
Sebuah suara ketukan di pintu mampu membuat seorang Jenderal Supernova yakni David yang tengah tidur dengan berbantalkan kedua tangannya sendiri diatas meja. Akan tetapi butuh waktu untuk kembali sadar sepenuhnya sehingga pukulan terdengar kembali. Mungkin ini informasi yang penting.
"Masuk, " ucap David dari dalam.
Seorang pemuda berusia dua puluh tahunan berseragam jenis Xordas masuk dengan perlahan kemudian langsung memberi hormat singkat pada sang Jenderal setelah berdiri tepat di depannya.
"Lapor pak, nama saya Dexano dari divisi informasi, pengintaian kediaman Malic telah diketahui dan dipastikan benar pak," ucap pemuda berambut pirang pendek lancip dengan mata biru terang itu.
David tidak langsung menjawab, dia memilih sibuk berpikir sejenak. "Apakah ada tanda-tanda pengintaian ini ketahuan?"
"Sejauh ini tidak pak, pengintaian lancar. Keterangan tempat sudah kami kirimkan ke komputer anda."
"Baiklah, terima kasih Dexano, kau boleh pergi." Maka pemuda itu langsung memberi hormat singkat lalu beranjak pergi cepat.
Kini David sendirian dalam keadaan masih mengantuk memikirkan perburuan yang tidak ada habisnya dengan ******* yang selalu muncul. Dia paham itu memang tugasnya, menumbangkan ancaman berpotensi membahayakan Supernova juga dunia. Maka untuk menghilangkan sejenak beban itu dia memutar kursi sehingga mengarah ke dinding belakang berupa kaca tebal yang menawarkan pemandangan pagi perkotaan Adaroth dari sudut ketinggian karena tempat ini berada di lantai sepuluh.
Memerhatikan aktivitas pagi Adaroth dengan mata tadinya mengantuk sekarang sedikit lebih hidup. Dia berusaha tidak memikirkan apapun, hanya memandang apa yang ditawarkan.
Selama lima menit dalam keheningan David memutar kembali kursinya lalu langsung menjulurkan tangan ke bawah tepatnya ke sebuah laci untuk membukanya. Didalam sana dia mengambil tumpukan berkas yang kemudian dia baca diatas meja dengan seksama.
Lembar demi lembar yang berisi foto serta data seorang tentara Supernova dia perhatikan. Dia terus membalik lagi dan lagi, lalu di tengah pencariannya dia terhenti lebih lama untuk membaca lebih lanjut informasi mengenai seorang tentara perempuan muda bermata merah dan rambut seputih salju dengan nama lengkap Miranda Erdovin.
Berjalan sendirian ditrotoar kota Adaroth yang lumayan sepi karena jam sibuk pagi telah lewat membuat Aeus sedikit terhibur dengan pemandangan bersih kota dan suara yang tidak terlalu bising. Walau disebut kota militer, tempat ini masih bisa disamakan dengan kota-kota modern lain.
Saat ini dia memakai sebuah jaket bertudung warna merah gelap dan celana jins hitam, sudah dipastikan dia sedang tidak bertugas sekarang. Karena sedang tidak ada pelatihan atau misi dia memilih menikmatinya dengan jalan-jalan. Sebenarnya dia tidak sekedar berjalan tidak menentu arah, dia menentukan tujuan pada sebuah museum besar dikota ini untuk memperjelas sesuatu mengenai ucapan Starla. Di akan ke museum besar Aldor dimana terdapat sejarah alat konstelasi pemanggilan disana.
Cuaca sekarang juga tidak terlalu cerah, tapi juga tidak mendung, maka dari itu Aeus memilih berjalan saja daripada naik angkutan umum. Tidak terasa dia akhirnya sampai.
Sekarang, berdiri megah dihadapan Aeus berdiri sebuah bangunan megah bewarna putih yang lebar dan tinggi dilihat dari dua lantai diatasnya. Khas museum lain, tiap dinding serta tiang dibuat berukiran indah.
Aeus tidak mau buang waktu lagi, dia langsun menaiki undakan lalu sampai di depan pintu masuk yang besar. Pertama dia harus menghadapi loket pembayaran dulu kemudian mengantri seperti lain. Kira-kira ada sepuluh orang di depannya, tetapi karena prosedurnya cepat rasanya tiba-tiba saja sudah giliran dia membayar, dia langsung mengeluarkan sebanyak lima Luvre—mata uang Aproud—dan langsung menyerahkannya ke petugas.
Setelah masuk di ruang pertama di dalam museum rasa dingin dari mesin AC langsung menerpanya. Rasa itu membuatnya sedikit nyaman, juga segilintir pengunjung disini. Tanpa ragu lagi dia memerhatikan sekitar, disini masih tidak ada alat konstelasi pemanggilan, hanya ada lukisan dari sosok profesor Aldor, pencipta dari alat konstelasi pemanggilan serta stardet di dalam tubuhnya.
Disini banyak lukisan yang mempresentasikan wajah Aldor disaat anak-anak, remaja, hingga dewasa. Tidak hanya itu, ada juga foto-foto berharga yang masih hitam putih, saat Aldor mengangkat piala penghargaan berkat terobosan yang dipakai angkatan militer supernova. Sungguh, saat melihat senyum lebar pria di foto itu hampir saja membuat dia sangat teramat bangga akan perjuangannya, emosi dia begitu nyata dan hidup, tetapi Starla bilang dia menciptakan semua ini, dunia ini.
Membingungkan, tidak masuk akal, bahkan bisa dikatakan gila. Dia sudah bingung hendak percaya pada apa dan siapa. Yang bisa dilakukan adalah mencoba menguak ini semua perlahan.
Disini juga disertakan sebuah tulisan sejarah dari kota Aproud. Sebagai pengenal tentunya pada para pengunjung bahwa Aproud adalah sebuah negara yang sejarahnya pendek karena kemunculannya juga mendadak. Tepat pada awal tahun 1945, dimana ada sebuah fenomena di laut atlantik utara berdekatan dengan dua negara irlandia dan inggris sebuah pulau muncul begitu saja, katanya saat itu tidak ada gempa atau lainnya sehingga tanah dapat naik, tetapi dunia memang masih banyak misteri. Tempat itu tidak berlangsung lama dalam ke kosongan, banyak orang-orang barat yang pindah kesana tidak terkecuali asia walau sedikit. Tempat itu dianggap sebuah keajaiban karena muncul saat perdamaian hendak dilakukan, dan tiba-tiba saja tempat itu sudah memiliki banyak populasi dan menjadi negara kerajaan. Sungguh negara yang unik, dan dirinya terlahir disana.
Aeus berjalan kembali ke ruang berikutnya dimana disini terpajang patung, serta potongan surat kabar yang menyinggung riwayat hidup AAldor tersimpan dalam kaca berbingkai terletak di dinding. Semua dari cerita hidupnya, motivasinya, pencapaiannya, dan juga kematiannya pada tanggal 19 maret tahun 1999 di usianya yang lima puluh lima.
Di ruangan ini ternyata pengunjung lebih banyak dari sebelumnya, sekitar dua belas orang bertambah. Aeus rasa ini hanya permulaan.
Berpindah lagi ke ruangan berikutnya, ternyata benar, jumlah pengunjungnya naik berkali-kali lipat, mungkin ada lebih dari seratus. Ini tidak lain karena pesona prototipe yang terpajang disini, prototipe versi pertama dari pedang cancer, senapan sagittarius, perisai Scutum dan yang lain lagi walau tidak semua konstelasi pemanggilan ada, mungkin karena pencipta prototipe bukan Aldor melainkan orang lain lagi sehingga tidak semua bisa disalin.
Suasana menjadi riuh, anak-anak berlarian kesana kemari, para karyawan menjelaskan secara terperinci kegunaan salah satu prototipe kepada rombongan pengunjung, dan kebisingian lain lagi. Ini membuat Aeus tidak bisa berpikir, dia harap datang ke hari kerja tempat ini akan sunyi.
Biar begitu, Aeus tetap bertahan memerhatikan prototipe-prototipe versi pertama ini yang malah menerbangkan memorinya ke medan pertempuran di Jeldan. Saat itu memang mimpi buruk, tembakan lalu jeritan, kematian dan kematian. Akan tetapi itu sudah lewat, pada akhirnya dia selamat.
Di bangku taman sendirian hanya dengan es batangannya. Dia termenung sejenak untuk berpikir apakah dia bilang saja pada Farhaz apa yang Starla kemarin katakan? Mungkin reaksi Farhaz akan biasa-biasa saja. Tetapi yang pasti dia juga tak akan pernah tahu jawaban semua ini. Apa itu Hypernova? Apa maksudnya? Memperbaiki masa lalu?
Aeus menghembuskan napas frustasi. Ternyata mencari jawabab dengan tergesa tidak membuahkan hasil lebih baik, mulai sekarang dia biarkan mengalir apa adanya saja.
Hari telah berganti malam di Adaroth, tapi dunia David masih terus berputar. Dia sedang berjalan di koridor pangkalan militer dengan langkah cepat melewati tentara yang melemparkan hormat padanya. Dia tidak membalas semua penghormatan itu, tidak sempat, tetapi dia berusaha menatap tegas mata bawahannya itu sebagai tanda menerima.
Langkahnya berhenti di depan pintu masuk salah satu ruangan. Dia terdiam sebentar, menarik napas terlebih dulu. Setelah tenang dia mengangkat tangan berusaha mengetok tapi pintu terlanjur terbuka lebih dahulu
"Masuk cepat," ucap Elmich di bangkunya.
Maka David langsung masuk dan duduk di depan jenderal Lucos itu, dibatasi dengan meja kayu lebar milik Elmich.
"Tutup pintunya Vet," ucap Elmich pada seorang Lucos berusia tiga puluh tahunan, berambut hitam, badannya besar dan tegap, dengan raut wajah tegas walau hanya dengan satu mata karena inda penglihatan lain harus diperban karena cacat perang.
"Aku tahu kau mengundang menteri pertahanan amerika, jadi tidak perlu basa-basi lagi diantara kita, apa maksudmu itu?" tanya Elmich dengan tegas.
"Aku tahu, tetapi masalah ini ingin ku selesaikan dengam cepat pak. Kita mengundangnya hanya untuk membahas program kerjasama kedepan, bukan untuk menuduh secara langsung." David terlihat ragu menjelaskan.
"Secara langsung? Apa maksudmu?" Satu alis Elmich naik.
"Aku mengundang tuan Mattis untuk membahas program kedepan kita pada awalnya, sembari menunggu tim yang kutugaskan memburu Malic dan mendapatkan kebenaran." Kini David berucap dengan tegas.
"Mengerjakan dua hal dalam secara langsung, aku tahu itu memang dasar sifatmu, tetapi kau sudah peringatkan," ucap Elmich dengan nada dingin.
David terdiam sesaat untuk berpikir. "Karena itu aku membutuhkan bantuanmu, kita akan melayani tuan Mattis sehingga dia tidak tahu kita sedang menyelidikinya hubunganya dengan ******* diam-diam, saat informasi dari tim penyergapan telah kuterima maka saat itu kita putuskan."
Elmich termenung mendengar penjelasan itu. Dia nampaknya juga sadar bahwa masalah serius ini harus ditanggapi dengan cepat dan solusi dari David mungkin adalah jawabannya. Tetapi masih ada yang mengganjal di jiwa tua miliknya, bagaimana hubungan yang sudah disusun susah payah nantinya?
"Baiklah, jelaskan padaku rencanamu terlebih dahulu." Ucapan Elmich membuat David dapat menarik napas lega.
"Kita akan melakukan pertemuan tertu-"
"Dimana?" Walau sudah tua, Elmich lidah dan bibirnya sangat cepat bereaksi seakan tahu apa yang akan terjadi.
"Di puri keluarga kerajaan, puri Raubell," kata David. "Apakah kita bisa meminjam sebentar?"
Elmich diam menimbang. "Bisa saja mengingat jabatan kita di militer dan putriku yang menikah dengan anak sang raja, ya, kurasa bisa. Tetapi apa tujuanmu?" David membuka mulut. "Tidak perlu, aku tahu kau ingin mengalihkan perhatian dengan keindahan tempat tinggal raja sendiri bukan? Lalu setelah itu bagaimana? Apa yang akan kau lakukan jika benar amerika bekerjasama dengan *******?"
Akhirnya, pertanyaan yang ditunggu. David sedikit menyeringai, walau dia tadi takut mendapat murka Elmich namun akhirnya rencana dia memang cukup bagus sehingga bisa disetujui.
"Kita akan membahas proyek kedepan kita bersama amerika dan menikmati teh hangat di sore hari. Sambil menunggu kabar kematiannya datang."
******
Kali ini updatenya sangat lama ya? maaf seki bagi yang udah nunggu cerita ini. Saya minta maaf sekali karena baru bisa update sekarang. Yah jika ada yang membaca sampai sejauh ini kalian memang terbaik, terimakasih atas dukungannya selama ini. Dan kemungkinan nanti saya akan adakan semacam fakta menarik tentang Supernova apakah ada yang tertarik? Atau mungkin tanya jawab jika memang ada. Saya rasa untuk sekarang itu saja.
Luciver, salam...