
Mereka akhirnya sampai di rumah. Yura langsung memandikan Davion. Setelah itu Dia kekamar Davion dan memakaikan bajunya.
" Sayang. Tolong ambilkan handukku." Teriak Agung dari kamar mandi.
" Tunggu." Ucap Yura setengah berteriak.
" Kenapa Daddy selalu lupa handuknya sih Mi?" Tanya Davion polos.
" Mami juga tidak tahu kenapa Daddy- mu seperti itu. Kamu jangan sering lupa handukmu kalau mandi ya sayang."
" Iya Mami." Ucapnya seraya tersenyum dan membentuk lesung pipi yang membuat Yura gemas melihatnya.
Yura membuatkan sereal dan mengajaknya keruang santai serta menyalakan TV chanel untuk anak-anak.
Lalu menuju ke kamar dan mengambilkan handuk buat suaminya. Yura mengetuk pintu kamar mandi.
Agunh langsung membukanya.
" Sayang. Bukannya Kau juga belum mandi. Ayo masuklah!!!" Candaan Agung membuat Yura langsung pergi, sebelum Agung jauh lebih usil.
Yura kembali mendampingi Davion menonton TV, Seraya menunggu Agung mandi.
Yura melihat Agung sudah keluar dari kamar dengan rapi. Dan di sepertinya kehausan.
Yura langsung melangkahkan kaki kekamar mandi,sebelum Agung mulai usil dan kadang membuat Yura kesal.
Setelah selesai mandi dan rapi.Yura langsung keluar kamar dan menyiapkan makan malam.
Yura melihat Suami dan anaknya sedang bercengkeraman sambil menonton TV.
Setelah selesai dan siap. Yura memanggil Mereka untuk makan malam.
" Sayang, Ayo makan malam dulu."
" Ok." Lagi-lagi Mereka kompak seperti paduan suara.
Mereka bertiga makan malam dengan hening. Tidak seperti saat sarapan pagi.
Selesai makan malam Agung mengajak Davion ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Lalu mereka kembali ke ruang santai. Sedangkan Yura membereskan dan mencuci semua perabotan, yang habis dipakai buat makan malam. Dibantu asisten rumah tangga Mereka.
Setelah selesai Yura langsung menuju ke kamar. Membiarkan anak dan suaminya diruang santai.
Yura menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Tapi tidak terduga anaknya melihatnya dan berlari ke kamarnya. Lalu Agung mengikutinya.
" Mami Aku mau tidur disini juga."
" Iya sayang. Sini tidurlah."
Yura merapikan bantal untuk Davion.
" Dav. Apa kamu ingin cepat-cepat mempunyai adik?"
Pertanyaan Agung yang jelas membuat Yura kesal.
" Iya Dad." Ucap Davion senang.
" Kalau begitu. Tidurlah dikamarmu. Bukankah anak Daddy ini sudah besar?" Agung mengangkat Davion ke kamarnya seraya menciumnya.
" Ok Dad." Ucap Davion membalas ciuman ayahnya.
Yura langsung pura-pura tidur begitu Mereka keluar dari kamar.
Setidaknya Yura berpikir bisa menghindari dari pikiran liciknya Agung. Yura sedikit tersenyum.
" Sayang, Jangan harap kamu bisa membohongiku dengan pura-pura tidur seperti itu." Ucap Agung tanpa Yura duga.
Yura kira Dia akan sedikit lama menidurkan Davion seperti biasanya.
" Tidak Yang. Aku benar-benar mengantuk." Ucap Yura seraya pura-pura menguap.
" Aku tidak percaya padamu." Ucap Agung melepas menarik selimutnya.
...***...
Pagi hari Yura terbangun dan melihat Agung masih terlelap dalam mimpinya. Yura merapikan selimutnya yang sangat berantakan. Agar Agunh tidak kedinginan.
Yura beranjak bangun. Namun sebuah tangan mencegahnya.
" Terima kasih untuk tadi malam." Ucap Agung masih mengantuk lalu melepas tangannya.
Yura geleng-geleng kepala. Yura langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Selesai mandi, Yura membangunkan Davion dan memandikannya. Lalu memakaikan baju seragamnya. Seperti biasa Yura membuatkan sereal dahulu. Lalu menyiapkan sarapan simple buat Mereka. Yura ke kamar melihat apakah Agung sudah siap sarapan. Ternyata dia baru selesai mandi.
" Bersiaplah lalu sarapan." Ucap Yura seraya menyiapkan bajunya.
" Iya sayang." Ucapnya sambil memeluk Yura dari belakang.
Seperti biasa Mereka menjalani rutinitas sehari-hari.
...***...
Hari ini hari libur. Setelah setelah selesai sarapan pagi. Yura mengajak Davion belajar main piano.
Sedangkan Agung duduk santai mendengarkannya.
Kadang Agung menegur, apabila ada kesalahan-kesalahan ketukan kecil yang Mereka buat.
"Daddy, bukankah aku sudah pintar main piano."
" Iya. Anak Daddy memang hebat." Ucap Agung seraya menghampirinya lalu mengusap kepala Davion dengan lembut.
Satu bulan kemudian gejala awal kehamilan Yura alami kembali.
Agung sangat senang, begitu juga Davion yang sangat menginginkan seorang adik.
Kali ini buka bau parfum Agung yang membuat Yura muntah, tetapi cream pencukur.
Terpaksa Agung ke kamar mandi putranya, atau Yura yang menghindar jauh, saat Agung melakukan aktivitasnya itu.
Setelah tes USG dokter bilang anak Mereka perempuan. Dan itu membuat Davion begitu gembira, karena sesuai keinginannya.
6 tahun kemudian.
Davion sudah tumbuh remaja. Begitu juga adiknya Yuna yang sudah tumbuh menjadi anak yang lucu dan imut.
Davion sudah berusia 12 tahun. Sedangkan Yuna sudah berumur 5 tahun. Yura tidak begitu repot lagi dan sudah kembali bekerja.
Mereka berbagi tugas. Agung yang sering antar jemput Yuna di taman kanak-kanak. Sedangkan Yura yang antar jemput Davion di sekolahnya.
Seperti biasa hari libur membuat Mereka lebih santai dan tidak terlalu buru-buru.
Yura sedang menyiapkan sarapan buat mereka. Tiba-tiba terdengar suara tangisan Yuna. Dan sesuai fellingnya, ini pasti ulah sang kakaknya.
" Dav jangan buat nangis adikmu." Yura setengah berteriak didapur.
" Aku tidak membuatnya menangis Ma. Yuna yang terlalu cengeng." Davion mengelak.
Dan tangisan Yuna semakin kencang. Membuat Yura tidak tenang. Tapi posisinya yang sedang memasak, membuat Yura tidak bisa langsung menenangkan Yuna. Suara pertandingan sepak bola di TV membuatnya semakin kesal. Betapa kompleksnya suara kebisingan dihari libur ini.
" Sayang tidak dengarkah anakmu menangis?" Teriak Yura kesal seraya masih memasak.
" Dia juga anakmu Sayang." Ucap Agung yang sedang asyik menonton pertandingan sepak bola.
" Sayang tidak lihatkah. Aku sedang memasak. Apa Kau mau makan masakan hangus." Lagi-lagi Yura berteriak.
Yura merasa lama-lama suaranya habis sering teriak-teriak dirumah.
" Iya-iya. Dan jangan teriak lagi." Jawab Agung setengah berteriak.
Yura hanya mendengus kesal.
"Yuna sayang, anak Daddy yang cantik kenapa menangis?" Samar-samar suara Agung terdengar ditelinga Yura. Membuat Yura tenang.
" Kak Dav,nakal Daddy. Masa Dia meledekku katanya Aku mirip Dora." Ucap Yuna masih terisak dalam tangisnya.
Lagi-lagi ucapan Davion membuat Yuna menangis kencang lagi. Yura cepat-cepat menyelesaikan masakannya.
Sepertinya dua jagoannya disana membuatnya kesal.
" Yuna sayang. Dora itu lucu. Dia juga pintar. Jadi kalau kak Dav bilang begitu, kamu jangan menangis lagi ya sayang. Nanti kita jalan-jalan beli es krim rasa strobery. Jadi jangan menangis lagi." Ucap Agung yang sedang menenangkan Yuna.
" Ok Daddy. " ucap Yuna.
Setelah Yura selesai memasak.
Yura langsung melangkahkan kaki ke ruangan santai. Tapi suara tangisan Yuna sudah tidak terdengar lagi. Dia merasa tenang begitu melihat Yuna sudah tersenyum dipangkuan Agung.
" Ma, Daddy akan mengajakku jalan-jalan hari ini. Mami juga ikut kan? " Celotehnya begitu melihat Yura.
" Iya sayang." Yura mengecup kening putrinya.
" Tapi jangan mengajak Kak Dav. Aku tidak mau." Ucap Yuna sambil memandang ke arah Davion yang sedang memainkan piano dengan lincahnya.
Davion memandang kearah Yuna. Begitu dia sadar adiknya memandang kearahnya.
" Aku juga tidak mau jalan-jalan denganmu. Dasar Dora cengeng." Lagi-lagi Davion meledek Yuna.
" Mami ..., Daddy..., Kakak nakal ... " ucap Yuna menangis lagi.
" Davvvv... !!! " Ucap Yura kesal.
Sedangkan Davion langsung berhenti dari main pianonya dan kabur dari hadapan Yura
" Mami ampun. Aku lapar mau makan." Ucapnya sambil setengah berlari ke ruang makan.
Yura langsung mengikuti Davion. Sadar, Yura belum meletakkan semua sarapan dimeja makan. Davion terlihat sudah duduk manis.
" Dav. Bisakah Kau jangan sering buat nangis adikmu." Ucap Yura seraya menyiapkan sarapan dan meletakkan semua makanan dimeja makan.
" Ok Mami. Maaf." Ucapnya sambil memainkan sendok makan.
Agung dan Yuna juga terlihat menuju ke ruangan makan. Begitu mengetahui Yura sudah menyiapkan sarapan.
Mereka memulai sarapan dengan tenang.Yura makan dan kadang sekali-sekali menyuapi Yuna. Terkadang membersihkan bibir Yuna yang masih blepotan dalam memakan makanan.
Begitu selesai makan. Yuna langsung berlari ke kamarnya. Membuat Yura bingung. Asisten rumah tangga membantu membereskan meja makan Mereka.
Agung dan Davion terlihat sudah sibuk lagi dengan kesibukan mereka masing-masing.
" Ma, Ayo Kita jalan-jalan!" Ucap Yuna.
Dia terlihat sudah membawa tas dan boneka winny the pooh kesayangannya.
" Yuna sayang. Tunggu dulu ya sayang." Ucap Yura masih sibuk membantu asisten rumh tangganya.
Yuna langsung berlari lagi menuju ke ruang dimana Agung berada. g santai.
" Daddy. Katanya mau jalan-jalan." Yuna terlihat merengek.
"Yuna sayang. Tunggu Mami ya sayang." Ucap Agung dengan nada lembutnya.
" Ok Dad." Yuna terdengar tenang setelah mendengar kata-kata Agung.
Setelah selesai semuanya. Yura melangkah kekamar untuk bersiap-siap. Melewati ruang santai. Sekilas Dia melihat Agung sudah siap. Sedangkan Davion masih asyik dengan pianonya.
" Dav. Kamu juga bersiaplah. Kita jalan-jalan." Ucap Yura seraya berhenti sejenak.
" Tidak Mi. Aku mau berlatih piano buat penampilanku besok disekolah." Ucap Davion seraya menghentikan permainannya.
" Kamu yakin tidak ikut jalan-jalan dengan kami dan tinggal dirumah sendirian?"Yura sedikit kawatir sebagai seorang ibu. Walaupun Yura tahu Davion sudah termasuk remaja belia.
" Iya Mi. Lagian dirumah kan ada bibi minah juga." Ucapnya seraya memainkan piano lagi.
" Ok."
Yura melangkah lagi ke arah kamar.
Dia langsung bersiap-siap dengan baju jalan. Sebuah baju atasan kemeja pendek berwarna putih dan celana jeans. Dan tidak lupa membawa tas merah. Yura juga mengambil kamera dan memasukkannya ke sebuah tas.
Yura melangkah ke ruangan santai. Dia terkejut. Agung dan Yuna sudah tidak ada diruangan tersebut.
" Dav, Mana Daddy dan adikmu?" Tanya Yura
" Sudah dihalaman Mam." Ucapnya.
" Ok. Hati-hati dirumah. Jangan lupa pintu kuncinya. Kalau lapar masih ada makanan kesukaanmu dikulkas." Pesan Yura.
" Ok Mam. Aku sudah besar. Tidak perlu Mami memberitahu sebanyak itu." Ucapnya tidak terima.
Yura geleng-geleng kepala. Lalu Dia menghampirinya.
" Mami tahu Kau sudah besar. Mami percaya padamu." Ucap Yura seraya mencium kening putranya.
" Mam, Aku bilang sudah besar. Jadi jangan sering menciumku juga. Aku malu." Lagi-lagi Davion tidak terima dengan sikap Yura yang menganggapnya seperti anak-anak.
Bahkan Dia menghentikan permainan pianonya dan mengusap keningnya. Yura terkejut tapi tersenyum geli.
Yura geleng-geleng kepala dan melangkah keluar rumah.
Agung terlihat sudah menunggu. .
" Sayang, Kenapa Kau lama sekali? Kita hampir jadi ikan asin karena kepanasan dihalaman." Celoteh Agung meniru gaya anak-anak Mereka.
" Maaf." Yura masih tersenyum mengingat perubahan Davion.
Yura membuka pintu bagian belakang. Karena Yuna paling suka duduk dibelakang bersamaku.
" Aku seperti supir untuk wanita-wanita cantik dibelakang." Gerutu Agung seraya menyalakan mobilnya.
" Daddy kenapa mengeluh seperti itu. Kalau Aku sudah besar dan pintar menyetir. Aku yang menyetir. Daddy dan Mami yang duduk dibelakang." Ucapnya ketus.
Yura lagi-lagi tersenyum. Kali ini Agung yang mati kutu mendengar kata-kata anaknya.
" Maaf Yuna sayang. Daddy tidak mengeluh. Hanya bercanda."
"Candaan Daddy sungguh tidak lucu seperti Kak Dav. Benar kan Ma?" Tanyanya meminta dukungan.
" Iya sayang." Yura mengusap rambut putrinyanya.
Yuna terlihat membuka tas yang Yura bawa.
" Ma ini apa?" Sambil menunjukkan sebuah kamera.
" Itu kamera sayang."
"Untuk apa?"
" Untuk memotret sayang.
" Bagaimana caranya Ma?" Pertanyaan Yuna masih berlanjut.
Yura dengan sabar mencoba memberitahu cara menggunakannya. Walau belum begitu , Yura tidak yakin apa Yuna sudah bisa menangkap yang Yura ajarkan. Ternyata Dia cukup pintar dan langsung menangkap apa yang Yura ajarkan.
" Aku ingin memotret Mami."
Yura pun berpose.
Agung melihat kesibukan Istri dan anaknya dibelakang melalui kaca spion. Dia hanya geleng-geleng kepala.
Akhirnya Mereka sampai disebuah kebun binatang. Yura pun keluar serta mengangkat Yuna ke dalam pelukannya.
Agung mengambil alih Yuna dari tangan Yura.
Mereka tidak lupa mengabadikan moment keceriaan Mereka di Kebun Binatang.
...***...