang. Aku sudah begitu besar kenapa belum punya adik." Keluhnya.
Yura yang sedang menyiapkan makanan terkejut mendengar ucapan anaknya.
Yura hanya diam saat Agung menggodanya.
" Beneran Dad? Adik perempuan ya Dad. Andi adiknya perempuan. Aku tidak mau kalah sama dia Dad."
"Ok. Adikmu nanti perempuan. Dia akan secantik Mami. Jadi kamu pasti akan menang dari temanmu itu."
Ucap Agung seenaknya.
" Davion, makan sudah. Jangan dengarin kata Daddy. Dia membohongimu." Ucap Yura seraya menaruh piringnya yang sudah lengkap dengan makanan.
" Ingat Daddy, Aku tidak suka dibohongi." Ucap Davion mengancam.
Agung tertawa.
Lagi-lagi Mereka terkejut dengan ucapannya. Davion benar-benar mirip Agung. Lihat saja gaya mengancamnya.
" Daddy mengerti. Jangan hanya minta sama Daddy. Kamu juga harus minta sama Mami."
" Mami Aku mohon. Aku tidak mau kalah dari temanku." Davion memandang Yura dengan tatapan menuntut.
Yura sungguh bingung mau menjawab apa. Sedangkan Agung kelihatan senang melihat Yura kebingungan.
" Makan sudah sayang. Nanti kamu terlambat sekolah." Ucap Yura mengalihkannya.
" Ok Mi. Tapi Mami janji juga mau memberiku adik perempuan. Kalau tidak aku tidak mau berangkat sekolah." Lagi-lagi Davion mengancam.
Agung meledak tertawa mendengarnya.
" Daddy! Kenapa tertawa seperti itu?" Davion merasa dipermainkan.
" Maaf Dav. Kamu sungguh anak Daddy yang pintar."Puji Agung seraya mengusap rambut Davion
" Aku memang pintar dari dulu. Apa Daddy baru menyadarinya?"
" Iya sayang. Maaf." Agung mengusap rambut Davion lagi.
" Mami." Dia masih mengingat permintaanya itu.
" Iya Dav. Makan sudah sayang. Kamu paling tidak suka terlambat masuk kelas bukan? " Terpaksa Yura mengalah untuk menenangkannya.
" Iya Mami." ucapnya senang seraya memulai makan.
Agung tersenyum jahil melihat Yura mengalah. Yura memandangnya dengan wajah kesal. Agung menjulurkan lidahnya meresponnya. Yura hanya mendengus kesal. Mereka mulai sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan,
Mereka mengantarkan Davion dulu ke sekolah.
" Sayang belajarlah yang baik jangan nakal." Pesan Yura.
" Ok Mami, Tapi ingat harus memberiku adik perempuan."
Yura hanya tersenyum masam dan mencium kening putranya, sebelum Davion berlari masuk kelas dan menghambur dengan teman-temannya.
Yura melangkahkan kaki ke arah mobil yang masih parkir didepan sekolahan.
" Ini salahmu. Kamu bicara seenaknya." Ucap Yura kesal seraya memasang sabuk pengaman.
" Sayang, Apa salahnya kita memberinya adik. Bukankah Davion memang sudah besar." Ucap Agung dengan santainya.
Agung menyalakan mobilnya.
" Aku masih sibuk mengurus Penerbitan. Kalau aku posisi hamil lagi. Siapa yang akan mengurusnya. Tidak mungkin Tante Amora. Dia sudah menetap di New York." Yura memandang Agung yang masih terlihat santai dengan perkataannya.
" Aku akan menaruh orang kepercayaanku disitu sementara. Bukankah itu mudah?" Agung menoleh ke arah Yura sebentar.
" Apa dia mendalami penerbitan juga?" Tanya Yura menyudutkannya.
" Itu bisa dipelajari. Kenapa Kau begitu membesar-besarkan masalah." Agung memarkirkan mobilnya didepan gedung kantor Penerbitan milik Yura.
Yura membuka sabuk pengaman.
Agung mengecup kening Yura, sebelum Dia keluar dari mobil
" I Love You." Ucap Agung setengah berteriak.
Yura tidak menjawabnya. Dia masih sedikit kesal dengan jalan pikirannya.
Yura melangkah menuju kantornya.
Para bawahannya menyapa dan tersenyum hangat menyambut kedatangan Yura. Seperti biasa Yura balik menjawab sapaan Mereka seraya tersenyum.
Begitu sampai ruangannya. Yura langsung menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Dering hp membuatnya mengalihkan pandangannya dari laptop. Agung menelepon Yura ditengah kesibukannya.
" Hallo."
" Apa Kau marah?" Tanya Agung spontan.
" Apa Kau telepon ditengah kesibukanku hanya ingin menanyakan itu?" Tanya Yura sedikit kesal.
" Tidak sayang. Selain itu Aku juga sudah rindu dengar suaramu itu." Goda Agung.
" Aku sedang sibuk. Jangan menggangguku untuk hal yang tidak penting." Yura mematikan panggilan teleponnya.
Dia kembali menatap layar laptop.
Waktu berlalu begitu cepat.
Yura melirik sudah jam 3 sore. Sepertinya sudah saatnya Davion pulang. Yura menelepon Agung.
" Hallo." Sapa Agung.
" Apa Kau sudah berangkat menjemput Davion?"
" Iya , Sudah ke jemput Sayang. Ini Kami sudah dijalan menuju kesitu."
" Ok."
Yura langsung merapikan semua berkas-berkas dimeja dan meletakkan sesuai tempatnya masing-masing.
Hpnya berdering kembali
Jelas Agung yang meneleponnya.
" Kami sudah diarea parkir. Keluarlah, Cepat!"
" Iya-iya."
Yura mengambil tas dan langsung keluar dari ruangan. Melangkah menuju area parkir.
Dia melihat Davion teriak-teriak memanggilnya.
Yura langsung menuju ke arah mobil audi hitam milik suaminya.
Yura membuka pintu bagian depan tepat disamping Agung. Sedangkan Davion, Dia memang suka duduk dibagian belakang.
" Mami tahu tidak. Tadi Aku sudah bilang sama Andi. Tapi Andi belum percaya kalau belum lihat langsung adikku Mam." Celoteh Davion begitu Yura masuk ke dalam mobil.
Lagi-lagi Agung tersenyum jahil ke arah Yura seraya menyalakan mobilnya.
Yura terdiam sejenak. Mencari kata yang tepat untuk menjawab putranya.
" Davion, Bilang saja sama temanmu itu. Kalau sebentar lagi pasti temanmu bisa melihat adikmu yang cantik." Ucap Agung sengaja sebelum Yura menjawabnya.
Yura memandang Agung dengan tatapan kesal.
'Bisa-bisanya Dia memberi harapan yang belum pasti ke anak kecil.' Gerutu batin Yura.
Agung pura-pura fokus memandang ke depan. Agar tidak terkena pandangan mematikan dari Yura.