
" Maaf Gung, Yura sedang sakit." Ucap Sani.
" Yura sakit? Dirumah sakit mana? Apa sakitnya parah? Bagaimana keadaannya sekarang?" Agung spontan terlihat sangat khawatir begitu mendengar Yura sakit.
Sani langsung geleng-geleng kepala mendengar banyaknya pertanyaan Agung.
" Kami sedang menuju rumah sakit Hermina. Jadi belum tahu sakitnya seberapa parah. Kemungkinan sangat parah.Demamnya tinggi." Tambah Sani seraya senyum-senyum sendiri karena merasa berhasil membuat Agung semakin khawatir.
Agung mengucapkan terima kasih atas infonya kepada Sani dan menutup teleponnya.
Terlihat sangat jelas raut muka Agung begitu khawatir dan berpikir keras.
Agung pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan membuat Dimas terperanjat karena terkesan tiba-tiba.
" Why??? " Dimas menatap Agung dengan rasa penasarannya.
" Yura ... Yura ... " Ucap Agung terkesan bingung, membuat Dimas langsung memukul tangan Agung.
Agung langsung menajamkan matanya kearah Dimas.
" Dimas. Sakit tau!!!" Agung protes.
" Ada apa dengan Yura? Kau membuatku gemes jadi berharap pukulanku membuatmu cerdas." Jelas Dimas sedikit kesal karena Agung mendadak loading lama.
" Yura sakit. Aku harus bagaimana???" Tanya Agung antara khawatir dan bingung.
Belum sempat Dimas merespon, Agung sudah terlihat melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dan langsung menuju ruang pak Dodi.
Dengan rasa hormat Agung meminta ijin untuk pulang lebih awal. Melihat raut wajah Agung yang begitu khawatir dan memelas pak Dodi pun tidak tega untuk menahannya dua jam lagi. Iya, jam kerja memang tinggal hanya dua jam lagi. Namun sepertinya Agung begitu khawatir sehingga tidak bisa fokus lagi didalam kerjaannya. Dengan kekhawatirannya Agung langsung menuju rumah sakit tempat Yura dirawat. Dengan tergesa-gesa Agung langsung menuju resepsionis.
" Selamat siang. Ada yang bisa Saya bantu?" Tanya salah satu resepsionis dengan senyumannya yang menawan dan terlihat salah tingkah begitu melihat seorang pria yang sekarang dihadapannya.
" Diruang mana seorang pasien bernama Yura dirawat." Jawab Agung langsung sesuai tujuan.
" Nama lengkap pasien mas?" Tanya resepsionis.
" Yura Azzahra."
" Silahkan isi daftar nama pengunjung."Jelas resepsionis.
Agung pun langsung mengisi daftar nama pengunjung.
' Agung pillar mahardika. Putra Direktur Pillar Group.'
Resepsionis pun langsung tersadar siapa pria didepannya saat ini.
' Oh My God!!! Dia begitu tampan. Pantas saja Yura ya pun ada saingannya. Bagaimana??? Paras wajahnya, hidungnya, matanya, dan tatapan matanya... Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.' Celoteh resepsionis dalam hatinya.
"Jadi diruangan mana Yura Azzahra dirawat?"
Resepsionis masih terpaku melihat Agung.
Agung pun mengerutkan keningnya karena pertanyaannya tidak langsung direspon. Padahal dirinya sedang buru-buru.
" Permisi Nona. Di ruangan Yura dirawat?"Tanya Agung mengulang pertanyaan dan membuat wanita didepannya tersadar dari lamunannya.
" Ee Maaf." Ucap resepsionis menunduk malu dan langsung melihat buku.
" VIP. Ruang nomor tujuh." Tambahnya.
Dengan buru-buru dan sedikit kesal juga kecewa, Agung langsung menuju ruangan yang dimaksud. Sedangkan tanpa Agung sadari si respsionis memotretnya dari belakang dan langsung mengunggahnya di medsos dengan caption ' Dari belakang saja kelihatan tampan. Pantas Yura begitu memikirkannya sampai sakit.'
Lagi-lagi banyak komentar langsung bermunculan dari fans maupun haters.
" Yura sakit? Semoga cepat sembuh Yura. Aku ingin menghandiri promo novel terbarumu untuk mendapatkan tanda tanganmu juga."
" Yura sakit? Dimana? Aku juga ingin menjenguknya."
" Aiish bucin banget sih."
" Oh My God tampan sekali. Berharap mereka jodoh."
" Kasian Yura.hiks."
" Ah... siap-siap patah hati sedunia."
Dengan sebuah infus ditangannya membuat Yura tidak nyaman.
" Sani, Aku ingin pulang. Aku tidak ingin dirumah sakit." Rengek Yura berkali-kali membuat sahabatnya pusing dan frustasi.
" Aiish Yura. Please ... jangan buatku semakin repot. Kalau Kau pulang siapa yang akan merawatmu??? Sedangkan Kau sendiri tidak mau pulang ke rumah keluargamu dan memilih menyendiri. " Jelas Sani panjang lebar membuat Yura cemberut.
Tiba-tiba pintu terbuka.
" Saya bersedia merawatnya." Ucap Agung membuat empat mata diruangan itu terbelalak.
Sani tidak menyangka Agung akan secepat ini datang ke rumah sakit. Sedangkan Yura langsung berpikir ekstra bagaimana bisa Agung mengetahui Dia sedang dirumah sakit. Dengan tatapan curiga Yura pun langsung menoleh ke arah sahabatnya. Melihat Yura yang menatapnya penuh curiga dan tanda tanya, Sani pun langsung mengalihkan situasi.
Sedangkan Agung terlihat sedikit lega begitu melihat Yura tidak separah yang Dia bayangkan sebelumnya.
" Agung? Syukurlah Kau sudah datang. Yura sungguh merepotkanku. Senang jika Kau datang dan bersedia merawatnya." Ucap Sani basa basi.
" Memangnya Aku anak kucing. Main serah terima perawatan." Ucap Yura spontan membuat sahabatnya ingin tertawa tetapi ditahannya karena Agung terlihat jelas sedang serius dan khawatir.
" Aku tinggal dulu, masih banyak kerjaan yang harus kuselesaikan." Tambah Sani yang membuat Yura semakin terkejut dengan ucapan manajernya.
" Ok. Terima kasih dan maaf Yura sudah merepotkan Anda." Ucap Agung seraya menundukkan kepala dan membuat Yura semakin tidak mengerti dengan situasi saat ini.
" Ok Gung. Jagalah Yura baik-baik. " Pesan Sani seraya mengelus rambut Yura.
" Semoga cepat sembuh."Ucap Sani.
" Lagi-lagi Aku dianggap seperti anak kucing." Gerutu Yura.
"Mau kemana Kau San?" Tanya Yura begitu benar-benar melihat manajernya melangkahkan kaki keluar dari ruangan.
" Mengurus kerjaan dan jadwalmu Yura." Jelas Sani seraya menggoda Yura dengan mengedipkan matanya dan langsung keluar dari ruangan. Dan itu membuat Yura semakin kesal.
Suasana terkesan hening. Dengan hati-hati Agung menarik kursi dan mendekatkan dirinya duduk disamping tempat Yura terbaring.
" Apa Kau sudah mendingan?" Tanya Agung mencairkan suasana hening diantara mereka, begitu Sani sudah keluar dari ruangan.
" Iya." Jawab Yura langsung mengalihkan pandangannya dari tatapan Agung yang terlihat begitu khawatir terhadapnya.
" Maaf. Karena kecerobohanku Kau hingga menjadi sakit begini." Agung masih menatap Yura dengan tatapan khawatir dan merasa bersalah.
" Aku hanya kelelahan. Bukan salahmu." Bantah Yura seraya masih mengalihkan tatapannya ke atap, melihat langit-langit ruangan dirinya terbaring.
" Tidak, Kalau Aku tidak menemuinya. Kau tidak akan terkena scandal seperti sekarang ini. Dan Kau tidak akan sampai sakit seperti ini." Agung masih tetap dengan tatapannya yang khawatir dan merasa bersalah.
" Lain kali jangan menemuinya tanpa privasi itu buat kebaikan kalian."ucap Yura kesal karena Agung mengingatkannya kembali dengan kejadian malam itu.
" Maaf. Aku berjanji tidak akan menemuinya lagi." Ucap Agung membuat Yura menghela nafas panjang.
" Jangan Kau berjanji yang mungkin belum bisa Kau tepati." Ucap Yura menoleh menatap Agung yang berada disampingnya.
" Kau boleh tidak percaya dengan kata-kataku. Tapi kumohon percayalah dengan hatiku. " Ucap Agung seraya hati-hati memegang tangan Yuraa yang masih tersambung ke infus.
Dan jelas itu menutup ruang gerak tangan Yuraa. Yura terlihat memilih diam dan tidak menjawab kata-kata Agung.
Keheningan lagi-lagi melanda mereka berdua. Sampai terlihat Dokter dan perawat masuk untuk kembali memeriksa kesehatan Yura.
Dan Agung terpaksa melepas tangan Yura. Dengan cekatan Dokter memeriksa Yura.
" Apa Saya sudah bisa pulang malam ini dok?" Tanya Yura begitu melihat dokter dan perawatnya selesai memeriksanya.
" Maaf , belum bisa. Anda masih lemah. Setidaknya besok malam atau minimal infus ini habis." Ucap sang dokter membuat Yura kecewa.
" Tapi dok, Saya sudah terasa kuat dok. Lihatlah dok! " Ucap Yura seraya mengepalkan tangannya dan menunjukkan kalau Dia sudah tidak lemah lagi.
Dokter pun tersenyum dengan tingkah Yura yang sepertinya sudah tidak betah dirumah sakit.
Sedangkan Agung sendiri malah terlihat khawatir dengan infus yang terpasang ditangan Yura. Dia terlihat takut infusnya lepas dari tangan Yura karena Yura banyak bergerak. Makanya matanya fokus melihat infus yang terpasang.
" Maaf, tapi Anda tetap belum bisa pulang malam ini. " ucap sang dokter seraya menundukkan kepala dan keluar dari ruangan.
Begitu dokter keluar Agung pun langsung memeriksa selang infus Yura. Dia seperti meneliti apakah masih terpasang dengan benar. Yura terlihat langsung terpaku dengan Sikap Agung.
" Aku tak akan membiarkan Kau sakit dan terluka lagi karena Aku." Ucap Agung seraya meletakkan kembali tangan Yura dengan hati-hati.
To be continued ...