
Waktu bertugas telah habis, setidaknya untuk Aeus.
Pergi pagi pulang malam, siapa yang tidak lelah berada di siklus seperti itu. Mungkin bagi pilot penerbangan tidak, tapi Aeus ya. Kini dia kembali duduk di bangku sama di pesawat sama dan tidak ketinggalan masalah yang sama.
"Kenapa lagi kau kecil?" tanya Diana yang satu-satunya ikut pulang bersama Aeus.
"Sudah kubilang hentikan menyebutku kecil."
"Kecil tidak masalah padamu, kenapa kamu masalah pada kecil?"
Saking lelahnya Aeus ingin minta tolong pada siapa saja untuk melemparkan orang ini dari pesawat. Pilot terlalu sibuk, jadi lupakan saja.
"Kau nampak tidak sehat, kau mau kantung muntah dari perawat rusia itu?"
Baiklah, itu cukup, Diana perlu dikelabui, satu-satunya cara Aeus tahu dengan bicara. "Mengapa kau ikut juga pulang?"
Dengan cepat Diana menjawab, "tentu untuk menemanimu kecil."
"Kau bukan ibuku," rengut Aeus yang hampir terdengar kejam, sayangnya itu memang benar.
"Kau jahat sekali kecil, tentu saja aku bukan ibumu, aku harus melaporkan lagi ke markas pusat mengenai misi ini. Besok aku akan terbang lagi."
Tentu Aeus ingin membalas ucapan itu dengan memberi tahu Diana bahwa jaman ini sudah lama ditemukan telepon sehingga dia tidak perlu repot. Namun melihat dari keadaan dia nampaknya sudah tidak mau lagi bicara maka itu saja sudah mendamaikan hati Aeus.
Penerbangan diakhiri landasan mulus bandara militer Adaroth. Hati Aeus tidak bisa lebih bahagia lagi, perut dia akan terhenti teraduk, dan kepalanya akan kembali seimbang.
Pesawat melandas kemudian setelah kecepatan berkurang, lalu parkir di depan gudang pesawat lain berada. Melihat waktu yang sudah tengah malam, Aeus berharap dia bisa kembali ke kamarnya dan langsung jatuh diatas kapuk empuk. Malangnya Diana ada disana, siap mengancurkan impian Aeus lagi dengan menyeretnya tepat di kerah belakang menuju kantor utama.
Setelah beberapa meter memaksa Aeus ikut, akhirnya dia muak dan melawan, melepaskan tangan Diana dari kerah leher belakang. "Kau tidak lihat aku ngantuk? Tolonglah untuk kali ini saja...."
Dan dengan senang hati Diana mengabaikan itu seperti angin lewat. Sama seperti sebelumnya, Aeus memilih menyerah saja, lagipula Diana yang membuat Aeus disetujui ikut dalam misi lintas negara tadi. Pengalaman dibayar dengan pengorbanan, setidaknya itu terdengar adil bagi Aeus.
Aeus dan Diana baru saja memasuki pintu masuk markas utama berupa kaca tebal dengan lambang Supernova besar tercetak bersih. Saat hendak masuk perhatian mereka berdua teralihkan ke gerombolan tentara yang tengah mengawal seseorang masuk.
Itu membuat mereka berdua bertanya apa yanh sebenarnya terjadi di tengah malam begini ada pengawalan. Tetapi mereka tetap mengawasi.
Para prajurit Supernova bersenjata berbaris rapat persegi dengan tiga orang di depan dan tiga di belakang, dan dua mengapit orang ditengah itu yang pakaiannya terlihat sederhana sekali, kaus merah garis dan celana jins kebesaran, bukan pakaian seorang ***, apa mungkin... mata-mata?
Mereka hanya bisa menepi saat barisan tadi lewat, urusan mereka nampaknya serius. Akan tetapi bukan itu yang membuat mata Aeus menempel dengan raut terkejut pada sosok dikawal itu. Dia mengenal wajah itu, laki-laki berusia delapan belas tahun bertubuh tegap dan bahu lebar serta rambut pirangnya yang... rapi. Aeus ingat orang ini punya gaya rambut cepak, mungkin bukan orang yang dia kenal atau mungkin iya. Ini terlihat aneh.
"Dia siapa?" Aeus langsung bersuara.
"Aku juga baru sampai kecil kau hilang ingatan ya," ejek Diana lalu terkekeh pelan. Menyadari Aeus yang dia singgung tidak menanggapi membuatnya khawatir. "Hei ada apa?"
Setiap detik Aeus benar-benar tenggelam dalam pikirannya untuk mengingat wajah itu. Dia baru sadar bahwa rupa orang tadi itu benar-benar mirip dengan wajah teman sekelasnya dulu. Dipikirkan lagi ternyata tidak bisa disebut kawan, Aeus dengan dia selalu terlibat masalah, sepertinya hanya Aeus karena bisa dibilang dia adalah orang yang selalu menindas dirinya. Namanya adalah Dylan.
Fakta yang mencengangkan lagi bahwa Dylan hilang saat tragedi pemberontakan lalu. Sekarang dia disini... di bawah penjagaan ketat... apa maksudnya ini? Malam yang sial, misteri itu malah membuatnya semangat hingga rasa kantuk terusir.
Sudah beberapa kali Diana kali ini mencoba memanggil namun Aeus diam seperti batu. Dia hampir menyerah sampai ide jahat muncul untuk menampar Aeus. Setelah mengangkat tangan tinggi-tinggi, memgambil waktu tepat dia menunggu, sampai saatnya tiba dia lancarkan serangannya dan...
Aeus berbalik mengejutkan Diana dan seketika menyihir tamparan seniornya itu untuk beku. Serangan itu hampir kena, tinggal beberapa centi lagi maka pipi Aeus akan merah. Melihat itu Aeus bingung bertambah kesal.
"Kau bercanda?"
Diana menarik tangannya kembali memasang wajah tidak bersalah yang sama sekali gagal. Aeus harap wanita ini tidak pernah coba-coba mendaftar jadi aktris.
Berusaha memanjangkan leher untuk memperhatikan kembali barisan tadi yang sudah berjalan jauh. "Bagaimana bisa?"
"Dia... dia teman sekelasku, semenjak tragedi pemberontakan beberapa waktu lalu dia dinyatakan hilang, aku tidak tahu siapa pelakunya, tetapi sekarang... dia tadi disini, melewati kita."
"Dilihat dari penampilan dia nampaknya tidak diculik, ini aneh."
"Hm... kau bisa cari tahu itu? Kau punya kenalan di bidang investigasi bukan?"
"Jangan berharap banyak kecil," ketus Diana.
Setidaknya Aeus sudah berusaha. Sisanya terserah pada takdir.
Setelah memberi laporan Diana dan Aeus berpisah. Aeus tentu ke kamarnya di gedung asrama akademi miliknya. Dalam waktu dekat kata 'miliknya' sepertinya tidak bisa lagi dia sandang sebab tempat itu hanya untuk para pelajar sedangkan dia yang lulus tidak pada waktunya diberi pengecualian. Hebat, sekarang dia harus memikirkan misteri Dylan dan tempat hunian baru di waktu yang sama.
Tempat tinggal Aeus adalah kamar yang berukuran kecil, tidak ada dapur, hanya kamar mandi dan toilet yang bersebelahan. Untuk kasur karena hanya dihuni satu orang tiap kamar maka disediakan yang ukurannya pas-pasan untuk tubuh seorang remaja. Karena Aeus memiliki tubuh yang sedikit daripada remaja di usianya maka anggap saja dia mendapat sedikit bonus.
Setelah mengganti pakaian militer hitam bergaris perak ke kasual dengan kaus biru dan celana krim selutut dia langsung menuju kasur dan jatuh disana sekerasnya seakan tubuhnya telah digunakan menganggkut dunia. Dia tidak langsung tidur nampaknya setelah mengingat ada sesuatu yang menunggunya setelah tidur dan itu bukanlah mimpi. Pemberontakan beberapa waktu lalu membuat dia secara tidak sengaja memanggil kecerdasan buatan yang mana malah menugaskan dia untuk memberitahu raja Aproud sesuatu tentang Hypernova karena dia adalah si pembawa pesan. Dia tidak tahu apa artinya.
Dia mengira itu hanya lawakan, dan gadis itu sekedar mimpi. Beberapa malam iti terjadi menyatakan itu bukanlah khayalan. Aeus pernah coba beberapa kali mengaktifkan mode Stella sambil tidur, itulah syaratnya jika ingin mengadakan pertemuan karena gadis misterius itu bilang saat bermimpi otak akan lebih terbuka sehingga dia yang berkata datang dari tempat dan waktu berbeda bisa bertemu.
Aeus jarang melakukan pertemuan mengingat setelah itu tubuhnya seakan baru saja lari keliling lapangan bola. Awalnya tidak begitu saat pemberontakan, dia tidur dan kecerdasan buatan itu datang bagai hantu. Mungkin komunikasi ini dibebankan pada pengirim sinyal pertama, dia akan coba tanya nanti yang terpenting adalah hasil pertemuan itu.
Pertemuan pertama Aeus mencoba bertanya lebih banyak, tapi yang paling ingin dia ketahui adalah nama. Bahkan peranti lunak di komputer biasanya diberi nama, namun tetap saja gadis misterius itu bilang dia tidak punya dan sibuk maka berakhilah sesi pertama.
Kesempatan kedua Aeus mencoba lagi bertanya dan bertanya. Kira-kira mengenai apa yang dimaksud tempat dan waktu berbeda? Siapa penciptamu? Mengapa Aeus yang dipilih dari sekian Unvon. Hanya pertanyaan terakhir yang menemui titik terang, dipilihnya dia karena Aeus sendiri yang tanpa sengaja memanggilnya dan karena Hypernova sudah dekat maka tidak ada waktu memilih Unvon lain. Aeus dipaksa menjadi pembawa pesan.
Yang terakhir malah membuat kepala Aeus makin pening. Gadis misterius itu tidak ada, hanya Aeus dan pikirannya yang gelap gulita. Agak lama tapi akhirnya dia datang, dan berkata sibuk. Tidak mungkin kecerdasan buatan punya pacar kecerdasan buatan lain, sebagaimana robot mereka tidak punya perasaan. Diperbaiki? Mungkin saja, tapi dia tidak pernah menyertai alasan selain sibuk. Aeus terbesit pemikiran bahwa dia pergi bertemu orang lain, Unvon sepertinya. Entahlah mengapa dia punya insting seperti gadis pencemburu saat itu tetapi Aeus benar-benar menyeruakan gagasannya yang tidak masuk aka itu.
"Ada Unvon lain, bukan? Jadi aku tidak sendiri?" tanyanya pada gadis misterius itu.
Seharusnya sebagaimana mesin dia akan menjawab ya atau tidak. Kali ini dia ragu dan terdiam sesaat. "Aku sibuk, kau hanya harus tahu itu." Setelah itu dia menghilang tanpa bekas.
Di tengah malam di kamarnya ini Aeus punya niat demikian untuk mengadakan pertemuan. Berharap dia mendapat jawaban tepat. Tapi tidak jadi saat sadar sekujur tubuhnya merintih ingin beristirahat. Mungkin lain kali saja. Setelah memejamkan mata, dia mulai tertidur.
Seorang tentara harus bangun pagi, itu kebiasaan Aeus sekarang yang butuh usaha keras memahat kebiasaan seperti itu. Jam menunjuk pukul lima pagi tepat, bahkan kini dia sudah siap dengan seragam militer Unvon hitam dengan garis perak.
Masih ada sekitar satu jam sebelum pukul enam, setelah melakukan sarapan dengan roti dan telur dadar, dia beralih untuk mengambil ponsel mencek notifikasi yang sudah menumpuk. Tentara memiliki kewajiban untuk tidak membawa barang pribadi seperti telepon genggam ke sesi latihan, tugas, dan kegiatan penting lain yang membutuhkan kosentrasi tinggi, bukan berarti mereka tidak memiliki telepon genggam.
Ada beberapa pesan dari operator, grup alumni sekolah menengah pertama, dan juga dari instagram bahwa Aeus mendapat pengikut baru. Betul sekali, gadis rusia itu, Casandra.
Aeus mencek galeri Casandra sebentar, disaat dia melihat foto gadis rusia ini begitu banyak ditambah menyejukan mata membuat Aeus yang awalnya sekadar melihat saja menjadi memerhatikan dengan seksama.
Mungkin dia terkenal di kotanya, selebgram kemungkinan besar. Tapi kenapa? Aeus tidak perlu tahu dan harus tahu nampaknya. Setelah mengikuti balik dan menyukai foto yang menandai dia, Aeus mengambil ransel dan bergegas pergi.
Aeus memang terkesan ketus, itu karena kejadian beberapa waktu lalu saat pemberontakan di kota Jeldan yang menewaskan teman dan orang yang dia cintai. Memang itu hanya perasaan dia saja, tapi dia pertama kali merasakan itu, dan pada akhirnya seseorang itu pergi. Mau bagaimana lagi, kehidupan terus berlanjut, dia spesial, Aeus akui tapi bukanlah hal penting lagi, yang harus dilakukan adalah fokus untuk bertahan hidup melewati latihan bulanan Supernova ini.
*****
Akhirnya bisa update lagi, maaf banget bagi yang nunggu kelanjutan novel ini ya dan maaf juga karena disini mungkin kurang seru karena actionnya belum ada tapi nanti pasti ada kok mengingat ini genrenya action. Terima kasih telah membaca dan ngasih ucapan selamat tahun baru untuk saya, kalian yang terbaik. Lalu seperti yang dulu-dulu jangan ragu untuk mengkritik cerita ini, saya masih penulis amatir jadi ya hasilnya pasti kurang memuaskan tetapi saya selalu berjuang untuk bikin karya ini lebih bagus lagi. Tetap dukung dan share cerita ini ya!
Luciver, salam...