
Suasana rumah sakit sore ini tidak begitu ramai. Hanya sesekali perawat yang berlalu lalang melewati lorong koridor rumah sakit.
Agung terlihat menggandeng tangan Yura.
Yura hanya sedikit menoleh terkejut dan membiarkannya.
Mereka langsung masuk ke ruangan VIP. Terlihat Pak Soni sudah sadar dan terkejut melihat Agung dan Yura bersama.
" Selamat Sore Pak." Sapa Yura seraya menundukkan kepala.
" Sore." Tatapan Pak Soni langsung menuju ke Yura. Sepertinya Beliau masih enggan untuk menatap wajah putranya.
" Ayo keluar dulu!!!"ajak Ibunya Agung langsung mengajak Agung keluar.
Agung mengikuti langkah Ibunya. Akhirnya mereka berhenti diujung koridor. Tepatnya dekat jendela. Pemandangan hijau sebuah taman rumah sakit pun jelas terlihat dari atas.
" Apa benar yang diceritakan ayahmu?" Tanya Bu Nuri selaku ibunya Agung.
" Benar Ma." ucap Agung penuh penyesalan.
" Kalau begitu menjauhlah Kau dari semua wanita!!! Tak terkecuali Yura!!!" ucap Ibunya kesal.
Bagai suara petir di malam hari.
Agung tidak menyangka Ibunya berkata seperti itu terhadapnya.
" Kecerobohanmu itu menandakan Kau tidak becus menilai wanita Gung!" jelas rasa kecewa dan marah terpancar diwajah Ibunya.
" Tapi Ma. Yura lain dengan Sella!!! Aku mencintai Yura Ma. Dia tidak seperti Sella Ma." rengek Agung, wajah Agung terlihat berkaca-kaca. Hatinya hancur dan remuk. Saat seorang wanita yang selama ini Dia sayangi dan hormati berkata seperti itu terhadap dirinya.
" Kau bilang mencintainya? Saat Kau sudah membuat kesalahan fatal bagi keluarga? Apa Kau ingin menghancurkan perusahaan ayahmu? Perusahaan yang telah susah payah dibangun oleh Ayahmu." Tanya Ibunya berusaha menahan amarahnya.
Agung terdiam. Teringat jelas Ayahnya sering berangkat pagi, pulang malam demi membangun perusahaannya sampai seperti sekarang ini.
" Tidak Ma. Aku akan berusaha mencari solusi tanpa menghancurkan perusahaan Ayah." Jawab Agung seraya memegang tangan Ibunya.
" Kumohon kali ini percayalah padaku Ma. Aku tak kan mengecewakanmu lagi. Percayalah padaku!" pinta Agung meyakinkan hati Ibunya walaupun dalam hatinya masih belum menemukan solusi pasti untuk masalah yang Dia hadapi saat ini.
" Ok. Mama kasih kesempatan. Kuharap Kau benar- benar tidak mengecewakan Mama." Ucap Ibunya terlihat tidak begitu tega memarahi putranya.
" Ayahmu minta pulang malam ini. Dia ingin rawat jalan saja katanya. Mama mau mengurus administrasinya dulu." Tambah Ibunya.
" Aku akan membantumu Ma." ucap Agung langsung mengikuti langkah Ibunya.
Sedangkan Yura sedang mengupas buah-buahan untuk Pak Soni. Sesekali terlihat tatapan sendu dari Pak Soni.
" Yura, Kemarilah sebentar!" pinta Pak Soni.
" Iya Pak, ..." Jawab Yura spontan dan terlihat sedikit gugup. Dia langsung melangkah dan menggeser kursinya tepat dipinggir Pak Soni.
"Apa Kau sudah sembuh? Kudengar Kau terakhir sakit." Tanya Beliau
" Sudah sembuh Pak." Yura masih terlihat gugup.
Dan ini tidak seperti biasanya.
" Kau harus bisa mengatur waktumu dan jaga pola makanmu. Dan panggil saja Aku Ayah." saran Pak Soni yang begitu terlihat khawatir juga dengan pekerjaan Yura yang pastinya padat.
" Oh iya Pak." Yura menganggukkan kepala.
" Aku senang melihat kalian akhirnya bisa bersama-sama tanpa Aku memintanya. Tapi, Apakah Agung sudah menceritakan sesuatu padamu?" Pak Soni penasaran.
" Terima kasih, semua berkat Bapak juga jadi Kita bisa bersama. Maaf. Belum Pak, maksud Saya Ayah." Yura masih kikuk menggunakan panggilan baru buat ayah Agung.
Pak Soni tersenyum.
" Jadi. Apa Kau benar-benar mencintai Agung?" Tanya Pak Soni membuat Yura lagi-lagi terlihat gugup.
Yura merespon dengan mengangguk malu.
" Apapun yang terjadi? Kau akan tetap disampingnya?" Pak Soni memastikan kesetiaan cinta Yura terhadap putranya.
" Iya Pak." Ucap Yura penuh keyakinan. Walaupun Dia sedikit bingung. Tapi Yura penasaran, Kenapa Pak Soni mempertanyakan perasaannya terhadap Agung.
" Apa Kau bisa berjanji padaku?" Pak Soni masih memastikan.
Yura semakin terlihat bingung. Kenapa Pak Soni bahkan meminta dirinya untuk berjanji padanya.
Yura menganggukan kepala.
" Saya berjanji akan berusaha selalu bertahan disampingnya apapun yang terjadi." Ucap Yura yakin walaupun dengan rasa penasaran.
" Aku berharap Kau menepati janji itu. Putraku butuh sosok wanita yang kuat dan tangguh serta tahan mental dalam menghadapi kerasnya dunia ini."ucap Pak Soni tersenyum memandang Yura.
Perjalanan menuju rumah kediaman keluarga Agung terkesan hening. Pak Soni terlihat masih membisu dan kesal dengan putranya. Sedangnya Ibunya masih memikirkan bagaimana solusi dari kecerobohan putranya itu.
Yura sesekali menoleh dan melihat Agung yang fokus mengemudi. Dia terlihat serius kali ini. Tiada tersirat canda tawa diraut wajahnya seperti sore tadi saat mereka bersama Dimas.
'Sebenarnya masalah apa yang sedang dihadapinya?'pikir Yura penasaran dan khawatir.
Agung melihat dari sudut matanya. Yura sedang memandang keluar jendela mobil.
Namun wajahnya terlihat khawatir. Dan beberapa kali Agung memergoki Yura melirik ke arahnya. Agung pun perlahan
menggerakkan tangan kirinya untuk menggenggam tangan Yura. Yura terkejut dan ingin melepaskan genggaman itu. Mengingat ada ayah dan ibunya Agung di belakang mereka. Agung pun menggeleng dan mempererat genggaman tangannya.
Akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Agung. Agung memarkirkan mobilnya dan lalu membuka pintu mobilnya. Sementara Yura mengambil kursi roda Pak Soni.
Dan Agung mengangkat ayahnya untuk duduk dikursi rodanya.
Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang sedang memperhatikan mereka.
" Sialan!!! Apa mereka pikir Aku main-main!"Gerutunya langsung memukul dasbor mobilnya. Rasa marah, kecewa, dendam dan ambisi menjadi satu.
Agung langsung mengantar Ayahnya ke kamar. Sedangkan Yura membantu Ibu Agung membuatkan obat herbal ramuan keluarga.
" Kau begitu baik Yura. Ku harap putraku tidak mengecewakanmu." ucap Beliau seraya memasukkan racikan herbal.
" Terima kasih atas pujian dan doa Ibu." ucap Yura tersenyum malu karena dipuji oleh Ibunya Agung.
Namun Yura masih terpikirkan tentang masalah apa yang keluarga Agung hadapi sebenarnya.
Setelah selesai, Yura pun langsung membawakan racikan herbal itu ke kamar Pak Soni. Namun Yura terhenti sebelum mengetuk pintu.
" Jadi apa yang akan Kau lakukan?" Yura mendengar samar-samar pembicaraan Agung dan Ayahnya.
" Aku belum tahu Ayah." Agung menunduk.
Dia sama sekali belum menemukan titik terang dari masalah ini.
" Kau hanya punya dua pilihan. Kau kembali padanya dan kehilangan Yura atau Kau menghancurkan perusahaan dan Ayahmu ini?" Jelas Pak Soni memperjelas pilihan yang harus Agung pilih.
Yura dibalik pintu sangat terkejut.
Sedangkan Agung masih terdiam, jelas Dia tidak ingin memilih salah satunya. Bahkan Dia tidak ingin memilih dua pilihan itu.
" Apa Kau begitu mencintai Yura?" Pak Soni memastikan hati seorang putranya.
Agung hanya bisa mengangguk.
" Tapi Aku juga tidak ingin menghancurkan Ayah dan perusahaan." ucap Agung merasa bersalah.
" Bagaimana bisa Kau memilih kedua-duanya.Tapi Kau sudah dewasa Gung. Kau tau mana yang terbaik. Ayah beri kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini." ucap Pak Soni seraya memandang wajah putranya yang kini menunduk karena merasa bersalah padanya.
Ruangan hening kembali.
Yura langsung terpaku seketika. Mencoba mendengarkan dibalik pintu tapi sudah tidak ada suara.
" Kenapa tidak masuk Ra?"Ibu Nuri terlihat bingung melihat Yura terpaku didepan pintu. Yura pun terkejut.
" Oh ini, tadi ada nyamuk menggigit ditangan Bu. Maaf." Jawab Yura berbohong.
Mereka pun langsung masuk bersama ke kamar Pak Soni. Yura melirik jam ditangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Yura pun pamit pulang.
Yura melangkahkan kaki keluar diikuti Agung.
" Sepertinya Aku pulang sendiri saja." pinta Yura.
" Tidak. Aku tidak akan membiarkan Kau pulang sendiri malam-malam begini." Agung terlihat masih khawatir.
" Aku bisa sendiri. " Yura terlihat langsung masuk mobilnya dan menyalakannya.
" Yura!!! Tunggu!" teriak Agung penuh kekhawatiran dan langsung menuju mobilnya sendiri, karena Yura terlihat sudah melajukan kendaraannya.
Rasa lelah di rasakan Yura. Setelah hampir seharian Dia terpikirkan tentang Agung. Ditambah Dia mendengar pembicaraan Agung dengan Ayahnya.
' Kau hanya punya dua pilihan. Kau kembali padanya dan kehilangan Yura atau Kau menghancurkan perusahaan dan Ayahmu ini?' Jelas Pak Soni memperjelas pilihan yang harus Agung pilih. Kata-kata itu memutar-mutar dikepala Yura. Dan kenapa Agung tidak cerita padanya.
Tangannya secara pelan bergantian mengusap mata kiri dan kanannya.Hingga akhirnya Dia sampai dirumah. Yura keluar dari mobilnya setelah melepas kacamata seharian ini Dia pakai. Kepalanya mulai terasa pening, satu tangannya ia gunakan untuk berpegangan pada pintu mobil, sedangkan satu tangan lainnya Dia gunakan untuk menekan keningnya. Yura mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
Saat rasa pening itu hilang Yura mulai berusaha melangkahkan kakinya. Matanya menyipit saat dari jauh melihat seseorang yang berjalan ke arahnya.
To be continued