SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Pesawat Perseus



Dua belas jam sebelumnya, saat Mira masih dalam perjalanan pulang bersama Xordas lain untuk beristirahat atau semacamnya. Mereka sekarang berada dalam pesawat militer pengangkut berwarna hitam yang masih gagah mengudara saat ini, entah berapa kali pesawat ini sudah melakukan penerbangan membawa prajurit-prajurit hebat didalamnya.


Sama seperti hari lainnya Mira hanya berekspresi datar, dia tidak pernah peduli tentang pandangan orang lain tentangnya. Saat dia memutuskan untuk menggunakan otaknya, itu pasti tentang tugas dan tugas lalu menyelesaikannya dan menyelesaikannya. Jadi sekarang dia diam tidak melakukan apa-apa, hanya memandangi gumpalan kapas putih di langit yang saking dekatnya dia rasa bisa menggapainya dengan tangan jika tidak terhalang kaca tebal jendela.


Perjalanan pulang itu lancar dan singkat. Dilapangan berlantai semen tebal, tempat dimana hanya pesawat khusus militer diparkir disana adalah pemberhentian pesawat yang ditumpangi Mira. Setelah mendarat dengan sempurna, lantai ruangan pesawat pengangkut itu turun, sebelas tentara Xordas mulai keluar beriringan diikuti dua Xordas lagi yang tadinya memiloti pesawat ini.


Hari yang masih pagi banyak dijadikan Xordas-Xordas lain untuk mengunjugi tempat untuk bersenang-senang, sebaliknya Mira, dia punya rencana sendiri yaitu ke arena latihan, mungkin menjatuhkan lima samsak tinju adalah pemanasan yang bagus pikirnya.


Tiba-tiba suara nyaring muncul disertai getaran hebat. Tiga belas Xordas yang telah menyentuh tanah tadi dibuat bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Tidak lama terdengar suara sirene polisi dan teriakan dimana-mana.


Pasukan yang sudah terlatih itu sudah menduga skenario terburuknya, mereka masing-masing memegang senjata yang tersimpan di pesawat tadi.


Dari arah utara, dua orang masih memakai seragam hitam khas Supernova berlari mendekati kelompok Xordas yang siap menembaki mereka kalau saja ada gerak-gerik mencurigakan.


"Tunggu dulu, itu Jenderal Jatson." Xordas yang membidik mereka tadi menurunkan kewaspadaan.


Merasa bukan ancaman mereka membiarkan satu orang pria dan wanita tadi mendekat. Dua orang itu langsung bernapas tidak beraturan saat sampai ke mereka. Yang menimpa mereka pasti sangatlah buruk sehingga mereka terpaksa berlari sekencang tadi.


"Apa yang terjadi?" ucap salah satu Xordas yang masih mengawasi sekitar sambil melirik dua pendatang baru tadi.


"Markas utama diserang, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi." Jendral Jatson berusaha sebaik mungkin bicara. "Kita masih bisa kabur, tapi harus cepat."


Tiga belas Xordas itu saling memandangi. Setengah tidak percaya apa yang baru saja didengar. Tapi mereka tahu saat seperti ini mereka tidak harus ragu dan saling percaya, apalagi untuk ukuran Jendral.


"Bagaimana bisa itu terjadi?" seorang Xordas mengutarakan kebingungan dia juga prajurit lain.


"Pertama-tama kita harus hidup dulu, kita harus kabur!" perempuan yang datang bersama Jendral ada benarnya juga.


"Prototipe pesawat perseus! Kita bisa gunakan itu," seru jendral.


"Prototipe pesawat disimpan di hanggar bukan?" salah satu Xordas menyisir lapangan luas itu lalu menunjuk tempat mirip seperti gudang berukuran besar yang tak jauh dari mereka. "Disana!"


Kelompok Xordas tadi langsung membentuk formasi. Tiga orang didepan lima disamping kanan dan kiri. Mira berada di barisan kanan, memegang senapan M-16 seperti yang lainnya. Jendral dan perempuan bersamanya tadi terpaksa terapit di barisan karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa tanpa senjata ditangan.


Pergerakan mereka cepat juga hati-hati. Arah jam sembilan, di ujung lapangan, mereka dapat lihat ada kelompok bertopeng gambar tengkorak melaju dengan mobil jip hijau tua, sekitar lima sampai sepuluh orang berada dalam kendaraan itu dan hampir semua bersenjata.


Kontak senjata terjadi antara pemberontak dengan lima Xordas yang berusaha mempertahankan jarak mereka. Saat gerbang sudah berhasil dicapai mereka langsung berusaha membukanya tanpa ada masalah. Setelah terbuka mereka langsung merengsek masuk.


Ternyata tempat itu cukup gelap namun itu tidak sedikitpun membuat mereka takut, mereka tentara, mereka terlatih untuk ini. Satu-satunya cahaya adalah dari gerbang yang sedikit dibuka mereka tadi.


Mira beserta enam Xordas lain berdiri menghadap pintu masuk tadi dengan laras membidik tepat kesana. Jari telunjuk telah berada di pelatuk, mereka siap menembak siapapun yang masuk sementara yang lainnya mencari pesawat dan panel pembuka atap.


Satu orang pemberontak masuk dari celah dan langsung disambut peluru. Musuh sudah sampai, sedangkan mereka masih perlu waktu. Seorang Xordas disamping Mira menembaki gerbang yang tidak ada apa-apa.


"Apa yang kau lakukan?" Xordas disampingnya bertanya.


Akhirnya pesawat yang lebih mirip seperti jet karena berbentuk ramping seperti huruf T didapatkan, tak lama seorang Xordas mendapatkan panel untuk membuka atap. Satu persatu Xordas yang menjaga gerbang berlari naik ke pesawat hingga satu orang saja masih setia menembaki gerbang untuk menakut-nakuti musuh.


"Danny!" Xordas perempuan memanggil Xordas yang masih setia pada pos jaga tadi. "Cepat naik!"


Atap terbuka, membiarkan cahaya berlimpah membanjiri setiap sudut ruangan. Xordas yang dipanggil Danny berlari setelah merasa aman. Merasa aman pemberontak ternyata masuk lalu langsung menembaki Danny yang tengah berlari hingga jatuh.


Danny tertembak di lengan kiri dan kakinya. Dia sudah merasa tidak bisa berjalan, apalagi lari, satu-satunya yang dia bisa lakukan adalah mengulur waktu. Dia mulai menembaki pemberontak yang kini makin banyak.


Xordas perempuan yang menunggu Xordas bernama Danny, mulai menangis di ambang tangga pesawat. Dia seperti tidak bisa percaya pada matanya sendiri, dia terpaku ditempat. Mesin pesawat berdesing ringan, bersiap naik.


Tidak ada cara lain, seorang Xordas menarik wanita itu naik secara paksa. Setelah berhasil mereka langsung menaikan tangga. Pesawat perseus bewarna hijau tua itu mulai terbang rendah.


Pemberontak berjumlah sembilan orang mulai menembaki mereka. Semua peluru tadi tidak berarti, perlu proyektil lebih besar lagi untuk menembus pertahanan pesawat itu yang sepertinya para pemberontak tidak memilikinya. Sekarang mereka tidak bisa menyerang mereka lagi, pesawat itu sudah naik sangat tinggi.


Dalam pesawat suasana cukup tegang, Xordas perempuan tadi masih menangis kecil. Dua bangku pengemudi sudah ditempati Jendral dan seorang Xordas berumur tiga puluh tahunan, mereka menekan beberapa tombol di atas dan dibawah, mengaktifkan mode tak kasatmata yang dimiliki prototipe pesawat perseus ini.


Bagi mereka yang berada dalam pesawat memang tidak ada perubahan sama sekali, sedangkan bagi peberontak kini mereka diliputi kebingungan karena pesawat tadi lenyap secepat gelembung pecah.


Jendral menarik tuas lalu pesawat itu maju kencang. Sekarang mereka boleh bernapas lega, mereka berhasil selamat walau ada satu korban yang jatuh.


Mira mendekat ke jendela dengan ekspresi datarnya. Dia dapat melihat dibawah sana asap hitam membumbung tinggi serta orang-orang diterpa panik hingga berlari tak menentu arah. Ini semua tentu ulah siapa lagi selain pemberontak.


Masing-masing diam, mereka tidak saling bicara mengingat tragedi yang menimpa mereka cukup memusingkan. Itu tidak bertahan lama ketika seorang Xordas laki-laki berkata melihat seorang Unvon di atap gedung akademi. Mereka mendekat kesana, dan melihat pemuda berambut hitam berseragam hitam dengan garis perak khas pelajar akademi sedang gelisah.


"Kita bisa menyelematkan dia." Perempuan yang bersama Jendral tadi mengungkapkan saran. "Kita harus menambah prajurit bukan?"


"Bagaimana kalau dia pemberontak? Kita tidak punya waktu sekarang untuk memastikan." Xordas yang berada di kursi pilot ada benarnya.


Perempuan bersama Jendral tadi merapat ke dinding lalu meraba permukaannya, hingga terbuka suatu penyimpanan senjata rahasia dalam dinding pesawat itu. Ada tiga senapan yang tersangkut disana, diantaranya ada berjenis riffle. "Riffle ini memiliki mode bius, kita bisa menembak dia dulu, membawanya lalu memeriksa dia. Bagaimana?"


Seorang Xordas berumur dua puluh lima tahun mengambil riffle tersebut. Setelah jendela dibuka, dia langsung bidik leher sang Unvon lalu menembaknya dengan peluru bius hingga jatuh. Selanjutnya pesawat tak kasatmata itu menepi untuk membawa pemuda pingsan itu ke dalam.


"Jadi begitu ceritanya..." lirih Aeus yang kini sedang duduk di kasur empuk putih di kamar tadi.


Mira terlihat masih bersandar di dinding besi hitam yang dingin itu, memandangi Aeus yang masih terguncang dengan keadaan.


"Terima kasih sudah menceritakan itu... Mira? Namamu Mira bukan?"


"Kau benar, panggil saja Mira." Mira berjalan ke kasur putih lain yang tergantung di dinding sebelah kanan Aeus. "Seperti perintah Jendral tadi, kita harus tidur untuk beristirahat, sebaiknya kau juga." Mira merebahkan dirinya lalu memejamkan mata.


Aeus sepertinya tidak bergerak sedikitpun, dia masih terpikir bagaimana bisa Supernova bisa kalah. Sepuluh menit kemudian barulah Mira dengar suara jatuh yang lembut diatas kasur lain. Mereka berdua tertidur tanpa bulan sebagai pengingat malam