
Rencananya adalah Aeus dan empat orang lainnya pergi ke sebuah perusahaan pengiriman barang. Disana mereka akan mendapatkan tumpangan untuk melewati Jembatan Beruang ke Hutan Kota dengan aman. Walau Aeus dan lain tahu tidak ada lagi istilah aman di kota ini. Tidak jika mereka seorang Supernova.
Ungkapan itu tidak berlebihan, lihatlah setiap sudut kota ini yang penuh dengan prajurit bertopeng tengkorak dengan senjata lengkap mereka. Kota kecil ini kian sempit rasanya berkat mereka. Terima kasih untuk itu pemberontak.
Berjalan dengan wajah baru berkat riasan tidak membuat keberanian bertambah, takut masih hinggap di sanubari semua anggota disana. Pengalihan perhatian ditambah lagi untuk mendukung penyamaran seperti berjalan tidak beriringin seperti saat ini. Masing-masing harus berjalan berjarak dua atau empat meter sehingga nampaklah mereka seperti orang asing.
Untuk Aeus dengan wajah berdagu lancip, berkumis tipis dan mata biru cerah, dapat tempat berjalan paling belakang. Untuk itu dia harus berjuang ekstra untuk menenangkan diri sendiri agar gerak-geriknya tidak mencurigakan. Cara yang dia lakukan salah satunya mengamati sekitar sekaligus fokus mengamati langkah Supernova di depannya yang berjarak empat meter mengunakan kemeja flanel kuning cerah dan jins biru sedang membawa balon hati. Semua orang punya gimik, bahkan Aeus juga. Merogoh kantong celana kemudian tidak lama menariknya kembali, bersamaan saat itu kunci perak Aeus bawa ikut terkeluar.
Menurut dia tindakan itu pasti akan mengundang curiga bagi pemberontak tapi dia rasa itu tepat dilakukan saat ini. Pemberontak mengubah semuanya kali ini. Selain banyak prajurit musuh yang ditempel di sepanjang jalan, pos jaga pemberontak juga jumlahnya makin membludak belum lagi patroli di siang hari ini benar-benar gila, lima mobil jip hitam yang mengantongi sepuluh atau lima belas pemberontak selalu berjalan bersamaan.
Ada juga hal lain yang berubah seperti jam malam diterapkan dari pukul dua puluh satu sampai pagi pukul enam, juga jangan lupakan tentang spanduk dan poster tentang omong kosong kebaikan pemberontak untuk membantu Aproud. Lucunya apa yang mereka lakukan, mendoktrin serta menakuti warga Jeldan tidak terlalu berhasil. Sampai sekarang Supernova masih diberi bantuan diam-diam dari masyarakat.
Aeus rasa dia bukan satu-satunya ingin berkata "pemberontak punya apa?"
Asyik berjalan bahu kanan dia tiba-tiba berat serasa baru saja di cengkram, kemudian secara tiba-tiba Aeus ditarik sehingga berhenti mau tidak mau. Lantas dia berbalik dan mendapati pemilik tangan itu adalah Pemberontak. Aeus berusaha menenangkan diri sekeras mungkin, tak bisa dipungkiri jantungnya kini berdetak tidak karuan.
"Kau menjatuhkan ini." Pemberontak itu menyodorkan sekeping kunci perak.
Rencana lain lagi tentang menunjang penyamaran. Seseorang remaja di siang bolong pergi lalu tanpa sadar menjatuhkan kunci miliknya itu tindakan yang lumrah terjadi, bahkan saat seperti ini, kemudian ada atau tidaknya seseorang memanggilnya dan mengembalikannya juga sudah hal biasa. Tapi yang Aeus tidak duga adalah seorang pemberontak yang akan melakukan itu.
"Ah... terima kasih." Aeus meraih kunci lalu memasukannya ke kantong celana kemudian pergi buru-buru setengah ketakutan.
Berhasil mengarungi puluhan pemberontak lalu disinilah dia, di depan gedung perusahaan pengiriman barang. Seperti rencana tadi mereka tidak berjalan bersamaan sehingga saat semua sudah sampai ke tempat penjemputan carilah garasi. Dengan seksama Aeus perhatikan tempat itu lagi dan lagi, syukur dia berhasil mendapatkan garasi kosong yang terletak di bagian kiri gedung berlantai empat ini.
Aeus baru saja masuk lalu menurunkan tirai besi garasi sehening mungkin. Ruangan gelap itu kini sunyi.
"Apa yang kau lakukan disini pencuri!?" suara seseorang di ruangan ini entah dimana.
"Ingin menaiki roket pergi ke galaksi terjauh yang pernah ada," ucap Aeus walau sempat gugup tadi bahwa dia baru saja bercakap dengan hantu. Tempat itu gelap, siapa yang tahu?
"Itu sandi teraneh yang pernah kudengar." Lampu menyala memaparkan seisi ruangan tempat penyimpanan mobil box khusus untuk pengantaran paket. Kemudian seorang pria paruh baya berperut buncit dengan janggut dan kumis putih kusut terlihat berdiri di pintu masuk kendaraan beroda empat milik perusahaan ini. "Masuklah ke dalam akan kuantarkan kalian."
Anggota yang sedari tadi menuggu juga terlihat dan mulai bergerak, siap berangkat. Mereka masuk ke belakang mobil yang sudah di desain khusus dengan lantai yang bisa dibuka muat untuk lima orang berbaring bersebelahan, seperti ikan tuna kalengan kalau di istilahkan. Setelah semua sudah mengambil tempat lantai kembali ditutup lalu di tumpuklah kotak paket barang diatasnya.
Ditimbun dibawah puluhan kotak paket barang tidak menjadi masalah sebab lantai itu dibuat khusus untuk menahan beban berat. Yang perlu dikhawatirkan adalah pasokan udara disana benar-benar tipis, di tambah mesin yang berada tepat dibawah mereka berbaring sudah mulai bersuhu tinggi. Tidak ada yang bisa mengeluh, ini harga untuk keamanan, walau artinya mereka akan dipanggang hidup-hidup disana.
Getaran dari ban yang menggilas tanah jelas terasa, mobil telah dalam perjalanan. Supernova siap menyongsong medan pertempuran.
Kira-kira waktu ke Jembatan Beruang mencapai lima belas menit, tiga puluh ditambah pemeriksaan olah Pemberontak bahkan mungkin lebih menurut Aeus dengan segala hal yang terjadi disini musuh sudah pasti membangun kecurigaan sebesar dan setinggi gunung everest. Perjalan singkat ini akan jadi detik-detik panjang nan menderita bagi mereka.
Waktu bergulir kian menitnya, keringat keluar bagai air terjun disetiap jengkal tubuh membasahi pakaian yang mereka kenakan. Aeus tidak tahu berapa lama lagi bisa menahan ini lebih lama lagi. Otak dan tubuhnya terasa mencair saat ini.
Emosi makin menjadi saat mobil berhenti lagi, tapi sama seperti lain dia menderita disini dan tidak berdaya. Benak Aeus mulai membanding-bandingkan perjalanan dia saat kesini bersama Mira dan Farhaz, dia pernah mengatakan itu kepergian yang paling mengerikan, ralat itu, yang ini berlipat kali lebih buruk.
Jadi mereka bersabar dengan segala apa yang ada. Sepuluh menit terasa berjam-jam disini, namun mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau, perjalan ke Jembatan Beruang dilanjutkan. Hal positifnya adalah mereka tidak ketahuan jadi mereka beruntung.
Trek menjadi berat, penuh tanjakan, tidak lama mobil kembali berhenti, pemeriksaan lain lagi? Tadinya Aeus juga rasa begitu tapi tidak lagi saat pintu belakang mobil dibuka paket di sisihkan dan lantai rahasia diungkap semua tahu penderitaan mereka—untuk saat ini—berakhir.
Setelah semua sudah keluar semua orang disana diberikan masing-masing satu kotak yang kelihatannya seperti paket biasa, itu hanya untuk mengelabui, isinya tidak lain adalah sepasang pakaian Supernova mereka yang entah sudah berapa hari tidak dicuci.
"Sampai sini lepaskan penyamaran kalian, aku akan memberikan kepada yang lain lagi," ucap seorang Supernova senior kepada empat personil lain. Tangan Aeus naik ke dagu, memencet tombol yang tersembunyi dibawah, sekejap wajah samaran Aeus tadi menghilang tidak berbekas.
Mobil memutar balik pergi ke jalan raya sedangkan kelompok Aeus yang sekarang hanya berempat, pergi masuk kedalam hutan. Mereka berjalan beriringan kali ini dengan diam-diam, bersembunyi di tiap semak-semak jika ada mendengar mobil melintas.
Namanya juga hutan kota, jadi tidaklah luas seperti Aeus pernah jelajahi bersama Mira dan Farhaz, disini lebih bersih dilihat karena tidak adanya lumpur atau tanah lembek yang siap menenggelamkan.
"Kalian diikuti?" Xordas itu masih membidik mereka.
"Tidak," ucap seorang dari kelompok Aeus dengan yakin.
"Baguslah, teruskan perjalanan kalian, Sam ayo cepat bergerak, kita harus memasang jebakan ini tepat waktu.
Taktik bagus, karena disini pertempuran akan terjadi maka tidak salahnya bermain licik karena Supernova berada disini lebih dulu. Pertanyaannya, bagaimana meyakinkan pemberontak agar mau bertempur disini? Aeus tidak tahu jawabannya, yang pasti kali ini dia tidak lagi dibutuhkan untuk tujuan semacam itu.
Lima menit telah membawa mereka sampai di depan bongkahan batu besar bewarna abu-abu putih dengan lumut dan jamur yang nampak hidup di atasnya, padahal kenyataanya itu adalah proyeksi 3D lagi.
Mereka bergegas masuk menerobos batu rekayasa itu menuju ke lubang lalu lorong jalan masuk ke tempat persembunyian versi terbaru. Aeus harap ini yang terakhir kalinya dia berpindah-pindah ruang rahasia. Menurut kabar memang benar bahwa ini adalah langkah terakhir untuk merebut kota ini kembali, namun siapa tahu masa depan.
Ruangan luas berlantai dan berdinding batu bewarna coklat hitam dan coklat muda yang dibuat khusus menampung semua prajurit Supernova yang berjumlah seratus personil. Aeus dengan yang lain langsung berpisah lalu mencari lokasi untuk meletakan barang-barang mereka yang hanya sebuah kotak dari kardus itu.
Aeus baru hendak duduk dan beristirahat mengambil napas setelah terbebas dari panggangan berjalan dihampiri oleh seorang remaja berponi tebal dan mata sehijau rumput bernama Farhaz.
"Apa mau mu?" Sambar Aeus sudah menyandarkan punggung ke dinding kemudian menutup matanya sembari sesekali melakukan pernapasan yang teratur berusaha rileks.
"Aku hanya ingin tahu pendapat dari pahlawan dari operasi penyalamatan kita mengenai pertempuran akhir," ucap Farhaz dengan nada biasa tapi mengandung makna mengejek.
"Tidak usah terlalu memaksakan memanggilku pahlawan, aku bukan pahlawan." Aeus teringat kejadian saat di lubang tiga. "Apa maksudmu aku yang memiliki ide itu?"
Seketika Farhaz melirik daerah sekitar yang hanya ada satu atau dua orang yang tengah tidur atau mengobrol. Aeus selalu curiga dengan orang ini, apa yang sebenarnya yang dia rencanakan? Tidak dipungkiri Aeus pernah berpikir Farhaz malah berpihak pada musuh, dengan segala usaha kebaikan darinya dia katakan itu untuk Supernova, atau... hanya untuk dirinya sendiri.
"Kau tidak mau mendapat pujian?" tanya balik Farhaz.
Aeus gusar sehingga nada bicara agak tidak terkendali. "Apa tujuanmu!"
Seharusnya Aeus tahu usaha itu sia-sia, Farhaz yang dia kira akan panik malah menyeringai halus. "Sudah kukatakan aku melakukannya dengan cara seorang Lucos." Dia pun pergi. Aeus berdoa itu terakhir kali mereka bicara.
Lampu emergensi selalu dinyalakan di tiap sudut dan langit ruangan untuk memberi penerangan seadaanya setiap saat. Setelah puas tidur Aeus memutuskan untuk membantu dengan bertugas mengganti daya tiap alat penerangan yang jumlahnya Aeus hitung ada dua puluh satu unit.
Mencoba berpikir positif untuk kedepannya, setelah pertempuran akhir selesai dia ingin membeli jam tangan sebab dia selalu buta waktu disaat seperti ini. Bertanya saja rasanya tidak puas karena jawaban mereka cuma pagi, malam, atau siang.
Seiring berjalannya waktu tempat ini makin ramai, kalau dulu Aeus pasti sudah gugup berada di tengah kerumunan tapi sekarang yang dia rasakan lain saat bersama mereka, menurutnya menyenangkan melihat ada orang lain yang berani mengorbankan jiwanya untuk tujuan mulia dan tentunya berjuang bersisian menghadapi segala rintangan. Dulu dia tidak pernah merasakan itu, selalu berteman dengan sunyi dan sepi.
Sekarang Aeus belum bisa katakan dirinya sudah menjadi lebih baik, setidaknya dia punya sedikit kenalan disini, begitu banyak pengalaman menegangkan, dan... Aeus teringat sesuatu mengenai sebuah mimpi aneh beberapa waktu lalu dengan seorang gadis yang memperingatkan tentang sesuatu.
Kejadian itu bisa masuk ke pengalaman apa? Misteri atau aneh? Sepertinya keduanya.
Waktu berlanjut dan sepertinya sudah lewat tengah malam dengan hawa dingin menusuk yang dapat dia rasakan di sekujur tubuh. Sehabis menganti dua atau tiga lampu senter Aeus merasakan kantuk, dia memutuskan kembali ke tempatnya lalu meringkuk.
Ingatan tentang mimpi aneh tentang gadis itu masih bersemayam di benak Aeus sehingga dia susah tidur. Aeus selalu teringat kembali kata-kata sang gadis mengenai hal-hal membingungkan seperti dimensi, waktu, kesadaran atau apalah itu. Satu hal yang jelas dia ingat adalah bagaimana itu terjadi.
"Sebelum kau pingsan kau mengaktifkan mode Stella bukan?" tanya gadis berambut pirang rapi panjang itu terulang lagi dibenaknya. Aeus tahu harusnya dia tidak percaya pada mimpi tapi... bagaiamana jika dia bisa melakukannya lagi? Dia bisa bermimpi hal sama.
Dibalik matanya yang terpejam Aeus mengaktifkan mode Stella. Tidak lama kantuk menguasai sehingga dia terlelap jatuh ke dalam pelukan mimpi. Mimpi yang tidak asing lagi. Disana dia bertemu lagi dengan gadis misterius.
Terima kasih banyak masih setia menunggu cerita ini, berkat kalianlah saya tetap bisa semangat terus menulis. Terus dukung dengan like dan share cerita ini kalau suka, dan kalau punya kritik dan saran tentunya jangan malu dan ragu, tumpahkan saja disini. Satu hal lagi, misalnya saya buka kolom tanya jawab apakah akan rame? kalau iya bisa di komen aja kok. Saya Luciver terima kasih banyak...