SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Harapan Terakhir



"Bagaimana mungkin?" Owen mempertahankan nada suaranya untuk tidak kalah dari tiap letusan peluru yang ada.


"Aeus atau Raven sekarang di panggilnya, bisa memakai prototipe sayap," tutur Mira. "Aku melihatnya sendiri."


"Tidak semudah itu, mereka pasti juga punya pasukan udara."


"Aeus tidak bisa dibiarkan sendirian itu benar, beberapa orang akan menjaganya."


Owen menggeleng. "Aku lebih bertaruh pada pengurangan pasukan disini untuk membuat konstelasi pemanggilan disini."


Kini Mira menatap Owen dengan tatapan tajam, tanda tak ingin diabaikan. "Kurasa tidak, Pemberontak tidak punya keahlian dalam terbang menggunakan sayap, Supernova bisa. Setelah melewati pasukan musuh di depan Aeus akan selamat. Kalau begitu biarkan saya ikut pergi."


Pahlawan laut Florida itu diam menimbang. Apakah benar membiarkan Unvon muda ini ke tengah kota? Pikir Owen. Entahlah, kemungkinannya memang kecil tapi tetap saja ada. Daripada mengurangi lima Unvon ke belakang kemudian membentuk konstelasi pemanggilan alih-alih sekarang dia punya pilihan untuk mengurangi hanya dua atau lebih banyak tiga prajurit.


Setiap pilihan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, entah resiko tewas menunggu tidak ada yang tahu sebelum mencoba. "Baiklah," kata Owen membuat Mira menahan napas. "Pilihlah satu orang lagi dan bersiaplah terbang!"


Setelah mengantar gadis yang terluka ke paramedis di belakang Aeus maju kembali dan kini berbagi tempat berlindung yaitu di semak tebal dengan prajurit senior Supernova yang memegang senjata M-16 bewarna hitam.


Peluru lebih banyak bertebangan malam ini daripada daun yang tertiup angin malam. Suaranya begitu memekakkan telinga, sama seperti hal lainnya Aeus hanya bisa menerima kenyataan. Dia bisa mendengarkan atau tertembak olehnya, yang mana pilihan itu sama-sama menyakitkan namun percayalah dia masih sayang nyawa sendiri disaat seperti ini.


Beberapa kali dia dan prajurit senior di sampingnya berdiri menembaki pemberontak yang kini entah mengapa selalu muncul dengan jumalah yang paling banyak tiga untuk beberapa waktu. Mungkin mereka besar kepala terlebih dahulu karena zirah hercules itu telah menghabiskan jebakan dengan mudah dan juga sebagai pelindung tak kenal batas bagi Pemberontak. Dengan senjata biasa mereka hanya bisa memperlambat pergerakan zirah Hercules, lambat laun dia tetap bisa melangkah maju.


Satu impian kecil Aeus sudah terpenuhi saat melihat zirah Hercules itu diserang. Kini dia punya mimpi lain yaitu mengalahkan zirah Hercules. Pasti akan hebat. Mendadak semangatnya naik melebihi kepala. Dan makin tinggi saat melihat ketua Goldsetin datang dengan dua senapan bewarna hijau muda dan hijau tua—senapan Perseus.


"Tetap tahan begitu anak-anak." Goldstein sudah berada di depan kemudian menyerahkan sepucuk senapan Perseus ke salah satu Supernova senior yang berada di sebelahnya yang bersembunyi dibalik pohon. "Aku akan menyerang **** dan kau incar kepala kosongnya, kita akan memuat patung dari pecundang hari ini." Kemudian langsung saja mereka merengsek maju.


Aeus melihat dan merasa berapi-api saat Goldstein hendak bersiap menyerang. Tanpa pikir panjang Aeus berdiri dan menyerang tiap Pemberontak yang dia lihat tanpa peduli nyawa sendiri, itu dia lakukan demi melindungi mereka yang akan membereskan masalah utama mereka yaitu prototipe zirah Hercules sialan ini.


Enggan lagi bersembunyi Aeus tetap setia pada posisi siaga sambil sesekali melirik ke barisan dua meter di depannnya tiga Supernova ditambah Goldstein dan satu orang lagi dengan senapan Perseus mulai memberondang zirah hercules yang kini samar-samar terlihat sedang ketakutan hendak mengambil langkah mundur tetapi terlambat saat Xordas bermata perak itu sudah menembak kedua kaki baju tempur itu maka habislah sudah. Perlahan sepasang kaki emas itu berubah warna menjadi abu-abu pasir. Tidak bisa dihancurkan bukan berarti tidak bisa dihentikan, itulah pelajaran kali ini.


Serangan dari senapan perseus nampaknya berhasil tanpa gangguan, tiap centimeter tubuh zirah Hercules kini mulai dirambati warna abu-abu tanda sedang diproses menjadi batu. Pertanyaan sekarang adalah apakah orang dalam zirah itu juga membatu? Yang pasti baju itu sudah tidak bergerak lagi, satu ancaman tersingkirkan.


Perayaan yang mereka dapatkan bukanlah kue dan hadiah, beberapa pujian dari Goldstein adalah yang terbaik saat ini. "Pemberontak masih ada didepan sana, yang itu berarti tugas kita belum selesai. Tetap pertahankan posisi kalian anak-anak!" Goldstein beranjak pergi.


Kini pasukan Supernova bisa maju, Aeus dan prajurit senior disampingnya langsung keluar dari balik semak bersama.


"Raven!" Suara itu adalah dari orang yang berhasil membekukan zirah Hercules, Goldstein.


Tujuan Aeus beralih yang awalnya ke pohon untuk berlindung sekarang mendekat ke Goldstein. Setelah sampai dia langsung menatap pemimpin formasi tengah itu dengan penuh tanda tanya.


"Aku mendapat kabar dari Owen, mundurlah dan ambilah prototipe sayap disana. Kau akan pergi ke tengah kota Jeldan, sekarang juga."


Pernyataan Goldstein membuat Aeus terhenyak, pertama karena dia diberi tugas langsung dan... apakah tadi ada yang bilang sayap?


"Kenapa?" tanya Aeus sama seperti orang lain menghadapi kenyataan pelik.


"Kau akan membentuk konstelasi pemanggilan Lyra disana, terbanglah kesana." Aeus bisa lihat saat mengatakan itu Goldstein agak ragu.


"Aku...." Aeus ingin jujur untuk mengatakan bahwa dirinya tidak bisa memakai prototipe sayap yang itu berarti dia juga tidak bisa terbang. Dia mulai ingat latihan singkat dia dibawah bunker militer itu dengan Mira.


"Cepatlah! Semakin cepat konstelasi pemanggilan dibuat maka semakin baik. Kuyakin kau bisa," kata Goldstein menjadi bahan bakar di tangki Aeus yang sudah terkuras banyak.


Aeus mengubah arah pergi ke garis belakang, mengambil prototipe sayap dari seseorang disana tanpa peduli kemampuan terbang yang dimilikinya hampir sekecil butiran pasir. Dia punya keyakinan sekarang bisa lebih baik dari sebelumnya sebab saat ini taruhannya adalah nyawa, lebih-lebih kota ini sendiri.


Sengaja memilih menggunakan prototipe sayap seperti sebelumnya yaitu sayap Corvus karena dia entah kenapa merasa alat itu tidak asing lagi, ditambah panggilan dia Raven yang berarti gagak membuat ini terasa masuk akal seperti semua hal secara tidak langsung terhubung. Aeus tidak memikirkan itu berlama-lama sebab dia dikejar waktu.


Setelah memasang alat terbang itu Aeus tidak menyangka melihat Mira dan seorang Supernova senior datang dengan masing-masing memakai prototipe sayap, Mira menggunkan sayap Cygnus yang berarti angsa bewarna sama dengan rambutnya, putih bersih, sedangkan seorang lagi memakai sayap Aquila bermakna elang dalam bahasa yunani sedangkan untuk warnanya coklat gelap.


Aeus senang melihat Mira dan prajurit senior disini tapi dia tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Hanya kalian berdua?" Sesaat mengatakan itu Aeus harap dia bisa menarik kalimatnya saat melihat ekspresi dua orang itu.


"Kita tidak bisa meminta banyak," jawab Mira.


Dalam hati Aeus berharap bantuan dari seorang prajurit putih dan kecakapan dari anggota senior cukup membawanya sampai ke tujuan. Kalau tidak itu berarti mereka gagal dan dia mati.


Memastikan ikatan sayap pada tubuhnya kencang Aeus bersiap mulai terbang dengan detak jantung yang makin tidak karuan. Dia mencoba menggepakkan sayap lalu meloncat setinggi mungkin. Dia bertahan diudara berkat gerakan dari sayapnya, tetapi dia masih gemetaran sehingga tubuhnya tidak seimbang terlihat dari gerakan tubuhnya yang sesaat miring ke kiri sesaat miring ke kanan dengan tangan terentang seperti seseorang yang berdiri diatas seulas tali.


"Pegang tanganku." Mira sudah ikut terbang menjulurkan tanggannya.


Tangan kiri Aeus yang kosong tidak memegang senjata meraih tangan Mira yang lembut. Dia masih mencoba mengendalikan sayapnya dengan susah payah sampai dia hampir tidak kuat lagi lalu mata dia dan Mira bertemu.


"Kau bisa." Mira masih setia memegangnya. Kata itu yang membuat Aeus bertahan.


Dia mencoba mengendalikan ketakutan dengan memejamkan mata dan mengencangkan pegangan pada tangan Mira yang dibalas genggaman erat oleh prajurit putih itu. Sayapnya sudah bisa dikatakan naik dan turun dengan selaras, tubuhnya kini tidak lagi goyah. Dia siap.


Aeus membuka matanya kemudian dengan percaya diri berpaling kearah barisan Pemberontak di depan sana. Dia pasti bisa, dia percaya kata-kata Mira, dia percaya pada dirinya sendiri.


"Akan sulit menghindari tembakan." Supernova senior tadi sudah terbang dan kini berada disamping kiri Aeus. "Terbanglah tinggi dan terus maju, dengan begitu kau akan jadi sasaran yang sulit. Dan satu hal lagi, jangan lihat kebelakang maupun ke bawah. Terbanglah dengan cepat, kita adalah harapan terakhir."


Aeus mengangguk percaya. Dia meraih senapan Sagittarius di pinggangnya, Mira menarik dua pedang Cancer, dan prajurit senior itu mengokang senapan berjenis M416 bewarna hitam ditanggannya. Merasa sudah siap mereka langsung terbang maju melewati pertempuran dibawah sana.


Mengikuti perintah tadi Aeus mengepakkan sayap lebih kencang untuk naik lebih tinggi sedangkan Mira dan Supernova senior tadi menyebar ke arah berlawanan berusaha membingungkan musuh. Untunglah kali ini dia sudah bisa terbang dengan baik ,karena kalau tidak dia harus berurusan dengan dokter orthopedi.


Aeus sesekali melirik pemandangan dibawahnya yang artinya melanggar peringatan yang baru saja dikatakan Supernova senior itu, disana pemandangan agak gelap karena terhalang rindangnya pohon. Namun dia masih bisa melihat samar-samar pertarungan Supernova melawan Pemberontak yang begitu sengit dari percikapan ledakan mesiu senapan. Baku tembak terjadi tiap saat di formasi sayap kiri, tengah, dan kanan.


Bunyi desisan cepat dari samping kiri Aeus membuatnya terkesiap. Tadi itu adalah peluru. Dia menjadi sasaran sekarang.


Aeus tidak berniat tahu siapa persis yang menembaknya tadi, tapi saat dia melihat kebawah dimana disana adalah wilayah tempat musuh berada ada lima Pemberontak yang memegang masing-masing senapan laras panjang sedang mengicar dia, Mira, dan prajurit senior itu.


Mereka menembaki Mira namun dengan cekatan Mira berakselarasi cepat menghindar ke kiri dan ke kanan. Dan prajurit senior itu, ternyata lebih hebat dari Mira karena tidak menghindar ke samping saja, dia bisa mengatur tinggi rendahnya sehingga dia terlihat seperti atlit perenang medali emas di udara. Sedangkan Aeus begitu payah, hanya bisa bergerak maju.


Peluru masih setia meluncur ke arah mereka namun mereka masih baik-baik saja. Tetap saja tidak bisa dipungkiri saat timah panas itu melesat di dekatnya membuat tiap keberanian Aeus robek. Dia kembali takut, akan tetapi dia berusaha agar fokus kembali karena kalau jatuh maka dia mati di wilayah musuh. Beruntung kalau langsung terbunuh, dengan begitu Pemberontak tidak bisa menyiksa apalagi menawan dirinya.


Kalau dihitung sudah tujuh peluru yang mendekati Aeus dan kian lama makin tepat. Dia sudah berusaha menahan rasa takutnya, dengan memikirkan nasib kota ini, atau apapun juga yang membuatnya tenang, bahkan saat ini dipikirannya juga ada Mira. Namun sayangnya dia tidak ada di dekatnya. Disaat seperti ini. Prajurit putih itu sibuk terbang kesana kemari menghindari tembakan.


Dia terlalu memikirkan alasan dan alasan sampai rasa takut telah diabaikannya, bahkan saat ini rasa senang menggantikannya karena dia berhasil melalui wilayah musuh akan tetapi ada suara yang merayap begitu cepat diikuti bahu depan Aeus terdorong kuat akibat benda kecil yang melewati dirinya begitu saja membuat keseimbangannya hancur.


Tembakan tadi tidak pernah dia duga, rasa sakit yang membara baru saja muncul setelah beberapa detik. Nampaknya itu tidak lagi penting sebab dia sudah jatuh dan sebentar lagi mati.