
Agung langsung menuju ke ruang makan dan masih terlihat beberapa pelayan masih mondar mandir menyiapkan makanan pagi. Sedangkan anggota keluarga nya belum ada yang terlihat disitu.
" Apa Aku kepagian? " Agung melirik jam tangannya. Dan waktu menunjukkan jam enam lebih tiga puluh menit.
" Sepertinya Aku terlalu bersemangat." Agung membuka hpnya dan stalking tentang Yura di Media sosial. Tanpa sadar Agung tersenyum sendiri. Dan terlihat Ayahnya memasuki ruangan tersebut. Disusul dengan Ibu dan adiknya.
" Apa Dia kerasukan pagi-pagi?" Gerutu adiknya memandang wajah Agung yang tersenyun sendiri.
Sedangkan Ayahnya berdehem dan langsung menarik sebuah kursi untuk duduk.
" Pagi Ayah." Sapa Agung begitu terkejut karena tidak menyadari kehadiran Ayahnya.
" Pagi juga. Jadi kapan kalian akan menikah?" Pertanyaan yang langsung membuat Agung syok dan tersedak dipagi hari.
" Apa??? " Agung, ibunya dan adiknya serentak terkejut.
"Menikah?" Agung memutarkan bola matanya. Rasanya itu terlalu cepat baginya. Ditambah Yura terkesan masih belum percaya dengan perasaannya. Sepertinya pernikahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
" Apa itu tidak terlalu cepat Ayah?" ujar Agung mengeluarkan pendapatnya.
" Makanlah dulu, nanti malam kita bahas lagi." Ucap Ayahnya melihat sarapan pagi sudah disiapkan semua.
Tidak ingin Dimas patah hati dipagi hari. Agung pun terdiam seribu bahasa dan bekerja seperti biasa. Namun berkali-kali Dimas meliriknya. Ada sesuatu yang ingin Dimas tanyakan. Tetapi Agung terlihat banyak begitu kerjaan begitu mereka pulang dari patroli
" Why? " Tanya Agung melirik seraya masih mengurus dokumen-dokumen yang menumpuk dimejanya karena dampak ijin hari kemarin.
Merasa gerak-gerik Dimas sudah diketahui Agung. Dimas pun langsung mendekatkan kursinya ke Agung dan duduk disampingnya.
" Jadi kemarin Kau menemuinya?"
" Siapa?" Agung pura-pura tidak mengerti pertanyaan Dimas.
" Yura lah siapa lagi!!!" Jelas Dimas dengan semangatnya membuat seluruh isi ruangan mendengarnya tidak terkecuali pak Dodi atasan mereka yang baru memasuki ruangan staff.
" Yura? Dimana Dimas ya?" Tanya pak Dodi celingukan.
Agung pun langsung senyum-senyum sendiri dan pura-pura
" Tidak, maksud Saya ada berita baru tentang Yura."ujar Dimas mengarang cerita.
" Omo. Berita apa itu?" Pak Dodi penasaran dan mendekat ke arah Dimas dan Agung.
" Yura dengan Agung berkencan." Ucap Dimas to the point.
Sedangkan Agung langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Dimas. Walaupun itu yang Dia harapkan.
Sedangkan pak Dodi beserta staff lainnya langsung mengucapkan ucapan selamat kepada Agung dan jelas meminta traktiran perayaan. Agung pun langsung menoleh ke Dimas dan geleng-geleng kepala.
" Sepertinya Kau cocok bekerja sampingan sebagai admin lambe turah Dimas ya." Ujar Agung
" Maaf." Ucap Dimas mengerti kalau Agung hanya menyindirnya.
" Jadi Kalian benar-benar sudah berkencan?" Tambah Dimas menanyakan kembali.
" Entahlah." Lagi- lagi jawaban Agung membuat Dimas kesal dan kembali ke meja kerjanya.
Agung pun tersenyum melihat kekesalan Dimas.
Setelah disibukkan dengan urusan kantor, sore ini Agung berniat menjemput Yura. Dia begitu rindu dengan wajah polos Yura. Maklum baginya satu jam sekarang seperti sebulan.
"Itu dia, polisi itu.. tampan kan?" Ucap salah seorang gadis berseragam SMA didepan kantor kepolisian.
Teman-temannya pun ikut melihat kearah yang ditunjuk temannya.
Agung yang merasa diperhatikanpun datang menghampiri para pelajar itu, disusul Dimas yang terlihat khawatir sahabatnya jadi idola anak SMA.
"Ada yang bisa saya bantu?" sapa Agung semanis mungkin pada pelajar yang tersipu-sipu padanya.
" Bolehkah Kami berfoto sebentar denganmu? " Tanya salah satu dari mereka.
Agung hanya tersenyum geli saat mendengarnya, lalu Dia pun menarik Dimas untuk memotret Agung dengan beberapa anak SMA tersebut.
Dimas pun cemberut dan menyesal mengikuti Agung.
" Thanks." Ucap Agung lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Kau harus membayarnya! Tiada yang gratis didunia ini." Ujar Dimas seraya menuju mobilnha yang terparkir disebelah mobil Agung.
" Tenang Dimas ya, nanti kukasih tanda tangan dan foto besar Yura ya."teriak Agung membuat Dimas terhenti disamping mobilnya.
" Benarkah? " Tanya Dimas menganggap serius.
" Iyaaaa." Agung langsung masuk ke mobilnya dengan tertawa. Jelas itu hanya bercanda.
Beruntung hari ini tidak terlihat ada wartawan di depan kantornya.
Namun tanpa Agung sadari, di kejauhan seorang wanita dengan pakaian berwarna merah maroon sedang mengawasi ke arah mereka.
###
Yura gelisah menunggu kedatangan Agung. Sesekali Yura melihat jam ditangannya dan sibuk dengan hpnya. Jelas infus sudah terlepas dari dirinya. Sedangkan Sani sahabatnya, sudah duluan pulang sejak siang karena ada urusan mendadak di kantor mereka.
Berkali-kali Yura memandang pintu ruangannya, namun nihil. Pintu masih tertutup. Yura pun menyibukkan dirinya dengan membuka hp dan membaca-baca buku, padahal jelas dirinya masih terlihat lemah.
Agung yang baru saja datang membuka pintu langsung tersenyum melihat Yura sudah duduk menunggunya sambil memainkan ponselnya. Ia pun berjalan menuju masuk ke ruangan.
"Hmm, sepertinya Kau sudah sangat sehat." Ucap Agung menggoda Yura yang masih sibuk dengan ponselnya.
Yura pun mendongakkan kepalanya, terlihat nyata Agung dengan senyuman manisnya sedang menuju kearahnya.
Antara mimpi dan nyata baginya. Kini pria yang pernah Dia kejar-kejar sebelumnya, telah benar-benar bertekuk lutut untuknya.
Namun jelas kebahagiaan itu masih terlalu dini bagi Yura. Yura menyadari itu. Karena ini baru permulaan baginya.
Begitu melihat ruangan sudah rapi, Agung pun langsung melirik koper Yura dan mulai menariknya.
"Kenapa kau perduli padaku?" Tanya Yura tiba-tiba seperti masih belum percaya.
Agung memberhentikan aktivitasnya begitu mendengar pertanyaan Yura. Dan menatap wajah Yura. Agung tidak menyangka Yura masih menanyakan hal ini. Hal yang menyangkut tentang perasaan hatinya. Padahal sudah jelas-jelas Agung tekankan kepada Yura tentang perasaannya.
" Apa masih perlu Kujawab?" Agung memastikan pertanyaan Yura.
" Iya." Yura mengangguk. Dia masih benar-benar terbayang dengan kekasih lama Agung. Dan jelas-jelas itu masih menghantui perasaannya.
"Karena Kau orang terpenting setelah diriku sendiri dan telah benar-benar menjadi penghuni hatiku saat ini." Tambah Agung membuat hati Yura langsung berdetak lebih cepat dan wajahnya merah padam.
" Ayo!" Ajak Yura langsung keluar dari ruangan sebelum salah tingkah gara-gara nervous. Agung bingung dan hanya mengikutinya.
' Kenapa Dia tidak ada respon balik sedikitpun? ' pikir Agung sedikit kecewa seraya menarik koper. Mereka menuju parkiran rumah sakit, yang berada di basemen
dasar.
Situasi benar-benar hening. Hanya langkah kaki yang saling bersahutan diantara mereka. Yura sesekali memainkan tangannya. Agung terkesan lebih memperhatikan langkahnya menyeimbangi langkah Yura agar selalu sejajar. Hingga akhirnya mereka sampai di parkiran. Agung langsung membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Yura.
To be Continued