
5 Tahun Kemudian.
Davion sudah berumur 17 tahun. Sedangkan Yuna sudah berumur 10 tahun. Mereka sudah terlihat lebih dewasa. Davion sudah tumbuh menjadi remaja. Wajahnya yang maskulin, Alisnya tebal, hidungnya mancung dan rambutnya hitam mengkilat. Sedangkan Yuna Yuna sudah tumbuh menjadi anak yang cantik dan imut.
Malam minggu, Yura geleng-geleng kepala saat membuka kamar Davion dan juga Yuna yang berdekatan. Kamar Mereka hanya terhalang dinding. Yura melihat sangat berantakan.
" Davion ! Yuna ! Kemari! " Yura memanggil anak-anaknya.
" Apa kalian merasa masih kecil dan harus Mami atau Bibi Minah yang bertanggung jawab atas semua ini." Ucap Yura seraya menunjukkan buku-buku berserakan dimana-mana.
" Maaf Ma." Ucap Davion juga Yuna mengakui kesalahan Mereka.
" Kalau begitu cepat tunjukkan rasa tanggung jawab kalian." Ucapku menghela nafas.
Agung seperti biasa. Saat Yura yang sedang emosi. Dia sebaliknya melindungi anak-anaknya.
Begitu Yura berlalu. Agung menghampiri Mereka.
" Sabar ya sayang. Sepertinya Mami Kalian sedang menstruasi." Bisik Agung masih terdengar oleh Yura.
Yura tambah mendengus kesal mendengarnya. Walaupun itu benar. Dia melangkahkan kaki kekamar.
Telepon rumah berdering membuat Yuramengurungkannya langkahnya sejenak. Dan mengangkat telepon yang berdering.
" Hallo."
" Yura. Ini Ayah. Bisakah besok Kalian ke pantai bersama Kita? "
" Ok Ayah."
" Terima kasih Yura."
"Sama-sama Ayah."
Yura berjalan lagi melangkahkan kaki kekamar. Davion dan Yuna yang sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Itu membuat Yura lebih banyak waktu untuk mengurus dirinya sendiri. Yura duduk di sofa kamar seraya memandang ke jendela. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Dan tak terasa Davion sudah menjadi remaja dewasa. Begitu juga Yuna sudah tumbuh menjadi remaja belia. Yura menghela nafas panjang. Yura memandang ke belakang begitu sadar ada seseorang yang menatapnya sejak tadi.
" Apa yang Kamu lakukan disitu?" Yura penasaran karena Agung hanya berdiri terpaku.
" Tidak. Aku hanya memandang istriku yang masih begitu cantik." Agung menghampiri Yura seraya duduk disebelahnya.
Yura sedikit bergeser menyediakan tempat duduk untuk suaminya.
" Terima Kasih. Kamu telah menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakku." Ucap Agung seraya mengecup kening istrinya.
" Sama-sama. Kamu juga telah menjadi Ayah yang bertanggung jawab terhadap anak-anakmu." Yura tersenyum walau masih sedikit kesal.
" Anak-anak kita sudah besar. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Apa Kamu merasa kesepian dan perlu membuat adik buat Yuna Ma?" Lagi-lagi Agung mulai menggoda Yura.
Yura hanya tersenyum masam.
" Daddy Aku tidak mau punya Adik!" Teriak Yuna dari belakang. Yura melihat pintu kamar terbuka.
Mereka terkejut mendengar teriakan Yuna. Belum lagi Davion yang tidak sengaja lewat, terlihat terkejut didepan pintu kamar mendengar ucapan Yuna.
" Adik? Aku juga tidak mau punya adik lagi. Yuna saja selalu berisik dan buat Aku kesal. Apalagi punya adik lagi. Aku tidak mau! " Ucap Davion seraya masuk ke kamar Kami.
" Apa Kakak bilang tadi? Berisik? Kakak itu yang selalu berisik." Ucap Yuna tidak terima.
Agung tersenyum masam melihat tingkah laku anak-anaknya. Jelas candaannya tidak mendapat dukungan satu pun.
" Yaa! Kenapa kalian tidak ada yang mendukung Daddy sama sekali?"
"Pokoknya aku tidak mau Dad
Kalau Daddy bersikeras mending Daddy tidur dikamarku. Dan Yuna tidur dengan Mami." Usulan Davion membuat Agung dan Yura terkejut.
Jelas Davion sudah dewasa. Sampai berpikir terlalu jauh. Agung lalu berdiri.
"Yaa! Berani benar Kamu mengatur orangtua Dav?Kalian keluarlah dari kamar Kami! Sekarang!!! Cepat!!! Atau fasilitas kalian Daddy tarik semua." Agung pura-pura emosi.
Davion dan Yuna langsung berlarian keluar dari kamar orangtuanya. Yura hanya tersenyum melihat tingkah laku Mereka yang terlihat lucu.
Apalagi berpura-puranya Agung yang emosi. Jelas sekarang Yura sudah bisa menilainya. Emosinya Agung ke anak-anak yang kadang muncul, hanya untuk membuat anaknya tidak seenaknya, mandiri dan tanggung jawab.
" Aku rasa juga begitu."
Jawab Yura sambil mengambil potongan kuku.
Yura memotong satu per satu kuku jemari tangannya yang kelihatan sudah tidak rapi.
" Sayang, Kenapa ada panggilan tidak terjawab beberapa kali dihpku dari Daddy?" Tanyanya penasaran.
" Oya, besok Daddy mengajak Kita ke pantai bersama."
" Ok kalau begitu."
...***...
Aktivitas pagi dihari minggu, Seperti yang biasa Mereka lakukan. Kali ini Yura tidak sibuk sendirian. Keaktifan Yuna sepertinya meniru sifatnya. Dia mulai lebih dewasa dan membantu Yura. Saat Yura terlihat sibuk membantu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan buat Mereka. Yuna ikut membantunya. Begitu juga Davion dan Agung yang aktif dengan membersihkan rumah katanya buat olahraga.
Mereka semua sibuk dengan kesibukan masing-masing.
Begitu selesai menyiapkan sarapan, Yura langsung memanggil Agung yang sedang duduk serius melihat perkembangan perusahaan di ruang pribadinya. Dan juga Davion yang dilihat sedang memainkan piano.
" Kalian bersiaplah. Kita akan ke pantai bersama simbah kakung dan simbah putri setelah ini." Ucap Yura saat mau memulai sarapan.
" Ok Mami." Ucap Mereka.
Akhirnya setelah sarapan Mereka bersiap-siap kerumah orang tua Agung.
Agung terlihat memanaskan mobilnya terlebih dahulu sambil menunggu istri dan anak-anaknya yang masih siap-siap. Sambil sesekali melirik jam ditangannya.
Yuna terlihat mengendap-endap ke arah belakang Kakaknya yang sedang duduk dan fokus ke hpnya.
' Maaf Zia, Hari ini Aku tidak bisa coz ada acara keluarga.'
Sebuah tulisan yang sempat Yuna baca.
" Kak Dav sudah mempunyai kekasih!" Teriak Yuna menganggu Kakaknya yang terlihat sedang fokus ke hpnya.
" Yuna!" Davion sangat terkejut. Dia pun langsung memasukkan hpnya ke saku.
" Maaaa ! Paaaaa ! Kak Dav.... " Teriakan Yuna terpotong.
" Bisa diam nggak?" Davion menatap tajam adiknya.
" Bisa. Dengan syarat. " Yuna senyum-senyum.
" Iya. Apa syaratnya?" Davion mau tidak mau mengalah dari adiknya. Dia terlihat khawatir kalau sampai adiknya ember. Takut menjadi kesalahpahaman panjang dengan orang tuanya.
" Belikan Yuna, Hmmmm... Es krim Viennetta." Ucap Yuna seraya bergaya imut.
Davion bernafas lega. Ternyata hanya es krim. Takutnya Dia, Yuna minta yang aneh-aneh padanya.
" Iya-iya, Nanti Kakak belikan."
" Tapi siapa Zia Zaara Mecca itu Kak? Apa Dia cantik. Secantik adikmu ini." Celotek Yuna buat Davion memutar kedua bola matanya.
" Aiish. Anak kecil nggak boleh kepo." Davion langsung beranjak dari tempat duduknya. Dan melangkahkan kakinya menuju garasi tempat Ayahnya sedang menunggu.
Begitu juga Yuna terlihat mengekori Kakaknya.
" Mana Mami?" Agung terlihat sudah lama menunggu.
" Ya, Kayak nggak tau emak-emak sekarang aja Papi." Celetuk Yuna sok dewasa.
" Emang Mami sedang apa sih?Kok lama betul."
Tanya Agung ke putrinya.
" Milih baju Pa." Jelas Yuna dengan polosnya.
' Dia mau pakai baju atau shopping dikamar sih.' Pikir Agung seraya garuk-garuk kepala.
...***...