
Yura langsung menuju ke kamar mandi begitu sampai dirumah pribadinya.
Setelah selesai, seperti biasa Dia membersihkan sisa-sisa make upnya dan memakai Baby cream.
Rasa lelah hari ini membuat Yura langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dengan cepat Dia meraih boneka Doraemo untuk di peluknya.
Baru sejenak Yura merasa nyaman tiba-tiba Hpnya berdering. Antara sadar dan tidak sadar, dengan mata terpejam Yura mengangkat teleponnya.
"Hallo."
" Maaf Yura. Apa Kau marah padaku?" Suara Agung jelas terdengar to the point.
Yura yang sudah sedikit terlelap dalam tidurnya bukannya menjawab. Dia malah meletakkan hpnya begitu saja. didekat wajahnya.
Agung menunggu beberapa saat karena jelas telepon belum dimatikan. Namun hanya deru nafas Yura yang terdengar.
" Yura! Apa Kau tertidur?"Agung mencoba memanggilnya kembali. Namun sia-sia, Lagi-lagi hanya keheningan dan deru nafas Yura yang terdengar.
Agung pun berniat mematikan HP-nya. Namun suara Yuraa menahannya.
" Aku sangat membencimu! " Yura mengigau ditengah tidurnya.
" Maaf." Ucap Agung lemah.
" Apa Kau terbangun?" tambahnya walau sedikit ragu-ragu.
Agung menunggu untuk beberapa saat. Namun lagi-lagi tiada jawaban. Akhirnya Agung pun sadar Yura hanya mengigau.
' Apa Kau begitu marah padaku sampai membenciku? Tapi apa Dia sedang memimpikankanku?' Agung mematikan sambungan teleponnya sambil tersenyum membayangkan Yura sedang memimpikan dirinya.
' Tapi Dia membenciku.'
Raut wajah Agung spontan terlihat murung.
Perasaan yang kacau membuat Agung tidak bisa memejamkan matanya. Berkali-kali Dia hanya memainkan sendok di secangkir kopinya. Agung masih merasa aneh dengan kedatangan Sella yang tiba-tiba. Dan seharusnya Agung bahagia wanita yang dari dulu Dia tunggu tiba-tiba menemuinya.
Namun entah mengapa hatinya sekarang tidak sebahagia itu.
Bayangan Keceriaan Yura dan Sella yang meminta kesempatan kedua. silih berganti dipikiran Agung.
Agung kesal sendiri memikirkannya. Bunyi Hp membuyarkan lamunan Agung.
Terlihat jelas nomor baru.
" Hallo."
" Hallo Agung, ini Sella." Suara manja seperti dulu yang sering Agung dengar.
" Iya Sell. Ada apa?" Entah mengapa telepon Sella bukannya membuat Agung senang tetapi malah sebaliknya. Bahkan terasa emosi membakar hatinya.
" Kenapa suaramu seperti tidak senang begitu?" Sella menyadari itu.
Agung hanya mendesah dan menahan gejolak emosi di dada. Jelas Dia teringat masa lalunya. Masa pahit saat Dia sudah berusaha mati-matian mengambil hati ayahnya dan memperjuangkan dirinya. Namun Sella malah menghilang begitu saja dalam hidupnya. Dan disaat Agung sudah mulai melupakanya dan membuka hati untuk wanita lain, Sella hadir kembali secara tiba-tiba.
" Sella ya. Berapa tahun Kau meninggalkanku? Berapa lama Kau menghilang dari kehidupanku? Tiba-tiba Kau muncul meminta kesempatan kedua tanpa merasa bersalah? Mungkin tadi pagi Aku bisa menahan kekecewaanku ini. Kau jelas sudah tahu Aku tidak bisa marah didepan wanita, apalagi wanita yang pernah kucintai. Apa Kau menghubungiku meminta jawaban atas permintaan mu itu?" Tanya Agung panjang lebar dan jelas terlihat menahan emosinya.
" Maaf. Aku memang tidak tahu diri. Tapi berikan Aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Jadi kumohon temui Aku besok malam jam 08.00 di kafe biasa dulu kita bersama." Pinta Sella.
"Oke." Agung sepertinya sedang tidak ingin terlalu lama banyak bicara jadi Dia menyetujuinya. Dan berniat ingin memperjelas hatinya saat ini.
"Terima kasih.''
" Hmm." Agung langsung meletakkan hpnya diatas meja. Rasa emosi sangat jelas terlihat diraut wajahnya.
Sella sadar atas respon Agung yang terkesan dingin. Dia pun langsung mematikan sambungan teleponnya.
###
Sinar mentari pagi memasuki kamar Yura melewati sela-sela jendela.
Perlahan Yuraa membuka matanya. Rasa dingin di pagi hari membuat Yura menarik selimutnya kembali. Namun Yura terkejut karena melihat Hp disebelah bantalnya.
Dia pun penasaran dan mengecek hpnya. Yura lebih terkejut saat melihat nama Agung dipanggilan terjawabnya. Apalagi durasi selama lima belas menit. Jelas itu bukan waktu yang terlalu singkat.
Yura pun mengingat ulang. Namun Dia tidak ingat apa-apa. Dia bahkan seperti tidak ingat mimpinya sama sekali. Dengan ragu-ragu Yura menelepon balik Agung.
Agung yang sedang sibuk bersiap-siap menoleh ke arah hpnya. Tertera nama Yura. Sebuah senyuman bahagia jelas terpancar diwajah tampannya.
" Hallo." Suara Agung terdengar merdu ditelinga Yura.
" Maaf mengganggu. Kenapa Kau tadi malam meneleponku? " Dengan sedikit bimbang Yura to the point bertanya.
" Aku hanya ingin minta maaf padamu Yura."
" It's Ok. No problem. Aku tahu posisiku. Kalau begitu selamat beraktivitas." Yura langsung mematikan panggilan hpnya. Terkesan tidak peduli itu yang ingin Yura lakukan sekarang ke Agung.
Agung terlihat langsung kecewa, sepertinya Dia masih ingin menyatakan sesuatu. Tetapi Yura sudah terlanjur mematikan HP-nya.
Agung meletakkan Hpnya disaku. Rak sepatu menjadi tujuan berikutnya. Dia pun terlihat memikirkan sesuatu. Iya, entah mengapa Dia masih ingin menjelaskan kejadian kemarin walaupun Dia sudah minta maaf. Dengan enggan Agung keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan. Terlihat semua kursi masih kosong. Namun meja sudah siap dengan menu makanan untuk sarapan keluarganya. Dan beberapa assisten rumah tangganya masih sibuk bolak balik diruangan itu.
Agung menarik sebuah kursi dan mendudukinya.
Wajah seriusnya memandang sebuah gelas. Namun jelas pikirannya sedang melayang tidak tentu arah.
' Apa alasanku untuk menemuinya?' Ternyata kata-kata itu yang sedang mengganggu pikirannya.
###
Sani membawakan mobil pribadi Yura yang sudah selesai diperbaiki. Yura terlihat langsung menghampiri mobil kesayangannya itu. Dengan ceria Dia langsung masuk ke mobilnya.
" Aku harap Kau tidak terluka lagi My Baby. Cukup Aku yang terluka." Ucap Yura dengan wajah memelas seraya mengusap dasbor mobilnya dengan lembut.
Sani menaikkan alisnya dan geleng-geleng melihat tingkah Yura.
"Apa Kau gila Yura ya?" Seraya menyerahkan kunci mobilnya.
" Aku hanya terlalu menyayanginya. Apa itu gila?" Yura tidak menerima perkataan sahabatnya.
" Yaa Kau mengajak bicara benda mati. Apa lagi namanya kalau bukan gila Yura ya?" Tanya Sani asal.
Yura hanya cemberut merespon kata-kata sahabatnya itu.
" Kaja Kita sudah hampir telat! " Ajak Sani tersadar akan jam yang sudah hampir menunjukkan pukul delapan pagi.
Mereka pun langsung meluncur ke kantor Amora.
Sampai di kantor semua staffnya sudah datang. Yura pun tersenyum manis dengan semuanya.
" Yura ya! Apa berita ini benar?" Tiba-tiba suara Mia salah satu staff layout membuat Yura langsung mengalihkan pandangan ke hpnya.
" Jadi Kau mau bertunangan dengan putra Pillar Group?"
Lagi-lagi Yura menganggukkan kepala.
" Aku sungguh bahagia Yura ya. Akhirnya Kau menemukan cinta sejatimu seperti dinovel romance-mu."
Dengan raut muka masam Yura merespon kegembiraan itu.
Yura duduk ke kursinya seraya membuka hasil novelnya yang sudah terselesaikan.
' Iya ini hanya settingan kalau Aku tidak bisa mendapatkan hatinya. Setidaknya novel ini terselesaikan dengan happy ending walaupun faktanya masih sad ending dan Aku terluka.' batin Yura.
" Hiks hiks hiks." Yura langsung mengambil tisu didekatnya.
Doni salah satu staff yang diam-diam memperhatikan Yura dari jauh terlihat heran. Dia pun mendekati Yura.
" Why ? Apa Kau menangis gara-gara berita pagi ini? "
Yura menoleh dan menatap patner kerjanya itu.
" Tidak. " Yura slontan menggeleng.
###
Kantor kepolisian dipagi hari.
" Apa Kau senang sekarang? Berita kalian sudah menyebar?"
Tanya Dimas membuat Agung terkejut.
" Jadi Kau sudah memaafkanku?" Bukannya menjawab pertanyaan Dimas, Agung malah balik bertanya.
" Tidak. Aku masih marah. Aku semakin marah jika Kau menyakitinya." ucap Dimas seraya menendang kaki Agung.
"Dimas ya!!!"
Agung tidak terima dan balik menendang kakinya Dimas.
Mereka kembali serius dengan pekerjaan. Namun tiba-tiba Dimas teringat sesuatu.
" Bagaimana dengan Sella?" Dimas kembali menatap Agung.
" Aku akan menyelesaikannya."
Ucap Agung meyakinkan Dimas.
" Apa bisa menyelesaikansemudah itu?" Dimas ragu secara itu masa lalu yang membuat sahabatnya terkunci hatinya.
" Entahlah, tapi Aku akan berusaha." Ucap Agung.
Dimas pun menepuk bahu Agung, tanda Dia memberi semangat dan mempercayai kata-kata sahabatnya itu.
Waktu terasa begitu cepat berlalu bagi Agung. Kala pekerjaannya selesai, Dia pun langsung pulang dan membersihkan Diri.
Jam menunjukkan pukul 19.00.
Raut wajah gelisah jelas terlihat dimatanya. Berkali-kali Dia melihat Hp dan membenarkan headseatnya. Dia terlihat ingin menghubungi seseorang . Namun terlihat ragu.
' Nanti saja. Kalau Aku sudah menyelesaikannya.' batin Agung menyakinkan diri sendiri.
###
" Cheerssss !!!! " Suara serempak disebuah kafe.
Akhirnya Novel Yura pun selesai dan menjadi best seller. Semua staff merayakannya. Dan mereka pun perayaannya dengan makan bersama disebuah kafe.
" Yura, untuk sebuah keberhasilan penjualan novel Sweet Police dan berita pertunanganmu." Ucap Miss Amora seraya mengangkat minumnya.
" Terimakasih atas." Yura mencoba tersenyum bahagia walau hatinya sedang terluka.
Jam menunjukkan hampir jam delapan malam. Yura terlihat begitu menikmati makan malam bersama staff kantornya. Sebelum akhirnya matanya menangkap sosok manusia yang sangat tidak asing baginya. Agung terlihat memasuki area kafe dan menghampiri seorang wanita yang terlihat jelas sedang melambaikan tangan kearahnya.
" Disini Baby, " suara wanita itu jelas terdengar manja.
Bagaikan alarm dimalam hari.
"San, Aku pulang." Ucap
Yura langsung bangkit dari tempat duduknya. Membuat Sani bingung. Namun Yura langsung berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Dia memutuskan meninggalkan kafe itu. Hatinya jelas sedang bergejolak.
"What!!! Yura!!! " Teriakan Sani membuat seluruh pengunjung mengalihkan pandangan kearahnya.
Begitu juga Agung yang terkejut mendengar nama Yura, matanya pun langsung tertuju kesuara dab langsung kesosok Yura yang sedang terlihat buru-buru melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
' KAU HARUS MUNDUR!!! ' satu kata yang muncul begitu saja dalam pikiran Yura. Tanpa menghiraukan sekitar Yura terus berjalan menuju parkiran.
Tidak mau terjadi salah paham lagi, Agung langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa memperdulikan janjinya dengan Sella.
Yura terlihat sudah menyalakan mobilnya begitu Agung sampai parkiran.
Tanpa pikir panjang Agung mengetuk jendela mobil Yura.
" Yura!!! " Agung berharap Yura membuka jendela mobilnya. Namun Yura hanya menoleh dan tetap menyalakan mobilnya.
Agung terlihat pasrah dan langsung ke mobilnya. Tanpa peduli banyak begitu wartawan dan netizen yang memotretnya.
Ditambah Sella yang mengetuk jendela mobilnya Agung. Agung merasa sungguh tidak peduli dengan semua itu.
Belum ada lima menit medsos sudah gempar dengan berita Yura. Miss Amora jelas langsung disibukkan dengan telepon media yang penasaran dengan kebenaran berita tersebut.
'Kisah cinta segitiga Yura terungkap.' jelas langsung menjadi trending topik Twitter diperingkat utama pencarian.
Bahkan langsung dibanjiri oleh banyak netizen.
" Palingan settingan untuk menaikkan penjualan novel barunya."
" Aku sungguh tidak percaya, aku berharap Yura dengan putra mahkota. Mereka lebih cocok."
" Wow amazing. Yura sungguh hebat. Dua putra berdarah biru semua yang dekat dengannya."
" Pria bak putra mahkota memang kebanyakan tiada kesetiaan. Harusnya Yura sadari dari awal."
Berbagai komentar negatif dan positif bersahutan bak burung berkicau.
To be Continued