
Setelah itu, persaingan semakin sengit. Dan keadaan semakin parah. Mereka benar-benar tenggelam ke posisi persaingan yang samgat tidak profesional.
Suatu hari Davion datang dan langsung mencabut semua kabel di ruang kerja Anna. Hal itu membuat Anna harus menunggu dua jam untuk IT memasang kembali dan memperbaikinya.
Hari berikutnya, Anna tidak mau kalah begitu saja. Dia datang lebih awal dan menukar semua label hardisk milik Davion diruangannya. Hal itu membuat Davion harus mengecek satu per satu filenya. Beberapa hari berikutnya saat menjelang rapat. Davion sengaja menumpahkan minumannya tepat diatas dokumen Anna.
" Upz, Maaf." Ucap Davion.
" Tidak apa-apa Pak Davion. Saya masih mempunyai salinannya." Ucap Anna seraya tersenyum.
Saat pertengahan rapat, Anna menendang kaki Davion yang tepat berada didepannya, dibawah meja. Hal itu membuat Davion meringis kesakitan.
" Hmph," Davion terlihat hampir mengumpat.
"Kau baik-baik saja Dav?" Tanya Agung yang melihat Davion.
" Aku rasa ada sesuatu di tenggorokanku." Jawab Davion.
Anna terlihat tersenyum seraya memainkan bolpoint ditangan kanannya. Dan membuat Davion terlihat kesal.
Mereka berada ditahap akhir persaingan. Dua bulan pertarungan hampir selesai. Besok adalah waktu Mereka mempersentasikan proposal Mereka. Hampir jam enam sore, Davion dan Anna masih terlihat kerja diruangan Mereka masing-masing.
Sean terlihat baru selesai dengan perkerjaannya. Lalu Dia masuk keruangan kerja Davion. Dia duduk dan menatap Davion yang sedang fokus dengan power pointnya untuk persentasi besok.
" Sudahlah bro. Lakukan dan selesaikan."
" Apa , maksudmu?" Davion menatap Sean dengan lirikan maut.
" Aku mengamatimu akhir-akhir ini. Kau sangat berubah dratis. Dan saranku sekarang, Kau hanya perlu ke ruang kerjanya dan menyelesaikannya." Saran Sean.
" Sean, Aku tidak mengerti maksudmu. Aku banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan." Jelas Davion berharap Sean tidak menggangunya.
" Maksudku, Kau dan Anna. Sudah jelas Kau mempunyai perasaan padanya."Ucap Sean dan seketika Davion langsung melirik ke Sean. Dia menghentikan ketikannya.
" Iya benar. Aku mempunyai perasaan padanya. Rasa benci padanya yang begitu hebat!'' Jawab Davion penuh dengan penekanan.
Seam menghela nafas panjang mendengarnya.
" Kau tahu Dav, Ada garis tipis antara benci dan cinta. Aku tahu Kau orang yang cerdas. Nanti Kau pasti akan memahaminya." Sean menepuk bahu Davion dan lalu beranjak keluar dari ruang kerja Davion.
Davion terlihat tidak peduli dengan perkataan Sean dan melanjutkan pekerjaannya.
" Ladies first." Ucap Davion mempersilahkan Anna untuk presentasi dahulu.
Presentasi Anna terlihat terarah, jelas dan persuasif. Rencana investasi yang Anna paparkan unik dan imajinatif. Kelemahannya hanya Dia masih orang baru.
Setelah Anna selesai, Kini giliran Davion. Davion terlihat mempresentasikan hasil proposalnya lebih solid. Dia mengurraikan sebuah investasi yang sudah terkenal dan aman. Walaupun keuntungan yang didapat tidak setinggi proposal Anna, Namun proposal Davion pasti dan aman.
Setelah Mereka selesai mempresentasikan proposal masing-masing. Kini giliran Agung menilai hasilnya.
" Aku tahu, naluriku benar. Aku sungguh terkesan. Dan kurasa sudah jelas siapa yang akan mendapatkan klien tersebut."
Davion dan Anna saling menyeringai.
" Kalian berdua!" Ucap Agung membuat Mereka langsung tertuju ke Agung.
" Apa Dad?"Davion masih belum paham.
" Maaf Pak, " Anna juga belum mengerti.
" Dengan bakat Anna dan pengetahuan Kau Dav, Kalian akan jadi tim yang sempurna. Kalian dapat berbagi beban kerja dan bonusnya." Jelas Agung.
Davin menelan ludahnya. Dan berharap ini hanya mimpi.
" Itu tidak jadi masalah kan?'' Tanya Agung.
" Tidak Pak, tentu saja itu tidak jadi masalah." Jawab Anna. Sedangkan Davion masih terpaku dengan keputusan Ayahnya itu.
" Bagus sekali, Saya ada jadwal permainan golf sebentar lagi. Kalian ada waktu sampai besok malam untuk mengkoordinasikan proposal Kalian." Jelas Agung
" Kutahu Kau tidak akan mengecewakanku Dav." Tambah Agung.
" Tidak Da, Aku tidak akan mengecewakanmu."
Agung keluar dari ruangan rapat. Dan kini tinggal Mereka berdua yang masih dengan tatapan permusuhan.
" Tidak Pak, tentu itu tidak bermasalah." Ejek Davion.
" Bisakah Kau lebih menjilat lagi?" Tambah Davion membuat Anna mendesis.
" Diam Kau, Dav."Ucap Anna kesal.
To be Continued