
Tiga bola cahaya merah terlihat diangkasa wilayah barat kota Jeldan. Orang-orang yang terpaksa terkurung dalam rumah akibat jam malam, mereka hanya bisa mengamati dari balik kaca jendela begitu indahnya cahaya itu. Cahaya yang membawa harapan perdamaian bagi mereka.
Seorang pria berjaket hitam dengan tas di punggung mengamati dengan seksama cahaya itu di atap gedung melalui sebuah binokular berlensa hijau yang menerapkan mode penglihatan malam. Perintahnya jelas, setelah melihat tiga cahaya merah itu dia harus mengabarkan anggota lain bahwa saatnya beraksi, jadi tanpa berdoa dia bergegas pergi.
Pria itu akhirnya sampai di tujuan yaitu di bawah tanah, lubang satu. Disana ada sepuluh orang beserta pria yang baru saja datang tadi.
"Tandanya sudah muncul," papar Pria dengan tas dipunggung tadi.
"Baiklah, saatnya kita melakukan tugas kita." Seorang pria berumur tiga puluh empat tahun berambut coklat dan mata biru mengambil senapan di samping kakinya. Dia adalah Andreas. "Kita lakukan ini dengan cepat dan senyap tuan-tuan. Kita takkan biarkan misi ini gagal. Ayo! Ayo!"
Mereka semua memakai pakaian biasa yang serba hitam, bukannya seragam Supernova. Itu mereka lakukan untuk misi, sebuah tugas untuk membentuk konstelasi pemanggilan Lyra di tengah kota yang berjarak empat puluh meter Itu misi yang mudah, kalau saja Pemberontak tidak menerapkan jam malam sehingga mereka akan lebih mudah berbaur di masyarakat yang beraktivatas.
Tetapi mereka sudah mengakali itu. Mereka bisa menggunakan saluran pembuangan yang terletak tepat dibawah jalan raya lalu pergi ke tengah kota tanpa terlihat. Masalahnya mereka harus mencari jalan raya kemudian berusaha tanpa terlihat seorang pun masuk ke selokan kota.
Mereka sudah keluar dari lubang satu, dan kini berada di jalan sempit antara gedung pasar swalayan dan restoran cepat saji yang tentunya sesunyi kuburan. Hanya lima dari kesepuluh orang membawa senapan beragam jenis, tiga buah UMP, satu mosin, dan M-16. Senjata bagi mereka hanyalah sopan santun tentara, mereka tahu benda itu lebih berguna di pertempuran akhir. Tetapi mereka juga tidak bisa menolak karena mereka juga instrumen penting dari rencana Supernova.
Dua orang bersenjata sedang mengintip ke luar dari jalan sempit memeriksa keadaan. Tak lama mereka mengangguk pelan, tanda keadaan sudah bisa dipastikan aman. Mereka berbaris memanjang, bersiap pergi.
Dua orang bersenjata keluar beriringan melintasi jalan setapak dengan cepat berlari ke sebrang menuju jalan sempit lainnya. Mereka mengawasi delapan anggota yang belum keluar tadi, dengan mantap mengangkat jempol lalu mengarahkan kebelakang.
Tiga orang berlari ke tempat dua Supernova tadi. Diikuti tiga orang lagi, dan dua sisanya. Kini mereka sudah bersama kembali. Dua orang yang berada diujung tetap memeriksa keadaan luar dengan pembidik diatas badan senapan.
Pemeriksaan kali ini lebih lama karena mereka akan berada di tengah jalan raya dimana daerah itu rawan dilihat. Apalagi yang melihat mereka Pemberontak atau masyarakat yang berhubungan dengan pihak musuh. Maka dari itu tiap pintu dan jendela, diperhatikan dengan seksama. Lima belas menit berlalu Supernova yang memeriksa itu mengangguk pelan kearah anggota lain.
Satu orang dengan linggis yang baru dikeluarkan dari tas berlari diapit dua anggota bersenjata menuju ke tengah jalan raya tepatnya ke tempat lubang saluran pembuangan berada. Mereka sampai dengan selamat kemudian dengan sigap Supernova bersenjatakan perejang membuka lubang itu secara paksa. Usaha dia berhasil, pintu keselamatan mereka didepan mata sekarang.
Berbaris panjang seperti ular semua anggota langsung memanjat turun ke dalam got yang tentunya harus dijaga oleh empat Supernova bersenjata tadi. Mereka juga turun bergantian setelah dipastikan semua sudah masuk dan tak lupa menutup kembali pintu mereka masuk seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah pintu ditutup cahaya kalah oleh kegelapan. Seseorang lantas menyalakan senter dikepala kemudian menerangi lainnya untuk mengaktifkan milik mereka sendiri. Setelah semua selesai dan kini mereka tidak lagi buta, mereka langsung maju melewati genangan air kotor selutut yang lengkap dengan bau busuk seperti segudang tikus mati. Biar begitu, mereka tetap bersyukur itu bukan bau kematian mereka.
Sinar perak dari bulan bersaing dari warna megah emas dari zirah Hercules. Pakaian tempur itu sedikit membuat pemakainya hebat tentunya, banyak orang yang setelah memakainya ketagihan. Bagaimana tidak, alat itu bisa menahan serangan berat dari rudal nuklir dan jangan lupakan mengenai serangannya yang setara pukulan seratus gorilla. Lupakan benda ini masih prototipe, tetap saja kekuatannya bukan main-main.
"Aku akan mengulur waktu, mundurlah, selamatkan dia." Supernova senior yang berdiri di belakang Aeus mengangkat senjata api miliknya. "Kau tunggu apa lagi? Lari!" Supernova itu langsung berlari menyamping sambil memberondong peluru ke arah pemakai Zirah hercules.
Sebenarnya Aeus hanya tahu dari kisah dalam mitologi yunani tentang Hercules anak dari Zeus yang sangat kuat, mempunyai tiga belas tugas yang mustahil dilakukan tapi mungkin dia lakukan. Dia seorang legenda. Alat dari rasi hercules juga diibaratkan begitu. Bayangkan pertarungan menggunakan pakaian itu akan jadi sedahsyat apa. Semua bermimpi memakai, tapi Aeus hanya ingin melihat sedari dulu saat Zirah Hercules beraksi. Kini dia tidak punya waktu untuk itu, bahkan semua orang tidak punya karena mereka akan berakhir kalau menjadi penonton bukannya pemain perang.
Aeus melanjutkan perjalan dengan menaikan tempo berjalannya sehingga prajurit muda yang dia bawa meringis kesakitan. Dia harus terpaksa menahan semua rasa sakit itu atau mereka akan mati.
Tembakan terus terdengar dari belakang Aeus. Dia tidak bisa menebak siapa yang melancarkan serangan karena suara peluru begitu campur aduk. Yang pasti nasib Supernova yang melindungi mereka akan buruk. Memikirkan itu ternyata ada gunannya, bagi orang lemah ketakutan adalah cambuk motivasi kuat.
Aeus melihat di depannya lima orang berbaris berjejer masing-masing memegang senapan serbu, bersiap membidik dan menembak musuh yang sedang datang kemari untuk mereka.
Terus memacu kakinya mereka telah melewati tim kedua. Bisa Aeus cium ketakutan di wajah prajurit disini. Biar begitu dia tetap dan harus yakin orang disini akan bertahan. Kalau tidak semua orang akan mati, Supernova kalah, dan kota ini akan lebih menderita dalam waktu panjang.
Paramedis ada didepan sana, kira-kira sejauh sepuluh meter lagi. Aeus yang sedang membopong Supernova muda ini dengan jelas bisa mendengar suara ringisan tertahan berubah menjadi desahan napas pelan yang penuh akan penderitaan, sialnya keseimbangan gadis ini yang mulai goyah membuat Aeus hampir menyerah membawanya. Kalau saja bukan karena suara letusan peluru disekitar yang menyemangati tidak henti dia pasti sudah menanggap ini latihan. Inilah kenyataan, yang untuk menjalaninya perlu perjuangan yang berat.
Mereka bergerak seperti kereta bawah tanah dengan cepat melintas di lorong gelap dengan rel berupa air selokan yang luar biasa bau. Mereka masing-masing tidak bersuara, tetap berjalan mengikuti panduan Supernova yang paling depan yang memegang peta virtual dari gelang putih di tangan.
Jalan mereka lewati tidak hanya kotor, jalan yang berkelok dan sempit lagi rendah membuat mereka kesulitan bergerak. Biar begitu mereka tidak pernah berhenti beristirahat apalagi menyerah. Mereka terus bergerak walau harus memasang posisi badan yang aneh dari berjalan menyamping seperti kepiting dan membungkuk dan merangkak seperti kera.
Mematikan sentar di kepala dia mencoba melihat dari celah itu. Langsung menilai suasana disekitar aman atau mematikan. Akan tetapi dia butuh pengamatan lebih lama lagi sehingga dia menunggu sekaligus mengedarkan pandang ke sekeliling. Merasa sudah kondusif mereka keluar bergantian dan langsung berlari kecil tanpa mengeluarkan suara sedikitpun ke gedung berupa tempat penyimpanan uang yaitu bank, tempat itu bertingkat dua dan berbentuk persegi yang tentunya sama seperti instanti lain pada malam hari, tutup. Beruntung untuk Supernova karena mereka adalah tamu kehormatan pada malam ini.
Supernova yang telah duluan sampai langsung membuka pintu masuk yang ternyata tidak terkunci berkat warga Jeldan yang sukarela menolong mereka mencari tempat cocok membuat konstelasi. Dia telah masuk dan berada di tengah ruangan luas yang di satu sisi terpasang konter kayu panjang dengan dua komputer diatasnya dan lantainya terdiri dari keramik berukir lingkaran artistik. Dia memerhatikan lagi tulisan yang tergambar permanen di lantai gedung ini yaitu 'Bank umum Jeldan'.
Yang lain menyusul masuk diam-diam sampai semua anggota telah terkumpul lengkap.
"Baiklah, kalian bisa keluar sekarang." Andreas memandang konter dengan kecurigaan.
Lima orang muncul bersamaan dari balik konter. Mereka adalah warga kota ini, relawan yang sungguh ingin membantu mereka dalam misi ini. Adreas dan yang lain langsung menarik kembali kecurigaan mereka.
"Tidak kupercaya aku membantu Supernova!" Seseorang yang paling muda berusia delapan belas tahun memakai sweeter biru panjang dan celana jins senada dengan atasan terlihat bergembira.
"Kita disini bukan bersenang-senang, ingat itu Tom," ucap seseorang berusia tiga puluh lima tahun berkumis dan berambut hitam disamping remaja itu. "Seperti rencana, Tom dan Flint keatas." Pemuda yang kesenangan tadi dan satu orang warga Jeldan memakai kaus lengan panjang bewarna merah gelap bergegas pergi menuju tangga naik keatas memeriksa keadaan sekitar.
"Baiklah, ayo kita lakukan tugas kita." Andreas berdiri tegap lalu mengedarkan pandangan kearah seseorang warga kota yang usianya kira-kira lebih tua dari semua orang diruangan yaitu enam puluh tahun, saat ini pria paruh baya itu sedang menatap layar monitor CCTV gedung ini.
Orang tua itulah yang mengatur konstelasi pemanggilan Lyra kali ini. Dengan cakap dia memberitahukan posisi dimana Unvon harus berdiri. Hanya butuh lima menit pola rasi bintang Lyra yang berisi lima Unvon selesai.
Lima Supernova lain yang bukan seorang Unvon bertugas jaga kali ini. Dua di pintu masuk mereka tadi, dua lagi di pintu belakang, dan seorang berada dekat dengan konstelasi. Dua warga kota Jeldan yang tidak mendapat tugas penting juga ikut membantu dengan berjaga di dekat pola rasi bintang yang hendak dilakukan walau hanya bermodalkan mata yang awas dan pentungan kayu sederhana.
Lima Unvon sudah bersiap hendak mengaktifkan mode Stella tetapi samar-samar semua orang mendengar ada suara kendaraan yang datang. Kalau satu atau dua orang yang bingung berkat suara tadi mungkin itu hanya ilusi karena takut, namun tidak kalau semua mengalaminya. Dan firasat mereka benar-benar buruk kali ini.
Suara erangan terdengar, kali ini muncul di tangga. Pemuda yang bernama Tom dan seorang warga kota bernam Flint muncul dengan mengejutkan. Tom kini sedang berada dalam dekapan Flint yang menodongkan pisau ke leher pemuda itu.
Konstelasi pemanggilan tidak bisa dilakukan tanpa kefokusan tinggi yang sekarang itu hancur karena melihat apa yang dilakukan Flint terhadap Tom.
"Apa yang kau lakukan Flint!?" Orang tua yang berada didepan monitor CCTV memandang mereka dengan marah juga bingung.
"Aku...," kata Flint yang penuh kebimbangan. "Aku tidak punya pilihan. Mereka menawan istriku!" lantang Flint diikuti air mata kemudian.
Seorang warga kota Jeldan yang berada dekat konstelasi menyumpah lalu bicara, "lepaskan anak itu Flint! Musuh kita itu adalah Pemberontak!"
Perdebatan mereka tetap kalah dari suara mesin yang kini jelas dari mobil yang sudah berada di depan pintu masuk.
"Kau yang memanggil Pemberontak itu," ucap Andreas pada Flint. Dia tidak ingin menuduh tetapi diam Clint membuat itu benar.
Mereka seharusnya harapan, kini entah apa panggilan mereka. Owen, Goldstein, Jaron, dan Supernova lain yang sedang bertempur mati-matian akan menjadi perjuangan yang sia-sia. Dan itu berkat warga Jeldan sendiri yang menuruti egonya.
Dua Supernova penjaga datang dari arah pintu depan langsung memberikan laporan, "Pemberontak berada didepan, jumlah mereka sekitar lima belas orang."
Andreas tahu mereka harus berjuang atau tidak sama sekali. Tapi mereka harus cepat, setiap detik dan menit yang terbuang akan membuat perubahan besar di medan perang. Disini, dia dan yang lain akan bertempur juga dengan senjata seadaanya. Demi Supernova.
"Menyebarlah, malam ini kita akan mandi dengan darah Pemberontak."
Maaf update kali i i agak random, soalnya saya banyak memiliki kesibukan(sebenarnya sok sibuk) tapi tenang aja kok, cerita ini tak akan terlantar kok, maka dari itu kalau kalian suka saya ingin tahu supaya saya lebih bersemanhat lagi untuk buat cerita lebih bagus. Terima kasih telah membaca, saya Luciver salam...