
Sambil mendengarkan musik memakai headset, Seorang wanita melangkah seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Dimana Dia? Kok masih belum nampak? Ia terus mengayunkan langkah, mencari-cari seseorang.
"Eeeeit!" Suara yang tak asing. Mereka hampir bertabrakan dikoridor kampus.
" Kalau jalan, jangan melamun dong!" Tambahnya.
Robert dan Brian menggodanya.
"Apa Kalian melihat Dav?"
" Davion?" Robert memastikan.
Wanita itu menganggukkan kepala.
"Sepertinya tadi ke ruangan perpustakaan." Jelas Robert.
Ia melangkah menuju ke perpustakaan. Selama melewati koridor kampus. Selama itu pula bisikan-bisikan pria-pria memuji dirinya terdengar. Namun Ia bukan tipe wanita yang suka dipuji. Dan itu Ia dapat dari Davion. Sekalipun Zia tidak pernah dipuji Davion. Ia sangat berharap kalau Davion bisa terang-terangan memuji dirinya seperti yang lainnya.
Davion terlihat baru saja mengambil setumpuk buku favoritnya dan ditaruh diatas meja. Ia bahkan tidak menghiraukan semua mata memandang dirinya penuh kagum. Dibalik kesempurnaannya yang begitu mencolok bagi kaum wanita. Diam-diam Davion begitu dingin terhadap orang-orang disekitarnya.
" Hai Dav!" Suara tak asing bagi Davion.
Ia adalah Zia Zaara Meca seorang putri dari sahabat Ayahnya. Jadi wajar saja, dari sekian banyak wanita, Zia yang paling berani dengan Davion. Karena persahabatan sejak kecil Mereka.
" Aiish. Kau menganggu saja." Celetuk Davion sambil tetap fokus dengan bukunya.
" Ini nah, ada kue dari My Daddy, buat your Daddy." Gaya Zia dibuat-buat sok imut biar Davion memperhatikan dirinya.
" Hmm. Thanks." Ucap Davion membuat Zia ingin mengetuk kepalanya.
" Ya sudah ah, Kutaruh disini saja. " Ucap Zia menaruh kuenya dimeja dan berlalu pergi. Zia tidak mau emosi menghadapi Davion si cowok sedingin es batu itu.
" Bisa-bisanya Om Agung punya anak sedingin es begitu. Dari kecil sampai dewasa tidak ada perubahan-perubahannya. Buat kesal saja." Zia mengomel-ngomel sendiri sampai didepan gedung campus.
Sebuah mobil berhenti tepat didepannya. Terlihat Yura keluar dari mobilnya dan langs6 menyapa Zia.
" Hallo Zia. Lama tidak bertemu."
" Eh hallo Tante. Menjemput Dav ya?"
" Iya Zia."
" Dav tadi masih diperpustakaan tante. Biasa sedang mengeksekusi buku."
" Oh My God. Dia benar-benar mirip Daddynya."
" Owh jangan tanya. Melebihi es batu. Es balok malah." Ucap Yura.
" Kok bisa Tante menahlukkannya?" Tanya Zia penasaran.
" Itu rahasia Tante."
Yura dan Zia pun akhirnya malah terlibat obrolan tentang Ayah dan putranya itu. Yura cerita panjang lebar.
" Owh gitu Tante."
" Iya makanya kapan-kapan main kerumah Tante."
" Nggak ah Tante. Nanti Davion terganggu."
" Bilang ma Davion. Tante yang mengundang."
" Ehm! Ehm!" Suara Davion mengejutkan Mereka.
Yura dan Zia langsung menoleh ke arah Davion dan tersenyum geje.
" Eh Davion. Ya sudah Tante. Zia duluan." Pamit Zia.
" Ok Zia."
" Asyik banget kayaknya sampai lupa kalau sedang jemput Dav."
" Maaf Dav. Maklum wanita, Kita ngerumpi bentar lah."
" Hmmm."
Davion dan Yura langsung masuk ke mobilnya. Terlihat Yuna sudah masam menunggu lama.
" Kak Dav, ngapain saja sih lama betul. Sampai Mami ngerumpi ma kak Zia."
" Anak kecil juga mau tau aja."
" Yee, Yuna udah besar tau. Iya kan Mam?"
" Iya sayang. Oya Kalian mau makan dimana?" Tanya Yura.
" Terserah Mami dah." Jawab Davion seraya menaruh Kue dan lalu membenarkan sabuk pengamannya.
" Makan dekat kantor Ayah saja Mam." Jawab Yuna penuh semangat.