
Perbukitan batu dan tanah yang berpasir di Nevada Amerika Serikat tetap menjadi tempat yang menakjubkan walau dalam keadaan gelap khas tengah malam. Banyak hal yang indah, hamparan gurun luas dan taburan bintang terang. Akan tetapi tidak ada yang lebih dinikmati selain kesunyian disini, berkat itu seorang sniper yang sedang bersembunyi bisa fokus.
"Lapor! Ada pergerakan arah jam sembilan," ucap seorang sniper yang bersembunyi dengan baik di bukit batu dengan ditutupi oleh tanaman liar. Dia sedang fokus mengikuti dua truk tronton tertutup di jalan raya sangat panjang tepat dibawah bukit.
"Diterima, regu kami bergerak sekarang, pertahankan posisi kalian," ucap seseorang dari alat komunikasi.
Dua truk itu terus melaju ditengah kegelapan jalanan raya. Tiba-tiba dari balik bukit sebelah kiri muncul sebuah kendaraan militer Humvee yang langsung melampaui kecepatan truk tadi sehingga sudah berada di depan. Terus melebarkan jarak dengan mobil pengangkut barang itu kemudian Humvee banting stir sehingga berbelok mendadak kemudian berhenti, memblokir jalan yang menuju Los angeles itu.
Lantas saja truk tronton itu terkejut melihat kendaraan militer apalagi yang menutupi jalan, yang bisa dilakukan adalah mengurangi laju yang mana memang itu dilakukan sang supir. Dua kendaraan pengangkut itu berhenti tepat sepuluh meter dari Humvee yang telah kosong karena para tentara di dalamnya telah keluar dengan senjata ditangan.
"Maaf menganggu perjalan kalian," ucap seorang pria tiga puluh tahunan berambut pirang tipis dengan seragam kamuflase hitam putih dengan lambang Supernova di lengan atas kiri lalu dibawahnya melingkar kain merah perunggu, jenis Xordas. "Kami perlu memeriksa muatan kalian, kami mencari barang curian."
Satu orang turun dari truk, pria buncit dengan topi kep coklat tua. "Aku bisa yakinkan pada kalian." Kata-kata dia terhenti saat mencoba mengidentifkasi keenam tentara—tiga Supernova dan tiga angkatan darat amerika—dengan gugup. "Aku tidak membawa satu pun barang... curian."
"Kalau begitu kau tidak perlu takut pak," sahut salah satu tentara amerika berseragam kamuflase coklat muda dan coklat tua.
"Ta-ta-tapi." Perkataan pria buncit tadi terhenti saat satu orang penumpang di truk keluar. Seorang pria jangkung berjaket kulit tebal dan berkepala botak licin yang saat ini menghisap rokok.
"Kau punya surat penggeledahannya prajurit baik?" pria yang baru datang tadi bertanya dengan nada menantang.
"Kami ditugaskan secara mendadak, kalau kalian terburu-buru kami bisa memeriksa dengan cepat," ucap Supernova tadi, kali ini dengan tegas dan cepat.
Kedua orang tadi saling lirik. Keadaan menjadi hening sesaat. Para tentara tidak menyukai ini.
"Crow dan James, perik-"
"Kami tidak pernah bilang kalian boleh!" Pria jangkung tadi marah sehingga terpaksa kedua prajurit yang telah maju berhenti menunggu perintah lebih lanjut. Dia membuang rokok yang sisa setengah ke aspal.
Tentara Supernova yang telah berusaha membujuk tadi masih terdiam sambil terus memperhatikan tiap gerak-gerik mencurigakan. Ini tidak akan mudah.
"Kami mendapat perintah langsung dari pemerintah kalian, mau tidak mau kalian harus minggir dan biarkan kami memeriksa truk ini!" Tentara Supernova itu lebih tegas.
Tidak ada reaksi, tidak ada kemarahan, akan tetapi ada sesuatu yang tidak beres. Pemimpin Supernova itu mulai menggenggam erat senapan miliknya, begitu juga tentara lain. Udara malam disini sebenarnya panas, entah kenapa tiba-tiba saja dingin.
Kemudian sebuah peluru dengan kecepatan tinggi merayap ke arah mereka menembak suatu objek yang tak kasatmata. Sontak para tentara langsung waspada, senjata mereka terangkat dan mulai membidik kedua pria tadi.
Dua orang itu juga cepat bertindak. Mereka langsung mengeluarkan pistol dan membuat gerakan memamerkan pergelangan mereka yang dihiasi sebuah gelang besar biru ke depan tepat kearah para tentara yang siap menembak.
Saat runtutan tembakan terjadi mereka berdua terlindungi oleh suatu medan pelindung—barrier—berpola segi enam sarang lebah bewarna biru. Tidak disangka mereka ternyata menggunakan tameng prototipe Scutum. Ini cukup mengejutkan, tetapi kejutan seperti ini tidak membuat tentara ini gentar, mereka tetap menembak dan menembak. Sedangkan para supir truk itu merasa sudah di atas angin, mereka membidik perlahan lagi teliti dua prajurit kemudian mencoba menembaknya.
Dua orang yang merasa diincar sontak bergegas berpindah tempat menjauh sehingga tembakan musuh meleset. Setelah di atas angin, nampaknya mereka akan dibawah tanah, medan pelindung itu mulai retak, awalnya kecil tetapi kian lama mulai membesar. Kesempatan ini digunakan sebaik mungkin.
Dua butir peluru ramping melesat lagi dari perbukitan diikuti hancurnya medan pelindung kemudian kepala mereka. Keadaan tidak menjadi lebih baik saat musuh nyata di depan tewas, diam-diam satu tentara dari pihak amerika telah mati dengan prototipe belati Cancer terbenam dipunggung. Kemampuan membunuh secara diam-diam ini hanya dimiliki oleh satu konstelasi pemanggilan yaitu konstelasi perseus.
"Semua berkumpul!" Seru tentara Supernova yang diikuti cepat oleh lainnya. Mereka berlima kini saling memunggungi dengan mata awas serta senjata terbidik ke depan. Melawan sosok seperti hantu memang mengerikan. Susah tetapi tidak mustahil.
"Orchid, James siapkan flashbang!" Kedua orang yang dimaksud langsung mengambil sebuah tabung silinder hijau tua berukuran sebesar kepalan tangan. "Sekarang lemparkan!"
Maka kedua tentara itu memelemparkannya tidak jauh dari formasi. Tanpa aba-aba mereka semua langsung memejamkan mata dan menutupinya lagi dengan tangan. Flashbang itu langsung meledak cepat, memancarkan sinar putih terang sekali dengan radius lima meter.
Sinar telah padam sedangkan kewaspadaan kembali menyala. Mereka berlima membuka mata dan langsung mengarahkan senjata kedepan untuk melihat musuh yang penyamarannya telah terbongkar. Disekeliling nampak dua belas wujud manusia bewarna hitam pekat berdiri kebingungan apa yang baru saja terjadi.
Malam menyerasikan warna dengan musuh, akan tetapi itu sudah lebih baik daripada tak kasatmata sama sekali. Ditambah di helm mereka terdapat kacamata inframerah maka mereka semua menurunkannya agar sesuai di mata, kini mereka dapat melihat dalam gelap.
Tembakan dilancarkan dengan akurasi tinggi, dalam sekejap mereka sudah menumbangkan lima musuh. Tinggal tujuh lagi. Lawan mulai terlihat ada yang lari menjauh atau bersembunyi di balik objek terdekat.
"Mereka hanya memakai seragam perseus, tumbangkan mereka dengan cepat!" Supernova yang memimpin regu berteriak.
Langsung saja Supernova dan teman amerika mereka dengan senang hati mengejar bagaikan anjing. Ditambah bantuan dari sniper semua berakhir cepat. Syukur saja musuh hanya memakai seragam Perseus, bukannya zirah Perseus sehingga mudah ditembus.
"Kerja bagus Merigold, Mockingjay," ucap Supernova berambut pirang tipis tadi yang memimpin melalui alat komunikasi ditelinga. "Tetap siaga, misi kita be-"
Raungan kesakitan terdengar di saluran. Itu dari suara seorang sniper. Ketegangan kembali terasa.
"Tapi pak tempatku akan diketahui," balas suara seorang perempuan, Merigold.
"Mereka mungkin sudah disekitarmu, setelah menyalakan flashbang aku ingin kau bergabung langsung kesini."
"Dimengerti pak."
Tidak lama di puncak salah satu bukit berbatu sinar putih sangat terang muncul lalu redup dengan cepat juga. Bunyi tembakan terdengar, nampaknya firasat ketua regu benar, musuh mengincar sniper, tak lama kemudian seorang tentara perempuan sangat muda berambut pirang panjang yang pernah ikut bertempur di kota Jeldan, Tiffany, berlari menenteng senapan riffle AWM bewarna hitam menuju regu dibawah.
Sebelum Tiffany bergabung regu memutuskan untuk mengaktifkan lagi flashbang kalau saja ada musuh di sekitar. Mereka menghembuskan napas lega, sekitar bersih, mereka aman untuk sekarang.
"Bagaimana dengan Mockingjay pak?" salah satu tentara amerika bertanya.
Supernova yang memimpin itu terdiam sesaat kemudian mengangkat tangan untuk menyingsingkan lengan bajunya nampkalah alat mirip jam tangan digital. Dia menyapu layar disana lalu tak lama disalah satu puncak bukit lain yang mereka tahu letak sniper berada samar-samar muncul asap kehijauan.
"Itu dari bom asap beracun yang bisa diaktifkan dari jarak jauh, karena Mockingjay masih belum melapor kuputuskan dia telah tewas." Tentara lain diam mendengarkan. "Kita tidak bisa membiarkan musuh mengambil sniper dan mengincar kita. Crow dan Orchid kalian pergi amankan riffle kita. Tetap hati-hati, kurasa lawan kita kali ini adalah seorang Druvat."
Druvat dengan sangat mudah akan dilupakan karena Druvat sendiri sangat jarang ada. Arti istilah ini sendiri adalah untuk seseorang bukan Supernova memakai teknologi konstelasi pemanggilan atau hanya prototipe dengan sangat baik.
Tentara yang diperintah langsung berjalan kearah asap hijau yang hampir hilang diatas bukit sana sambil terus memperhatikan melalui scope inframerah.
Tiffany baru saja sampai akan tetapi dia tidak terlihat lelah sekalipun walau baru saja menuruni bukit yang cukup tinggi dan terjal.
"James dan Nick ikuti aku, kita akan memeriksa isi truk ini. Sisanya buat perimeter." Pemimpin regu itu melangkah mendekati truk sambil terus waspada. Sisanya menyebar disekitar untuk memberi perlindungan.
Supernova yang membawa dua tentara amerika memeriksa truk pertama. Dimulai dari ruang kemudi, sisi mobil lalu setelah merasa tidak ada aneh mereka menuju ke belakang, ke pintu muatan yang sudah sedikit terbuka oleh musuh berseragam Perseus tadi.
Mereka harus kembali menggunakan bom lagi, akan tetapi kali ini bukan flashbang melainkan bom asap beracun. Setelah melempar pintu belakang truk itu segera di tutup agar senyawa gas mematikan tidak menyebar. Truk pertama tidak ada masalah, sekarang kendaraan pengangkut kedua.
Memeriksa sama seperti sebelumnya dari depan lalu ke samping truk sampai ke pintu di belakang. Hanya saja kali ini beda karena akses masuk ke ruang muatan terkunci oleh palang besi. Sebenarnya ini akan jadi mudah, mereka tinggal mengangkat balok pengunci itu, tetapi mereka tahu ini tidak akan semulus itu. Di dalam sana bisa saja berisi hadiah yang dicuri dari Supernova, atau hadiah itu telah berubah jadi bencana ketika musuh menggunakannya.
Yang jelas sekarang mereka tahu harus mengambil resiko. Maka Pemimpin regu maju perlahan kemudian mengangkat palang pintu itu secara perlahan sedangkan prajurit yang bersamanya sudah siap dengan senjata terangkat apabila di dalamnya tidak seperti mereka harapkan. Akhirnya palang telah terangkat dengan senyap. Semua terdiam untuk sesaat. Namun tidak terjadi apa-apa.
Maka Supernova itu mundur perlahan dengan senapan siap menembaki pintu yang masih membisu. Setidaknya dua orang harus membukakan pintu muatan sehingga terbuka lebar dan isinya akan menjadi jelas. Pemimpin regu mengangkat tangan kanan lalu mengisyaratkan maju untuk prajurit yang dia bawa tadi. Mereka langsung paham kode itu, kemudian masing-masing memegang knop besi. Kini mereka tinggal menunggu perintah selanjutya.
Supernova itu mulai mengenggam erat senapan hitam berjenis M-16 itu dan jari telujuk juga sudah menempel ke pelatuk dengan tenang. Bagaimanapun, jika pintu muatan terbuka dan isinya musuh yang maka kemungkinan mereka sudah siap, maka pemimpin regu telah mendatatangi kematiannya sendiri. Akan tetapi masih ada kemungkinan tidak, jadi harus ada yang memastikan. Dengan perlahan pemimpin regu itu mengangguk kecil. Dia telah siap untuk tewas.
Dengan tarikan sekuat tenaga pintu muatan terbuka. Dengan rapi disana tertumpuk peti-peti senjata berbentuk persegi dari serat karbon bewarna hitam dan untuk meyakinkan lagi bahwa itu dari milik Supernova ada terdapat lambang tentara pelindung perdamaian itu di atas atau samping peti. Namun tidak ada manusia, tidak ada ancaman. Dengan tanggap Supernova itu mengambil granat asap beracun lalu melemparkannya ke ruang muatan. Kemudian dia memerintahkan untuk menutupnya kembali.
Nampaknya kesulitan telah berlalu. Mereka memeriksa truk pertama sembari menunggu gas beracun di kendaraan pengangkut lain hilang. Dua supernova telah kembali dengan senapan rifle hitam AWM. Mereka melapor bertemu dua musuh tapi masih bisa diatasi. Masih ada kemungkinan lawan yang memakai seragam Perseus tetap bersembunyi menunggu kesempatan datang. Akan tetapi, mereka kalah jumlah, langkah terbaik adalah kabur diam-diam saat daya seragam Perseus masih ada. Itupun kalau mereka pintar.
Waktu bergulir di gelapnya malam daerah tandus nevada. Operasi gabungan kali ini bisa dianggap berhasil walau dua orang tewas. Semua mayat telah di bersihkan dan tujuan utama mereka yaitu menyelamatkan senjata prototipe Supernova sebelum jatuh ke salah satu pusat pasar gelap terbesar atau biasa disebut Dunia Hitam oleh kebanyakan orang telah berhasil digagalkan. Semua barang telah dihitung dan diidentifikasi.
"Crow bilang diantara mereka ada anak buah Joker. Apa maksudnya itu?" Tiffany dari jendela mobil kepada pemimpin regu yang sedak duduk di bangku depan Humvee. Nampkanya dia baru saja melapor kepada bahwa misi telah berhasil, biar begitu wajahnya muram.
"Kau lulus terlalu cepat, tapi kurasa sekolah juga tidak akan mengajarkan ini. Pasar gelap terbesar atau bisa kau katakan dunia hitam, entah bagaimana kita tahu berada di los angeles, sekitar lima belas kilo dari sini, di dunia hitam ini mereka memiliki empat pemimpin, Jack, Queen, King, dan Joker. Seperti kartu. Masing-masing memiliki bidang masing-masing, setahuku Queen adalah informan berpengaruh di dunia sini, dia mengetahui banyak rahasia, jika saja prototipe kita jatuh ke mereka maka kelemahan Supernova akan jadi konsumsi semua orang yang kaya mampu membeli," jelas pemimpin regu itu. "Sedangkan untuk joker adalah khusus menjual manusia petarung, tentara, pembunuh, dia menciptakan monster."
Tiffany yang terdiam mendengarkan penjelasan panjang itu menyadari sesuatu. "Kalau benar-benar penting, kenapa ditugaskan sedikit? Bahkan aku yang baru saja lulus ikut dalam misi ini."
"Karena kau akan tahu, Supernova sangat dibutuhkan oleh dunia ini ditambah sejak kejadian pemberontakan kita menaikan penjagaan. Kau itu berbakat daripada lulusan lain, yah jangan terlalu senang dulu akan hal itu, karena kita harusnya khawatir."
Tiffanya kebingungan. Butuh waktu lama ternyata sampai pemimpin regu itu angkat bibir.
"Karena... misi penyergapan lain gagal."
*****
Akhirnya bisa update, maaf ya kalau saya memgecewakan kalian, saya sudah berusaha keras untuk menulis walau kena writer's blok, saya harap karya saya akan masih tetap bagus. Dan saya tidak akan pernah lupa perjuangan kalian yang telah rela baca Raven ini. Untuk mengingatkan saya juga membuka kolom pertanyaan di komentar. Kalian bisa tanya apa saja, seperti tanggal lahir Aeus, warna kesukaan Mira, atau yang lain. Tetap dukung dan jangan lupa like serta rating ya. Terima kasih banyak.
Luciver, Salam...