SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Kemanusiaan



Penerbangan dalam pesawat biasanya menawarkan kelas bisnis atau ekonomi, untuk Aeus dan personil lainnya sekarang bisa dibilang kelas militer.


Dalam pesawat pengangkut bewarna hitam dengan ruang besar disanalah pemuda dulunya berkode nama Raven merapat ke dinding sembari menilik jendela bundar yang menawarkan hamparan awan putih cemerlang diterpa cahaya matahari cerah.


Tetapi bukan awan yang sedang dia perhatikan dan renungkan sekarang. Namun Aproud, daratan kecil di samudra altantik utara yang begitu luas, dan juga bertetanggaan langsung dengan negara inggris dan Irlandia. Kini Aeus bersama Supernova lainya pergi meninggalkannya demi suatu tugas.


Aeus tahu kepergiannya hanya sebentar, akan tetapi dia terlahir disana, dan mengalami kejadian yang berkesan saat menyelamatkan kota Jeldan sampai dia harus menyelam kembali ke memori. Dimulai dari penyerangan pemberontak, diselamatkannya dia di atap gedung akademi, kemudian terbangunnya di bunker asing yang ternyata membuat dia mengenal Mira dan Farhaz serta kejadian hebat lainnya.


Walau kebanyakan yang dia alami adalah kejadian menyakitkan dari mendapat luka, kehilangan teman, dihina karena tidak berdaya. Itu memang bukan liburan ke laut atau gunung yang akan menghasilkan tawa, lebih banyak tangis dan teriakan nampaknya, tapi tetap saja bagi semua pelajar yang ikut serta itu menjadi hal yang tidak pernah dilupakan.


Sekarang semua pejuang muda yang dia kenal sudah menumpah jalan sesuai dikehendaki seperti halnya Aeus sekarang. Dia memilih bergabung ke divisi kemanusiaan, wadah dimana dia akan bertugas menolong negara yang sedang membutuhkan konsumsi, obat-obatan, atau juga perlindungan. Alasannya ikut kesini adalah dia enggan ikut bertempur, dia lebih memilih tertarik membagikan makanan atau hiburan, nampaknya itu mustahil sebab tentara diciptakan mengangkat senjata, itu sudah tertulis sejak dahulu. Aeus hanya bisa berharap setidaknya pertempuran yang dia hadapi tidak terlalu sering.


"Kau memikirkan apa kecil?" tanya seorang Xordas perempuan berumur dua puluh lima tahun berambut hitam pendek terlihat dari poni yang hanya sampai ke telinga, warna kulit tan, dan mata biru gelap. Dia adalah ketua tim saat ini, Diana.


Aeus senang disapa, tapi tidak untuk tujuan dihina. Lantas saja dia membuat ekspresi menjadi datar sambil memandangi Diana.


"Ada apa? Kau tidak bisa jauh dari rumah kecil?" Diana tertawa diikuti kekehan empat belas Supernova lain.


Seharunya Aeus kesal tapi dia malah tersenyum puas. Hinaan "kecil" itu sebenarnya adalah panggilannya saat pelatihan di resimen ini, alasannya tidak bukan karena dia adalah salah satu anggota paling muda yang masuk dikarenakan diluluskan langsung oleh raja Aproud sebagai rasa terima kasih ikut berjuang demi kebebasan kota Jeldan.


"Aku tidak memikirkan apa-apa, ini pengalamanku pertama terbang," sahut Aeus.


"Benarkah? Kukira kau lupa membawa popok." Diana tertawa lagi untuk kesekian kalinya. Baiklah Aeus rasa itu terlalu berlebihan.


"Tenang saja," ucap Xordas laki-laki dua puluh delapan tahun yang duduk di sebrang bagian ujung. "Asalkan kau tidak muntah, apakah kau mau muntah?"


"Hentikan, apa kalian tidak lihat wajah Aeus sudah merah? Tolong ambilkan tisu!" Unvon yang duduk disampingnya menambahkan.


Aeus selalu diperlakukan begini di barak atau lapangan, tapi entah kenapa dia rasa ini lebih baik dari sebelumnya dimana di akademi perundukan yang dia alami begitu kejam, dia selalu di anggap rendah sampai dirinya memang merasa sampah. Itu dulu sebelum dia ikut bertempur di kota Jeldan, setelah kejadian itu dia sadar bahwa tindakan salah mereka itu tidak sebanding apa yang penjahat nyata lakukan, dia tidak perlu menanggapi itu lagi karena dia sudah berada di tempat dimana hatinya senang.


"Kau memang jarang bicara Aeus," ucap Diana. "Baiklah untuk semua bersiap kita akan sampai beberapa menit lagi.


Perjalanan dalam pesawat ternyata begitu singkat walau antar negara. Aeus tidak merasa dia baru saja melangkahi beberapa benua begitu saja. Yang penting perjalanan dia selamat dan saatnya menjalankan tugas.


Pesawat militer pengangkut dengan lambang Supernova di kanan dan kiri mendarat bebas di landasan bandara sepi bernama Bangui di republik afrika tengah. Baru saja keluar dari tranportasi udara ini Aeus bisa rasakan pertama adalah udaranya begitu panas disini. Semangat dia tidak semudah itu luntur, dia tetap berjalan turun dari tangga.


Semua Supernova telah berkumpul dan berbaris tengah menerima instruksi dari tentara asli Afrika tentunya dengan bahasa umum. Kegiatan itu tidak berlangsung lama setelah memberi tahu lokasi dan cara-cara pembagian makanan nantinya, mereka menaiki tiga mobil jip bewarna loreng hijau tua dan hitam yang berisi penuh barang-barang dibungkus dalam kotak. Setelah mesin hidup mereka langsung melesat pergi.


Lintasan disini awalnya mulus saja karena di jalan raya, tapi saat sesudah memasuki wilayah hutan jalanan tidak begitu bersahabat terlihat dari treknya yang berlubang serta penuh pasir. Itu hanya sementara, setelah beberapa menit perjalan akhirnya kami sampai di sebuah desa sederhana.


Tempat ini tidak akan menjadi salah satu destinasi kalau sedang liburan, namun Supernova disini memang bukan untuk itu. Rumah-rumah disini rata-rata terbuat dari potongan kayu sederhana, ukurannya kecil, dan atapnya hanya terdiri dari daun-daun lebar yang sudah mulai rusak. Kalau itu bisa dianggap menyedihkan, maka lihatlah penduduk disini yang kalau diperhatikan hanya setengah hidup.


Karena disini penduduk keturunan ras negro mereka memiliki ciri khas kulit hitam yang kentara. Tidak ada yang beda diantara mereka dari yang lain, hanya saja penampilan mereka bisa dikatakan payah sekali. Yang memilki rambut lebat atau panjang tidak pernah luput dari debu kotor, mungkin ini alasannya banyak yang memilih berkepala botak. Dan tangkai tubuh mereka, tangan dan kaki begitu kurus, mungkin untuk mengangkat anak kucing saja butuh perjuangan besar.


Apalagi kalau bukan karena kekurangan makanan sehingga mereka begini. Jadi disaat kelompok Supernova datang beserta tambahan konsumi untuk sesaat Aeus bisa lihat kehidupan terpancar lagi di mata penduduk desa ini.


Tugas pertama adalah membangun tenda dan stan sederhana dari kain bewarna putih, mendirikan itu tidak perlu waktu lama karena mereka sudah dilatih keras hanya untuk itu saja, setelah selesai bisa dilihat dengan jelas lambang PBB—lingkaran bergaris vertikal dengan daratan benua di dalamnya—terlukis di samping dan atas tenda.


Walau hanya permulaan keringat sudah tumbuh begitu banyak sebab sinar matahari disini sungguh berbeda dari Aproud. Juga suhunya kemungkinan naik sekitar lima atau sepuluh celsius. Aeus tidak melihat itu sebagai alasan untuk istirahat, dia terus bekerja bersama yang lain mengangkut kotak-kotak makanan ke tempat tadi untuk dibagi.


Aeus tidak terlalu terkejut saat melihat mobil-mobil militer berdatangan lagi. Karena tidak adil jika perut mereka saja diisi sedangkan tubuh mereka dibiarkan memendam bakteri penyakit. Dokter-dokter terbaik dari seluruh dunia atas perintah PBB juga di tugaskan disini untuk mengecek mereka.


Setelah habis mengangkut semua kotak makanan ke stan Aeus dan Supernova lain setuju membantu para dokter membuat tenda pemeriksaan. Selesai terbangun Aeus menghembuskan napas kencang, kepanasan dan kelelahan.


"Aeus!" Itu suara Diana dari Stan.


Lantas saja Aeus berbalik mencari letak Diana. "Ada apa?"


"Kemari."


Itu terdengar seperti perintah, maka dari itu Aeus berjalan ke stan, mendekat ke Diana. "Ada apa?"


Aeus tahu Diana tidak mengucapkan kalimat seperti ini, kau menjadi pemimpin pasukan besar berisi orang-orang hebat, atau senjata mulia ini kuserahkan padamu, tapi itulah rasanya. Dia tadinya berpikir hanya akan menjadi pajangan disini, memerhatikan yang lain bertugas. Nampaknya itu tidak benar.


"Baiklah, tentu." Aeus mengangguk-angguk.


Sebenarnya membingungkan mengapa waktu pembagian ini tengah hari, melihat kondisi penduduk disini yang berdiri saja tidak sanggup apalagi saat dipanggang sinar matahari. Hal yang membuat hati Aeus bergetar ketika anak-anak sampai remaja yang memiliki raga lebih kuat rela bolak-balik mengantri dan mengantarkan makanan ke para masyarakat berusia senja yang menunggu di teras rumah masing-masing.


Aeus tidak tahu siapa pahlawannya, PBB yang mau berbagi makanan atau masyarakat disini yang begitu peduli pada sesama mereka. Saat itu juga Aeus tersadar bahwa tidak ada yang pernah mati kelaparan di dunia ini, jika ada maka mereka mati karena keegoisan untuk saling tolong menolong.


Pembagian berakhir cepat, syukurnya cukup untuk tiap penduduk disini, untuk personil Supernova dan para dokter. Aeus makan begitu lahap, karena rasa lapar terus menyemangatinya dari dalam. Selesai makan dia seperti robot yang diganti baterai baru, ingin selalu bergerak. Karena Supernova sudah tidak punya kegiatan lagi dia memilih pergi ke tenda paramedis. Bukan untuk periksa, hanya melihat-melihat saja.


"Hei, kau... prajurit Supernova itu ya," ucap seorang gadis belia warna rambutnya coklat kemerahan, dan kulitnya putih pucat. Dia memakai baju dan celana kain bewarna putih, dia terlihat seperti perawat bagi Aeus.


Aeus baru saja keluar tenda dan mendapati seseorang mengatakan Supernova padahal tidak ada personil lain, mungkin itu untuknya. "Ah... ya tentu saja."


"Tentu, kalau kulihat dari tinggi dan wajah... kurasa kau tidak terlalu tua. Berapa umurmu?"


Itu membuat Aeus juga penasaran akan usia gadis ini. Tapi laki-laki itu harus mengalah. "Hampir sembilan belas, kurasa."


"Bukankah harus menjalani pelatihan lagi setidaknya setahun untuk bertugas secara langsung dilapangan? Itu yang tertulis dibuku."


"Benar." Aeus menggaruk pipi tidak gatal selagi kepalanya yang panas bertambah panas mencari jawaban tepat. "Aku mendapat perlakuan khusus."


Gadis tadi berekspresi bingung, sambil terpaksa mengangguk paham. "Kita belum kenalan bukan? Namaku Casandra, aku berasal dari rusia."


Mungkin itu menjelaskan mengapa gadis ini berpenampilan menarik pikir Aeus. "Oh kalau aku Aeus, kau... ehm... juga terlihat muda."


"Umurku delapan belas tahun, aku mendapatkan tawaran disini karena disekolah aku selalu mendapat nilai tinggi. Jadi ya... sama sepertimu, perlakukan khusus?" Casandra mengakhiri kalimat dengan tawa, begitu manisnya.


Butuh usaha untuk sadar kembali. "Itu... umur yang muda. Hebat kalau boleh kukatakan."


"Kau juga," balas Casandra. "Ngomong-ngomong, bisakah aku dan kau mengambil gambar? Maksudku aku ingin sekali mengabadikan momen seperti ini, kau tahulah tidak semua orang seberuntung kita." Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel pintar bermerk apel tergigit. "Boleh?"


"Te-tentu." Aeus berusaha tidak terlihat gugup.


Casandra berdiri disamping kiri Aeus dan mendekatkan wajahnya dengan Aeus sambil terus mengangkat ponsel keatas, hendak mengambil swafoto dengannya. Pemuda itu berusaha sekiat mungkin tidak gugup. Aeus mencoba tersenyum begitu juga Cassandra. Gambar diambil dan posisi mereka kembali.


"Gambar yang bagus," gumam Casandra masih memerhatikan gambar tadi. "Boleh kuungah ke instagram?"


Aeus rasa tidak tapi bibirnya malah berucap, "ya tentu."


Memikirkan yang lain melihat foto gadis cantik asal rusia dengan dirinya pasti akan membuat yang lain setidaknya iri, atau yang lebih ekstrim mencekiknya dan minta diperkenalkan. Itu masalah nanti, lagipula dia hanya berfoto, bukan masalah besar.


"Boleh aku tahu nama akunmu? Aku ingin mengikuti dan menandaimu dalam gambar."


Mungkin ini hari beruntung bagi Aeus, dia beri tahu nama akunnya dan Casandra nampak bahagia karena itu.


"Baiklah... kurasa aku harus kembali," ucap Aeus pada Casandra.


"Oh iya, tentu, aku juga, dadah." Casandra melangkah pergi sambil melambaikan tangan tanda perpisahan.


Aeus juga kembali dan baru sedetik masuk dalam tenda.


Serempak semua personil menatap Aeus, dan Diana mulai bersiul nyaring, mereka melakukan tindakan yang sangat kurang terpuji bagi tentara, menggoda orang layaknya remaja. Pasukan macam apa ini?


*****


Akhirnya update + episode spesial dari season 2 keluar! Ada yang nungguin? Mana-mana? Untuk kalian yang masih setia membaca cerita sederhana milik saya ini saya tidak akan jera berucap terima kasih, tanpa komentar semangat kalian saya nggak bakalan bisa melanjutkan perjalanan ini. Seperti saya ucapkan dulu padahal season 2 akan dilanjut kalau angka kepopuleran(yang gambar api itu) mencapai sepuluh ribu dan likenya lima ratus buah. Tetapi tidak apa, saya akan tetap semangat melanjutkannya, maka dari saya minta tolong share cerita ini ke media sosial agar dapat lebih banyak dibaca dan saya bersemangat lagi. Sebenarnya draft cerita ini belum selesai maka dari itu saya rasa untuk update akan lama, mohon maaf sekali ya.


Salam, Luciver