Sweet Police

Sweet Police
Penawaran




Berkali-kali Yura mencoba untuk memfokuskan pandangannya ke jalanan dengan mata berlapis kacamata tebal, masker serta topinya untuk menghindari wartawan disekitar rumahnya pagi ini. Perutnya sedikit terasa nyeri. Yura melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Ini pasti akibat terlambat makan pagi ini." Gerutu Yura.


Yura celingak celinguk didalam mobilnya. Berusaha mencari sebuah mini market terdekat. Berharap bisa menemukan pengganjal perutnya sementara.


Dering hp dari Miss Amora mengurungkan niatnya.


"Hallo."


" Apa Kau sudah hampir sampai Kantor?"


"Belum miss."


" Ok. Tunggu didepan kantor."


Yura pun langsung memarkirkan mobilnya di depan kantor. Dan jelas disitu Yura tidak bisa menghindari para wartawan yang sudah menunggunya seharian ini.


Sani dan dua bodyguard khusus dipersiapkan dari kantor untuk membantu Yura melewati 


beberapa kerumunan wartawan.


" Yura... "


" Apa Anda baik-baik ..."


" Bagaimana dengan..."


" Tolong jawab pertanyaan..."


Berbagai pertanyaan wartawan terdengar bersahut-sahutan ditelinga Yura. Sampai akhirnya suara itu menghilang seiring Yura memasuki kantor Penerbit Amora. Yura pun langsung melepas kacamata dan maskernya.


" Miss Amor memanggilmu. Temui Beliau dulu baru kita bahas jadwal hari ini." Jelas Sani.


Yura pun langsung melangkahkan kakinya ke ruangan Miss.Amor. Dengan sopan Yura mengetuk pintu dan memasuki ruangan Miss Amor. Terlihat jelas Miss.Amor sedang sibuk telepon, membuat Yura sejenak menunggu.


" Yura, Aku tahu ini scandal terberatmu.


Yang jadi masalah Kau terkesan terlibat cinta segitiga. Dan tadi Pak Soni menghubungi Saya dan Beliau menyarankan solusi yang terbilang ekstrim." Jelas Miss Amor.


" Pak Soni?" Yura terkejut mendengar nama Ayah Agung selaku Direktur Pillar Group yang menaungi Penerbit Amora ikut memberi solusi buat masalahnya.


" Iya. Pak Soni. Beliau menyarankan Kau dan putranya menikah. Bagaimanapun keadaaan hubungan kalian saat ini. Ini demi nama baikmu dan penjualan novel terbaru kita. " Jelas Miss Amor membuat Yura langsung membelalakkan matanya.


" Tunggu dulu Miss, Apa tidak ada solusi lainnya?" Yura terlihat keberatan dan mencoba bernegosiasi.


" Solusi lainnya? sepertinya belum ada Yura. Kalau Kau membiarkan berita begitu saja muncul hingga menghilang itu akan memakan waktu lama. Walaupun Pak Soni sudah membantu dengan block setiap berita yang muncul. Tapi jelas publik sudah mengetahuinya. Dan mereka butuh konfirmasi tentang kebenaran yang terjadi."Jelas Miss Amor panjang lebar.


" Kau tidak mau juga kan, penjualan novel sweet police menjadi menurun dan hancur gara-gara scandal ini kan? "


Yura menggelengkan kepalanya.


" Kalau begitu buatlah ending realnya sesuai novelmu Yura." Saran Miss Amora sekaligus sepupu Agung.


" Bolehkan kasih Saya waktu untuk memikirkannya Miss." Yura terlihat masih keberatan dengan solusi yang di tawarkan.


" Tentu saja Yura, Semua keputusan ada padamu."


Yura keluar dari ruangan Miss Amor dengan raut muka penuh beban. Rasanya bebannya kali ini sungguh berat. Disatu sisi Dia sudah berhasil membuat Agung jatuh hati dan sekarang membencinya, karena Dia sendiri yang telah menghempasnya. Semua Yura lakukan karena ketakutannya sendiri. Ketakutan terhadap masa lalu Agung yang baginya tak akan berhenti begitu saja. Tapi kali ini sungguh lebih berat dikala mengetahui solusi terbaik adalah menikah dengan putra Pillar Group yaitu Agung. Bagaimana Yura bisa menghadapinya nanti.


Dengan enggan Yura masuk ke ruangannya. Dan terlihat jelas Sani sudah menunggunya.


" Why? " Tanya Sanj begitu melihat Yura tidak ada semangat sama sekali.


" Dosa apa yang kulakukan selama ini San. Sampai Tuhan kasih ujian begitu berat?"Keluh Yura


" Kau selalu memakan makananku!!!" Sani asal menjawab.


" Itu karena Aku masih lapar." Yura cemberut.


"sebenarnya ada apa denganmu Yura?"


Sani melihat Yura sedang tidak bercanda dengannya.


" Miss Amor menyarankan Aku dan Agung menikah demi kelancaran penjualan novel Sweet Police." Ucap Yura terkesan bimbang.


" Daebak!!! Bukankah itu sesuai dengan kemauanmu?" Sani langsung terlihat girang.


" No! No! No!." Bantah Yura seraya menajamkan matanya.


" Why????" Sanj heran dengan jawaban Yura seraya menyodorkan jadwal kegiatan Yura yang sudah direkap ulang karena dampak scandal saat ini.


"San. Apa Kau tidak ingat terakhir kali, Agung masih menemui kekasihnya? Bahkan suara wanita itu begitu manja saat memanggil Agung. Wajah dan matanya begitu bahagia, seperti Agung masih menjadi miliknya." jelas Yura seraya membuka jadwal kegiatannya.


" Ingat Yura. Tapi apa Kau tidak melihat Agung memilih mengejarmu?" Jelas Sanu membuat Yura mengingat ulang kejadian itu.


" Tapi San, wanita itu jelas terlihat tidak akan berhenti begitu saja. Aku melihat jelas sinar matanya yang berambisi kuat mendapatkan Agung kembali." Jelas Yura dengan ketakutannya.


Bagaimanapun juga Yura tidak ingin terus terluka hatinya. Tidak ada bedanya Dia menerima perasaan Agung atau tidak, faktanya sekarang wanita itu masih berusaha mendapatkan Agung kembali. Yang Yura takutkan akan ada konsekuensi scandal jauh lebih besar dari ini jika Dia memilih bersama Agung.


" Gung, Apa semua berita itu benar? Kau masih mengharapkan wanita itu kembali?" Suara Dimas memecahkan kesunyian ditengah-tengah kesibukan mereka bekerja.


" Maksudmu?" Agung merasa pertanyaan Dimas ambigu.


" Masa lalumu?"Dimas penasaran.


"  Entahlah." Jawab Agung meragukan.


Dimas pun langsung menendang kaki Agung yang sedang mengurus berkas-berkas.


" Dimas!!! " Agung terkejut dengan kelakuan Dimas yang kekanak-kanakan.


Tapi Dimas terlihat santai dan merasa tidak bersalah walau dibalas dengan tatapan tajam Agung yang terkesan mempermainkannya.


" Bagaimana dengan Yura?" Dimas kesal dengan jawaban Agung yang terdengar plin plan.


" Siapa itu?" Agung sok memperjelas pertanyaan Dimas.


" Yura Azzahra !!!!" Teriak Dimas membuat seisi ruangan menoleh kepada mereka.


Mereka pun langsung berdiri dan meminta maaf karena telah mengganggu kesibukan polisi lainnya.


" Agung???" Bisik Dimas masih tidak menyerah dengan pertanyaannya.


" Entahlah." Ucap Agung lagi-lagi membuat Dimas kesal.


" Kalau Kau menyakiti Yura. Jangan harap kita berteman. Dan jangan menyesal kalau nanti Aku yang akan melindunginya." Ucap Dimas membuat Agung gerah dengan ucapannya.


" What?" Agung tidak terima dengan ucapan Dimas.


" Karena Aku tulus mencintainya. Makanya Aku sungguh bahagia kalau Dia bahagia denganmu. Tapi kalau Dia sedih karenamu. Sungguh Aku tidak rela. Dan jangan harap ada kata persahabatan diantara kita." Ucap Dimas panjang lebar seperti koran pagi.


" Jadi Kau memilih Yura daripada persahabatan kita?" Agung merasa temannya sama saja dengan Ayahnya yang egois terhadapnya.


" This is right."ucap Dimas penuh keyakinan.


" Bagaimana kalau ternyata penulis idola yang Kau bangga-banggakan itu tidak sesuai dengan penilaianmu selama ini? " Agung terlihat serius dengan kata-katanya saat ini.


" Maksudnya?" Dimas mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan kata-kata Agung.


" Bagaimana kalau ternyata wanita itu materialistis? Dan ternyata Dia mendekati kita selama ini hanya karena sebuah obsesi semata?" Tanya Agung membuat Dimas memutar otaknya.


" Apa yang Kau maksud ini Yura?" Dimas tidak langsung menjawab tetapi memastikan dahulu.


"Iya." Jawab Agung singkat.


" Apa Kau tidak salah menilai? Menurutku Yura tidak seperti itu. Selama ini Dia kerja keras di dunia penerbitan bahkan sampai terbilang penulis multitalent karena Dia mempelajari semua bahkan Dia bisa menghandle bagian editor.


Kalau Dia mempunyai sifat materialistis atau terobsesi dengan materi kenapa Dia tidak mendekati pengusaha yang kaya raya atau orang terkemuka seperti putra mahkota kalau Dia mau, kenapa malah mendekatimu seorang polisi yang tidak jelas hah?"


" Jadi maksudmu perasaannya benar-benar tulus padaku?" Agung memastikan inti penjelasan Dimas.


" Iya." Jawab Dimas.


"Tapi bagaimana dengan obsesi novel barunya?"


Dimas terkejut.


"Apa Kau telah membacanya juga?"


Agung mengangguk.


"Itu seperti karakterku."


"Iya juga." Dimas membenarkan.


"Tapi Apa Kau belum membacanya sampai akhir? Terakhir tokoh utama bersama." Jelas Dimas.


Agung terlihat mengingat ulang pertemuan awal dengan Yura sampai akhirnya Dia menelan kekecewaan saat ini.


" Jelas sebenarnya Yura mungkin tidak seperti yang Kau nilai Gung."


Agung terdiam.


" Sepertinya Kau terlalu bodoh dalam menilai seorang wanita." Ejek Dimas seraya berdiri meregangkan otot-ototnya sejenak.


" Terus kenapa Dia menolakku  mentah-mentah seperti itu Dim?" Agung frustasi.


"Siapa??? Yura menolakmu mentah-mentah? Tanpa digoreng dulu kayak gitu?" Dimas terkejut sekaligus heran.


"Iya Dia jelas-jelas menolakku."Ucap Agung.


" Oh My God sepertinya Aku punya kesempatan. " Dimas menari-nari tidak jelas.


" Dimas!!!" Giliran sekarang Agung yang berteriak. Lagi-lagi membuat mereka menjadi sorotan tatapan mata satu ruangan.


" Maaf." Ucap Agung dan Dimas serempak.


To be continued