
Yura membaca ulang jadwal hari ini. Dia terfokus ke acara kegiatan promo novel barunya.
" San, bukankah acara ini sebaiknya kita cancel saja?" Yura memastikan lagi berharap bisa dicancel.
" Bagaimana bisa itu di cancel." Sani menatap datar Yura yang terlihat gelisah dengan promo novel terbarunya tersebut.
" Aiiish, Bagaimana ini?" Yura mengetok-ngetokkan kepalanya ke meja. Jelas Yura bimbang kalau sampai datang menghadiri acara itu.
Sani pun langsung mengambil bantal berbentuk hati dan menaruhnya dimeja. Yura terkejut kala keningnya bukan lagi menyentuh meja.
" Mengapa Kau menaruh bantal
ini?" Yura protes.
" Dasar bocah! Ayo!!! " tarik Sani.
" Tunggu." Rengek Yura.
"Why???" Sani menyerngitkan keningnya.
" Lapar." Wajah Yura terlihat memelas.
" Hmmm." Sani langsung mengambilkan sereal dan susu cair yang masih tersedia diruangan kerja mereka.
" Thanks. " Yura pun dengan lahap langsung memakannya. Sani langsung terlihat geleng-geleng kepala.
" Selesai. Ayo !!!" Yura menyemangati diri sendiri.
Sani langsung melongo. Mangkok terlihat sangat bersih tanpa tersisa sedikitpun.
" Apa Kau makan tanpa menguyahnya? Kenapa tidak sekalian mangkoknya itu?" Canda Sani.
" Aku bukan kuda lumping kali San. Huh!." Yura cemberut seraya berdiri dan menuju keluar ruangan.
###
Begitu jam istirahat tiba Agung dan Dimas langsung menuju tempat loker mereka. Jelas rencana mereka mau pergi ke tempat makan favorit seperti biasanya.
" Gung, Kau jangan lupa memakai topi dan masker ini." Dimas mengingatkan seraya memakai Jaketnya.
" Hmmm." Agung memakai mantel, topi, masker serta kacamata hitamnya.
Dimas langsung tertawa terbahak-bahak. Agung bingung dengan kelakuan Dimas.
" Lucu. Sudah seperti artis Korea yang menghindari dispacth."Canda Dimas.
" Aku tidak ingin ada wartawan mengenaliku." Ucap Agung dibalik maskernya.
"Sepertinya Kau sudah mulai jadi orang terkenal. Ayo!" Ajak Dimas karena sudah kelaparan.
Begitu sampai restoran Agung langsung celingak celinguk. Merasa situasi sudah aman, Dia pun langsung membuka masker dan kacamata hitamnya. Lagi-lagi Dimas tertawa.
" Why?"Agung terlihat kesal. Entah mengapa, Akhir-akhir ini candaan Dimas selalu membuat Agung kesal.
" Kau celingak celinguk seperti mau mencuri ayam goreng aja Gung." Jelas Dimas semakin membuat Agung kesal.
Agung pun langsung membuka hpnya. Terlihat ada beberapa chat dan telepon yang sempat Dia abaikan. Dengan enggan Dia pun menutup kembali dan meletakkan hpnya dimeja beserta kunci mobilnya.
" Cantik." Ucap Dimas membuat Agung mengalihkan pandangan ke arah Dimas. Dan terlihat Dimas sedang melihat layar lebar yang sedang menayangkan acara tv lokal.
" Bukankah itu lokasi keraton." Jelas Dimas.
Agung pun tertarik menontonnya.
Terlihat Yura menyapa putra mahkota.
" Apa-apaan tuh acara. Dia mau mempromokan bukunya atau menambah scandal baru." Gerutu Agung langsung mengalihkan pandangannya.
" Maksudmu?" Ucap Dimas seraya menoleh ke arah Agung yang terlihat aneh.
" Tidak ada." Jawab Agung singkat.
" Yang benar???" Dimas tidak percaya dengan Agung.
"Benar banget." Jawab Agung sibuk dengan minuman dan makanan yang baru disajikan waitress. Dengan enggan Agung sedikit melirik-lirik acara televisi yang masih live.
" Oya Yura, Bagaimana awal Anda mendapat inspirasi novel ini?" Tanya salah satu wartawan.
" Hmmm, awalnya hanya karena bertemu dengan seorang polisi yang begitu menyebalkan dan membuat Saya penasaran." Ucap Yura.
" Jadi apakah ini sebuah kisah nyata?"
" Tidak juga, cuma inspirasi awal saja, jadi ini sepenuhnya hanya sebuah cerita fiksi. " Jelas Yura.
" Owh begitu, oya Kau dan putra mahkota sama-sama menyukai dunia kepenulisan. Dan jelas dimata umum terlihat dekat. Banyak yang penasaran apakah kalian benar-benar hanya sebatas sahabat dan tidak lebih dari itu?"
Yura berpikir sejenak untuk menjawabnya.
" Iya Kami hanya sebatas sahabat. Tidak lebih dari itu."
" Sayang sekali, sepertinya banyak yang menjadi fans kalian berdua sebagai couple."
Yura hanya tersenyum mendengarnya. Sedangkan putra mahkota terlihat kecewa.
" Seperti yang kubilang,mereka terlihat lebih cocok daripada sama Kau Gung." Goda Dimas.
"Buat apa tampan dan macho kalau tidak bisa menjaga hati wanita." Dimas pun langsung mengejeknya.
" Dimas!!!" Siwon cemberut diolokin terus sama Dimas. Mereka pun kembali makan seraya menonton tayangan live Yura.
" Terakhir, mungkin ini pertanyaan diluar topik saat ini. Bagaimana keadaan hubungan Anda dengan putra Pillar Group yang ternyata masih menemui kekasih lamanya?"
Yura terlihat bingung menjawab pertanyaan yang menyangkut scandal saat ini. Begitu juga Agung terkejut saat menontonnya.
" What??? Pertanyaan macam apa itu?" Agung terlihat emosi dan kesal melihat wartawan yang memojokkan pertanyaan ke Yura.
Dimas langsung menatap wajah Agung penuh selidik. Agung terlihat langsung menggaruk lehernya yang tidak gatal. Jelas rasa penasaran Dimas membuat Agung langsung salah tingkah.
" Agung, Apa Kau benar-benar sudah move ... "
" Dimas, Ayo pulang! Aku sudah kenyang" ucap Agung seraya langsung mengambil hp dan kunci mobilnya. Dimas langsung cepat-cepat menghabiskan minumnya yang belum selesai dan hampir tersedak karena Agung yang langsung keluar dan meninggalkannya.
Hingga akhirnya Dimas menyusul Agung ke mobilnya.
" Gung, kenapa sih Kau begitu menyebalkan. Kalau Aku mati tersedak bagaimana?" Gerutu Dimas.
" Bagaimana bisa ikan nemo mati tersedak."Agung terkesan ngejek.
Dimas lagi-lagi stalking idolanya. Terlihat Yura sedang berfoto bersama dengan staff dan penulis lainnya salah satunya putra mahkota. Dimas pun langsung menunjukkan ke Agung. Dan jelas membuat Agung mengerem mendadak dan hp Dimas jatuh.
" Gung, hp baruku... " Dimas langsung mengambil hpnya dibawah dasbor mobil.
" Maaf. Nanti kuganti yang lebih bagus nah Dim." Ucap Agung kembali fokus menyetir dan melanjutkan penjalanan mereka.
" Serius???"
Agung menganggukkan kepala.
" Kau memang anak Sultan yang baik hati, tidak sombong, ramah tamah, dermawan, suka menabung ..."
" Stop!!!" Ucap Agung memotong ucapan Dimas.
" Why??? " Dimas menoleh ke arah Agung.
" Kalau Kau banyak memuji seperti itu. Tidak jadi kubelikan."ucap Agung sambil langsung membenarkan headset blue toothnya.
" Agung!!!!!!!!" Teriak Dimas bersamaan dengan dering Hp Agung yang daritadi berdering karena Agung abaikan.
" Hallo."
" Apa Kau masih istirahat?"
Suara seorang wanita dari seberang telepon.
" Tidak, Jam istirahatku hampir selesai." Jelas Agung singkat.
" Ok. Kalau begitu maaf mengganggu."
Tanpa menjawab, Agung langsung mematikan hpnya. Terlihat tatapannya fokus memandang jalanan menuju ke kantor. Namun pikirannya melayang jauh. Memikirkan bagaimana Dia bisa memperbaiki situasi saat ini. Semua kacau semenjak dirinya menemui Silla. Dan kekacauan ini benar-benar membuatnya frustasi.
Dimas yang daritadi memperhatikan Agung pun langsung tak kuasa menggodanya.
" Apa Yura yang tadi meneleponmu? Sehingga membuatmu sangat berpikir seperti bapak negara?" Dimas penasaran.
" Kepo."ucap Agung membuat Dimas kesal..
Sampai kantor Agung masih terlihat memikirkan sesuatu.
Dokumen-dokumen dimeja semakin menumpuk. Pikirannya benar-benar sedang tidak fokus. Ada rasa khawatir dengan Yura. Jelas terpancar diwajahnya.
Berkali-kali Dia melihat hp.
###
Begitu selesai wawancara Yura terlihat langsung meminta manajernya segera mengantarnya ke agensi.
" Bukannya Kau belum makan Yura?" Sani terlihat khawatir.
" Apa lebih baik kita ke restoran dulu?" Tanya Sani.
Yura menggelengkan kepalanya. Walau jelas sakit kepalanya mulai semakin terasa. Wajahnya pun terlihat sudah mulai pucat. Sani terlihat benar-benar khawatir. Sani langsung memegang dahi Yura yang sudah mulai terasa panas.
" Kau demam." Ucap Sani terkejut. Sani pun langsung memutar balik arah dan menuju rumah sakit terdekat.
Tiba-tiba Hp Yura berdering.
Terlihat nama Agung nyebelin muncul dilayar hp Yura. Dengan hati-hati Sani mengangkatnya.
" Hallo."
Suara Sani membuat Agung ragu untuk berbicara lebih lanjut.
' Mungkinkah Yura masih sibuk?'pikir Agung.
" Agung? Ada apa?" Tanya Sani dengan hati-hati.
" Apakah Saya bisa berbicara dengan saudari Yura?" Tanya Agung terdengar ragu.
To be continued