
Agung terlihat sedang sibuk membaca koran. Namun tidak jauh dihadapannya juga ada sebuah laptop kesayangan dan buku-bukunya. Hampir setiap malam waktunya dihabiskan dengan membaca dan membaca. Bagi istrinya hal itu memang terlihat membosankan. Tapi itulah kebiasaan Agung akhir-akhir ini setelah memilih fokus dalam bisnisnya.
" Dad, Dad, Dad." Ucap Yuna mencari perhatian Agung.
"Dad! I want to talk with you." Tegas Yuna.
Agung menghentikan pekerjaannya sejenak. Dan menoleh ke arah putrinya.
" Ok. What do you want to say? "
" I want to go to camp, Dad."
" Ok. Besok Minggu Kita Camping."
" Serius Dad?"
Agung menganggukkan kepalanya.
" Hore! Besok Kita pergi camping." Teriak Yuna membuat seluruh isi rumah terkejut.
Yura menghampiri suaminya dan putrinya yang sepertinya sedang mencuri perhatiannya.
" Sejak pulang kuliah, Davion tak kelihatan ke mana Dia?" tanya Agung.
" Sudah beberapa hari ini nampaknya Dia lebih suka didalam kamarnya."
" Sepertinya Dia sudah menjadi pria dewasa."
" Iya, Dan Kita semakin tua."
" Tapi Kau masih terlihat muda dan tetap cantik." Gombal Agung.
" Aiish Pa. Yuna lebih cantik daripada mama." Celetuk Yuna kesal.
Yura tersenyum geli.
" Iya-iya putri Daddy yang tercantik."
" Jadi besok Kita camping ke mana Dad?"
" Bagaimana kalau gunung Semeru?"
" No no no." Yuna menggelengkan kepala.
" Kenapa emang?" Agung penasaran dengan penolakan Yuna.
" Aku maunya yang dekat-dekat dan tidak buat capek Dad." Jawab Yuna polos.
" Kalau begitu bagaimana kalau camping dihalaman saja?" Tanya Yura mengusulkan sebuah ide.
" Tidak begitu juga kali Mam." Protes Yuna.
" Aiish. Kebanyakan permintaan Kau Yuna." Celetuk Davion dari arah belakang pintu ruang santai.
" Biarin saja. Daripada Kakak sibuk dikamar chattingan ma cewek melulu." Celoteh Yuna.
" Jinja?" Yura terkejut dengan celetukkan Yuna.
" Mana mungkin Mam. Aku dikamar belajar. Yuna mengarang aja itu Mam." Elak Davion.
" Bohong itu Mam. Aku punya bukti fotonya dihp Mam." Ucap Yuna sambil mengeluarkan hpnya.
Namun Davion langsung merebutnya dan mengangkat hpnya ke atas. Sehingga Yuna tidak bisa mengambilnya.
" Curang Kau Kak!"
Davion langsung berlari membawa hpnya Yuna. Mau tidak mau Yuna mengejarnya. Agung dan Yura hanya saling pandang.
" Itu Anak-anak seperti itu pasti Kau yang mengajari." Ucap Yura menuduh Agung.
" Enak saja. Pasti Kau lah yang mengajari."
" Kau."
" Kau."
" Kau."
" Kau."
Mereka saling tuduh hingga akhirnya terdiam.
" Kau tahu kan sayang, Davion sudah dewasa. Jadi jangan dianggap anak-anak lagi. Dia pasti sudah mengetahui mana yang baik dan buruk baginya. Jadi biarkan Dia mencari jati dirinya sendiri. Kita jangan terlalu menekannya. Kita hanya cukup mengawasi saja." Jelas panjang lebar Agung seperti sedang mengisi sebuah seminar.
" Iya. Sepertinya Aku masih menganggap Dia sebagai putra kecilku."
...***...
Sinar mentari pagi menerobos ventilasi jendela. Yuna tersentak mengingat janji Ayahnya untuk camping. Dia kemudian melompat turun dari ranjang tempat tidurnya. Pandangannya tertuju pada jarum jam. Buru-buru Dia menyambar sebuah handuk dan langsung mandi.
Dilain ruangan, terlihat Davion baru bangun dan melirik jam alarmnya. Dia kembali menarik selimutnya.
Sedangkan Yura seperti biasa, sudah siap-siap dan membantu assisten rumah tangganya dalam menyiapkan sarapan pagi keluarga. Agung terlihat sudah memulai aktivitas paginya dengan membaca sebuah koran harian.
" Oh My God."
" Yuna. Came here, please!"
" Ok Dad. Wait a the minute."
Yuna terlihat begitu semangat menghampiri Ayahnya.
" Ada apa Dad?"
" Sepertinya cuaca tidak mendukung. Akan terjadi hujan deras." Jelas Agung.
" Yaaa, nggak jadi dong Dad."
" Bagaimana? Emangnya Kamu mau nanti tendamu malah jadi perahu?"
" Nggak mau Dad." Jawab Yuna sambil tepuk Jidat seraya membayangkan tendanya berlayar.
...***...