
" Apa yang harus Kita lakukan sekarang?" Tanya Anna.
" Kau bisa melakukan tindakan mulia dengan mengundurkan diri."
" Jangan mimpi!" Anna mengetukkan bolpointnya ke meja.
" Sebenarnya mimpiku melibatkanmu untuk one night dimalam Mingguku. Bukan proposal ini."
" Bisakah Kau lebih br*s*k lagi? " Anna menatap tajam Davion.
" Aku hanya bercanda. Kenapa Kau serius sekali" Davion mengelak.
" Aku bisa bercanda juga." Ucap Anna penuh penekanan.
" Yeah, kapan?" Davion penasaran.
" Ketika itu tidak diucapkan oleh pria sepertimu, yang kekanak-kanakan dan berpikir Ia adalah karunia Tuhan bagi wanita."
" Aku tidak kekanak-kanakan."
" Ok. Up to you." Sahut Anna
" Bantahan sopan, sangat dewasa."
" Kau... Menyebalkan..."
" Kau seperti... My Mom."
" Apa artinya itu?"
" Ok. Akhiri perseteruan Kita. Ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Kita harus mengerjakan hari ini. Kau mau ikut atau tidak?" Davion beranjak dari tempat duduknya dan menoleh ke arah Anna.
" Kau benar. Aku ikut." Ucap Anna.
" Kalau begitu segera temui Aku diruang kerjaku." Pinta Davion lalu keluar dari ruangan rapat.
" Ok." Anna mengambil barang-barangnya dan meninggalkan ruang rapat.
Lima belas kemudian, Anna menemui Davion diruang kerjanya. Anna membawa poster sebesar papan diruang rapat.
" Ini ide paling bodoh yang pernah kulihat. " Ucap Davion.
" Aku sudah menelitinya. Beliau tipe kolot. Dia tidak akan mau menatap serius penjelasanmu dengan layar proyektor saja. Dia butuh sesuatu yang real untuk dipelajari tanp memakai kacamata." Jelas Anna.
" Ini adalah pertemuan bisnis. Bukan buka warung atau restoran." Sindir Davion tidak mau mengalah.
Diskusi Mereka, membuat Mereka kerja lembur. Dan waktu sudah hampir jam sembilan malam, Mereka masih menyusun dan berdiskusi. Anna sudah melepas sepatu high heelsnya. Sedangkan Davion sudah melepas dasinya. Mereka seperti dua orang yang sedang belajar kelompok.
" Aku tidak peduli Kau setuju atau tidak. Aku akan tetap membawa ini." Anna bersikeras sehingga membuat Davion mengalah.
" Ok. Tapi kecilkan ukurannya."
Makanan yang Mereka pesan terlihat baru datang. Anna yang sudah kelaparan langsung makan dengan lahap tanpa peduli ada Davion disitu. Sedangkan Davion terlihat terkagum dengan cara makan Anna yang tidak memikirkan kata diet seperti mayoritas wanita lainnya. Setelah selesai makan, Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Aku yang akan melakukan presentasi." Kata Davion tegas.
" Tidak!"
" Anna!"
" Ini adalah ideku Dav. Jadi Aku yang akan mempresentasikannya. " Ucap Anna.
Davion terlihat stres menghadapi Anna. Davikn berpikir Anna ingin mendapatkan klien dan meningkatkan reputasinya.
" Kau sendiri bilang. Beliau tipe kolot. Berarti Beliau lebih nyaman berbicara dengan sesama pria."
" Aku bilang cara berpikirnya Dav."
" Ya Tuhan. Kau begitu keras kepala." Davion memegang keningnya.
" Aku keras kepala? Kau sendiri menganggap diri seorang raja , paling merasa benar sendiri."
" Setidaknya Aku tahu kapan harus mundur. Tidak seperti Kau yang kaku dijaman modern seperti ini."
Hal itu membuat Davion mundur selangkah demi selangkah.
" Kau bahkan tidak mengenalku. Aku bukan orang yang kaku." Bantah Anna.
" Oh, Tolonglah. Aku tidak tahu tunanganmu itu pria macam apa. Apa yang telah Dia lakukan padamu. Tapi apapun itu, Dia tidak melakukan dengan benar.Kau terlihat seperti wanita yang kesepian sehingga mudah marah."
Anna menatap tajam Davion.Dia mengangkat tangannya, siap untuk men@mp@r pipi Davion. Namun Davion menangkap pergelangan tangannya.
" Astaga Anna. Untuk wanita yang telah mengklaim dirinya tidak mau menghabiskan malam denganku, Kau pasti sangat ingin melakukan kontak fisik." Ucap Davion membuat Anna semakin emosi. Sehingga tangan Anna yang lain terangkat mencoba men@mp@r wajah Davion dari sisi lainnya. Namun Davion memblokirnya.
" Harus lebih baik dari ini. Kalau Kau menginginkanku." Ejek Davion.
" Jangan mimpi. Aku membencimu!" Teriak Anna tepat didepan wajah Davion.
" Aku lebih membencimu!" Sahut Davion balik.
" Bagus!" Ucap Anna sebelum akhirnya Davion mencium Anna secara paksa.
Anna terkejut dan langsung mendorong Davion sekuat tenaga. Namun usahanya sia-sia. Davion langsung mengakhirinya dan memeluk Anna dengan erat.
" Lepaskan Aku! Apa yang Kau lakukan!" Anna terlihat sangat marah.
" Aku menginginkanmu Anna!" Bisik Davion dibawah alam logikanya.
" Aku tidak bisa! Aku sudah bertunangan! Dan pekerjaan ini adalah hidupku. Kumohon Dav, Lepaskan Aku!" Pinta Anna seraya memberontak.
Namun Davion masih belum melepaskannya.
" Kau benar-benar gila." Anna mendorong Davion sekuat tenaga hingga Davion melepaskan dirinya. Tanpa terasa Anna meneteskan air matanya. Anna terlihat gemetar. Davion merasa bersalah dan ingin meminta maaf atas sikapnya yang tidak terkontrol. Namun Anna tidak memberinya kesempatan. Anna langsung keluar dari ruangan dan meninggalkan Davion dengan sebuah kesalahan. Davion ambruk dikursinya dan menyandarkan kepalanya. Dia menatap langit-langit. Lalu mencubit tangannya sendiri.
" Ini bukan mimpi. Apa yang sudah kulakukan terhadapnya." Guman Davion merasa menyesal.
Hari berikutnya, Anna benar-benar menghindari dan mengabaikan Davion. Hingga jam meeting pertemuan dengan klien. Anna terlihat terpaksa melangkah masuk ke ruangan Davion. Anna terlihat sangat cantik dengan celana panjang warna hitam, baju kemeja biru tua dan blazer hitam serta sepatu high heels. Dia meletakkan setumpuk dokumen dan poster kecil dimeja Davion.
" Baiklah, Kau benar. Kau yang presentasi. Aku hanya membantumu. " Ucap Anna bicara seperti tidak ada yang pernah terjadi diantara Mereka. Anna terlihat sangat serius dan profesional.
" Bagus. Ini cara yang terbaik. " Respon Davion merasa bersalah.
" Oya Anna. Soal tadi malam..."
" Itu kesalahan. Dan tidak akan terjadi lagi." Sahut Anna langsung memotong perkataan Davion.
Anna kemudian terlihat keluar dari ruang kerja Davion. Sedangkan Davion menghabiskan waktu lima belas menit untuk memutar kembali kejadian tadi malam secara berulang-ulang.
Hal itu membuatnya terlihat frustasi dan tidak fokus dengan pekerjaannya.
Sesuai perjanjian, Mereka datang menemui klien bersama untuk meeting. Acara meeting dengan Pak Robert berjalan lancar. Walaupun Davion yang banyak bicara, Namun Anna yang sesungguhnya terlihat mempesona. Anna menghadapi meeting tersebut seperti seseorang yang telah ahli. Bahkan Anna terlihat tertawa dengan cerita Pak Robert. Namun itu membuat Davion terlihat kesal. Hingga akhirnya Pak Robert ijin ke toilet.
Anna menoleh ke arah Davion.
" Jadi ini berjalan dengan baik bukan? Maksudku Beliau akan tertarik."
Davion mengangkat bahunya, " Tergantung apa yang ingin Kau jual."
" Apa maksudmu? Tentu saja, Aku menjual proposal Kita." Anna menatap Davion.
" Benarkah? Tapi Kulihat Kau seperti menawarkan padanya sesuatu yang benar-benar lain." Ujar Davion.
" Aku tidak mengerti maksudmu Dav. Jadi apa maksudmu?"
" Ayolah Anna. Kau sudah dewasa. Kupikir Kau memahami kata-kataku."
" Aku sudah bersikap profesional Dav."
" Akan lebih profesional lagi, Kau memakai rok mini."
" Apa Ku gil@?" Bisik Anna dengan nada marah.
Dan segelas air es sudah Anna tuangkan ke celana Davion.
To be Continued