Sweet Police

Sweet Police
Scandal



Perlahan Agung meraih tangan Yura.


" Maaf.., kalau Aku mengakuinya terlalu lama. Tapi Aku telah benar-benar mulai mencintaimu. Jadi kumohon jangan menyerah." Ucap Agung seraya berdiri tepat didepan Yura.


Yura terlihat benar-benar bingung. Antara percaya dan tidak percaya dengan kata-kata pria yang sekarang sedang dihadapannya. Sedangkan Agung terlihat sangat serius dengan kata-katanya. Tetapi Yura jelas terlihat bimbang apalagi teringat jelas sakit hati yang Dia peroleh sebelumnya dan scandal yang saat ini sedang Dia hadapi. Dia tidak pernah menyangka akan seperti ini. Jelas-jelas ini diluar kendalinya dan membuatnya frustasi.


" Maaf.., Aku tidak bisa." Ucap Yura terlihat jelas meragukan perasaan Agung.


Dan jelas Agung terlihat kecewa.


"Aku sungguh menyesal telah membuatmu ragu. Tapi kumohon percayalah terhadapku. Aku akan berusaha menyelesaikan masa laluku. Jadi percayalah padaku." Ucap Agung berusaha menyakinkan Yura seraya langsung memeluknya. Dan membuat Yura terkejut.


"Lepaskan !!!" Pinta Yura berusaha melepaskan diri dari pelukan Agung.


Agung yang merasa Yura benar-benar meragukan perasaannya pun langsung melepaskan diri.


" Kau sungguh tidak mengerti duniaku. Aku bahkan tidak tahu Aku benar-benar mencintaimu atau hanya obsesiku saja." Jelas Yura seraya duduk dan meletakkan sisa air mineralnya diatas meja.


Agung terkejut dengan pengakuan Yura. Agung pun menarik tangan Yura dan membuat Yura berdiri dari tempat duduknya.


"Apa maksudmu Yura? Apa selama ini Kau mempermainkan perasaanku?" Agung mengerutkan keningnya, meminta kepastian.


"Maafkan Aku." Entah mengapa Yura berkata demikian. Dia hanya tak ingin lagi merasakan sakit hatinya lebih dalam.


" Jadi selama ini Kau membohongiku? Jadi Kau benar-benar tidak tulus saat mendekatiku? Jadi semua apa hanya karena ayahku? Atau demi novel barumu? " Tanya Agung sungguh tak mengerti. Dia benar-benar kecewa dan tidak mengerti dengan respon Yura saat ini terhadap pengakuannya. Jelas hatinya sakit. Disaat hatinya sudah benar-benar terbuka untuk Yura.


Yura menghempaskan begitu saja.


Disaat Dia sudah berusaha mengubur masa lalunya dalam-dalam, justru Yura merespon dengan penolakan. Bahkan penolakan ini lebih mengakitnya rasanya. Ingin rasanya Dia teriak dan menangis. Tapi apalah daya, Dia seorang lelaki.


Sedangkan Yura terdiam. Dalam hatinya sungguh merasakan sakit juga. Sakit karena seperti menentang hatinya sendiri. Sakit karena ucapannya tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Tapi Dia benar-benar belum bisa percaya begitu saja dengan perasaan Agung. Faktanya Agung masih menemui masa lalunya itu. Dan itu sungguh membuatnya terluka dan takut apabila Dia harus menerima perasaannya saat ini.


Suara dering Hp Agung membuat mereka hening sementara.


"Apakah Anda sudah sampai?"


" Iya Den. Tapi disini sungguh banyak wartawan. Apakah Anda bisa ..."


" What!!! Wartawan ???" Teriak Agung memecahkan keheningan ruangan yang sebelumnya sunyi senyap.


Yura pun langsung lemas mendengarnya. Bagaimanapun juga Dia pasti dalam kesulitan lagi untuk beraktivitas kalau ada scandal seperti ini.


"Benar Den, sepertinya mereka sangat penasaran dengan scandal Yura dengan Anda.


Tapi bisakah Anda tidak terkejut seperti itu. Dan kenapa bisa Anda di tempat Nona Yura?." Pak Joni penasaran.


Agung pun tidak menjawab pertanyaan pak Joni dan langsung mematikan hpnya. Agung terlihat langsung minum air mineral dan mondar mandir tidak jelas.


Yura pun tidak bisa lagi menahan ketawanya. Dia langsung tertawa melihat tingkah pria yang sebelumnya telah menyakiti hatinya.


" Kau...? Kau kenapa seperti setrikaan seperti itu haah? Apa Kau kira dunia ini mudah?" Ejek Yura.


Agung pun terhenti dan menghampiri Yura kembali.


" Entahlah. Tapi Bagaimana bisa Aku keluar dari sini kalau banyak wartawan diluar? Kenapa juga Kau membawaku kesini Yura? Apa Kau benar-benar berambisi dan ingin menjebakku?" Agung terlihat kesal.


" Sudah kubilang Kau yang meneleponku Pak Agung. Dan kenapa juga Kau minum-minum tidak jelas tadi malam? Kenapa tidak sekalian minum baygon. Apa hanya gara-gara masa lalumu yang bodoh itu. Aiissh Kau Sungguh merepotkanku." ucap Yura seraya berdiri dan berjalan meninggalkan Agung. Agung pun lagi-lagi menarik tangan Yura.


" Sudah kubilang Aku begitu bukan karena Dia, tapi karena Kau! " Jelas Agung emosi tingkat dewa dengan sikap Yura.


"Aku bukan wanita bodoh yang mau jadi alasan dan pelarian masa lalumu." Ucap Yura dan langsung menghempaskan tangan Agung dan meninggalkannya diruang tamu.


Yura mengambil hpnya dikamar dan terlihat panggilan dari sahabatnya sebanyak tiga puluh kali. Yura langsung menelepon balik sahabatnya.


" Yura, Dimana kamu?"


"Rumah lah. Apa Kau tidak bosan meneleponku? Kenapa menelepon sebanyak ini?"Tanya Yura sok polos.


"Aiish Apa Kau tidak tahu Ra, scandalmu membuatku gila. Perusahaan belum bisa menutupi karena sudah terlanjur menyebar. Bagaimana sekarang apa Kau bisa keluar untuk jadwal project baru nanti siang?"Tanya Sani panjang lebar.


" Yura! Bisakah Kau pinjamkan topi, jaket dan maskermu? " Suara Agung terdengar jelas dari luar kamar.


" What!!!" Yura menoleh ke arah suara.


" Yura ya, suara siapa itu? Seperti suara seorang pria." Sani penasaran.


" Agung." Jawab Yura dengan santainya.


" Whatt!!! Yuraaaa!!!" Suara sani membuat Yura menjauhkan hp dan mematikannya.


" Apa Dia benar-benar gila karena scandalku? Sepertinya Aku sangat merasa bersalah." Yura mengambil Topi dan maskernya di lemari dan lalu keluar dari kamarnya.


Terlihat Agung sedang sibuk menelepon seseorang. Suaranya terdengar samar-samar ditelinga Yura


" Dim kumohon bantulah Aku." Ucap Agung memelas.


" Setelah scandal yang Kau buat dengan penulis favoritku. Kau minta bantuanku. No! no! no! Datanglah ke kantor tepat waktu, kerjaan sudah menumpuk." Suara Dimas terdengar kesal, tidak peduli dan mematikan telepon.


" Nih!" Yura menyerahkan topi, jaket dan maskernya.


" Thanks." Ucap Agung seraya memakai topi, jaket dan maskernya.


Dengan merapatkan topi, jaket dan maskernya, Agung menuju mobil pak Joni yang masih menunggunya.


###


Pagi itu scandal Yura jelas sudah menyebar luas disemua media.


Pak Soni sangat terkejut dengan  topik scandal Yura. Karena jelas itu tidak sesuai dengan rencananya.


" Cinta segitiga? Dasar anak bodoh. Nyidam apa dulu Ibunya sampai putraku begitu bodoh jadi budak cinta lamanya." Gerutu Pak Soni geleng-geleng kepala sambil meletakkan kembali roti bakarnya.


Dengan cepat Pak Soni menghubungi patner media dan IT nya yang selama ini menjadi koleganya.


"Tolong hentikan semua berita tentang Yura secepatnya disemua media tanpa tersisa!!!" Perintah Pak Soni.


Tepat saat Pak Soni selesai menelepon, terlihat Agung datang.


" Pagi Ayah." Dengan enggan Agung menyapa ayahnya.


" Darimana saja Kau semalaman? Jadi Wanitamu kembali hanya untuk membuatmu berantakan seperti ini?" Pak Soni terlihat sangat emosi dengan putranya itu. Karena tidak biasanya Agungtidak pulang dan berantakan seperti pagi ini.


" Maaf." Ucap Agung menunduk. Dia merasa sedang tidak ingin berdebat.


" Kata maaf tidak bisa menyelesaikan semua masalah Agung. Sekarang bagaimana kerja sama Ayah dengan Yura? Bagaimana dengan karir Yura? Dan terakhir bagaimana dengan Pillar Group? Nama besar keluarga kita?" Pak Soni terlihat memutar otak dengan permasalahan ini.


Mendengar Ayahnya menyebut nama Yura dan juga perusahaan membuat jiwa perdebatan Agung kembali membara. Karena bagaimanapun penilaian Agung terhadap Yura sekarang sudah berbeda. Walaupun sebuah rasa masih tertinggal dihatinya.


" Itu urusan Ayah. Bukan urusanku. Dan kenapa Ayah lebih memikirkan Yura yang jelas-jelas orang lain daripada putra sendiri?" Agung kesal dengan pemikiran Ayahnya yang terkesan egois baginya.


" Kebaikan apa Ayah? Kebaikan


menjodohkan putranya sendiri dengan wanita yang memanfaatkan juga?"Pertanyaan Agung seakan mengejek ayahnya.


"  Agung !!! Jaga ucapanmu itu !!! Kau benar-benar belum mengenal Yura. Setahu Ayah. Yura sosok pekerja keras dan bertanggung jawab dengan karirnya. Dia mampu menjaga image nya di depan publik. Dan ... sudahlah. Pokoknya Kau tidak akan mengerti dunia Ayahmu ini jika Kau masih terpaku dengan duniamu sendiri, apalagi dunia masa lalumu itu. " Jelas Pak Soni terlalu kesal seraya berlalu meninggalkan Agung, yang sepertinya masih ingin berdebat dengan Ayahnya itu.


Dengan muka masam Agung berjalan menuju kamarnya.


" Sebenarnya Aku ini anak tiri atau apa? Dan kenapa Ayah begitu membela Yura yang jelas-jelas sama seperti wanita lainnya. Memanfaatkan, mempermainkan, sama saja."Gerutu Agung sambil bersiap-siap untuk berangkat kerja.


Perasaan Agung benar-benar kacau pagi ini. Antara kesal dan kecewa. Kesal karena Ayahnya sungguh egois terhadapnya. Dia merasa Ayahnya selalu membuat keputusan sepihak. Dan kecewa karena perasaannya sudah kembali normal layaknya seorang namja yang patah hati karena ditolak dan dibohongi.


Dering hp kembali mengganggunya. Terlihat panggilan Sella.


" Hallo ."


"Maaf, Gara-gara Aku, Kau terkena masalah dengan Yura." Suara Sella terdengar jelas semakin membuat Agung bertambah kesal.


" Hmmm, Semua wanita sama saja. Begitu juga Kau Sella ya. Aku benar-benar kecewa terhadapmu.


Selama ini Kau bahkan tidak ada kabar sama sekali. Sekarang Kau tiba-tiba muncul. Kau pasti sudah merencanakan itu semua Sella." Agung langsung menuduh Sella tanpa basa basi.


" Aku tidak..."


" I don't care your reason Sella. Cukup sampai disini. Semua wanita sama saja sekarang bagiku. " Agung memotong pembicaraan dan mematikan teleponnya.


Rasa emosi jelas sudah menguasai dirinya. Agung langsung berangkat kerja tanpa sarapan. Masalah pagi ini benar-benar membuatnya kenyang.


###


Agung melajukan mobilnya seraya mendengarkan lagu gravity John Mayer.


" Gravity is working against me


And gravity wants to bring me down


Oh I'll never know what makes this man


With all the love that his heart can stand


Dream of ways to throw it all away


Oh, gravity is working against me


And gravity wants to bring me down


Oh twice as much ain't twice as good


And can't sustain like one half could


It's wanting more


That's gonna send me to my knees


Oh twice as much ain't twice as good


And can't sustain like one half could


It's wanting more


That's gonna send me to my knees


Oh gravity, stay the hell away from me


Oh gravity has taken better men than me (how can that be?)


Just keep me where the light is


Just keep me where the light is


Just keep me where the light is


C'mon keep me where the light is


C'mon keep me where the light is


C'mon keep me where keep me where the light is (oh, oh) "


Lagi-lagi dering hp mengganggunya.


"Agung, Sudah sampai mana Kau ini? Cepetan !!! " suara Dimas terdengar kalut.


" Masih dijalan Dim. Kenapa suaramu seperti kambing kebakaran jenggot begitu? " Agung penasaran.


" Sudah buat gara-gara Kau masih nanya? Wartawan semua disini. Jadi cepetan datang dan suruh wartawan pada pulang !!! Buruan!!! " Lagi-lagi teriakan Dimas membuat gendang telinga Agung serasa mau pecah. Agung langsung mematikan teleponnya.


" Dia kira telingaku tebing apa buat teriak-teriak." Gerutu Agung.


Tanpa terasa sampai didepan kantor pusat kepolisian. Tapi hari ini sungguh berbeda dari biasanya. Banyak wartawan di depan kantor. Dan ini sedikit membuatnya nerveous.


Agung memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Dimas.


Dan sepertinya Dimas masih menunggunya di mobil sesuai rencana sebelumnya. Dengan sigap Dimas langsung keluar dan membantu Agung dari kerumuhan para wartawan.


" Apa yang harus ku lakukan Dim?" Agung meminta pendapat Dimas.


" Jangan bicara apapun. Kau cukup tersenyum dan berjalan menuju kantor. Itu sih yang ku lihat di tv kalau ada artis, aktor atau publik figur terkena scandal." Bisik Dimas sebelum Agung benar-benar keluar dari mobilnya.


Agung pun tersenyum mendengar arahan Dimas. Sedikit beruntung mempunyai sahabat yang gila novel dan drakor sepertinya. Setidaknya Dimas bisa membantunya untuk masalah kali ini. Dan mereka berjalan menembus kerumunan para wartawan.


" Selamat pagi saudara Agung..."


" Jadi sejak kapan sebenarnya Anda berhubungan lagi dengan..."


" Bagaimana dengan Yura..."


" Apa benar Anda pewaris dari Pillar Group..."


Pertanyaan bertubi-tubi melewati pendengaran Agung dan Dimas. Mereka berdua pun mempercepat jalannya. Berusaha cepat melalui para wartawan yang berusaha stanby dihalaman kantor.


" Gung, sepertinya Kau butuh manajer atau bodyguard sepertiku!" Ucap Dimas dengan percaya diri begitu mereka sampai di dalam kantor.


Agung pun langsung melihat Dimas dari kaki sampai ujung rambut lalu geleng-geleng kepala.


To be continue ...