
Mata Yura memperjelas. Dan wanita itu semakin mendekatinya.
" Siapa?" Yura memastikannya.
Terlihat Dia tersenyum berjalan menghampiri Yura. Dengan angkuhnya Dia membuka kacamatanya.
" Oh my God! Dia membiarkanmu pulang sendiri? Sepertinya Agung sudah tidak peduli lagi terhadapmu!!!" ucap Sella tanpa basa basi dengan tatapan sinisnya.
" Kau? Mantannya Agung?Sebenarnya Apa yang Kau lakukan pada keluarga Agung?" Tanya Yura
seraya menahan rasa pening dikepalanya.
Sella tertawa. Matanya menatap penuh wajah Yura.
" Kau tak perlu tahu!!! Kumohon tinggalkan Agung baik-baik atau Kau mau melihat perusahaan keluarganya hancur!!! " ancam Sella.
Yura terdiam dengan kata-kata Sella. Suatu keegoisan kalau Dia mempertahankan Agung saat ini untuk kehancuran perusahaan keluarganya Agung.
" Yaa!!! Apa yang Kau lakukan disini Sella ya?Kau mengikutinya?" suara Agung yang tiba-tiba membuat mereka terkejut.
" Aku hanya penasaran dengan wanita yang sepertinya berhasil menggantikan Aku." jawab Sella.
Agung mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya ke Yura.
" Apa Kau baik-baik saja Ra?" Tanya Agung seraya memegang bahu Yura.
" Iya." Yura mengangguk seraya menghempaskan tangannya Agung.
Agung terkejut, Dan bertanya-tanya kenapa Yura bersikap seperti itu padanya.
" Jadi Kau tetap memilih wanita itu?" Tiba-tiba pertanyaan Sella mengalihkan pikiran Agung.
" Iya Sell." Agung menekankan ucapannya.
"Kau benar-benar ingin melihat perusahaan keluargamu hancur?" Ancam Sella.
Agung terdiam masih memikirkan jawaban apa yang akan Dia katakan.
" Kau tidak perlu menghancurkan perusahaannya, Aku akan meninggalkannya." ucap Yura.
" Tidak!!! " Agung menggelengkan kepalanya seraya menoleh ke arah Yura.
Sella langsung tertawa.
" Beb. Kau lihat sendiri. Dia lebih memilih meninggalkanmu. Buat apa Kau mempertahankannya? Be mine please Beb!" Sella terlihat bahagia.
Yura pun langsung melangkahkan kaki meninggalkan mereka berdua.
" Yura!!!" panggil Agung seraya melangkahkan kakinya mengejar Yura. Namun tangan Sella menahannya.
" Sampai kapanpun Aku tidak akan kembali lagi padamu!!!" ucap Agung seraya menghempaskan tangan Sella. Agung langsung berlari mengejar Yura.
Sella terlihat memegang tangannya yang telah Agung hempaskan. Penolakan yang Agung lakukan saat ini benar-benar membuat Dia sakit hati dan harga dirinya terluka. Sella langsung mengambil hpnya ditas. Dia menelepon seseorang.
"Hallo." terdengar suara seseorang dari seberang telepon.
" Langkah kedua!!!" perintah Sella.
" Apa Kau yakin? Ini tidak semudah yang Kau bayangkan?" Seseorang itu mengingatkannya.
"Aku yakin! Cepat lakukan langkah kedua!!!" Teriak Sella seraya melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
###
Agung mempercepat jalannya. Namun Yura buru-buru masuk ke lift. Dia buru-buru menekan tombol dua. Agung tertinggal beberapa langkah. Agung terpaksa menunggu liftnya terbuka kembali. Tangannya berkali-kali memegang kepalanya.
" Aiish! Kenapa begitu lama terbukanya." gerutu Agung seraya menendang lift.
" Permisi Tuan. Mohon jangan merusak fasilitas umum!" ucap security yang tidak sengaja berdiri dibelakang Agung.
" Maaf." ucap Agung menunduk malu setengah mati ketahuan telah menendang lift.
Setelah lift terbuka Agung pun langsung masuk lift.
Yura mencoba mempercepat langkahnya dan megambil hpnya disaku dan menghubungi seseorang.
"Hallo, "
" Iya Hallo San, kumohon cepat buka pintu apartemenmu!" Pinta Yura.
"Whatt!"Sani bingung.
" Ok. Ok. Aku buka pintu sekarang." Ucap Sani walau masih bingung.
Tanpa pikir panjang Yura langsung menuju ke apartement Sani. Berkali-kali Yura menekan bell. Namun Sani terlihat belum membukakan pintu untuknya.
" San please. Buka pintunya!!!" Teriak Yura berkali-kali membuat tetangga sebelah apartement Sani yang baru datang terlihat heran melihatnya.
" Anak muda sekarang memang jarang ada yang mempunyai etika. Malam-malam teriak-teriak." ucap orang tua separuh baya itu geleng-geleng kepala dengan raut wajah penuh simpati, lalu membuka pintu apartementnya.
" Apa????" Yura langsung memutar bola matanya, terdiam dan terpaku didepan pintu apartement Sani yang belum kunjung terbuka.
" Sepertinya Aku memang tidak punya etika." ucap Yura seraya menyandarkan keningnya tepat didepan pintu apartement Sani.
Sani terlihat baru membuka pintu apartemennya. Sedangkan Yura malah melamun.
'Saya berjanji akan berusaha selalu bertahan disampingnya apapun yang terjadi.' kata-kata itu kini terngiang-ngiang dipikirannya. Sebuah janji yang terucap kepada Pak Soni tanpa pikir panjang.
' Apa maksud Pak Soni berharap Aku bertahan walaupun Sella sedang mengancam hubungan Kami. Tapi apa yang akan terjadi kalau Aku tetap bertahan? Bukankah itu menghancurkan perusahaan Beliau.' Yura berpikir sangat serius. Mempertimbangkan dengan matang.
" Yaa!!! Apa yang Kau lakukan didepan pintu apartement dengan gaya seperti itu?" Suara Sani membangunkan lamunannya.
" ???" Yura terlihat bingung dan tidak mengerti dengan apa yang Sani ucapkan.
" Sudahlah Ayo masuk! " Sani mempersilahkan Yura untuk masuk ke apartemennya.
Yura pun langsung buru-buru masuk mengingat Agung sedang mengikutinya.
" Sebenarnya apa yang mengundangmu sampai sini?" Tanya Sani seraya mengambil air mineral dan memberikannya kepada Yura.
" Thanks." ucap Yura lalu meminum beberapa teguk.
"Aku hanya ingin menenangkan diri." jelas Yura.
Berkali-kali dering Hp Yura berbunyi. Tetapi Yura mengabaikannya.
" Kenapa tidak Kau angkat?" Tanya Sani.
" Aku malas. Aku ingin tidur. Biarkan malam ini Aku menginap disini ya San." ucap Yura langsung ke tempat tidur Sani tanpa permisi.
Sani hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Yura, Ia pun mengambilkan selimut buat Yura. Yura langsung terlihat tertidur pulas.
###
Sinar mentari pagi menerobos melalui celah-celah tirai jendela kamar. Yura mulai terusik dengan cahayanya. Dia pun terbangun kala suara dering hpnya memecah keheningan dipagi ini. Dia pun mulai membuka matanya perlahan. Sekilas tampak terkejut.
Dia pun langsung menepek jidat kal Dia sadar kalau Dia semalam menginap di apartementnya Sani.
" Kau sudah terbangun?" Tanya Sani seraya menyibak tirai jendela kamar dan membukanya.
" Iya. Terima kasih telah menampungku." ucap Yura seraya mengambil hpnya diatas meja dekat lampu tidur. Terlihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Agung.
" Ok. No problem. Ngomong-ngomong apa Kau kabur dari Agung?"
" Bagaimana Kau tau?"
" Sudah kuduga." ucap Sani seraya mematikan lampu kamar.
" Kau masih libur hari ini kan?" Tanya Sani.
Yura mengangguk.
" Kalau gitu, Aku tinggal ke kantor dulu. Kalau mau sarapan sudah kumasakkan nasi dan telor balado kesukaanmu. Dan kode apartemen Kau sudah tau bukan?"
Lagi-lagi Yura mengangguk.
" Ok. Aku kerja dulu. Dan Pulanglah setelah jiwamu tenang ." Jelas Sani seraya memakai sepatu ketsnya.
" Emang kenapa jiwaku?"
" Sepertinya kurang-kurang." ucap Sani langsung kabur.
" Aiiiish!!! Awas Kau ya San. " Yura langsung beranjak ke kamar mandi.
Tak selang lama setelah membersihkan diri, Yura melangkahkan kaki ke dapur dan sarapan. Beruntung Sani sebagai sahabat sangat pengertian. Sehingga Dia tidak sampai kelaparan.
Waktu telah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Yura yang sudah merasa mendingan kondisinya berusaha mengecek pekerjaannya yang sempat tertunda tiga hari ini.
Namun tiba-tiba hpnya berdering.
To be Continued