
Diwaktu luang Agung dan Yura tetap membiasakan diri mengobrol bersama anak-anak. Menciptakan suasana yang membuat Mereka mengerti akan kehidupan fana ini. Mereka mulai memperkenalkan bagaimana cara berbisnis kepada anak-anak tentunya dengan pembicaraan yang lebih ringan.
" Anak-anak bagaimana kalau Daddy membuka bisnis baru lagi? Menurut Kalian bisnis apa yang cocok untuk Kalian kelola nanti?" Tanya Agung disaat sedang berkumpul diruang keluarga.
Davion dan Yuna sama-sama berpikir serius layaknya orang yang benar-benar sudah dewasa.
" Bagaimana kalau memproduksi es krim Dad." Usulan Yuna langsung mendapatkan tatapan tajam dari Davion.
" Ya Yuna, Coba yang keren dikit." Protes Davion.
" Kalau begitu, Bagaimana kalau keripik singkong? Pizza? Bala-bala? Ayam geprek?"
" Aiish itu semua makanan kesukaanmu. Kau mau bisnis atau makan sendiri. "Davion langsung to the points.
" Dua-duanya dong Kak."Yuna langsung nyengir. Sedangkan Agung dan Yura langsung tertawa geli melihat tingkah laku Yuna.
" Bagaimana kalau mendirikan sekolahan Dad." Usul Davion.
" Jadi selain bisnis Kita juga bisa membantu banyak orang. Apalagi bagi yang kurang mampu. Kita bisa menyediakan beasiswa untuk membantunya agar tetap bisa bersekolah." Tambah Davion.
" Ide bagus itu."
" Kalau begitu Kau buatlah sebuah proposal tentang idemu itu." Tambah Agung.
" Ok Dad."
Mereka kembali melanjutkan pembicaraan dari tentang sekolah bahkan hal-hal konyol yang membuat tertawa.
" Kemarin ada tuh Mam, teman cowok yang menggangguku. Tapi kubilang nanti kulaporkan ke Daddy kalau macam-macam ke Aku."Celoteh Yuna.
" Dia jawab lagi Mam. Emang Daddymu jago apa?"Tambah Yuna.
" Jadi Kau jawab apa Yuna?" Tanya Yura saat Yuna bercerita tentang teman cowok yang mengganggunya.
" Aku jawab. Daddyku jago taekwondo. Terus Dia ngga jadi ganggu Aku Mam."
" Good Job." Ucap Agung Tertawa geli.
" Oya Dav, Kenapa Zia bilang kalau Kau bagai es batu disekolahan." Tanya Yura beralih ke Davion.
" Zia aja tuh Mam yang melebih-lebihkan." Davion mengelak.
" Melebih-lebihkan bagaimana?" Yura meminta penjelasan.
" Mami kan tahu sendiri. Aku tuh ngga suka banyak bicara. Aku lebih suka membaca dan fokus ma hobi-hobiku olahraga. Itu aja yang kulakukan disekolah." Jelas Davion panjang lebar.
" Iya bagus bagi Kalian, yang sama-sama es balok."
" What!!!" Agung tidak terima.
" Bukannya Daddy juga gitu dulu. Kayak es balok?"
" Aniya. Daddy bukan es balok tapi es doger. Manis asam asin ramai rasanya." Agung malah ngelawak.
" Itu nano nano Dad." Protes Yuna.
" Ah terserah sudah Kalian. Mammy mau istirahat. Jangan diganggu!!!" Yura beranjak melangkah meninggalkan ruang keluarga.
" Tunggu Mam. Daddy ikut!!!" Ucap Agung langsung ditahan sama Davion dan Yuna.
" Kenapa Kalian menahan Daddy?" Protes Agung menoleh ke arah anak-anaknya itu
" Ya Dad, Dav nggak mau punya adik lagi." Jelas Davion.
" Sama Dad, Yuna ngga mau juga. Nanti mainan Yuna diminta semua lagi."
Agung terkejut dan menatap tajam anak-anaknya.
" Kalian pikirannya TERLALU!!! Daddy cuma mau bilang lapar ke mammy."
" Sudahlah lah Dad, Daddy mau makan apa biar Dav masakin?" Davion menenangkan Ayahnya karena salah paham.
" Daddy mau minum apa juga? Biar Yuna buatin?"
" Ayam bakar, Ayam geprek, Soto Lamongan , Soto Makasar..."
" Stop Dad, Memangnya Kita buka warung makanan Dad?"Protes Davion.
" Kan Kalian yang nawarin." Protes Agung balik.
" Ok Dad. Kalau gitu Kita ke Indomaret dulu Kak Dav." Usul Yuna.
" Ngapain ke Indomaret?" Tanya Agung penasaran.
" Beli mie instan semua rasa Dad." Jawab Yuna sambil nyengir.
Agung langsung tepuk jidat mendengarnya.
...***...