Sweet Police

Sweet Police
Taktik tak terduga



Dering HP membangunkan Yura dari tidurnya. Terlihat jelas Sani meneleponnya. Dengan malas Yura mengangkat teleponnya.


" Ra sudah jam berapa ini??? " Teriak sani membuat Yura terkejut.


Yura pun langsung melihat jam tangannya.


" Astaga! Aku telat !!!" Teriak Yura tanpa sadar bahwa Dia sekarang sedang dirumah sakit.


Ibunya yang tadinya masih tertidur pun langsung terbangun begitu mendengar suara Yura yang begitu nyaring. Diwaktu yang bersamaan seorang perawat masuk mengantar makanan. Tanpa pikir panjang Yura langsung berpamitan ke Ibunya.


Dengan terburu-buru Yura melangkahkan kakinya menyelusuri lorong ruangan rumah sakit, menuju basement tempat Dia memarkirkan mobilnya.


Dengan kecepatan diatas rata-rata Yura mengendarai mobilnya tersebut.


Berkali-kali Dia melirik jam tangannya. Bahkan sedikit macet saja membuatnya kesal dan menggerutu sendiri.


Lagi-lagi lagi Yura melirik jam tangannya tanpa disadari lampu merah akan menyala. Dan sebuah mobil patroli polisi sudah berhenti didepannya karena lampu merah sudah menyala. Yura pun langsung terkejut dan terpaksa menabrak bagian belakang mobil patroli tersebut.


Agung yang sedang melamun dan terngiang-ngiang kata-kata neneknya yang memintanya menuruti sang ayah langsung tersadar. Sedangkan Dimas yang sedang serius melihat lampu lalu lintas juga terkejut. Mereka langsung menoleh ke belakang begitu merasa mobil patrolinya ditabrak.


" Apa - apaan ini orang. Membuat ku jantungan saja! " Ucap Dimas langsung keluar dari mobilnya.


Agung hanya tersenyum mendengar ucapan Dimas. Agung pun ikut keluar dari mobil patrolinya. Dan langsung mengecek bagian belakang body mobilnya. Terlihat sedikit membentuk lekukan bekas tertabrak. Sedangkan Dimas langsung memilih menghampiri sang pemilik mobil.


" Mati aku. Mati aku. Bagaimana ini?" Ucap Yura seraya memukul -mukulkan kepalanya diatas setir tanpa berani memandang ke arah depan.


Agung menoleh ke arah mobil tersebut, dan merasa tak asing baginya. Agung terkejut begitu mengingat mobil yang menabraknya.


" Yura." batinnya.


Agung pun langsung mengerutkan keningnya dan menarik tangan Dimas begitu mengingat pemilik mobil itu.


" Dim, Tunggu! " Teriak Agung, sebelum Dimas sampai menghampiri pemilik mobil tersebut. Dimas langsung berhenti dan menoleh ke arah Agung


" Why? " Tanya Dimas.


"Biar Aku saja yang mengurusnya. Kau tunggulah didalam mobil. Lagian ini hanya lecet sedikit." Jelas Agung meyakinkan Dimas.


" Tapi Dia sudah membuatku jantungan. Aku ingin memaki-makinya dulu." Ucap Dimas masih terlihat kesal.


Yura yang merasa tidak asing dengan suara mereka langsung mengangkat kepalanya dan memandang ke arah depan.


Terlihat Agung sedang berusaha meyakinkan Dimas bahwa Dia yang akan menyelesaikan masalah ini dan memintanya menunggu didalam mobil saja. Akhirnya Dimas pun mengalah dan kembali ke dalam mobil patrolinya. Sedangkan Agung langsung menuju mobil Yura.


Perhatian Yura masih belum beralih. Bahkan hatinya berdebar-debar begitu melihat Agung ke arahnya. Detak jantungnya semakin kencang saat melihat Agung menatap kaca jendela mobilnya dari luar.


"Perasaan macam apa ini,"batin Yura kesal mengingat perasaannya hanya sepihak.


Yura pun langsung membuka kaca jendela mobilnya sebelum Agung menyuruhnya.


" Maaf." ucap Yura spontan.


Detak jantung Yura semakin berdebar tak karuan saat pandangan mata Agung menatap tajam terhadap dirinya.


" Apa yang Kau lakukan? Apa Kau begitu terobsesi diriku sampai sengaja menabrak mobil patroli hanya untuk melihatku?" Tanya Agung terlihat begitu kesal.


Yura terkejut mendengar dugaan Agung yang sangat menuduh dirinya. Walaupun Yura menyukainya bukan berarti Dia senekat itu. Karena faktanya Yura tidak sengaja.


" Bagaimana bisa tidak sengaja. Jelas-jelas lampu merah menyala. Mengapa Kau malah masih jalan dan menabrak mobil patroli kami. Apa Kau buta warna?" Pertanyaan Agung yang jelas menyindir dan tidak percaya dengan ucapan Yura.


" What!!! Apa Kau bilang? Aku buta warna?" Yura kesal dan tak terima dengan kata-kata Agung. Dia pun langsung membuka pintu mobilnya.


Agung langsung mundur beberapa langkah agar tidak terkena pintu mobil. Tanpa pikir panjang Yura mengeluarkan surat-surat jalannya dan menyerahkannya kepada Agung.


" Apa masih ada yang kurang? Hati, jiwa dan ragaku pun akan kuserahkan jika Kau mau." Ucap Yura kesal.


" Serendah itukah harga dirimu." ucap Agung menatap tajam Yura.


" Why? Apa Aku salah bicara?" Yura bukannya menjawab malah bertanya balik.


Agung tidak merespon lagi dan fokus mengecek surat-surat Yura. Setelah selesai Dia langsung mengembalikan kembali ke Yura yang tengah berdiri membenarkan kaca matanya.


" Lain kali berhati-hatilah. Dan jangan Kau ucapkan kata-kata seperti itu lagi ke seorang Pria manapun." Ucap Agung dan langsung membalikkan badannya.


Yura bingung sendiri dengan kata-kata Agung. Dan spontan Yura menarik tangan Agung yang belum jauh darinya. Agung pun terkejut dan memandang heran wajah Yura yang terlihat serius.


' Apa Kau benar-benar tidak menyukaiku?' tanya Yura dalam hatinya. Tetapi kenyataannya lidahnya berkata lain.


" Apa Kau tidak memintaku untuk bertanggung Jawab atas kerusakan mobil patroli kalian?" Tanya Yura.


Agung heran dengan pertanyaan Yura. Bahkan Agung mengingat kembali pertama kali mereka bertemu bahkan Yura rela merendahkan harga dirinya agar terlepas dari tilangannya. Tapi justru sekarang sebaliknya.


" Sebenarnya Aku ingin Kau bertanggung jawab atas kerusakan itu. Tapi Aku takut ini taktikmu untuk mendekatiku."Jawab Agung


"What!!! Begitu besarkah rasa tidak sukanya dirimu terhadapku? hingga Kau selalu berpandangan negatif tentangku? " tanya Yura spontan untuk memastikan perasaan Agung.


" You are right! Bagus Kalau Kau sadar itu." Ucap Agung tanpa basa-basi.


" Jadi Kau akan setia menunggu wanita yang tidak tulus mencintaimu dan telah begitu lama meninggalkanmu seperti ayahmu bilang itu?" Tanya Yura keceplosan membuat Agung terkejut.


' seberapa jauh ayahnya menceritakan masa lalunya terhadap Yura.' batin Agung merasa kesal dan marah terhadap ayahnya yang tanpa seijinnya menceritakan masa lalunya.


" Iya." jawab Agung terlihat kesal seraya menganggukkan kepalanya.


Yura pun merasa kesal mendengar jawaban Agung dan merasa lebih baik menyerah dan mundur dari tawaran Pak Soni. Daripada maju dan sakit hati.


" Kalau begitu sepertinya Aku harus belajar berhenti menyukaimu dan menolak tawaran ayahmu." Ucap Yura jelas terlihat kesal, namun terdengar serius ditelinga Agung.


Yura langsung menarik pintu mobil untuk menutupnya.


Tanpa diduga sebuah tangan menahan pintunya.Dengan kesal Yura mencoba melepas tangan Agung.


" Apa...?" Belum selesai Yura mengucapkan kata. Agung mendekatkan wajahnya. Sebuah pelukan Agung yang tak terduga.


Yura pun terkejut dan membelalakkan matanya. Sedangkan Agung memeluk Yura dengan pandangan misterius. Entah apa yang dipikirkan Agung. Tapi yang jelas membuat Yura terkejut. Pria yang terang-terangan bilang tidak menyukainya, kini malah memeluknya.


" Cobalah berhenti menyukaiku sekarang kalau Kau bisa! " bisik Agung dan langsung melepaskan Yura seraya melangkahkan kakinya ke arah mobil patrolinya. Meninggalkan Yura yang masih terpaku dengan sikap dan tindakannya. Antara terkejut, bingung dan kesal. Bagaimana tidak, Agung memeluk Yura tanpa seizinnya.


Dan jelas itu membuat Yura merasa terhina dengan tindakannya tersebut.


To be continued