SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Misi Penyelamatan (2)



Sparrow adalah kode nama Ralon, dia yang sedari tadi diam dalam mobil box sudah boleh keluar. Seperti yang direncanakan dia bersama sembilan orang akan masuk dan membebaskan semua Supernova. Sederhana saja tapi nyawa taruhannya.


Ralon bersama dua orang didepan memimpin barisan panjang masuk. Waktu mereka hanya sepuluh menit sehingga harus bergegas namun tetap memperhitungkan tindakan agar nyawa mereka tetap tertanam dalam tubuh. Setidaknya untuk malam ini.


Gerbang depan yang penuh mayat pemberontak di lalui regu penyelamat sehening bayangan. Tentunya itu berkat regu penyerang. Setelah gerbang, jalan setapak lebar lurus yang diapit oleh taman minimalis. Di ujung jalan, pintu masuk ke tujuan mereka menunggu mereka.


Sparrow beserta kedua anggota disampingnya langsung menembak pemberontak yang sembunyi di bawah konter penerima tamu. Tepat ke kepala yang sedikit mencuat keluar. Setelah itu mereka sampai dan langsung menendang keras pintu hingga berdebum nyaring.


Ralon saat itu sudah siap menjadi tameng hidup dari peluru pemberontak. Beruntungnya mereka tidak menyambut mereka disana. Mereka tidak mungkin kabur, tidak dari remaja seperti mereka. Mungkin kata takut tepat untuk saat ini.


Regu penyelamat di depan masuk diikuti yang lain dibelakang. Koridor sempit berlantai marmer putih sesunyi kuburan. Lawan yang terlihat membuat mereka takut, akan tetapi setidaknya mereka yakin ada sesuatu yang membunuh mereka, sedangkan sekarang tidak ada wujud dan suara. Jika ada kematian tidak mustahil ada berpikiran itu ulah hantu atau semacamnya.


Melawan rasa takut dan berusaha menggenggam kepercayan yang memudar mereka berusaha terus melangkah maju. Setiap pintu yang tertutup disamping mereka selalu ditendang keras lalu dengan senapan membidik tanpa keraguan musuh yang bersembunyi di dalam. Namun nihil, pemberontak lenyap seperti asap. Tidak ada siapapun disini.


Seperti yang dipercayai tadi mereka tidak mungkin lari. Sepertinya ini trik mereka yang lain lagi.


Regu penyelamat di depan bertemu tangga ke lantai berikutnya. Baru sesaat kejutan muncul dari atas mereka, tiga pemberontak langsung menghujani mereka dengan peluru. Secepat mungkin mereka menjauh dari jangkauan serang pemberontak dan memilih bersembunyi ke ruang kosong. Seperti Ralon dan tiga orang lainnya yang sudah masuk ke tempat kecil penuh dengan dokumen di meja dan lemari.


Salah satu dari mereka ada tertembak di tangan dan bahu hingga berdarah deras membasahi seragam dia. Orang itu berusaha menahan jerit penderitaan dengan menggit bibir. Semua disana diam, tidak melakukan apa-apa pada orang itu saking sibuk mengatasi ketakutan mereka sendiri.


Suara peluru meluncur cepat di udara dan berderak menghantam lantai masih terdengar bak bagai badai menakutkan. Mereka disini hanya bisa diam, tidak disangka dari langit-langit terbuka celah persegi yang bergesar menunjukan kegelapan. Dari sana perlahan muncul moncong senjata yang mengincar prajurit muda ini.


Sial untuk pemberontak karena ada yang melihat dan langsung memperingatkan yang lain. Dengan senjatanya Ralon menembaki tempat itu. Berbeda dari yang lain karena mereka malah melongo ke tempat kematian mereka tanpa senjata apalagi pelindung. Tembakan Sparrow cukup berkesan hingga dapat menjatuhkan pemberontak diatas sana.


Ralon mendekati lubang persegi itu lalu melompat dengan senjata siap menembak, memeriksa tempat itu yang sudah kosong. Untuk sementara mereka aman.


Pemberontak lebih cerdas dari mereka. Tiga pemberontak di tangga hanyalah permulaan yang membuat mereka takut hingga tidak sadar masuk ruangan yang tadinya kosong ternyata tersimpan ular. Ini jebakan.


Nasib mereka disini hanya sedikit beruntung. Apakah yang sempat masuk ruangan akan menjumpai ajal atau mereka dapat bertahan. Banyak perdebatan di hati mereka saat ini seperti memikirkan keselamatan sendiri daripada orang lain. Itu keegoisan yang tidak bisa disalahkan apalagi disaat seperti ini.


"Dengarkan aku!" seru Ralon. "Kita akan keluar lalu mencek tiap ruangan dekat sini jika kalian melihat lubang persegi jangan katakan apapun langsung tembak saja, kalian paham!?" Di akhir kata Ralon tadi sempat kehabisan napas tapi dia tetap berusaha terdengar lantang.


Semua disana tidak menyahut. Ralon tidak ingin mengambil pusing, mereka memiliki telinga dan otak yang sangat tepat digunakan saat ini jika ingin hidup. Dia melangkah ke pintu lalu membukanya.


Pemberontak diatas sana tidak lagi berkoar dengan senjata miliknya, tidak juga turun dari tangga kesini. Itu kesempantan untuk Ralon yang langsung menghampiri pintu di depannya dan membukanya. Ada lima orang dan semua masih bernapas dan gemetar ketakuatan.


Tanpa basa basi dia menembaki lubang diatas yang baru saja terbuka itu. Tidak tahu apakah mengenai target dia terus menembaki sampai sedalam mungkin. Dia baru berhenti sampai melihat mayat pemberontak jatuh keras menghantam lantai.


Dia keluar dan mendapati regu penyelamat ternyata banyak berhasil selamat dan kini berdiri di koridor. Setelah membersihkan ular yang bersembunyi sekarang musuh nyata mereka.


"Aku bisa memancing mereka." Seorang perempuan berseragam Lucos berambut coklat panjang lurus berkata. "Aku membawa perisai barier Perseus."


Ralon sejenak berpikir. "Baiklah, aku punya rencana, kau." Sparrow menunjuk perempuan Lucos tadi. "Kau akan mendatangi mereka, kuharap kau bisa berlari secepat mungkin. Kami akan berada di belakangmu, menembaki mereka yang sudah teralih perhatiannya. Satu hal lagi, aku ingin unit yang ku atur ke serangan jarak dekat berada di belakang tameng kita."


Gadis itu menekan lempengan logam di pergelangannya. Barrier tercipta. Mereka bersiap.


Gadis Lucos berlari diikuti empat prajurit muda Xordas dengan pedang Cancer yang mampu membelah semua jenis logam dengan mudah. Tembakan melaju kearahnya dengan kencang tapi dia berusaha tetap mendaki tangga naik menuju tempat Pemberontak.


Perhatian pemberontak sungguh teralih. Ralon beserta empat orang menembaki pemberontak hingga mati ditempat lalu mereka semua langsung mendaki cepat menyusul.


Medan pelindung gadis itu akan mencapai batas, begitu banyak serangan di ujung tangga yang berada di koridor, lima Pemberontak menyerangnya bertubi-tubi. Barrier mulai menampakan retakan kecil hingga besar secara bersamaan.


Empat anggota khusus yang bersenjata pedang melesat mencari pemberontak yang bersembunyi dalam ruangan diikuti tim penyelamat lainnya.


Dengan pedang ramping mereka tidak perlu mengetuk atau menendang, mereka membelah gerbang selebarnya sehingga penembak Supernova secepatnya menyerang sembari tetap maju menuju sel tempat para Supernova lain ditangkap.


Koridor dilantai ini belum bisa dikatakan aman, tapi pemberontak yang ada sudah dikirim ke sang pencipta.


"Dimana selnya?" tanya Ralon entah pada siapa karena perhatiannya jatuh ke jam tangan miliknya.


"Belok kiri lalu lurus saja lagi," ucap salah satu Xordas yang sedang menyeka keringat.


"Kalau begitu ayo!" Ralon maju diikuti yang lain.


Mungkin permainan di awal dikuasai pemberontak tapi sekarang tidak lagi. Dua pemberontak diletakan di tempat tanpa perlindungan sehingga baku tembak terjadi melawan tujuh orang yang tersisa. Pemberontak kalah tapi karena prajurit muda Supernova juga datang tanpa tameng satu mayat jatuh disamping mereka. Kini tinggal enam prajurit.


Orang yang tersisa tanpa keraguan maju menyerang. Ada empat pemberontak lagi yang berdiri tanpa perlindungan di depan mereka, pertempuran terjadi tapi karena mereka berada dipersimpangan para prajurit muda itu bisa bersembunyi sehingga mereka menang telak.


Mereka maju dan sampai pada pintu ke ruangan sel. Ralon yang dikejar waktu melakukan hal gegabah, dia membuka pintu dan menyelonong masuk sehingga satu pemberontak yang ada diujung ruangan menembaki dia tepat ke dada. Prototipe rompi Hercules miliknya sudah mulai lemah, serangan itu berhasil menembusnya.


Personil dibelakangnya sadar langsung membalas serangan. Sama seperti pemberontak lain dia tidak punya perlindungan sehingga dengan mudah mati.


Lima orang tersisa langsung masuk dan memeriksa setiap sel lalu membukanya gerendelnya dengan menembak atau menebas pakai prototipe Cancer. Dua lagi mendekati Ralon untuk menemani ajalnya yang sudah dekat.


Dua orang itu menyeret Ralon menjauh dari pintu masuk. Dia tidak bisa lagi protes walau sakit yang menyelubunginya tidak bisa diukur. Dengan mulut penuh darah dia berucap, "waktu... kita sudah habis." Di terbatuk darah. "Cepatlah!" Walau terdengar lemah dua prajurit muda disampingnya sadar akan kekuatan yang perlu dikeluarkan hanya untuk kata itu.


Prajurit senior Supernova sebenarnya mulai terkumpul di ruangan itu dengan keadaan lemah. Biar begitu kebebasan didepan mata mereka, semangat untuk hidup lagi membuat mereka berdiri tegak kali ini.


Tersesak dalam gerombolan membuat Aeus ingin maju. Menyingkirkan beberapa tentara Supernova yang kelaparan cukup mudah baginya walau dia juga dalam keadaan lemah akibat kelaparan. Setelah berada di depan dia bisa melihat pelajar Supernova yang membebaskan mereka saat ini. Setiap mata dan wajah tidak menunjukan rasa bangga sedikitpun, lebih kearah lelah dan muak.


"Tidak ada waktu cepat ikuti kami keluar." Xordas yang berkata itu langsung berlari keluar diikuti prajurit muda dan mantan tawanan pemberontak.


Ruangan itu mulai sepi menyisakan Aeus terpana pada seseorang di sudut ruangan dekat pintu. Ralon terpejam dengan dada dipenuhi lubang yang masih mengucurkan darah.


Aeus baru mengenal orang ini di ruang bawah tanah. Dia masih ingat wajah lama Ralon, dibandingkan ini... dia ingin sekali tidak percaya itu namun dia tahu ada lebih banyak nyawa mati saat ini. Matanya mulai berair mengingat ini terjadi karena ide bodohnya.


"Jangan diam saja disana!" suara itu milik seorang gadis Xordas berwajah asia namun matanya hijau lebar, berambut biru laut lurus sepanjang bahu dengan bandu bewarna pink. Di tangan dia membawa sebuah pedang ramping panjang bewarna merah, sebuah katana Cancer. "Kuyakin kau punya tugas dengan prototipe Auriga."


Perhatian Aeus teralihkan. "Siapa kau?" Dia teringat ucapan Farhaz tentang seseorang yang akan membantunya dalam tugas ini.


"Panggil aku Sakura."


*****


Akhirnya hari ini bisa update lagi, terima kasih sudah membaca cerita yang tidak seberapa ini. sama seperti sebelumnya saya masih mengharapkan kritik dan saran agar saya bisa lebih baik kedepannya, dan tambahan lagi, kalau benar-benar suka cerita ini bisa di share ke media sosialnya agar bisa banyak dibaca.


Dan kalau berkenan mau follow ig Author yang bernama @Rahmn_q di persilahkan, disana emang akun pribadi tetapi saya juga sering bagi quotes atau cerpen. kalau minta follback bisa juga, tinggal dm aja ya.


saya Luciver berterima kasih sudah membaca Supernova: Raven ini. tetap semangat ya!