
Hari-hari terkurung berakhir. Perasaan setelah melihat mobil berkelas lalu lalang di jalan raya, melihat gedung-gedung megah menyentuh langit, dan setiap sudut kota yang tidak pernah sepi oleh orang-orang. Melihat itu membuat Aeus lebih hidup untuk sesaat.
Kebenaran tentang kota ini yang sekarang telah diduduki pemberontak tidak terlalu menimbulkan perbedaan besar. Masyarakat masih bebas berjalan, melakukan jual beli, juga mengobrol bersama yang lain. Tidak ada siapapun melarang. Hanya saja tempat dimana bendera hitam putih Aproud berdiri telah terganti dengan potongan kain persegi bewarna hitam bergambar tengkorak. Logo pemberontak.
Namun kalau dikatakan untuk tenang tentu kurang tepat. Masih ada mobil jip para pemberontak yang patroli setiap saat. Dari balik kaca mobil nampak jelas mata pemberontak dibalik topeng tengkorak mereka telah memupuk kecurigaan besar.
Mata mereka setajam belati baru diasah. Mencabik siapa saja yang dianggap mencurigakan. Tapi Aeus dan Farhaz walau sudah memakai penyamaran harus tetap menjaga tindak tanduk mereka kalau ingin tubuh mereka tidak berlubang.
Penyamaran yang mereka kenakan sekarang tidak terlalu mengubah penampilan mereka, terumata wajah dan gaya rambut. Hanya dari segi baju dan celana yang mereka pakai. Farhaz menggunakan jaket bertuliskan kalimat "Supreme" dan bertudung hitam serta celana jeans robek dilutut. Sedangkan Aeus memakai jaket Varsity biru dengan bordir naga rumit dibelakangnya serta celana cargo panjang hitam.
Mereka terlihat seperti dua pemuda yang ingin sekedar jalan-jalan sebentar yang setelah lelah pergi ke klub malam. Itulah harapan mereka berdua bagi orang yang sedang melihat mereka, terutama untuk para pemberontak. Bahkan Farhaz sekarang saking menjiwai peran menyamarnya dia sampai memutar lagu dari handphone lalu mendengarkannya melalui earphone putih miliknya.
Mereka bisa sedikit tenang berada di sarang musuh selain berkat penyamaran mereka juga menyimpan kejutan dibalik baju seperti rompi Hercules yang aslinya mampu menahan ledakan nuklir, namun karena yang mereka kenakan hanya prototipe maka mereka harus tetap bersyukur setiap timah panas mengarah ke tubuh bagian atas bisa ditangkis. Tidak hanya itu, ada prototipe lain seperti belati Cancer yang mampu melemahkan sifat keras besi, dan sepucuk pistol Sagitarius yang tidak pernah meleset.
Paling tidak mereka punya senjata untuk melawan karena Aeus sedari tadi hanya bertemu jalan buntu saat mencari jawaban untuk para pemberontak jika bertanya padanya.
Mereka mengikuti perintah Owen dengan seksama. Pertama mereka memasuki distrik dua belas mengamati sebentar lalu ke dua belas dengan kegiatan sama seperti tadi. Aeus bingung, mereka disuruh mengintai tapi sedari tadi Farhaz hanya melongo kesana kemari tidak jelas. Bahkan lebih buruknya lagi Aeus terpaksa meniru dia karena dia tidak tahu apa-apa.
Di perjalan antara distrik dua belas dan tiga belas, di trotoar yang tidak lepas dari ruko dan gedung Aeus tertarik untuk bicara pada Farhaz.
"Kau... Dapat dari mana handphone mu itu? Kau baru pertama kali menggunakannya." tanya Aeus.
"Aku memang membawanya sejak kita bertemu. Di bunker tidak ada sinyal internet, aku tidak bisa mengakses lagu disana jadi aku memilih menyimpannya saja untuk nanti."
"Ouh...," singkat Aeus.
Mereka akhirnya terdiam lagi selama sepuluh menit. Saat suhu malam mulai naik mereka memutuskan mempercepat langkah untuk menimbulkan panas alami dari tubuh.
Farhaz sedikit mendongakan kepala, memandang lampu jalanan agak jauh dari dia didepan, membiarkan pendaran temaram lampu menghinggapinya lalu berkata, "bagaimana bisa kau sampai di bunker itu?"
Aeus sedikit terperangah. Farhaz biasanya hemat kata, tapi bukan berarti dia bisu. "Aku sedang berada di atap gedung akademi saat penyerangan itu terjadi. Mereka membiusku laku membawaku ke bunker itu. Bagaimana denganmu?"
"Kau tidak perlu tahu itu." Farhaz seperti biasanya berkata ketus lagi menyebalkan.
"Menurutmu bagaima kota ini?" tanya Aeus. "Kota ini sudah diklaim pemberontak namun sepertinya mereka tidak melakukan apa-apa disini."
"Tentu saja." Farhaz mulai terpancing dengan topik. "Pemberontakan atau kudeta biasanya terjadi karena ketidakpuasan masyarakat dengan pemerintahan. Dalam beberapa kasus ada pemberontak yang melakukan misi diplomatik, mengkritisi penguasa sampai jatuh. Namun disini pemberontakan bisa kau lihat sendiri mereka memakai cara apa."
"Lalu?"
"Sederhana saja, pemberontak ingin mengambil alih negri ini. Mungkin untuk mendapatkannya dengan cara kekerasan, tapi masyarakat tidak bisa tunduk terus kepada ketakutan, mereka akan melawan atau pergi. Tanpa masyarakat sebagai penggerak roda kehidupan untuk apa mereka menguasai tempat ini?"
Aeus ingin memuji Farhaz karena pemahaman dia cukup hebat. Tapi tidak jadi mengingat dia itu menyebalkan ditambah dia seorang Lucos, mereka semua berotak cemerlang tentunya menjadikan itu hal biasa saja.
"Kau sudah melihat kondisi pasukan Supernova disini, mengapa kebanyakan hanya pelajar? Dimana prajurit sesungguhnya?"
"Syukurlah selagi kau tidur aku mencari informasi itu. Kau tahu Supernova adalah prajurit perdamaian untuk dunia, tahun-tahun sekarang banyak persilihan terjadi dan itu berarti banyak Supernova pergi. Kita tidak bisa mengecewakan dunia dengan pergi begitu saja, Supernova berusaha seprofesional mungkin dengan tidak meninggalkan pos."
Farhaz melanjutkan penjelasanya, "berita negara ini di kacaukan pemberontak juga sudah tersebar dimana-mana. Asal kau tahu saja, banyak yang membenci Supernova dan ingin menjatuhkannya, mereka pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini, maka dari itu setiap perbatasan diperbanyak tentara. Jadi terpaksa kita para pelajar yang hampir lulus di serahkan kesini agar membantu pasukan sisa."
Langkah kaki mereka telah membawa mereka ke distrik tiga belas, ternyata distrik ini adalah pasar. Sisi jalan dipenuhi banyak toko yang lampunya gemerlapan menarik mata. Setiap tempat makan atau cafe juga memancarkan aroma semerbak. Hampir saja Aeus tergoda masuk lalu memesan, sampai dia ingat dia punya tugas ditambah juga tidak memiliki sedikitpun uang di kantong.
Disini benar-benar ramai, para pemberontak yang berdiri disetiap sudut dengan menggenggam senjata hanya dianggap patung bagi mereka. Selagi mereka tidak mengundang perhatian Aeus dan Farhaz rasa mereka juga bisa ikut berbaur lalu mengintai seperti tugas mereka.
Farhaz masih sibuk mengamati sekitar sedang Aeus menangkap pemandangan aneh dari kerumunan orang. Seorang bocah berusia sepuluh tahun, memakai kaos oblong merah gelap dengan celana kain pendek sedang terdiam mengucek matanya yang kuning menyala.
Entah hanya dia yang sadar tapi anak itu masih saja melakukan itu pada matanya sampai matanya berubah lagi menjadi biru laut lalu pergi membawa bungkusan putih. Hanya satu hal untuk memastikan yang Aeus lihat.
Aeus berputar melihat sekeliling tanpa peduli Farhaz yang sudah jauh atau tatapan aneh para pengunjung. Dia punya hal penting daripada rasa malu dia. Akhirnya dia mendapat apa yang dia cari. Sebuah toko kacamata di belokan kanan perempatan. Dia bergegas kesana sambil memastikan bocah bermata kuning menyala tadi yang masih berada dalam jangkauan mata.
Setelah sampai dia tidak sedikitpun hirau akan penjaga toko yang mendekatinya di rak kacamata putar yang Aeus acak selama beberap saat hingga berhamburan dan jatuh. Akhirnya dia menemukan apa yang dicari, sebuah kacamata hitam. Secepatnya dia pasang lalu mengaktifkan mode Stella miliknya.
Perlahan citra yang dia lihat ditelan kegelapan. Tidak ada apapun disana selama beberapa saat, hanya warna hitam. Suara penjaga toko masih terdengar, dia membentak Aeus cepat merapikan kacamata yang berjatuhan namun itu tidak penting sekarang. Dia hanya bisa berharap yang dia lihat tadi itu bukan khayalan.
Sebuah pendaran kuning muncul sejauh sepuluh meter darinya. Aeus menonaktifkan mode Stella lalu membuka kacamata mengamati bocah berbaju merah gelap tadi terdiam sambil mengucek matanya. Aeus memakai kacamata itu sekali lagi lalu melihat dia dalam mode Stella. Dugaan dia benar, bocah ini seorang Unvon.
Dengan penuh penyesalan Aeus meminta maaf lalu merapikan lagi kacamata yang dia acak. Lalu diam-diam mendekati bocah yang ternyata Unvon tadi. Resiko yang dia ambil benar-benar besar, pilihannya antara dicurigai lalu ditembak mati ditempat, atau di bawa lalu disiksa, yang mana saja tetap terlalu buruk untuk dipikirkan.
Bocah itu masih berjalan lurus tanpa sedikitpun terlihat tanda-tanda berhenti. Perlahan namun pasti Aeus melangkah cepat di belakangnya untuk tidak ketinggalan. Dia harap Farhaz tidak akan terlalu murka saat mereka bertemu di ruang bawah tanah nanti.
Volume kerumunan masa berkurang saat Aeus dan bocah itu telah meninggalkan pertokoan tadi. Syukurnya bocah itu masih tidak sadar ada yang memata-matai dirinya. Setidaknya belum, karena Aeus sekali saja tidak pernah melakukan penguntitan seperti ini, bahkan untuk seseorang yang disukai.
Sekarang mereka berada di trotoar jalan raya. Aeus hanya bisa mengumpat dalam hati saat sadar keadaan disekitarnya begitu sunyi, bahkan untuk kendaraan. Sejauh ini dia menyesal atas tindakan ini. Dia rela terpisah Farhaz dan tidak mendapatkan apa-apa, itu bukan tujuannya, paling tidak dia bisa membawa bocah ini dulu sebagai tameng dari amarah Farhaz dan hukuman komandan Owen.
Bocah itu masih berjalan walau jika dihitung dia sudah dua kali berhenti sebentar untuk melakukan kebiasannya pada kedua mata; mengusapnya. Sungguh kasihan menurut Aeus melihat dia terpaksa merasa buta sesaat karena efek dari alat di tubuh mereka butuh penyesuaian, gejala itu bisa dikurangi bahkan dihilangkan, karena itulah dia yakin bocah ini akan percaya padanya.
Menempuh perjalanan berkisar sepuluh menit bocah itu memutuskan masuk ke gang sempit. Terpaksa Aeus harus masuk kesana juga. Dia berusaha lebih keras agar tidak ketahuan, dari melambatkan langkah juga sedikit membungkukkan badan agar wajah tidak terbaca, yang nampaknya itu berhasil. Aeus harap hanya bulan yang sadar tentang kehadirannya.
Setelah masuk lebih kedalam bocah itu berhenti. Dia nampak gemetaran lalu menengok sebentar dan melihat Aeus dengan bodohnya masih menangkat tinggi kakinya hendak melangkah diam-diam. Bocah itu buta jika tidak melihat, dan seperti yang dilakukan orang saat diikuti, dia berlari secepatnya.
Berjalan saja bisa dianggap mencurigakan, apalagi berlari seperti sekarang. Tapi tidak ada waktu untuk berunding dengan pilihan yang mendesak, dia memiliki target berlari maka seperti pemburu lain dia mengejar.
Langkah cepat mereka bergema di jalanan malam yang mengundang perhatian. Syukurlah sekarang sepi dan tertutup di gang ini. Hanya saja sampai kapan mereka akan berlari? Cepat atau lambat mereka akan terdengar oleh seseorang atau yang terburuk oleh pemberontak.
"Hei!" seru Aeus yang harap cukup jelas karena dia sambil mengambil napas. "Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin bertanya padamu!"
Kata-kata Aeus hanya dianggap sebutir pasir di padang gurun. Bocah itu tetap tidak berhenti.
Terpaksa Aeus memeras semua tenaga yang dia punya demi menyamai kecepatan bocah itu. Dari hidung dan mulut Aeus mengeluarkan segumpal asap panas di dingin malam. Akhirnya Aeus dan bocah itu berlari bersampingan.
"Percayalah aku bukan orang jahat."
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku tahu kau seorang Unvon."
Untuk sesaat bocah itu bingung tapi tidak sedikitpun berniat berhenti. "Bagaimana bisa?"
"Karena aku seorang Unvon."
Kalimat itu seperti tombol otomatis untuk menyetopnya. Setelah bocah itu berhenti melangkah Aeus juga berhenti.
"Kota ini milik pemberontak, kau berada dipihak mana?"
"Aku berada di pihak Supernova tentunya." Aeus penuh percaya diri. "Sekarang ayo kita cari tempat untuk mengobrol."