Sweet Police

Sweet Police
Kepercayaan




Akibat efek obat dari dokter Yura terlihat mengantuk dan langsung tertidur pulas.


"  Cantik."ucap Agung seraya tersenyum melihat wajah Yura yang tertidur pulas dihadapannya. Agung benar-benar menikmati pemandangan itu. Pemandangan terindah baginya saat ini, kala Dia bisa lebih lama memandang wajah polos wanita yang telah mencuri hatinya saat ini.


Dering hp mengalihkan pandangan Agung. Terlihat panggilan telepon dari sang ayah yang sempat seharian Agung abaikan karena frustasi.


Dengan pelan-pelan Agung beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan. Berharap suaranya tidak mengganggu istirahat Yura.


" Hallo."


" Dimana Kau malam-malam belum pulang? Apa Kau sudah mengetahui Yura sakit?" Tanya Pak Soni to the point dengan putranya.


" Iya ayah." Jawab Agung singkat.


Agung masih teringat berdebat dengan ayahnya pagi tadi. Dan itu membuat Dia badmood. Walaupun apa yang dikatakan Ayahnya memang benar. Yura tidak mungkin sesuai dengan kata-kata yang Dia ucapkan sendiri. Faktanya kata dan hati terkadang memang  bertentangan. Buktinya sekarang Agung terlihat malah rela ijin demi wanita yang Ayahnya bela sebelumnya.


" Jadi Kau sedang bersamanya?"


Suara Pak Soni terdengar bahagia.


" Siapa?" Agung masih gengsi mengakui ke Ayahnya. Dan berpikir keras darimana Ayahnya mengetahui Kalau Dia sedang bersama Yura.


" Yura. Jadi Kau benar-benar sudah bersamanya?" Pak Soni terdengar sangat penasaran.


" Darimana Ayah mengetahuinya?" Bukannya menjawab pertanyaan Ayahnya, Agung memilih bertanya balik.


" Aiiish, bahkan sudah menjadi trending topik. Apa Kau tidak melihatnya? sepertinya Kau benar-benar lupa waktu. Iya sudah, Ayah hanya memastikan saja Kau benar-benar sedang bersama Yura atau malah keluyuran tidak jelas lagi." Ucap Pak Soni panjang lebar membuat Agung menghela nafas panjang.


Begitu Ayahnya menutup telepon. Agung pun langsung membuka hpnya dan jelas fotonya terpajang manis dimana-mana. Berbagai komentar positif dan negatif saling bersahutan.


" Sekarang Aku baru mengerti dunianya. Dunia yang kadang membuatnya bertentangan antara hati dan ucapan." Agung langsung kembali masuk keruangan.


' Dia hanya seorang penulis, tetapi terkenalnya sudah seperti seorang artis. Mungkin benar kata Dimas. Dia sangat bekerja keras hingga berhasil seperti saat ini.' batin Agung.


Terlihat Yura sedang tertidur pulas. Dengan hati-hati Agung pun langsung duduk kembali.


'' Aku sekarang benar-benar sudah mengerti duniamu. Kau benar-benar berjuang mengejar inspirasi demi impian dunia yang kadang belum tentu mengertimu. Mungkin demi fans-fansmu yang masih selau setia mendukungmu dan selalu menanti karyamu. Misalnya Dimas." Ucap Agung lirih seraya mengelus rambut Yura yang terurai panjang sambil tersenyum begitu mengingat Dimas sahabatnya.


" Tapi tahukah Kau, gara-gara Dimas Aku jadi lebih paham tentang dirimu. Sungguh Aku dulu tidak tertarik dengan dirimu. Bagiku Kau hanya mengandalkan wajah cantikmu itu sebagai penulis best seller. Tapi entah mengapa celotehan-celotehan Dimas tentangmu lama-lama menarik bagiku, bahkan kini telah berhasil menarik hatiku. Sepertinya Aku harus berterima kasih banyak padanya." Agung masih berbicara sendiri.


Hanya untuk mengeluarkan isi hati dan pikirannya. Bahkan Dia berharap Yura masih tertidur pulas dan tidak mendengarnya.


Namun samar-samar Yura mendengarnya dan sesimpul senyum terukir diwajahnya. Namun efek ngantuk dari obatnya membuat Yura lebih memilih ke dunia mimpinya.


Pintu ruangan seketika terbuka. Dan membuat Agung langsung menarik tangannya kembali.


Seorang pria setengah baya muncul dihadapannya. Dan jelas Agung langsung beramsusi itu Ayah Yura. Ayah Yura terlihat datang menjenguk Yura. Raut wajah cemas dan khawatir menjadi satu.


Agung pun langsung berdiri dan mengucapkan Salam.


"Selamat malam Pak." Agung menyapa Ayah Yura.


" Selamat Malam. Saudara Agung?" Tanya Ayah Yura seraya memperhatikan Agung dengan seksama.


" Iya benar Pak." Jawab Agung sedikit nerveous dihadapan Ayah Yura.


" Kau putra Pillar?" Ayah Yura menebaknya. Scandal Yura yang baru saja Beliau ketahui dari publik tentang putrinya.


" Benar Pak." Ucap Agung seraya menundukkan kepalanya.


" Apa berita itu benar?"


" Maaf Pak."Agung sangat merasa bersalah atas scandal yang terjadi dengan Yura. Ayah Yura pun mempersilahkan Agung duduk kembali. Berharap bisa mengobrol lebih banyak dan mengetahui jelas duduk perkara yang sebenarnya terjadi.


" Jadi bagaimana berita itu bisa muncul?" Beliau terkesan lebih hati-hati dalam bertanya.


Dan itu membuat Agung lebih nyaman untuk menjawabnya. Karena jelas Beliau tipe orang yang akan mendengarkan penjelasan orang yang bersangkutan dahulu, baru Beliau bisa menilainya.


" Saya tidak bermaksud memunculkan berita scandal seperti itu Pak. Saya hanya berniat menyelesaikan masa lalu Saya.Dan dampaknya, sungguh itu diluar kendali dan pemikiran Saya. Saya benar-benar belum tahu Yura begitu terkenalnya di media sosial, sehingga dampaknya sampai seperti itu. Maafkan Saya." Ucap Agung masih dengan perasaan bersalahnya.


Ayah Yura pun mengangguk-


anggukkan kepalanya, tanda Beliau mengerti dan menerima penjelasan Agung.


" Jadi sekarang Kau benar-benar serius dengan putriku? Karena Aku sungguh-sungguh tidak akan membiarkan seorang pria sehebat apapun Kau mempermainkan putriku." Ucap Beliau langsung to the point.


" Saya serius dengan putri Anda. Dan Saya benar-benar meminta maaf telah membuatnya seperti sekarang ini." Lagi-lagi Agung meminta maaf. Jelas rasa bersalahnya semakin terasa disaat Agung benar-benar mengerti akan dunia yang Yura jalani. Dunia yang tidak bisa seenaknya dijalani tanpa prinsip dan komitmen dengan diri sendiri.


Ayah Yura terlihat memandang Agung penuh keyakinan. Beliau mengambil sebuah keputusan sebagai perjanjian awal dirinya dengan Pria yang sekarang sepertinya benar-benar serius ingin bersama putrinya.


" Aku berikan kepercayaanku sebagai seorang Ayah. Kuharap Kau tidak akan mengecewakanku. Seperti yang mungkin telah Kau ketahui, putriku memilih hidup sendiri demi produktif dalam karya-karyanya." Ucap Beliau seraya memandang wajah polos Yura yang masih terlelap tidur dengan mimpi indahnya.


" Terima kasih banyak atas kepercayaan Anda. Saya berjanji akan menjaga dan melindungi putri Anda." Ucap Agung penuh keyakinan.


Beliau mengangguk pelan sebagai tanda benar-benar percaya terhadap kesungguhan Agung.


Agung melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tidak terasa baginya mengobrol dengan Ayah Yura tentang keyakinan hatinya terhadap Yura dan akhirnya mendapat kepercayaan dari Beliau. Dengan penuh rasa hormat Agung berpamitan pulang.


Agung melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Dia terkejut melihat Sani sahabatnya Yura.


Agung terlihat jelas melihat  Sahabatnya Yura sedang menunggu diluar ruangan.


" Selamat malam. " Agung langsung menyapanya.


"Selamat malam. Apa Kau mau pulang?" Tanya Sani yang sepertinya masih sibuk dengan hpnya.


" Iya, Sampai jumpa besok." Agung terlihat berpamitan dan kembali melangkahkan kakinya melewati lorong-lorong ruangan rumah sakit dan menuju mobilnya.


Dengan rasa bahagia Dia pun mengeluarkan kunci dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


Perjalanan dimalam hari  lebih lancar karena sudah tidak begitu padat kendaraan. Hanya satu per satu kendaraan yang berlalu lalang. Tanpa terasa Agung sudah sampai dirumahnya.


Dengan mengendap-ngendap Agung masuk kerumahnya agar tidak mengganggu anggota keluarganya yang lain. Namun apa daya ternyata Ayahnya masih terjaga dengan acara sepak bola malam ini.


" Malam." Balas Pak Soni masih sibuk dengan sepak bola yang lagi seru-serunya.


Agung berjalan melewati ayahnya, berharap ayahnya tidak akan menahannya dengan berbagai pertanyaan. Karena jelas Ayahnya seperti Dimas tipe-tipe orang penasaran terhadap kehidupan pribadinya.


" Kenapa Kau pulang? Siapa yang menjaga Yura?" Tanya Pak Soni membuat Agung spontan terkejut dan menghentikan langkah Agung. Dia berbalik memandang Ayahnya.


" Pertanyaan macam apa itu. Jelas Ayah dan sahabatnya ada disana, sudah banyak yang menjaganya." Jelas Agung walaupun hatinya tadi berharap Dia yang akan menunggu dan menjaga Yura semalaman suntuk. Tapi apa daya, Yura masih belum menjadi miliknya. Dia masih milik Ayahnya dan jelas Agung belum berhak atas Yura.


" Ok. Jadi Kau sudah bertemu dengan Ayahnya?" Rasa penasaran jelas langsung terpancar dimata Pak Soni. Dan Agung akhirnya mengalah duduk untuk merespon pertanyaan-pertanyaan Ayahnya, yang sepertinya tidak akan berakhir begitu saja tepat di detik ini.


" Iya Ayah." Jawab Agung singkat dan berharap Ayahnya menyuruhnya istirahat.


Pak Soni pun memandang Agung penuh selidik. Dari ujung rambut hingga kaki. Membuat Agung berusaha keras menyembunyikan rasa bahagianya. Tetapi bukan Ayahnya kalau tidak bisa menebak raut wajah putranya itu.


" Apa Ayahnya sudah memberikan kepercayaan kepadamu?"


" Tidak Ayah... Beliau memberikan lampu hijau padaku. " Jawab Agung langsung beranjak dari tempat duduknya karena sudah sedikit kesal dengan  Ayahnya yang seperti reporter malam ini.


"Agung!!!." Pak Soni terlihat masih penasaran.


" Aku mau istirahat dulu Ayah. Besok lagi interogasinya."


Jawab Agung terus melangkah ke kamarnya.


" Siapa yang mengajarkan Dia tidak sopan seperti itu pada Ayahnya." Gerutu Pak Soni.


Padahal Beliau masih ingin melontarkan pertanyaan dan membicarakan sebuah keputusan yang ingin diambilnya. Tetapi melihat situasi dan kondisi hubungan putranya dengan Yura membaik, itu sudah membuat Pak Soni sedikit tenang dan mulai menikmati acara sepak bola kembali.


###


Mimpi indah Yura terusik dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela ruangan. Dia pun menoleh ke arah samping. Dan terlihat Sani sahabatnya masih terlelap dengan tidurnya. Yura pun mengingat ulang sebelum Dia tertidur. Jelas melihat Agung datang menjenguk dan menjaganya. Tetapi kenapa tiba-tiba sekarang berganti Sani? Yura pun terlihat kecewa. Padahal mimpi indah Yura, Agung yang terlelap tidur dan menjaganya semalaman suntuk demi dirinya.


" Jadi semalam hanya mimpi. Dia tidak benar-benar begitu peduli padaku. " Gerutu Yura mengobati kekecewaan dihatinya.


Tidak selang lama, dokter berserta assisten perawatnya masuk kedalam ruangan dan membuat Sani terbangun.


" Selamat pagi." Sapa sang dokter.


" Pagi dok." Jawab Yura dan Sani serempak.


Dengan seksama Dokter memeriksa kondisi kesehatan Yura.


" Apa Saya sudah boleh pulang dok?" Tanya Yura sangat berharap.


" Minimal nanti sore Anda sudah boleh pulang Yura." Jawab sang dokter membuat Yura tersenyum bahagia.


" Apa Kau sudah merasa pulih?" Tanya Sani masih khawatir begitu sang dokter dan perawatnya sudah keluar dari ruangan.


" Tentu saja San. " jawab Yura dengan senyuman manisnya.


" Terima kasih sudah khawatir dan menjagaku semalaman." Yura benar-benar berterima kasih kepada sahabatnya, walaupun sebenarnya dalam hati masih berharap didepannya saat ini Agung. Jelas ada kebahagiaan sendiri bagi Yura.


" Aku menjagamu tidak semalaman Ra. Lebih tepatnya setelah Agung pulang jam sebelasan malam dan ayahmu pulang jam tiga dini hari tadi." Jawab Sani seraya mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk.


" What? Ayah datang? Siapa yang memberitahu?" Yura langsung memutar bola matanya.


" Tentu saja Aku. Dan tanpa Aku, Ayahmu tetap akan tahu dari media." Jelas Sani sebelum Yura menyalahkannya.


" Jadi Ayahku bertemu dengan Agung?"


Sani menganggukkan kepalanya.


Pikiran Yura pun langsung kemana-mana. Apa yang mereka bicarakan? Apa Ayah memarahi Agung dan membuat Agung pulang? Yura langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Jelas ayahnya bukan orang yang akan sembarangan memarahi dan mengusir anak orang.


" Why?" Sani bingung dengan gelengan Yura yang jelas-jelas terlihat.


" Apa kira-kira yang mereka bicarakan San?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Yura karena penasaran.


" Entahlah Ra. Aku datang selang beberapa menit sebelum Agung pulang."


Yura langsung terlihat kecewa dengan jawaban sahabatnya.


" Ra, Aku mau membeli sarapan dulu ya." Ijin Sani dan keluar dari ruangan.


Dering hp membuat Yura mengalihkan pikirannya yang sudah tidak jelas arahnya.


Terlihat nama Agung bnyebelin terpajang di layar hpnya. Hatinya pun langsung berdebar tak beraturan, melihat sebuah nama pria yang daritadi memenuhi pikirannya.


" Hallo." Jawab Yura.


" Apa Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Haruskah Aku singgah dahulu kesitu sebelum berangkat ke kantor?" Pertanyaan Agung yang terlihat masih khawatir jelas membuat Yura tersenyum bahagia.


"Aku sudah baik-baik saja. Jadi Kau tidak perlu singgah." Jawab Yura nervous.


" Terima kasih, kemarin sudah menjagaku sampai malam. Aku sungguh berterima kasih padamu dan maaf telah merepotkanmu." Tambah Yura panjang lebar.


" Tidak. Maksudku, Kau sungguh tidak merepotkan Aku. Aku senang bisa berkesempatan menjagamu. Jadi kapan Kau sudah boleh pulang? Karena Kau kemarin jelas terlihat merengek ingin pulang. " ujar Agung mengingatkan Yura yang merengek-rengek ingin cepat pulang kepada sahabatnya.


Dan jelas itu membuat Agung tidak tega dan ingin secepatnya mengeluarkan Yura dari zona ketidaknyamanannya. Tapi itu tidak mungkin, karena Dia bukan dokter yang akan membuat kesehatan Yura lebih baik, jika Dia juga bersikeras memberi kenyamanan tapi tidak untuk kesehatan Yura.


Yura memikirkan dahulu sebelumnya akhirnya menjawab.


" Nanti sore. " Jawab Yura.


" Ok. Nanti Aku yang akan menjemputmu Ra." Ucap Agung seraya tersenyum lebar.


" Tidak usah, Sani yang akan..."


" Tidak usah menolak, Aku yang akan menjemputmu.Titik. Sampai nanti sore." Ucap Agung lalu mematikan hpnya.


Yura mengerutkan keningnya.


To be continued