
Hari ini akan menjadi sejarah. Setelah lama Aproud tenang kini pada tahun 20XX hal itu dirusak pemberontak dengan senjata dan tengkorak menakutkan mereka itu. Itu tidak lagi masalah karena saat ini adalah babak penentuan. Supernova melawan Pemberontak.
Kabar dari Supernova di kota pemberontak lain juga beterbangan. Di dua kota lain akan melancarkan serangan diam-diam, sedangkan disini memakai cara yang berani.
Sore hari Pemberontak dengan dua ratus prajuritnya sudah berbaris rapi di depan kantor Walikota lalu berjalan rapi ke Jembatan Beruang, membawa serta sepuluh bendera Pemberontak yang diikat di mobil hitam mereka.
Berkat acara pamer para pemberontak di jalanan kota Jeldan benar-benar tersendat. Masyarakat yang sudah terbakar kini dipastikan siap meledak. Cuma mereka harus bersabar, Supernova datang untuk mereka, membalaskan semua hal yang telah mereka lakukan pada kota ini.
Mereka sampai tepat pukul delapan malam, langsung mendirikan tenda, menyusun senjata, dan mempersiapkan mental. Supernova sudah melakukan itu lebih cepat lima jam sebelumnya.
Pertempuran mereka akan terjadi sejauh sepuluh meter di jalan raya, itu sebabnya karung berisi tanah sudah ditumpuk memblokir jalan masuk Jeldan. Pemberontakan juga melakukan hal serupa dengan papan penghalang berusaha mengurung untuk sesaat warga Jeldan.
Lebih dari tiga ratus orang berada dihutan kota tapi tidak ada yang berubah dari suara dan tempat. Setidaknya belum. Itu pasti akan terjadi, selalu terjadi di tiap pertempuran. Tanah hancur, rumput terbakar, dan mayat bergelimpangan. Katakalanlah tsunami, gempa, atau bencana lain dapat menghancurkan apapun, perang sama saja hanya saja itu bukan kehendak alam tapi ego manusia.
Setiap formasi berjarak sembilan meter untuk tiap orang bisa melihat formasi mana yang kewalahan sehingga dapat mengabarkan informasi ke pusat. Dan tugas itu diberikan pada Goldstein yang juga sekaligus mengomando barisan tengah.
Aeus dengan seragam Xordas resmi yang berada di tim satu yang artinya garis depan, sedang duduk bersandar pohon tua yang daunnya hijau kekuningan. Dia tidak sendirian, dia ditemani prototipe senapan serbu Sagittarius yang bentuknya hampir mirip seperti senapan model G3 buatan jerman dicat jingga dan hitam.
Tidak jauh sampingnya juga juga tersebar Supernova lain yang beristirahat di balik pohon. Mereka diam, tidak melakukan apa-apa sama seperti Aeus. Ini salah satu bentuk penjagaan sebenarnya apabila Pemberontak menyerang lebih awal sebelum waktu.
Melihat langit menghitam beserta bulan yang kian menit makin tinggi membuat pikiran Aeus tenang sesaat. Saat sadar pertempuran akan terjadi nanti barulah ketakutan menyelimuti kembali. Perasaan bosan muncul disaat menunggu di tempat gelap, dingin, dan penuh serangga ini, dia ingin sekali menyelesaikan ini secepatnya lalu pulang, di lain sisi dia juga berharap waktu berhenti saat ini juga sehingga pertempuran tidak perlu terjadi.
Semua tahu jawabannya saat Pemberontak datang beserta pasukannya. Pertempuran Akhir akan terjadi dan tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya. Pilihannya antara menang atau kalah.
"Ada pergerakan," ucap Xordas dua puluh empat tahun yang berada diatas dahan besar pohon. Dia langsung memasang posisi siap menembak dengan senapan jarak jauhnya yaitu AWM bewarna hijau gelap.
Aeus juga harus berjaga, itulah tugasnya disini. Dengan setengah wajah mengintip kesamping diikuti moncong senjata mengarah ke wilayah musuh, Aeus mengawasi.
Ada tiga sosok gelap berjalan kesini. Dua bersenjata dan seorang lagi dengan tangan terikat. Di tiap langkah tiga wujud itu semakin jelas. Dua pemberontak dengan Xordas bertubuh buncit, Owen.
"Siaga diposisi." Xordas di pohon tadi memperingati.
Langkah mereka berhenti saat sadar Supernova ada lima belas meter lagi di depan mereka. Dua senapan serbu masih menempal ke punggung Owen yang syukurlah terlihat baik-baik saja. Detik dan menit berlalu, semua masih terdiam dalam posisi saling curiga.
"Ini aku!" seru Owen kencang agar dapat didengar jelas oleh para Supernova.
Seorang Xordas berumur tiga puluh tahun dengan senapan serbu M-16 bewarna hitam maju kearah mereka.
"Kalian bisa lepaskan dia sekarang," ucap Xordas itu kepada penawan Owen.
Mereka bergeming. Dibalik topeng tengkorak itu mereka pasti sedang berpikir rencana licik. Salah satu Pemberontak baru saja angkat suara membalas, "kami akan mengembalikan dia, asalkan kau pegang janji kalian untuk membuat kami tetap hidup saat kembali."
"Kau bisa pegang janji seorang Supernova." Dengan tegas dan penuh keyakinan Xordas itu membalas.
Satu Pemberontak melepaskan borgol. Setelah selesai Owen didorong maju kearah Xordas tadi. Mereka langsung berjalan pergi tanpa menoleh kebelakang lagi.
"Apakah kau baik-baik saja Owen?"
"Buruk kalau dikatakan, tapi masih utuh. Baiklah sekarang aku harus ke sayap kiri untuk memimpin posku."
Owen berjalan mendekat melalui Aeus dan semua penjaga garis depan di formasi tengah. Dia nampak baik-baik saja, tidak ada yang berubah, mungkin hanya lelah karena tidak diberi makanan disana. Biar begitu dialah orang yang berani menyerahkan diri ke Pemberontak untuk berunding mengenai Pertempuran Akhir. Pujian akan dilayangkan padanya, tapi nanti, saat Supernova dipastikan menang.
Semua kembali menunggu, Aeus juga dengan diselimuti angin dingin sambil mendengarkan suara krik-krik jangkrik di tiap semak dan kruuwr-kruuwr burung hantu di atas pohon sana. Tetapi tidak ada yang lebih nyaring dari suara jantung sendiri saat ketakutan. Suara dan getarannya sungguh dapat mengguncang tubuh.
"Baiklah, tiga puluh menit lagi pertempuran akan terjadi, periksa senjata kalian." Salah satu yang bertugas memimpin tim pertama mengingatkan.
Aeus mengecek senjatanya lagi dari mengeluarkan magasin untuk mencek peluru, memegang kembali popor senapan untuk mengetahui posisi nyaman, dan terakhir pembidik persegi dari lensa hijau yang menerapkan mode nightvision. Tidak ada kesalahan, senjata itu siap. Sedangkan dirinya? Meragukan.
"Untukmu roh dan ragaku, dewa Veeran." Seseorang tidak jauh dari Aeus nampaknya berdoa dalam agamanya yang Aeus tahu itu kepercayaan bernama Geevadon.
Aeus sedikit tercengang kemudian berusaha paham. Dia juga seharusnya berdoa dan memohon, cuma dia merasa dirinya bukan hamba yang taat dalam agamanya sendiri jadi yang bisa dia lakukan adalah memberikan perjuangan yang terbaik.
"Sudah saatnya! Semua bersiap!" Xordas yang berada lebih kedepan lagi dari yang lain berseru. Prajurit itu keluar dari pohon berlindungnya lalu mengangkat flare gun—pistol berbentuk mirip revolver yang hanya berisi satu peluru yaitu sebuah kembang api—ke langit kemudian menembak, meluncurlah sebuah bola cahaya merah terang ke angkasa.
Di sayap kiri dan kanan juga melakukan hal serupa. Langit kini memiliki empat cahaya. Bulan yang masih setia diatas sana ditambah tiga bola cahaya merah terang yang membuat seisi hutan ini dihujani banjir warna darah.
Itu tanda permulaan untuk memulai permainan sekaligus bantuan penerangan digelapnya sisi hutan. Supernova di garis depan mulai bersiap dengan membidik semua pemberontak yang tengah berlarian maju menyerang tanpa takut. Waktunya berperang.
Setidaknya lebih dari dua puluh pemberontak Aeus lihat sedang maju dengan senjata mereka. Aeus takut, dia takut jika tidak berhasil mengenai para pemberontak dan membiarkan tiap peluru ini sia-sia.
Saat pemberontak maju mereka menyerang terlebih dahulu. Membuat Aeus tanpa sadar menarik diri untuk bersembunyi dibalik pohon. Dia lihat serangan itu memang tidak mengincar dia namun dia takut. Tidak! Inilah jalan yang dia pilih. Aeus memberanikan diri mengintip lalu mencoba membidik satu pemberontak. Pembidik Aeus juga berfungsi sebagai layar jadi setelah dipastikan target yang dia incar selama lima detik masih belum mati maka pengunci target otomatis dilakukan.
Semua senjata Sagittarius dari konstelasi pemanggilan memiliki kemampuan akurasi melebihi seratus persen karena memiliki teknologi yang dapat mengubah arah peluru yang sedang melaju sebesar 360 derajat juga sistem pemberhentian otomatis saat hendak menabrak objek yang bukan target.
Sedangkan yang Aeus pegang adalah prototipe sehingga kemampuannya menurun. Senjata ini hanya bisa berpindah arah sebesar lima sampai sepuluh derajat saat di udara dan tidak memiliki pendeteksi objek sehingga peluru ini tidak bisa otomatis berhenti.
Lima pemberontak keluar dari persembunyian langsung berbaris dengan berlutut satu kaki kemudian memberondang timah panas ke arah Supernova.
Supernova yang jadi incaran peluru buru-buru bersembunyi ke balik pohon. Bahkan saat Supernova telah berlindung pemberontak terus menembaki mereka sehingga tubuh dari pohon besar hijau tua tergali lubang dalam seperti sarang tawon.
Bersembunyi dalam rindangnya daun di dahan pohon, dua Supernova yang memegang senapan jarak jauh berjenis AWM membidik dari kelima pemberontak tadi. Empat tembakan mereka kerahkan, sehingga empat pemberontak jatuh dengan kepala berlubang.
Saat hanya ada satu orang pemberontak tersisa didepan, tujuh pemberontak langsung muncul lagi dan menembaki tempat dimana sniper Supernova berada dengan brutal. Rupanya mereka memang mengincar para sniper. Dua Supernova itu jatuh menghantam tanah dengan darah mencurat yang terlihat seperti air biasa dibawah bola cahaya merah menyilaukan.
Mereka tidak berhenti disitu setelah selesai dengan para sniper Supernova, mereka langsung berjalan maju sambil tetap menghamburkan peluru ke barikade alami tempat Supernova berada yang sekarang sedang bersembunyi ketakutan.
Di tempat paling depan seorang Supernova muda yang bersembunyi dibalik batu abu-abu berukuran besar memberanikan diri melirik keluar. Tak sampai sedetik kepala prajurit itu tertembak dengan kencang sehingga dia terpental. Pemberontak terus melangkah maju yang kini jumlahnya bertambah menjadi dua puluh.
Garis depan Supernova dengan pemberontak kian menyempit. Mereka kehilangan semua sniper yang mereka miliki dan juga musuh sudah tidak bisa lagi dipukul mundur, musuh sudah memperkuat barisan depan dengan dua puluh orang yang pastinya masih akan bertambah lagi seiring waktu.
"Kita harus mundur!" Supernova muda berambut coklat berseru di pohon yang berjarak tidak jauh dari Aeus.
"Jika kita mundur kita akan jadi sasaran empuk!" balas Supernova senior yang berada sedikit di depan mereka tepatnya dibalik semak belukar tinggi.
Aeus yang sebagai pendengar setuju kepada seniornya. Mereka tidak bisa kembali tanpa adanya korban. Tepatnya banyak korban. Dia menatap ke langit dimana bola cahaya merah itu sudah sangat dekat dengan tanah. Bantuan cahaya sudah hampir habis.
"Kita harus memukul mundur mereka!" seru Supernova senior tadi. "Apakah disini ada yang bisa memakai senjata jenis riffle!?" suara senior Supernova itu begitu serak karena harus bersaing dengan desingan peluru.
"Aku bisa!" sahut seorang Supernova perempuan yang suaranya Aeus begitu kenal bahkan di antara ributnya ledakan mesiu senapan. Siapa lagi kalau bukan juara airsoft gun Aproud, Tiffany.
"Baiklah, lima orang akan keluar bersamaan untuk menyerang, aku dan gadis itu akan mengambil AWM tadi. Bersiaplah!" Supernova itu terengah untuk mengambil napas sejenak sambil menghitung dalam hati detik-detik pergerakan. "Baiklah! Sekarang!"
Supernova senior dan Tiffany keluar bersamaan, mereka langsung berlari ke mayat dari kedua Sniper. Lima Supernova termasuk Aeus berdiri dari tempat persembunyian mereka kemudian secepatnya menembaki tiap Pemberontak yang mereka lihat tanpa ampun.
Dari puluhan peluru yang mereka tembakan sulit melihat siapa yang menumbangkan siapa tetapi yang pasti dari dua puluh pemberontak empat orang kena tembakan. Mereka tetap mempertahankan posisi yaitu menembaki musuh yang juga melakukan hal serupa yaitu berupaya membunuh para Supernova.
Pemuda berambut coklat yang menyarankan untuk mundur tadi juga ikut membantu melindungi Tiffany dan prajurit senior mengambil senjata tetapi tak lama dia mati dengan tertembak bertubi-tubi. Perasaan Aeus mulai khawatir akan jiwanya sendiri.
Tidak usah dipedulikan pikir Aeus. Dia mengangkat senjata dengan tujuan sama terhormat dengan yang lain. Jiwanya akan pergi ketika saatnya tiba. Dan Aeus harap tidak saat ini, saat dia dibutuhkan teman.
Pemberontak tetap teguh, tidak berhenti ataupun bersembunyi. Tetap pada barisan mereka yang kini hanya tersisa dua belas orang. Tapi itu akan berkurang lagi karena para sniper baru telah hadir. Supernova senior telah mengambil tempat tengkurap di dalam semak rendah sedangkan Tiffany berada dibalik pohon kurus yang bahkan tidak bisa menutupi keberadaannya.
Walau begitu kedua sniper itu beraksi dengan cepat. Empat Pemberontak dibuat mereka tidak bisa lagi bernapas dengan serangan tidak terduga mereka. Supernova lain yang tadinya hanya bersembunyi melihat kesempatan ikut membantu dengan menyerang Pemberontak sampai tertinggal tiga pemberontak lagi yang putus asa dan memilih bersembunyi dibalik pohon.
Jika ditanya kapan waktu mundur sepertinya inilah saatnya. Bola cahaya merah telah terbenam ketanah sehingga hutan kembali keadaan semula yakni gelap, ditambah pemberontak juga telah dipastikan jinak sesaat. Inilah disebut kesempatan emas.
Suara siulan yang naik turun terdengar. Itu kode mereka untuk mundur. Tanpa peduli apa-apa lagi para Supernova berlarian mundur dengan senjata masih mereka genggam erat. Aeus juga ikut berlari dengan tenaga seadanya yang terkuras setengahnya untuk menahan rasa takut saat menembaki musuh.
"Tolong..." suara seseorang terdengar disaat Aeus tengah berlari.
Ada Supernova senior disamping Aeus yang mendengar hal sama sehingga mereka berdua mencari sumber suara dan dapatlah seorang gadis Supernova muda dengan bahu kiri yang dia pegangi erat-erat. Disekitar area yang berusaha dia tutupi itu nampak basah.
"Kau tertembak, bawa dia." Supernova senior itu memerintah Aeus.
Aeus mendekat lalu melingkarkan tangan kirinya kebahunya. Supernova itu meringis kesakitan namun dia berusaha tetap tenang dengan wajah pucat pasi.
"Kau masih bisa berjalan?" tanya Aeus. Gadis itu mengangguk pelan sehingga beberapa bulir keringat dingin jatuh.
Mereka melanjutkan perjalan untuk mundur. Supernova senior yang berada dibelakang mereka sesekali berhenti untuk memeriksa keadaan di garis depan. Kemudian suara prajurit itu berhenti sehingga membuat Aeus penasaran sampai dia mengambil jeda melangkah untuk menoleh kebelakang.
"Jangan berhenti," ucap Supernova itu getir.
Tetapi Aeus butuh jawaban jadi dia tetap menoleh. Dia melihat dari jarak sejauh tujuh atau delapan meter cahaya keemasan yang menyerupai bentuk manusia. Seketika pikiran dia melayang ke alat dari konstelasi pemanggilan milik Supernova.
"Sudah kubilang jangan berhenti!" seru prajurit senior itu yang tidak dipedulikan Aeus karena dia saat ini sudah membeku ketakutan.
Wujud keemasan itu terus maju melangkah sampai menginjakan kaki di tempat dimana daun pohon tidak terlalu rindang sehingga bulan bisa menyumbangkan sedikit cahaya. Disana dengan jelas dia melihat zirah bewarna kuning terang terbuat dari baja berbentuk hampir mirip robot humanoid dan terdiri dari teknologi canggih yang kekuatannya banyak diceritakan dengan nada memuji. Dikatakan pakaian itu bisa menahan ledakan nuklir dan memiliki kekuatan setara seratus gajah. Hanya ada satu benda yang Aeus tahu. Itulah yang disebut Zirah Hercules.
***
Gimana bagian ini? apakah actionnya udah bagus? misalnya punya pendapat atau saran jangan malu untuk ungkapkan pada saya, walau bukan pertama kali buat cerita action tapi saya masih amatir jadi kalau punya kritik langsung saja katakan. Kalau suka boleh di share dan like, dan tentunya tambahkan ke favorit ya. Saya Luciver terima kasih telah membaca...