Sweet Police

Sweet Police
Berharap Hanya Sebuah Mimpi



Yura langsung menutup pintu mobilnya.


Rasa kesal masih terpancar diraut wajahnya.


" Ini tidak benar! Ini tidak benar! Aku harap ini hanya mimpi. Aku tidak semurahan itu!" Gerutu Yura seraya menyalakan  mobilnya seraya menepuk-nepuk pipi kirinya.


" Aiish! Sial, Ini bukan mimpi." gerutu Yura.


Agung langsung masuk ke mobil patrolinya dan terdiam.


" Agung. Apa Kau sudah memaki-maki orang itu? " Tanya Dimas begitu melihat sahabatnya sudah berada disampingnya.


" Sudah." Jawab Agung berbohong.


" Apa Dia mau bertanggung jawab atas kerusakan mobil ini?" Tanya Dimas seraya menyalakan mobilnya.


" Iya." Agung mengangguk dan lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela dan terlihat mobil Yura baru berlalu.


Jawaban Agung yang singkat-singkat membuat Dimas heran. Tidak biasanya Agung terdiam dan tenang setelah ada suatu masalah. Berkali-kali Dimas melirik ke Agung. Sepertinya kejadian tadi membuat Agung mendadak badmood dan memikirkan sesuatu.


" Apa orang itu begitu menyebalkan sehingga membuatmu tidak mood?" Dimas penasaran.


Agung sepertinya benar-benar sedang begitu fokus memikirkan sesuatu. Bahkan Dia terlihat tidak begitu mendengar pertanyaan Dimas.


"Agung!!!" Teriak Dimas.


Agung jelas terkejut dengan teriakan Dimas.


" Iya. Kenapa Dim???" Agung menoleh kearah Dimas dengan tenang.


Dan tentu saja Dimas kesal karena ternyata pertanyaannya tidak dihiraukan, Bahkan tidak direspon sama sekali.


" Tidak ada!!!" Jawab Dimas kesal.


Tanpa rasa bersalah , Agung hanya menyerngitkan keningnya begitu melihat kekesalan Dimas.


Keheningan melanda dua sahabat tersebut. Dimas Sibuk fokus menyetir. Sedangkan Agung terlihat masih memikirkan sesuatu. Berkali-kali Agung memejamkan mata dan membukanya kembali.


" Aiiish!!! sakit tahu!!!" Teriak Dimas yang ternyata lengannya dicubit Agung.


" Jadi ini bukan mimpi?" Tanya agung membuat Dimas bingung.


"Ini tidak mungkin! Ini bukan diriku! Jelas-jelas ini bukan seperti diriku." Ucap Agung lagi-lagi membuat Dimas semakin bingung mendengarnya.


" Kalau bukan Kau siapa? Apa Kau kerasukan setan? Sebenarnya ada apa denganmu Gung? Perasaan yang ditabrak mobil patroli kita. Tapi kenapa malah Kau yang aneh?"Dimas masih terlihat kesal dengan sahabatnya itu.


" Aku berharap ini hanyalah mimpi, Aku mohon katakan padaku Dim bahwa ini hanya mimpi!" Pinta Agung membuat Dimas lagi-lagi tidak mengerti.


" Apa yang Kau katakan. Jelas-jelas mobil ini ditabrak, itu kenyataan bukan mimpi ! Kausendiri sudah lihat lekukan dibelakang mobil."  Jelas Dimas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa ucapan dan tindakanku berbeda. Aiiish! Bodoh! Bodoh! bodoh!"gerutu Agung.


Dimas langsung menoleh kearah Agung dengan rasa heran. Kenapa sahabatnya itu tiba-tiba tidak jelas dan aneh.


" Apa orang yang menabrak tadi benar-benar membuatmu gila ?" Tanya Dimas semakin heran.


Agung mengangguk.


" Bahkan lebih dari itu." tambah Agung. Lagi-lagi membuat Dimas tidak mengerti dan bingung dengan sahabatnya itu.


Tanpa pikir panjang Dimas pun langsung mengarahkan rute perjalanan tidak sesuai biasanya. Dia mengarah ke sebuah rumah sakit yang terlihat tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Dan itu membuat Agung heran.


" Apa Kau melamun? Bukankah ini jalan menuju rumah sakit?" Tanya Agung buru-buru.


" Iya. Ini jalan menuju rumah sakit. Takutnya Kau gagar otak gara-gara kejadian tadi."jawab Dimas seenaknya.


Agung langsung menatap tajam Dimas. Dimas yang merasa sahabatnya sudah kembali dan tersadar, langsung tertawa dan membelokkan kembali menuju kantor.


Agung hanya mendengus kesal karena Dimas mencandainya.


...****************...


Sedangkan Yura terlihat terlambat begitu sampai kantor. Yura merasa bersalah dan meminta maaf atas keterlambatannya. Berkali-kali Yura melamun dan terlihat tidak fokus membuat Sani heran.


Disela-sela jam istirahat Sani pun mencoba mencari tahu permasalahan Yura.


" Apa Kau ada masalah pribadi?" Tanya Sani seraya mengaduk kopinya.


"Tidak San. Aku hanya lelah." Yura terlihat tidak ingin menceritakan kejadian tadi pagi sahabatnya tersebut.


" Apa karena proyek novel romance ini?"


" Sepertinya." ucap Yura dan bayangan itu masih terlihat jelas didalam benaknya. Dan itu membuat Yura benar-benar tidak konsentrasi dikantor. Berkali-kali Yura mencoba fokus tetapi tetap gagal. Bayangan itu muncul kembali.


" Tenang saja, karyamu terlihat menarik kok. Miss Amora juga menyukainya. " jelas Sani.


" Bagus lah kalau begitu. Berarti tidak sia-sia juga pengorbananku." Timpal Yura membuat Sani berpikir.


" Lampu merah?" Tebak Sani.


Yura mengangguk, dan tiba-tiba Hpnya berdering. Ayahnya mengabarkan bahwa Ibunya telah diijinkan pulang.


" Ibumu?"


Yura mengangguk.


Begitu pekerjaan sudah selesai. Yura langsung ijin pulang dan langsung kembali ke apartemennya.


Pikirannya pun belum terlepas dari kejadian pagi tadi. Dia masih kesal tetapi bingung juga dengan sikap dan tindakannya Agung.


Yura mengarahkan pandangan ke atas langit-langit kamarnya. Berkali-kali mencoba mencari alasan Agung bersikap seperti itu terhadapnya.


' Mentang-mentang Aku menyukainya. Apa Dia pikir Aku semurahan itu? Hingga Dia bersikap tidak sopan seperti itu dan main asal peluk seperti itu. Aiish!!! Ini sungguh menyebalkan!!!' gerutu Yura dalam hatinya.


' Tapi Jelas Dia bilang tidak menyukaiku. Apa Aku harus lanjut hanya untuk membantu ayahnya tanpa berharap perasaan darinya? Tidak... tidak... sepertinya sedikit sulit. Aku pasti sakit sendiri.' Yura terlihat sedang menganalisis dirinya sendiri.


Dering HP membuatnya tersadar. Yura melihat sebuah no. yang tidak asing terlihat di layar hpnya.


Dengan enggan Yura mengangkatnya.


" Hallo."


" Ra. Ada proyek baru lagi." Ucap Sani menggebu-gebu.


" Kirimkan saja dokumen proyeknya dulu."


" Ok."


Yura langsung mematikan teleponnya.


Sani terlihat kesal. Lagi-lagi Yura mematikan telepon secara sepihak.


Rasa lelah membuat Yura langsung tertidur. Lagi-lagi sebuah dering HP mengagetkannya. Yura pun langsung mengangkatnya tanpa melihat layar hpnya.


" San, sudah kubilang kirim lewat e-mail atau telegram saja !!!" Teriak Yura membuat sang penelepon langsung mematikan teleponnya, karena jelas teriakan Yura yang sangat keras dan nyaring sangat merusak pendengarannya.


" Apa Dia juga gila. Bisa-bisa gendang telingaku rusak karenanya." Gerutu Agung dan mengurungkan niatnya untuk meminta maaf pada Yura atas sikap dan tindakannya tadi pagi yang terkesan kurang sopan.


Agung terlihat mondar-mandir dikamarnya. Dia pun akhirnya menelepon Dimas dan mengajaknya keluar untuk nongkrong.


Mereka terlihat bertemu disebuah kedai kopi.


" Untuk apa Kau meminta no.hp  Yura?" Tanya Dimas penasaran.


" Hanya untuk melengkapi data penilangan waktu itu saja yang kurang."ucap Agung mencari alasan dan jelas berbohong.


Lagi-lagi Agung terlihat serius memikirkan sesuatu. Dimas yang diam-diam memperhatikan pun penasaran. Belum sempat Dimas bertanya. Agung sudah terlihat ingin berbicara sesuatu pada dirinya.


" Hmmm.., Dim apa Kau pernah memeluk seorang wanita tanpa alasan?" Tanya Agung seraya mengaduk-aduk kopi kesukaannya.


Dimas berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


"Pernah. Apa Kau memeluk seorang wanita tanpa alasan seperti itu?" Dimas balik bertanya dan menatap Agung dengan tatapan menyelidik.


Agung mengangguk.


"Sebenarnya, Aku hanya kesal saja mendengar ucapannya. "Jelas Agung.


" Berarti itu alasan bodoh!" Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Apa??? Kau bilang Aku bodoh???" Agung tidak terima.


"Iya. Kau memang selalu bodoh kalau soal wanita Gung. Bahkan Yura jelas-jelas menyukaimu, tapi Kau pun tidak menyukainya. Apa itu bukan bodoh namanya?" Tegas Dimas dan langsung meminum kopinya.


Mendengar nama Yura membuat Agung teringat kembali tindakannya yang tidak sopan tadi pagi. Agung hanya bisa menghela nafas mengingat kecerobohannya itu.


" Sepertinya Aku memang bodoh." gerutu Agung membuat Dimas melongo.


" Akhirnya Kau mengakui juga kalau Kau bodoh." ucap Dimas langsung tertawa.


" Iya bodoh memang. Dan ini aneh. Tidak biasanya Aku seperti ini." lagi-lagi ucapan Agung membuat Dimas bingung.


" Maksudmu apa sih Gung?" Tanya Dimas.


" Kalau Kau tiba-tiba memeluk seseorang artinya apa?"Tanya Agung serius seraya mengaduk kopinya.


" Tidak ingin jauh darinya." ucap Dimas spontan.


" Apa Kau benar-benar pernah memeluk seseorang dengan perasaan seperti itu?" Agung kembali bertanya.


Dimas mengangguk.


" Kau ingat saat kita mau pendidikan."Tanya Dimas.


Agung menggangguk, " Ingat."jawabnya.


" Aku memeluk Ibuku dengan perasaan seperti itu." ucap Dimas seraya sok mau menangis.


" ... ??? " Agung langsung berubah ekspresi mendengarnya.


To be Continued