Sweet Police

Sweet Police
The End of Love Adventure (Sequel Sweet Police)



Disini menceritakan tentang Davion yang sudah dewasa. Namun karakternya sangat menguji orang tuanya. Davion terkenal dengan petualangan cintanya yang mengkhawatirkan keluarganya diumurnya yang hampir menginjak kepala tiga. Semoga sequel sweet police ini menghibur bagi pembaca. Untuk visual, Silahkan bebas membayangkan visual biasnya masing-masing. Saya hanya membuat sampul sesuai judul saja. Selamat membaca. Jangan lupa dukungan. Terima kasih.



...1.Pandangan Pertama...


Agung duduk terdiam. Dia terlihat kecewa. Davion lagi-lagi belum pulang ke rumahnya. Padahal ini Senin pagi. Sedang disampingnya duduk Yura yang terlihat sangat khawatir. Dan Yuna yang sedang menikmati sarapannya sebelum berangkat kuliah.


Tepat jam menunjukkan pukul 07.00 pagi terlihat Davion baru pulang. Suara deru mobilnya terdengar digarasi rumah.


" Dari mana semalaman Kau tidak pulang Dav?" Tegur Agung.


" Biasa Dad. Have fun." Jawab Davion santai.


" Sampai kapan Kau akan terus begitu? Kau sudah dewasa Dav. Saatnya Kau berkomitmen. Bukan main-main seperti anak muda yang masih labil." Jelas Agung menasehatinya.


" Aku tahu Dad. Tapi Aku belum menemukannya." Jawab Davion seperti suatu keluhan yang Dia lontarkan.


" Sudahlah Dad. Yang penting Dia sudah pulang dengan selamat." Yura menenangkan Agung yang terlihat naik darah karena tingkah anak sulungnya tersebut.


Davion melangkah menuju kamarnya dan menyambar handuk. Senin pagi jadwal kerjanya. Walaupun Dia suka berpetualang dalam cinta. Namun Dia seorang yang profesional dalam bekerja.


Flashback


Sabtu, malam Minggu.


Davion menerobos keramaian menuju bartender. Dia memesan segelas minuman.


Sesekali Dia menonton orang-orang yang sedang asyik berdansa dilantai dansa saat musik terdengar hingar bingar. Bagi kaum wanita, Davion adalah sosok idamannya. Dia terlihat gagah, berwajah tampan dan bermateri.


Semua wanita tertarik tentang itu semua. Setidaknya 100:10 wanita menyukai semua yang ada padanya.


Tidak jauh darinya nampak seorang wanita sedang menunggu dengan sabar dan agak gelisah. Diantara orang-orang yang berusah untuk mendapatkan pelayanan si bartender.


Wanita itu menarik perhatian Davion. Rambutnya panjang, gelap dan berkilau bahkan dalam cahaya redup. Dia mengenakan kaos warna putih, celana jeans dan sepatu cat. Benar-benar tidak seperti wanita lainnya yang datang ke tempat tersebut.


Tanpa mengulur-ulur waktu, Davion mendekatinya. Dia memutuskan saat itu bahwa wanita itu target petualangannya malam ini.


Tiba sesaat sebelum wanita itu membuka mulut dan memesan minumannya, Davion mencoba mendahuluinya.


" Wanita ini ingin memesan segelas..." Davion menoleh dan menatap ke wanita tersebut. Mencoba menebak.


" Vanilla Latte." Ucapnya.


" Whatt!" Davion terkejut. Secara ini tempat hiburan malam. Tapi Dia memesan segelas kopi.


" Kau hebat dan berani." Ucap wanita tersebut.


" Walaupun Kutahu itu akan salah." Tambahnya.


Davion tersenyum.


" Thanks. Dan Kau cantik." Davion to the points.


Wanita itu tersipu. Wajahnya berubah menjadi merah muda. Itu semakin membuat Davion tertarik dan menginginkannya. Karena tidak biasanya wanita yang Davion goda terlihat tersipu seperti itu. Kebanyakan tidak membuang waktu untuk berbasa-basi.


" Jadi bagaimana jika Kita mencari tempat yang lebih aman, nyaman dan tentunya privat."


" Aku disini bersama teman-temanku. Kami sedang merayakan sesuatu. Aku biasanya tidak datang ke tempat seperti ini." Jelas wanita itu.


" Aku baru saja mendapatkan pekerjaan baru. Dan itu akan mulai Senin besok."


" Congratulation."Ucap Davion tulus.


" Thanks."


" Divisi?" Davion penasaran.


" Finance."


" Benarkah? Sangat kebetulan. Aku sendiri bekerja dibidang keuangan. Mungkin Kau pernah mendengar tentang perusahaanku? Finance Utama Group, One Entertainment, Fans Departemen Mart?"


Wanita itu terbelalak dan terkejut mendengar dimana tempat kerja pria dihadapannya saat ini. Namun sepertinya Davion tidak memperhatikan hal itu. Dia terfokus dengan ambisinya.


" Kita sepertinya memiliki banyak persamaan." Tambah Davion membuat wanita itu tertawa.


" Ngomong-ngomong perkenalkan namaku Davion. Dan Kau?" Davion mengulurkan tangannya, Dia mengajak berkenalan wanita didepannya saat ini.


" Bertunangan." Wanita itu mengangkat tangannya. Terlihat sebuah cincin melingkar disalah satu jemari manis tangan kirinya. Namun itu tidak mempengaruhi seorang Davion. Bahkan Dia tetap menjabat dan mencium tangan wanita itu. Dan spontan wanita itu langsung menarik tangannya. Mata polosnya menandakan penolakan.


Davion terlihat belum menyerah. Dia mengganti taktik pendekatan. Dia merasa tertantang dan tidak biasa ditolak seperti saat ini.


" Bagaimana kalau Kita bertukaran no.hp? Aku tidak berkomitmen. Kau masih mempunyai kebebasanmu." Davion masih melakukan penawaran.


Wanita itu tersenyum dan mengambil minumannya.


" Terima kasih untuk perkenalannya. Aku harus kembali ke teman-temanku sekarang."


Davion tidak menyerah dan memberikan senyuman nakal.


" Sayang, Jika Kau membiarkanku membawamu pergi malam ini. Aku akan memberikan arti baru tentang sebuah kesenangan." Ucap Davion sebelum wanita itu benar-benar beranjak.


Wanita itu menggeleng dan tersenyum.


Lalu Dia beranjak pergi dan melangkahkan kakinya menerobos keramaian orang-orang yang sedang menari di lantai dansa.


Davion terlihat kecewa. Dan Dia memberikan kelonggaran pada wanita itu untuk pergi darinya malam ini.


" Disini Kau rupanya?" Suara muncul dibelakang Davion.


Dia Claudia, sosok wanita yang baru saja berkenalan dipintu masuk utama. Dia membawa temannya.


" Perkenalkan Ini Lia. Aku sudah menceritakan tentangmu padanya. Maksudnya mungkin Kita bisa bersenang-senang malam ini."


" Ok. Let's go!" Ajak Davion mengajak Mereka terjun ke lantai dansa.


Bagi Davion, Sabtu malam Minggu memang jadwalnya bersenang-senang dan berpetualang.


Flashback off


Namun dibalik kenakalannya sebagai seorang pria dewasa. Davion merupakan sosok pria yang mencintai pekerjaannya. Jika diibaratkan perusahaan adalah pertandingan sepakbola. Dia adalah pemain terbaiknya. Kakeknya sudah merintis bisnis dan perusahaan keluarga sejak Dia belum terlahir. Tapi bukan berarti Davion tidak bekerja keras untuk dirinya sampai diposisi saat ini. Dia benar-benar membangun reputasinya dari nol. Hingga Dia menjadi sukses dan profesional seperti sekarang. Dan Agung sudah menyerahkan pekerjaan sesungguhnya pada putranya tersebut. Namun Agung tetap mengawasi, mengarahkan, memberikan saran dan mengambil suatu keputusan.


To be Continued


...NB:Jangan lupa like dan komentarnya....


...Terima kasih....