
Agung berusaha mengemudi dengan tenang. Berharap Yura tidak mengetahui masalah yang sedang Dia hadapi.
" Apa Kau mau makan dulu?" Tanya mengingat Yura belum makan sejak bersamanya.
" Iya."Yura menggangguk.
Sesekali Yura melirik Agung dari sudut matanya. Dan memalingkan ke jendela saat Agung menoleh ke arahnya.
Jelas Yura melihat kegelisahan wajah Agung malam ini.
' Sepertinya masalah besar.' Itu kesimpulan Yura.
Agung berkali-kali melirik Yura seraya fokus melihat jalanan.
Dia sungguh masih bingung dengan masalah saat ini. Rasanya belum selesai masalah yang satu, sudah muncul masalah yang lainnya. Dan Agung jelas belum memiliki solusi dari masalah ini.
Dan ini benar-benar membuatnya frustasi.
" Kenapa dari tadi kelihatan gelisah? Sebenarnya apa yang terjadi?" Yura benar-benar penasaran dan tidak tahan melihat kegelisahan diwajah Agung.
" Tidak Ra. Hanya sedikit masalah perusahaan. Kau tidak perlu ikut memikirkannya." Jelas Agung mencoba tersenyum dan bersikap tidak terjadi apa-apa. Namun raut wajahnya jelas terlihat dimata Yura.
" Kau berbohong padaku." Yura tidak percaya.
" Meskipun pahit. Kuharap kita bisa selesaikan bersama tanpa ada kebohongan." Tambah Yura dan langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Agung lagi-lagi melihat kekecewaan diwajah Yura. Perlahan tangan kirinya pun menggenggam erat tangan kanan Yura. Dan membuat Yura kembali mengarahkan pandangan ke wajah Agung.
" Maaf Ra. Tapi percayalah ini yang terbaik. Dan tentang hati tak usah Kau ragukan lagi. Aku tak akan membohongimu." Ucap Agung seraya menoleh kearah Yura.
"Ya. Aku bukan siapa-siapamu. Jelas tak ada hak untuk mengetahuinya." ucap Yura antara percaya dan kecewa terhadap Agung yang terkesan menyembunyikan masalahnya terhadap Yura.
"Bukan begitu maksudku. " Agung mengelak.
Agung pun langsung meminggirkan mobilnya. Berhenti sejenak agar tidak mengganggu konsentrasi mengemudinya. Dan itu membuat Yura terkejut.
Agung memandang lekat Yura.
" Ungkapan perasaanku jelas Aku mengajakmu untuk berkencan dan menjadi kekasihku." ucap Agung menjelaskan keadaan hubungan mereka yang masih terkesan ambigu.
" Apa perlu Aku memberikan bunga mawar dan makan malam indah untuk mengajakmu berkencan dan menjadi kekasihku? Aku belum bisa melakukan itu Yura. Kondisi saat ini masih membahayakan buat Kita." Tambah Agung frustasi mengingat situasi yang mereka hadapi saat ini.
" Tidak! Kau tidak perlu melakukan semua itu. " Yura menggeleng dan menoleh kearah Agung. Dia fokus menatap mata Agung sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Aku hanya ingin tidak ada kebohongan dihubungan ini. Itu pun jika Kau serius dengan perasaanmu terhadapku."ucap Yura penuh penekanan seraya membalas tatapan lekat Agung.
Yura langsung memalingkan wajahnya ke jendela begitu selesai bicara.
Agung terdiam dan melanjutkan perjalanan mereka. Dia tidak tahu lagi cara menjelaskan keseriusan perasaannya ke Yura.
Akhirnya mereka makan tanpa ada pembicaraan yang berarti. Agung dan Yura sibuk dengan pikirannya masing- masing.
Begitu juga saat Agung mengantar Yura ke rumahnya. Kesunyian malam semakin membuat mereka terkesan dingin. Sedangkan
sinar rembulan malam mengintip dari balik pepohonan yang rimbun disetiap jalan yang mereka lalui. Lampu-lampu jalanan seakan menjadi saksi bisu perjalanan mereka dimalam ini.
" Terima kasih."Yura terkesan dingin. Sepertinya kekecewaan masih menyelimuti hatinya saat ini. Agung pun langsung menarik Yura ke dalam pelukannya, sebelum pintu mobil terbuka oleh Yura.
" Kuharap Kau mengerti dan memaafkanku. Aku tak ingin kehilanganmu." ucapan tersirat Agung membuat Yura terdiam.
Agung semakin memperat pelukannya. Rasanya Agung benar- benar merasa takut. Dia takut kehilangan Yura. Orang yang lebih tulus mencintainya tanpa alasan. Orang yang dengan lugunya mengejar cinta seorang polisi tanpa mengetahui latar belakang keluarganya. Padahal Dia jelas seorang Idol ternama di negeri ini.
Eratnya pelukan Agung membuat
Yura merasakan permasalahan yang sedang dihadapi pria yang sedang memeluknya saat ini. Dengan pelan-pelan Yura pun membalas pelukan Agung.
Dan Yura membuka pintu mobil disebelahnya.
" Terima kasih." ucap Agung dengan tatapan sendu.
" Sama-sama." Yura melangkahkan kakinya meninggalkan Agung yang masih setia menunggunya. Dia terus memandang Yura dari belakang. Rambutnya yang terikat, lehernya yang indah, kakinya yang jenjang walau terbalut dengan celana jeans, semua itu tidak mengurangi keiindahannya.
Dan Agung baru pertama kali ini memperhatikannya. Begitu Yura sudah tak terlihat dari pandangannya, Agung pun langsung meninggalkan basement apartement Yura.
Agung langsung kembali ke rumah sakit. Jalanan malam yang tidak begitu ramai membuat Agung cepat sampai di rumah sakit.
Adik dan ibunya langsung pulang begitu melihat Agung sudah datang. Dan ayahnya terlihat sudah sadarkan diri. Namun tatapan matanya menyiratkan kekecewaan teramat berat terhadap Agung. Dan Pak Soni masih terlihat membisu tanpa kata. Agung pun belum ada niat untuk membicarakan permasalahan tersebut, Dia takut dengan kondisi ayahnya yang masih belum stabil.
###
Agung datang dengan kantung mata mengerikan, juga wajah lelah yang sangat ketara. Dimas yang hendak menyapa, jadi tidak berani. Aura yang Agung keluarkan saat ini begitu mematikan dan mengancam siapapun yang berani menyentuhnya.
Agung tidak menyadari perubahan itu karena pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Dia bahkan tidak menyangka kalau pikirannya yang bercabang sebelum ini mendadak buntu dan terpaku pada satu masalah yang mungkin akan mengakibatkan masalah besar untuknya.
Selain keadaan ayahnya yang belum stabil, Dia memikirkan Yura juga. Wanita yang Dia cintai saat ini. Dia tak ingin melepaskannya begitu saja demi perusahaannya. Karena jelas saat ini Dia belum menemukan solusi dari masalah yang sedang Dia hadapi. Perusahaan atau Yura, Dia hanya bisa memilih salah satu saat ini. Dan sungguh tidak ingin memilih salah satu. Kalau memilih Yura , perusahaan hancur dan korbannya adalah Ayahnya. Bagaimanapun juga sebenci-bencinya Dia dulu dengan ayahnya. Agung tidak ingin menjadi anak durhaka yang begitu saja menghancurkan kerja keras ayahnya.
Dan sekarang Agung juga memikirkan wanita itu lagi. Wanita yang kini mengancamnya. Wanita yang dulu pernah dia cintai setengah mati dalam hidupnya, kini malah menjadi boomerang bagi Agung.
Dimas yang dari tadi menemaninya memantau lalu lintas pagi ini, hanya sesekali terlihat melirik Agung di sebelahnya. Dia belum berani menyapa.
Agung sesekali meneguk kopinya. Rasa ngantuk jelas masih terlihat diwajahnya.
Mereka kembali ke kantor. Lagi-lagi Agung membuat kopi.
" Yaa apa Kau habis begadang?" Tanya Dimas memberanikan diri.
"Iya." ucap Agung singkat.
" Why?"
" Nothing." Lagi-lagi Agung menyembunyikan masalahnya.
Namun rasa penasaran Dimas tidak sampai berakhir begitu saja. Apalagi terlihat jelas dari raut wajah Agung. Dia sedang mempunyai masalah.
" Ceritalah! Siapa tahu Aku mempunyai solusi untuk masalahmu itu. " ucap Dimas terlihat berhati- hati dalam ucapannya.
" Kau seperti cenayang saja." ucap Agung menoleh ke arah Dimas.
Dimas tersenyum, setidaknya Agung sudah tidak terlihat menyeramkan seperti tadi pagi.
" Raut wajahmu tak bisa membohongiku." ucap Dimas yang selama ini menjadi sahabat Agung.
"Jadi apa masalahmu? " Tambah Dimas.
Agunh terlihat diam sejenak. Masih sedikit keraguan dalam dirinya. Apakah masalah keluarganya pantas Dia ceritakan ke sahabatnya itu. Dokumen itu jelas-jelas bisa menghancurkan perusahaan ayahnya karena melanggar hukum. Walaupun jelas itu dokumen masa lalu, saat Ayahnya masih terlibat dengan dunia politik yang kotor. Beruntung saat itu Agung tidak ditugaskan dibagian tim penyelidik.
Agung menghela nafas panjang. Dia tidak mungkin menceritakan masalah itu diarea tempat kerjanya saat ini. Itu sungguh memalukan baginya. Dia sendiri kerja dibagian hukum, tetapi perusahaan ayahnya pernah terlibat masalah hukum dan ditutupi sampai saat ini.
" Masalah keluarga Dim, Aku tidak bisa menceritakannya dikantor." ucap Agung lirih.
Dimas pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Kalau begitu bagaimana kalau nanti pulang kerja kita mampir ke kedai kopi dulu?" pinta Dimas berharap Agung mau menceritakan masalahnya.
" Ok." Agung menyetujuinya.
To be Continued