Sweet Police

Sweet Police
Masa Lalu



Bayangan Agung langsung ke masa lalu. Mengingat ulang kejadian dahulu, saat Sella meminjam dokumen perusahaan Ayahnya dengan alasan untuk tugas skripsi kuliahnya.


" Agung!!!" Teriak Ayahnya begitu Agung terkesan tiada bersuara.


" Maaf Ayah. Aku ceroboh. Itu salahku." Hanya kata ini yang bisa Agung ucapkan. Mengingat dahulu Dia benar-benar terperdaya dengan cinta pertamanya.


" Kau benar-benar... !!!" Ucap Ayahnya langsung terjatuh membuat para pengawalnya langsung melarikan diri kerumah sakit.


Agung yang mendengar riuhnya suara pun langsung bergegas.


" Ayah??? Maafkan Aku. Ayah???"


" Hallo." Terdengar suara asing


" Iya Hallo." Agung bingung.


" Pak Soni sepertinya serangan jantung. Kami akan membawanya kerumah sakit. " Telepon langsung terputus.


Agung langsung terlihat sangat syok.


" Ada apa?" Yura kini terlihat ikut cemas.


" Ayah.., Ayah.., sepertinya masuk rumah sakit Ra.Aku harus segera ke rumah sakit." Jelas Agung.


" Aku ikut." Ucap Yura.


" Kau istirahat saja dulu Ra. Kau sendiri butuh istirahat." Agung tidak ingin Yura ikut kepikiran dengan masalah keluarganya.


" Tidak. Aku ikut saja." Kali ini Yura yang terlihat memaksakan kehendak.


" Apa Kau yakin?" Agung sedikit masih khawatir dengan kondisi Yura.


" Iya. " Yura menganggukkan kepalanya.


Akhirnya mereka berdua langsung bergegas ke rumah sakit langganan keluarga dan menuju ruangan dimana Pak Soni dirawat.


Terlihat Pak Soni masih terbaring dan belum sadarkan diri. Sedangkan seorang Dokter dan beberapa perawat sedang memeriksanya.


" Bagaimana kondisi ayahku dok?" Agung terlihat khawatir.


" Sudah dalam kondisi aman. Mohon jaga kondisi pikirannya, agar tekanan jantungnya tidak naik kembali." Jelas Dokter lalu keluar dari ruangan.


" Sebenarnya ada apa dengan Ayahmu?" Tanya Yura hati-hati.


" Biasa Ra, Ayah biasa naik tensinya seperti ini." Jelas Agung seraya duduk.


Bagaimanapun juga Agung tidak ingin Yura mengetahui masalah keluarganya dan kebodohannya dulu.


Yura terlihat kecewa karena Agung terlihat bohong dan tidak ingin membagi masalahnya. Yura menyadari itu. Tetapi bagaimanapun juga Pak Soni selama ini sudah baik terhadapnya. Yura tidak ingin terjadi apa-apa dengan Beliau. Kalaupun ada masalah, Yura berharap bisa membantunya.


Agung berusaha tersenyum melihat Yura. Dan merasa bersalah begitu melihat kekecewaan Yura yang terlihat jelas diraut wajahnya. Tapi Dia benar-benar tidak ingin Yura mengetahui kebodohan dan kecerobohannya dahulu. Bahkan Dia baru menyadarinya sekarang.


" Apa Kau yakin ingin menunggu disini Ra?" Tanya Agung mengalihkan kekecewaannya Yura.


Yura mengangguk.


" Tapi Ada sedikit masalah yang harus kuselesaikan. Apa tidak sebaiknya kuantar Kau pulang?" Tanya Agung.


" Tidak. Kau pergilah jika memang ada urusan yang perlu Kau selesaikan." Perintah Yura.


" Biar Aku saja yang menunggu Ayahmu sampai keluargamu yang lain datang." Tambah Yura mencoba mengerti posisi Agung saat ini.


Agung pun langsung keluar dari ruangan ayahnya dirawat. Dan langsung menuju basement rumah sakit. Pikirannya sekarang benar-benar emosi. Emosi yang sejak tadi Dia tahan karena ada Yura disampingnya. Emosinya kini benar-benar telah keluar dan bagaikan api yang membara. Siap membakar setiap ranting yang dilaluinya.


###


Di lain tempat Sella sibuk memutar-mutar sendok kopinya. Dia terlihat menunggu seseorang. Lima belas menit yang lalu Agung chat dirinya dan mengajaknya bertemu. Dan dengan senang hati Sella menyetujuinya. Sambil menunggu orang yang masih Dia cintai itu, Diapun kembali mengenang masa indahnya dulu.


"Syukurlah hari ini Aku membawa mobil, kalau tidak pasti Aku sudah basah kuyup sekarang." Sellla menepikan mobilnya didepan coffee shop langganannya. Dia mengambil payung di kursi belakang, dan bergegas memasuki coffee shop. Mungkin karena sudah hampir jelang malam jadi tempat ini sepi, Sella pun melirik arloji dipergelangan tangannya menunjukkan jam tepat pukul 18.00, Pantas saja hanya ada Dia dan seorang lelaki bermantel dan bertopi hitam didepannya.


" Sepertinya dia hanya memesan americano dan hanya tinggal membayar. Baiklah, Aku tidak perlu lama lama mengantri." Pikir Sella.


Namun Sella memperhatikan lelaki itu sedang mencari dompetnya dan ternyata tidak ada disakunya.


Kenangan itu muncul kembali. Saat pertama Sella mengenal Agung. Sekarang gadis itu pun duduk melamun. Matanya sendu mengenang kembali saat Agung masih menjadi miliknya. Dan kini Dia berharap masih mempunyai kesempatan itu. Kesempatan untuk memiliki Agung kembali.


Wajahnya kini tersenyum, terlihat senyuman penuh ambisi.


Tiba-tiba kedua tangan Sella menggenggam erat satu sama lain.


" Berani-beraninya si tua bangka itu menjodohkan Agung sekarang." Pikir Sella penuh dendam.


'Tidak sia-sia kakakku mengajari kelicikan untuk mendapatkan Agung karena penolakan Pak Soni. Dan saat inilah waktu yang tepat.'batin Sella merasa menang.


Dia kembali meminum seteguk kopinya.


###


Setelah beberapa menit  Agung menempuh perjalanan menuju coffe shop, akhirnya sampai di coffe shop.Dia langsung berjalan menuju salah satu meja dimana sudah terlihat sosok wanita yang ingin Dia temui.


Sebuah sambutan hangat pun Dia terima dari seorang wanita yang memakai baju dress berwarna kuning elegan. Terlihat begitu jelas wajah wanita itu sudah sangat menantikan kehadirannya.


"Selamat siang Beb." Sapa Sella dengan senyuman manisnya. Namun Agung sebaliknya. Dia terlihat menahan emosinya sejenak.


"Americano satu. Thanks". Sella mengalihkan situasi dengan memesankan minuman kesukaan Agung.


" Tidak. Expresso saja Mba." Ucap Agung membenarkan pesanan Sella, seraya memandang Sella dengan penuh kebingungan.


" Ok Pak. Tunggu sebentar." Ucap salah satu karyawan.


" Ada apa Kau ingin menemuiku? Sungguh Aku sangat terkejut begitu Kau meneleponku Beb." Ucap Sella berpura-pura belum tahu apa-apa.


" Kau jangan pura-pura Sella ya. Apa yang Kau lakukan pada dokumen perusahaan keluargaKu?" Agung tidak ingin basa basi.


"Apa maksudmu Beb? Aku tidak mengerti." Sella masih berpura-pura tidak mengerti.


Telihat seorang karyawan membawakan kopi untuknya. Agung terdiam sesaat. Kemudian Dia mengaduk kopi sejenak seraya mengontrol emosinya.


" Dokumen rahasia yang dulu pernah Kau pinjam dengan alasan penelitian. Apa Kau ingat itu? "


" Oya itu. Kenapa?" Tanya Sella masih berlagak tidak terjadi apa-apa.


" Kau gunakan untuk mengancam Ayahku sekarang?" Tanya Agung sudah terkesan muak dengan tingkah Sella dari tadi.


Sella langsung tertawa. Dan itu membuat Agung semakin emosi melihatnya.


" Aku hanya bercanda dengan Ayahmu. Sungguh Aku tidak menyangka Ayahmu menjadi ketakutan seperti itu." Ucap Sella sinis.


" Apa maksudmu bercanda? Kau pikir kata-kata yang membuat orang serangan jantung itu bercanda Sella ya!!!" Ucap Agung sedikit menggertakkan giginya.


Jelas emosinya sudah tidak tertahan lagi. Dan kini Agung benar-benar menyesal begitu lama move on dari wanita yang didepannya saat ini.


" Kau... !!! Kau benar-benar telah membuatku muak Sella ya! Aku benar-benar menyesal terlalu lama setia menunggumu."Ucap Agung penuh emosi.


" Calm done babe, Don't worry please! " Ucap Sella dengan tenangnya.


" Aku tidak akan membocorkan ke publik. Asal Kau meninggalkan wanita itu dan kembali padaku! " Ucap Sella dengan mata penuh ambisi.


" Apa???" Agung pun langsung berdiri dan mengepalkan tangannya. Berusaha menahan emosi. Itu jelas terlihat saat ini.


" Be mine babe!" Sella tersenyum penuh kemenangan.


" Ingat Sella ya! Sampai kapanpun Aku tidak akan meninggalkannya dan kembali lagi padamu. Do you understand???" Jelas


Agung langsung beranjak meninggalkan Sella tanpa sepatah kata lagi.


" No babe. Just one. I want You!!!" Teriak Sella.


Agung terus melangkahkan kakinya.Agung merasa akan sia-sia berbicara dengan Sella saat ini. Jelas tidak akan menemukan solusi.


Dengan penuh emosi mengemudikan mobilnya.


Tangan kirinya pun memukul-mukul dasbor mobilnya. Berharap Dia menemukan solusi terbaik dari masalah ini.


Berkali-kali Agung mengerem mendadak karena kurang konsentrasi. Dan akhirnya sampai dirumah sakit kembali.


Agung pun langsung menuju kamar ayahnya yang sedang dirawat. Terlihat Yura sedang mengobrol dengan adik dan ibunya.


Agung pun langsung masuk dan mengucapkan salam.


" Kak, Kau sebaiknya antar kak Yura pulang. Dia sepertinya masih belum terlalu baik kondisinya." Ucap Adiknya.


" Benar kata Adi. Biar Mama dan adikmu saja yang disini." Tambah ibunya.


Agung pun menyetujui saran Ibu dan adiknya.


" Yura pamit dulu ya Bu. Semoga Pak Soni segera sembuh." Ucap Yura seraya menjabat tangan Ibunya Agung.


" Iya Nduk, Terima kasih banyak atas doa dan bantuannya ya Nduk." Jawab Beliau seraya langsung memeluk Yura.


To be Continued