
Davion berniat mau beranjak dari kursinya. Namun tertahan saat Dia mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya.
" Masuk."
Anna muncul didepan ruangan pintu kerjanya. Dia memakai kacamata. Itu membuat Anna semakin terlihat profesional.
" Terima kasih Pak. Sebelumnya maaf mengganggu waktu Anda." Ucap Anna sopan dan formal.
" Tidak usah begitu formal. Kita disini patner. Jadi panggil saja Dav."
" Baiklah Pak. Maksud Saya Dav. Begini, Dokumen ini sudah Saya pelajari. . ." Anna berbicara panjang lebar tentang hasil analisanya. Namun Davion terlihat tidak fokus. Pikirannya penuh dengan fantasi-fantasi liarnya terhadap Anna.
' Apa yang sedang Kau katakan? Aku benar-benar tidak bisa mencernanya.' Gerutu Davion dalam hatinya. Davion memejamkan mata sejenak dan berusaha fokus. Dia berharap dapat mengerti dan memproses semua kalimat yang keluar dari mulut Anna.
" ... , Jadi Pak Agung bilang, Anda bisa membantu Saya dalam hal ini." Anna berhenti berbicara dan menatap Davion penuh harap.
" Maaf sepertinya perhatianku terpecah. Bisakah Kau ulang sekali lagi?" Pinta Davion membuat Anna mengerutkan keningnya.
Mau tidak mau Anna mengulang kembali analisanya.
" Jadi Saya telah menyusun portofolio pada sebuah perusahaan kontraktor PT Sinar Galaksi. Pernahkah Anda mendengar tentang perusahaan itu?"
" Sepertinya." jawab Davion seraya berpura-pura membaca dokumen yang dibawa Anna ke ruang kerjanya. Agar Dia fokus dengan pekerjaannya saat ini.
" Mereka membukukan laba sebelum pajak pada kuartal terakhir."
" Benarkah?" Davion menatap Anna sebentar dan kembali ke dokumen diatas mejanya.
" Saya tahu itu bukan sesuatu yang mengejutkan bagi Anda. Tapi Mereka menunjukkan memiliki pijakan yang kuat. Mereka masih perusahaan kecil. Dan itu hal bagus yang Mereka miliki. Namun satu yang Mereka tidak miliki yaitu modal." Jelas Anna tentang analisanya.
" Saya telah menjelaskan sebagian ringkasan analisa Saya diberkas ini. Anda bisa pelajari lebih lanjut dan semoga bisa membantu Anda mengambil keputusan dalam berinvestasi." Tambah Anna.
Davion melihat pekerjaan Anna, semua terinci, detail, informatif dan terfokus.
" Ini bagus Anna."
" Jadi apa Anda sudah bisa memasukkan Saya ke dalam tim?"
" Tentu saja Anna. Apa Aku terlihat seperti orang yang akan mencuri proposalmu?"
" Tentu saja maksud Saya bukan begitu Pak. Maksud Saya Dav. Saya hanya bermaksud... mengartikan... Anda tahu sendiri. Hari pertama kerja membuat Saya nervous."
" Well, Itu bisa dimaklumi. Tapi ini hari pertama yang bagus. Dan tolong biasakan panggil Saya Dav. "
" Baiklah Dav." Ucap Anna masih terlihat kaku.
Davion bersandar dikursinya. Matanya menilai Anna secara tidak profesional.
" Ya seperti perayaan biasa saja. Dan Saya menduga siapa Anda, saat Anda menyebut nama-nama perusahaan tempat Anda bekerja."Jelas Anna.
" Jadi Kau pernah mendengar tentang Saya?"
" Tentu, Saya pikir semua orang mengetahuinya."
" Jika satu-satunya alasan Kau menolakku kemarin malam karena perusahaan ini. Saya akan menyerahkan surat pengunduran diri dimeja Ayahku dalam waktu satu jam." Davion masih benar-benar kacau.
Anna tertawa dan tersipu.
" Tidak. Itu bukan satu-satunya alasan Saya." Anna lagi-lagi mengangkat tangannya. Menunjukkan bahwa Dia sudah berkomitmen dengan suatu ikatan.
Davion hanya mengangkat alisnya dan menghela nafas.
" Tapi sekarang, Saya tidak membuatmu tidak nyaman kan?" Tanya Davion.
" Tidak, sama sekali tidak. Tapi apakah semua karyawati Anda diperlakukan seperti ini?" Tanya Anna penasaran.
" Tidak. Belum pernah." Davion menggelengkan kepalanya.
" Hanya satu, yang terus Saya pikirkan sejak malam Minggu kemarin. Kau tahu sendiri. Saya tidak terbiasa ditolak." Tambah Davion tersenyum nakal.
" Ya Tuhan. Anda benar-benar tidaj bisa diperbaiki." Ucap Anna prihatin.
" Saya melihat sesuatu yang Saya inginkan. Itu didirimu. Dan biasanya Saya mendapatkan apa yang Saya inginkan."
Anna tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Dan Saya pikir Kau harus tahu. Saya menginginkanmu Anna." Tambah Davion dengan nada lemah lembutnya.
Anna benar-benar merasa panas dingin menghadapi Davion untuk saat ini. Sepertinya Dia harus belajar cara menghadapi pria semacam Davion. Selama ini yang Anna tahu hanya pendidikan dan pekerjaan.
Suara ketukan pintu dan pintu ruangan terbuka. Zia terlihat masuk ruangan. Dan hal itu menyelamatkan Anna untuk pamit keluar dari ruangan Davion.
" Kepentingan Saya sudah selesai.
Saya pamit kembali ke ruangan kerja Saya. Terima kasih atas waktunya."
" Ok. Silahkan." Ucao Davion walaupun merasa tidak rela dengan waktu yang tidak tepat saat ini.
Anna menghela nafas panjang. Dan Dia langsung masuk ke ruangan kerjanya. Sepertinya menghadapi seorang Davion sedikit mengganggu mentalnya. Namun bagi Anna karir ini adalah hidupnya dan komitmen adalah segalanya baginya. Kata-kata Davion tidak akan mempengaruhi Dia untuk menyerah baik dalam karir dan komitmennya.
To be continued
...Jangan lupa like dan komentarnya....
...Terima kasih ☺️...