
Yura hanya terpaku begitu melihat Pak Soni dan Agung saling berpandangan.
Menyadari kekompakan yang terjadi,Pak Soni terlihat tersenyum jahil ke Agung, membuat Agung kesal dan mengalihkan pandangannya.
" Kau antarkan dan tunjukkan Yura ke bagian ruangan ganti." Ucap Pak Soni kepada putranya.
" Maaf tidak usah, Saya bisa sendiri Pak." ucap Yura spontan.
" Tidak usah malu-malu begitu. Daripada Kau kesasar." celetuk Agung membuat Yura ingin menonjoknya. Pak soni hanya tersenyum melihat kelakuan putranya yang sepertinya ada kemajuan.
Selama perjalanan mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Yura langsung menuju ke ruangan ganti. Secepat kilat Dia berusaha agar Agung tidak menunggu lama.
" Maaf lama." ucap Yura begitu keluar.
Agung hanya merespon dengan ekspresi dingin.
Yura sendiri merasa kaku berada disekitar Agung. Dia semakin merasa asing. Mengingat terakhir pertemuan mereka yang tidak begitu menyenangkan.
Sedangkan Agung sendiri merasa bersalah atas kelakuannya.
"Maaf untuk waktu itu. Aku benar-benar menyesal."ucap Agung ditengah-tengah perjalanan menuju ke lapangan baseball.
Yura sedikit terkejut mendengar suara itu. Dengan enggan, Yura menoleh ke arah Agung.
"It's Ok. Lupakan." jawab Yura tak ingin mengingatnya.
Akhirnya mereka hampir sampai di lapangan baseball. Betapa terkejutnya Yura dari jauh semua keluarga Agung tampak berada disitu. Dari Ibunya, adiknya dan tampak dua saudara sepupunya serta kakek dan neneknya yang berada diatas kursi rodanya.
Tapi tidak hanya Yura, Raut wajah Agung pun tampak terkejut.
" Kenapa keluarga kalian berada disini semua?" tanya Yura spontan.
"Entahlah. Bahkan ayahku tadi pagi hanya mengajakku." Ucap Agung dingin.
Yura benar-benar maksud dari semua ini.
Perlahan tapi pasti Yura melangkahkan kakinya. Antara bingung dan nerveous jelas terlihat dalam langkahnya.
'Kenapa mereka disini semua?oh my God. Dan apa itu wartawan?' pekik batin Yura langsung menghentikan langkahnya.
"Agung, sebenarnya apa yang kalian rencanakan?" Yura terlihat mencurigai Agung.
"Kenapa Kau tanya padaku? Bukankah ini rencana kau dan Ayahku?" Tanya Agung mencurigai balik dan terlihat mendengus kesal. Bagaimanapun kondisinya, Dia jelas merasa tidak tahu apa-apa.
"Tidak. Pak Soni hanya mengajak bertemu disini. Tanpa bilang rencananya. Bahkan tidak bilang juga kalau mau bermain baseball begini." Jawab Yura.
"Ya namanya lapangan baseball. Pasti main baseball lah masa main bola." celetuk Agung membuat Yura semakin kesal.
" Yura???" Ucap salah satu saudara sepupunya dan langsung berlari kearah Yura.
" Minggirlah Kau Gung. Aku ingin berfoto dengannya!"ucapnya dan menjauhkan Agung dari Yura.
Yogi terlihat sangat antusias bertemu dengan Yura dan langsung mengajak Yura untuk berfoto dengannya.
Agung terlihat sangat kesal melihat sikap saudaranya itu.
Baru beberapa kali berfoto.
Terlihat seorang wartawan yang sepertinya sudah mendapatkan undangan khusus dari Pak Soni untuk meliput kegiatan keluarga hari ini, terlihat menghampiri Yura dan terkejut. Sedangkan Yogi terlihat menyingkir dan mendekati Agung yang masih terlihat kesal.
"Kenapa Kau tidak pernah bilang kalau Kau berhubungan dengan Yura?" Yogi penasaran.
" Kenapa Aku harus cerita padamu." Agung berbohong dari saudaranya itu. Membuat Yogi semakin iri dibuatnya.
Sedangkan seorang wartawan tadi masih terlihat terkejut.
"Jadi Anda Yura?" Wartawan itu sedikit tidak percaya.
"Iya."Yura tersenyum pada puas melihat keterkejutan wartawan tersebut. Bagaimanapun itu wartawan yang pernah membuat masalah dengan Yura. Dari artikelnya yang lalu, membanding-bandingkan Yura dengan beberapa wanita hebat yang dekat dengan Putra mahkota. Padahal Yura sendiri hanya menganggap putra mahkota hanyalah sosok sahabat yang benar-benar ada disaat suka dan duka. Namun gara-gara artikel yang dibuatnya membuat Yura berurusan dengan keraton.
" Jadi bagaimana hubungan Anda dengan... ?"
" Maaf. Mohon ingat tugas Anda disini." ucap Agung merasa kesal dan tiba-tiba memotong pertanyaan sang wartawan.
" Owh Maaf. Bolehkah Aku memotret kalian untuk artikelku." ucap sang wartawan.
"Tentu saja." Ucap Yura langsung menarik lengan baju Agung, Agung terlihat kaget dan bingung.
"Tersenyumlah !" Bisik Yura.
" Tapi kenapa lengan baju yang Kau tarik?" bisik Agung balik.
" Bukan Mahram." celetuk Yura membuat Agung langsung tersadar akan sikapnya waktu itu.
" Maaf." Agung meminta maaf lagi.
" Sudahlah. Tersenyumlah untuk permintaan maafmu." perintah Yura.
Dengan spontan Agung pun menurut kata-kata wanita yang kini berada disampingnya. Sedangkan Toni selaku wartawan langsung memotret beberapa kali.
" Jadi sejak kapan kalian resmi berhubungan?" Pertanyaan pertama dari Toni.
Yura langsung berakting layaknya sedang bermain sebuah drama. Dia benar-benar ingin menyakinkan Kalau Dia tidak ada hubungannya dengan putra mahkota. Dengan manja Yura menatap Agung. Membuat Agung bingung.
" Jawablah." Ucap Yura sambil tersenyum geli ke arah Agung.
Agung sedikit berpikir sebelum menjawabnya.
" Tepatnya satu tahun yang lalu." Ucap Agung mengarang jawaban.
" Owh jadi saat berita itu muncul tiga bulan yang lalu. Apa yang Kau lakukan saudara Agung? Apa Kau merasa Yura mengkhianatimu?"
Yura terkejut dengan pertanyaan itu.
" Tentu saja Saya merasa terkhianati. Namun Saya langsung tanya sendiri dan mencari tahu sendiri asal berita tidak jelas tersebut." jelas Agung mengarang.
" Anda benar-benar pria idaman."
" Tentu saja. Kalau tidak bagaimana Yura bisa tertarik." jawaban Agung semakin ngawur. Dan buat Yura ingin tertawa.
" Ok. Jadi apa yang membuatmu Anda tertarik dengan saudari Yura? " Jelas pertanyaan ini buat Agung sejenak berpikir.
" Sifatnya yang ceroboh dan pantang menyerah." Jawab Agung singkat mengingat awal pertemuannya.
" Anda sepertinya mempunyai tipe unik. Biasanya pria mengagumi wanita karena kecantikannya. Bagaimana Kau saudari Yura? Kenapa Kau menyukainya? Padahal sebelumnya Anda lebih terlihat dekat dengan putra mahkota?" Pertanyaan yang benar-benar membuat Agung kesal.
" Entahlah, cinta atau menyukai seseorang bagiku tidak perlu alasan. Kecuali untuk membenci seseorang itu baru butuh alasan." Ucap Yura malas menanggapi tentang zona pribadinya.
Sang wartawan terlihat tidak puas dengan jawaban Yura yang selalu simpel dan tersirat.
Tapi mau tidak mau harus menerimanya. Bagaimanapun juga Pak Soni merupakan salah satu orang terpandang di Kota ini. Sedangkan hari ini pekerjaannya memang khusus meliput kegiatan keluarga Pak Soni.
Dari main baseball bersama sampai makan malam bersama.
Yura sepertinya termasuk orang yang cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Begitu juga dengan keluarganya Agung. Bahkan kakek dan neneknya Agung terlihat sangat senang. Sedangkan adiknya Agung terlihat lebih banyak diam dan sibuk dengan hpnya.
Dengan Agung sendiri Yura terlihat masih kaku. Berkali-kali Yura terlihat mengalihkan pandangan apabila tidak sengaja bertatapan.
...****************...
Lagi-lagi keheningan yang terjadi diantara mereka. Selama perjalanan mereka terlihat saling diam.
Yura sesekali mengarahkan pandangan ke depan atau ke luar jendela. Sedangkan Agung terlihat fokus menyetir.
" Dimana alamatmu?" Tanya Agung membuka pembicaraan.
Yura pun langsung menunjukkan arah rute menuju rumahnya.
Setelah itu lagi-lagi mereka terdiam. Dering telepon Agung memecah keheningan mereka.
Agung terlihat mengambil dan mengangkat hpnya.
" Hallo."
" ... " Tidak ada suara.
" Hallo." Ucap Agung sekali lagi.
Dan tetap tidak ada suara terdengar. Agung langsung mematikan HP-nya. Dan melihat kembali no. yang menghubunginya. Tetapi jelas tidak tahu. Karena itu no.baru.
" Siapa?" Tanya Yura yang menyadari Agung terlihat heran, bingung dan penasaran.
" Entahlah. Hanya seorang yang salah no. sepertinya." Jawab Agung.
" Mungkin. Kekasihmu yang dulu. " Ucap Yura asal tebak.
" Apa Kau cemburu?" Agung malah terlihat lebih terbuka dan mencandainya.
" No!!!." Yura terlihat mengalihkan pandangannya ke luar jendela kembali.
Agung tersenyum kecil melihat Yura yang sepertinya sedang berbohong padanya.
" Apa Kau benar-benar yakin tidak cemburu?" Tanya Agung membuat hati Yura langsung berdetak kencang.
" Yakin. Karena itu tidak mungkin." Bantah Yura.
" Why?" Tanya Agung heran.
" Kau bahkan tidak menyukaiku. Buat apa juga Aku cemburu. Dasar aneh! Buang-buang waktu saja." Gerutu Yura.
Agung terlihat kaget dan kecewa mendengar ucapan Yura. Dia pun sadar, Dia tidak pernah menunjukkan rasa sukanya terhadap wanita yang kini sedang di sampingnya,melainkan ketidaksukaannya saja.
Dan kini tanpa Agung sadari. Rasa kecewa itu karena hatinya telah luluh kembali. Bagaimanapun rapatnya Agung mengunci hatinya untuk seorang wanita, faktanya kini Dia telah mencair. Iya, Agung sadar kini perlahan hatinya sudah mulai menyukai seorang wanita yang kini duduk disebelahnya.
Wanita yang menurutnya unik dan mempunyai daya tarik tersendiri.
Sambil fokus menyetir, sesekali Agung terlihat mencuri pandang. Dan setiap hampir ketahuan Yura, hati Agung langsung berdetak kencang.
Yura merasa aneh dengan sikap Agung.
" Why?" Tanya Yura.
" Tidak ada." Agung menggeleng.
" Ingat bukan mahram. Jangan lirik-lirik seperti itu." celetuk Yura membuat Agung langsung tertawa.
" Apa ada yang aneh denganku? Aku merasa Kau diam-diam memperhatikanku dari tadi." Yura terlihat memandang Agung penuh selidik.
" Jangan memandang begitu juga. Ingat bukan mahram." Agung mengingatkan
dan tiba-tiba mobilnya berhenti.
Agung langsung menoleh kearah Yura. Membalas tatapan selidik Yura dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Agung perlahan mendekatkan wajahnya ke Yura. Membuat Yura bingung dan takut, hingga Dia mengalah untuk mundur.
Detak jantung Yura semakin kencang dibuatnya. Agung semakin mendekatkan wajahnya.
' Setampan apapun Dia. Aku tidak akan terperdaya. Ingat bukan mahram!' jerit batin Yura.
Yura pun langsung mengangkat tangan kanannya dan meletakkan diwajah Agung serta mendorongnya.
" Stop! Apa yang ingin Kau lakukan?" Yura terlihat ketakutan.
" Aaah!!! Hidungku!!!" Jerit Agung.
Yura pun langsung menarik tangannya dari wajah Agung.
Terlihat Agung meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya.
"Maaf." Ucap Yura merasa bersalah karena telah mendorong wajah Agung terlalu kuat.
" Apa Kau ingin membuat hidungku ini menjadi pesek?" Tanya Agung masih memegangi hidungnya.
" Kau sendiri kenapa menakutiku seperti itu?" Yura terlihat membela diri.
" Kenapa Kau takut denganku?" Agung terlihat heran.
" Ya!!! Apa Kau tidak sadar tadi. Kau seperti pria mesum?" Yang Yura membuat Agung langsung tertawa.
" Jadi Kau pikir Aku pria mesum? Aku hanya ingin melepaskan ini dan bilang kita sudah sampai serta membukakan pintu mobil untukmu. Apa Kau tadi berpikiran Aku akan..." kata-kata Agung terhenti karena Yura.
"Aku bisa melepas sabuk pengaman ini sendiri. " Ucap Yuraa memotong pembicaraan dan langsung membuka sabuk pengamannya.
Yura cepat-cepat membuka pintu mobil dan langsung keluar.
" Terima kasih." Ucap Yura menundukkan kepala karena malu dan langsung meninggalkan Agung yang masih keheranan didalam mobilnya.
Yura langsung berjalan cepat menyelusuri halaman rumahnya dan masuk ke rumahnya.
' Apa yang Kau pikirkan Ra? Kenapa Kau serius sekali menanggapinya? Bodoh! Bodoh! Bodoh! ' Gerutu batin Yura menyalahkan diri sendiri.
Sedangkan Agung masih terlihat diam di dalam mobilnya. Sesekali Dia melihat tas di bangku sebelahnya.
" Apa Dia benar-benar begitu takut padaku sampai mendorong wajahku dan meninggalkan tasnya? Sungguh wanita ceroboh." Ucap Agung sambil mempertimbangkan sesuatu.
Sambil tersenyum geli akhirnya Agung memutuskan kembali kerumahnya. Dan membiarkan tas Yura berada didalam mobilnya.Sambil fokus menyetir sesekali Agung melirik tas tersebut. Lalu tersenyum sendiri.
Jam menunjukkan pukul 22:15 begitu Agung hampir sampai dirumahnya. Agung langsung mematikan stop kontak mobilnya dan lalu membuka pintu mobil saat sampai digarasi rumahnya. Begitu mau menutup pintunya, terlihat tas Yura yang tertinggal didalam mobilnya. Dia pun lalu mengambilnya dan membawa tas tersebut. Sesekali Agung tersenyum geli mengingat kejadian tadi, begitu melihat tas tersebut. Ada suatu kebahagiaan tersendiri rasanya.
...****************...
Matahari masih terlihat enggan untuk menyapa hari ini.
" Kriiiiiingggg!!!!"
" Aiish. Berisik sekali!"Yura terlihat mematikan alarmnya.
Tidak begitu lama hpnya berdering. Dengan enggan Yura mematikan HP-nya tersebut. Namun lagi-lagi hp berdering. Dengan terpaksa dan masih mengantuk Yura mengangkatnya.
" Halll." Ucap Yura sambil mengusap-usap matanya.
" Apa seorang gadis pantas jam segini baru bangun?" Tanya suara dari seberang sana.
Sambil mengusap-usap matanya, Yura terlihat memastikan no. yang meneleponnya. Dan jelas bukan sahabatnya apalagi miss Amora.
" Agung?" Tanya Yura langsung membelalakkan matanya.
" Iya ini Aku. Aku didepan rumahmu. Jadi keluarlah sebelum Pak RT datang menghampiriku." Ucap Agung membuat Yura panik setengah mati.
To be Continued