
Kantor Owen kembali diramaikan, yang kali ini tidak hanya dari perwakilan pelajar Supernova melainkan juga ada lima perwakilan warga kota Jeldan untuk mendiskusikan rencana penyelamatan prajurit Supernova di penjara daerah.
"Kita sudah mengetahui letak dimana mereka menyembunyikan prajurit Supernova yang kalah saat merebut kota ini. Tapi kita belum tahu pasti apakah benar disana tempatnya. Itu semua tergantung informasi yang diberikan oleh Raven," tutur Owen pada seluruh orang disana.
"Kapan kita bisa tahu kepastiannya?" Laki-laki berambut hitam dan mata biru terhalang kacamata, berumur dua puluh sembilan tahun memakai jaket tebal. Dia seorang kepala dari perusahaan listrik disini.
"Tengah hari Raven kami akan mengirimnya, secepatnya akan kuberitahukan kalian lagi. Terima kasih atas kerjasamanya." Owen berdiri lalu mengangguk ke lima orang penting di Jeldan.
Lima orang itu pergi dan untuk Ralon, Tiffany, dan Mira masih ditempat. Mereka menunggu Owen duduk kembali.
"Bagaimana pengintaian kita di penjara daerah?" Tanya Owen.
"Sejauh ini hasilnya adalah penjagaan disana cukup ketat, terhitung dua puluh pemberontak yang menjaga di sekitar pagar penghalang dan gerbang masuk," sahut Ralon.
Owen menghela napas. Sejauh ini hasilnya memang bagus untuk permulaan, sedangkan kedepannya masih perlu cahaya lagi untuk dapat bergerak. Keputusan Owen pada Aeus untuk mengirim sinyal pada tengah hari memang menurut pihak warga agak lama, tapi itu sudah yang terbaik menurutnya. Kemampuan Raven untuk menganalisa sekitar dengan tepat butuh waktu, dan semua berharap tengah hari adalah saat sempurna.
"Dandeliaon," ucap Owen pada Mira. "Dua jam lagi tengah hari, apakah Fraut dan Farhaz sudah berangkat?"
Mira dengan kode nama Dandelion menyahut, "mereka sudah berangkat."
"Kurasa kita memang hanya bisa menunggu, baiklah untuk sekarang kita bubar dulu nanti akan ku kabarkan lagi kapan kita akan membahas pesan Raven."
Ternyata penjara daerah di kota Jeldan adalah tempat mereka menawan semua prajurit Supernova yang gagal mengambil alih kota. Sekarang disinilah dia, di salah satu sel dilantai dua bersesakan bersama sembilan Supernova lain.
Setelah masuk penjara perasaan takut lenyap bersama kesempatannya untuk melihat langit lagi. Menurut Aeus itu bukan masalah besar, dia bisa menghabiskan waktu berhari-hari di dalam kamar asrama miliknya asalkan ditemani makanan cepat saji dan beberapa konsol game dan itu tidak akan pernah terjadi disini.
Kabar baiknya dia tidak dinterogasi sama sekali. Hanya beberapa pertanyaan yang berusaha di kejamkan, itu tidak membuat Aeus terintimidasi sedikitpun.
Paling tidak dia bisa menatap mata seorang tentara yang siap mati merebut kota Jeldan tapi yang dia dapati adalah wajah putus asa. Sudah hampir seminggu kota ini diduduki pemberontak dan itulah lama waktu mereka habiskan disini. Aeus bertanya-tanya apakah itu raut muka dia nanti saat Owen tidak bisa membebaskan dia? Dia akan digergoti kesedihan, hatinya akan hampa, semua itu bisa terjadi dan tidak terjadi, itu tergantung keadaan, selalu saja tentang keadaan.
Aeus memandangi sudut ke sudut kamar penjara dia. Seluruhnya laki-laki, disini ada empat Xordas dan enam Unvon jika dilihat dari seragam tempur yang mereka kenakan. Umur mereka beragam, paling muda tiga puluh tahun dan tua empat puluh, usia-usia dimana pengalaman mereka sudah setinggi gunung. Sayangnya itu masih tidak cukup untuk mengalahkan pemberontak, apalagi mereka, pasukan yang masih belia.
"Hei," ucap salah satu Unvon berumur tiga puluh delapan berambut hitam lurus dengan hidung mancung. "Berapa umurmu?"
Aeus rasa pria itu sedang bicara padanya karena hanya dia dari prajurit lain disini yang masih duduk tegak sedangkan yang lain meringkuk dan tidur bersandar di dinding. "Tujuh belas tahun," jawabnya.
"Jika kulihat kau memakai seragam pelajar Unvon, bagaimana bisa kau mengelabui mereka selama itu dengan masih berpakain mencolok seperti ini?" Tanya pria itu lagi.
"Aku... bersembunyi dirumah besar, aku tidak mengganti pakaian karena aku bukan seorang pencuri." Aeus tidak harus menjawab itu, apalagi dibumbui kebohongan.
"Kau prajurit terhormat ya? Itu bagus, tapi kukatan itu akan membuatmu mati."
Dalam hati Aeus berkata, kau belum tahu saja siapa sebenarnya aku, tetapi dia tidak bisa membiarkan pujian itu tanpa balasan. "Terima kasih banyak."
Pria itu tersenyum lalu tertawa pendek hingga kehabisan napas dan batuk. Kondisi dia tidak berbeda dengan yang lain, buruk.
"Siapa namamu?" Aeus bertanya
Pria itu menyipitkan mata pada Aeus. "Setidaknya aku punya seseorang untuk mengingat namaku, dengarkan baik-baik, aku Jeren. Kalau kau anak muda?"
"Aeus."
"Seperti Zeus?" Jeren terkekeh pelan. "Nama yang unik."
Inilah saatnya, ucap Aeus dalam hati. Untuk menggali informasi lebih dalam tentang siapa saja ada disini, terutama prajurit yang bisa dimanfaatkan.
"Apakah saat penyerangan kalian banyak yang mati?"
Jeren terdiam dengan wajah menghadap ke langit-langit. "Ada yang gugur, aku tidak tahu berapa tepatnya, sekitar sepuluh atau lima belas."
"Dan... ada berapa Xordas dan Unvon yang selamat disini?"
Jeren kembali diam untuk berpikir. "Aku tidak tahu nak."
"Apakah ada disini yang tahu?" Aeus menatap tentara lain yang meringsut tidak sadar.
"Entahlah, mungkin ada." Jeren merangkak ke samping kiri dia untuk membangunkan seorang Xordas berumur tiga puluh tahun. "Halic, bangunlah."
Xordas dipanggil Halic itu membuka mata pelan melirik Jeren dengan lemah. "Apakah.. sudah waktunya... makan?" Kalimat dia begitu pelan hingga Aeus perlu fokus pada telinganya.
"Kita semua tahu makanan hanya datang saat malam nanti, sekarang aku ingin bertanya apakah kau tahu berapa jumlah kita disini?"
Halic terdiam lama sampai Aeus rasa pria itu malah tidur bukannya berpikir. "Tiga puluh lima Unvon dan tiga puluh tiga Xordas."
Jeren kembali ketempat dia kemudian langsung menghempas punggung ke dinding, itu terlihat sederhana namun bagi Jeren itu membutuhkan usaha begitu besar. "Itulah jawabannya nak, kuharap kau menyimpan tenaga saja dengan tidur karena makanan sangat langka disini."
Tidak ada lagi alasan untuk ragu bertindak, ini adalah alasan tambahan dia untuk tidak menyerah melakukan tugasnya mengantarkan pesan rumit. Yang dia butuhkan adalah penunjuk waktu untuk mengetahui kapan sekarang karena informasi pertama dia harus kirim tepatnya pukul dua belas siang ini.
"Apakah disini ada yang punya jam?" tanya Aeus.
Jeren terkekeh pelan untuk ketiga kalinya. "Barang elektronik semua diambil dari kami. Kau tidak perlu itu nak, waktu akan terasa singkat jika tidak kau ketahui."
Dia salah besar untuk itu. Mau bagaimana lagi, dia tidak tahu Aeus datang kesini sebagai penyelamat. Memang sebaiknya tidak siapapun disini yang tahu. Yang lebih penting, dia harus mencari tahu waktu kapan sekarang dengan jalan alternatif lain seperti Farhaz ajarkan.
Dengan bertanya pada teman sel, itu sepertinya sia-sia. Dengan cahaya matahari, sial, disini tidak ada jendela. Ada satu cara lagi tapi mungkin akan menyakitkan baginya, apapun itu dia sudah menempa janji dihatinya untuk melakukan apa saja demi tugas. Dia adalah harapan sekarang.
Dia menempelkan wajah ke jeruji besi yang langsung menusuk dingin kulitnya. Mata dia kesana kemari mencari sesuatu lalu terpaku pada dua pemberontak dipintu masuk. Dia meneliti pemberontak itu dari kepala hingga tangan. Sebuah arloji perak tertempel pada pergelangan tangan salah satu pemberontak itu.
Aeus sempat ragu melihat mereka membawa senjata. Tidak ada jalan lain, ini harus dilakukan. "Tolong!" Aeus berteriak ke arah luar sel.
Dia menunggu jeda lalu berteriak lagi sambil mengawasi dua pemberontak tadi yang masih mematung disana. Aeus perlu sesuatu yang lebih menantang lagi, agar mata dan kaki pemberontak itu menghadap padanya.
"Hei tolong! Mereka mau memakanku! Tolong!" Aeus tidak pernah mencoba menjadi seseorang yang menarik perhatian, demi tugas dia rela melakukannya.
Kedua pemberontak itu saling menatap lalu salah satu terbujuk datang, Aeus langsung menjauh sedikit dari jeruji. Keadaan selanjutnya akan lebih buruk, dia harus siap.
Pemberontak itu sampai lalu menyisipkan jemari bersarung tangan hitam miliknya ke jeruji besi. "Diamlah!" Aeus perhatikan pergelangan tangan orang ini. Tidak ada apa-apa disana selain bulu pendek dan bebera kutil.
Aeus langsung berdiri lalu menyambar memegang jeruji. Menghadap penuh ketakutan wajah pemberontak tertutup topeng terngkorak. "Tolong aku! Mereka mau memakan aku." Dia meringsut cepat kemudian memegang kepala sekencangnya.
"Diam atau kau akan mendapatkan hal buruk!" Seru pemberontak itu.
Aeus tidak menyerah sampai hal yang dia inginkan dapat. Dia harus mengundang satu pemberontak lain tadi, entah harus bagaimana. Dengan teriakan dan bersikap sakit jiwa dia rasa tidak cukup, dia butuh rencana lain.
Aeus kembali menatap pemberontak itu lalu bersikap getir. "Keluarkan aku, kumohon... akan kulakan apa saja. Aku masih ingin hidup."
Pemberontak itu diam sesaat, tertarik atas tawaran atau barangkali berkeinginan menarik pelatuk lalu menembak dirinya. Semua keputusan ada pada pemberontak ini. Aeus hanya bisa diam berkeringat dingin masih mempertahankan sandiwara seadanya.
"Bergabunglah dengan kami maka kau akan keluar dari kubangan ini."
Aeus tidak langsung menjawab, barangkali dia terpikir pandangan Jeren kearahnya yang tadinya percaya Aeus adalah seorang prajurit terhormat. Dia jarang diperlakukan seperti itu. "Akan kulakukan apapun, tolong keluarkan aku dari sini." Dengan nada memohon dibuat-buat.
Kunci jeruji besi keluar dari kantung celana pemberontak ini begitu mudahnya. Sandiwara dia berhasil, sayang tidak ada guru kesinian disini untuk melihatnya. Kemudian tidak lama terbukalah terali besi. Kebebasan di depan mata dan dia langsung berdiri menyambutnya.
Setelah keluar dia langsung dijaga pemberontak dibelakang. Kepercayaan pemberontak ini tidak lebih dari omongan saja. Aeus tidak peduli, asalkan dia bisa mendekati pemberontak di pintu masuk dan menilik waktu dari jam tangan yang dia pakai di tangan kiri
Perjalanan Aeus singkat karena jarak sel ke pintu masuk cukup dekat. Dia diapit pemberontak dari depan dan belakang. Jantung Aeus mulai berdetak kencang. Dia diam memandangi pemberontak di depannya yang juga sama kearahnya.
"Apakah dia bisa dipercayai?" tanya pemberontak berjam tangan.
"Tidak," sahut Aeus langsung meluncurkan tinju kearah dada sebelah kiri pemberontak yang dengan mudahnya dia hentikan dengan menggenggam erat pergelangan tangan Aeus dengan tangan kirinya sekencang mungkin sampai rasanya tulang Aeus bisa patah kapan saja.
Aeus menjerit sakit tapi matanya tetap liar ke pergelangan tangan pemberontak di depannya. Jam tangan digital, menunjukan waktu 11:22 waktu Aproud bagian tengah. Apa yang dia cari sudah dia dapatkan, sekarang jalan untuk kembali lagi.
"Keluarkan aku!" Aeus berteriak.
Pemberontak di belakang menarik dirinya lalu mendaratkan tinju telak ke wajah Aeus hingga hidungnya berdarah. Dia pernah terluka tapi tidak di dua tempat secara bersamaan. Dia yang lemas langsung diseret kembali ke sel lalu dimasukan dengan didorong kuat hingga Aeus jatuh menimpa tiga prajurit Supernova yang tengah meringkuk dibawah. Bisa Aesu rasakan keterkejutan mereka saat tidur diatas mereka.
Pintu ditutup dan dibanting. Pemberontak itu pergi begitu saja meninggalkan Aeus yang susah payah duduk menjauh dari tentara Supernova yang dia rebahi. Dia mencoba fokus, walau rasa sakit berdenyut di tangan dan wajah.
Detik dia hitung, menit dia perkirakan. Sampai waktu menurut dia sudah jam dua belas tepat. Semoga saja tidak kurang dan tidak lebih karena masa aktif Fraust bisa melihat dari jam sebelas lewat tiga puluh menit sampai jam dua belas lewat tiga puluh menit. Satu jam penentuan. Yang akan membawa harapan pada semua prajurit disini bahkan kota Jeldan nanti.
Aeus merapatkan lutut ke tubuhnya kemudian menenggelamkan wajah, mengaktifkan mode Stella.
Mira datang tergesa-gesa ke kantor Owen yang dimana sudah ada orang-orang penting dari pelajar Supernova dan masyarakat.
"Kurasa semua sudah terkumpul, baiklah, aku ingin memberi pernyataan buruk untuk kita semua bahwa kita akan melakukan operasi penyelamatan Supernova di penjara Jeldan."
*****
Luciver joined the chat
saya lihat sudah banyak yang baca cerita saya yang sudah tidak seberapa ini, terima kasih untuk itu semua juga respon positif yang diberikan, maaf kalau saya hanya bisa memberi ini tapi percayalah saya akan berjuang untuk jadi lebih baik jadi tetap dukung dan bagikan cerita ini.
dan nggak kerasa udah hampir masuk hari lebaran, saya Luciver author dari cerita ini meminta maaf untuk typo dan salah kata di cerita ini. mohon maaf lahir dan batin ya!
satu hal lagi, yang penasaran logo militer Supernova cek aja ig saya: rahmn_q, cek story atau sorotan saya maka kalian akan dapat lambang pasukan perdamain dunia ini. Kalau mau follow dipersilahkan dan bagi yang ingin di follback dm atau koment aja. omong-omong itu akun pribadi saya jadi bisa aja saya nggak melulu unggah tentang kepenulisan, pokoknya bersiap aja lihat orang alay. Saya rasa sudah saat ini, kita bertemu lagi tapi nanti ya, tetap baca dan dukung cerita ini.
Luciver has left the chat.