
Peta Jeldan menjadi barang wajib di atas meja Owen. Kertas petunjuk arah itu sudah ada beberapa coretan apalagi disekitar penjara daerah. Sejauh ini masih tahap rencana, tapi Owen berkata ada kemungkinan jadi dia harap sebagai prajurit Mira dan yang lain harus memiliki harapan.
Dalam peta, penjara itu punya wilayah luas serta didepannya tertutupi oleh tembok bata yang kokoh. Disampin kiri ada sebuah salon kecantikan dan sebelahnya lagi rumah hunian bertingkat dua. Untuk itu Owen mengirim salah satu dari perwakilan warga Jeldan yang berpihak pada Supernova kesana untuk membujuk pemiliknya agar memperbolehkan tugas pengintaian disana. Selain itu rute di depan penjara yaitu pertigaan diperhitungkan juga.
Jalan raya pertigaan itu seperti huruf T, tepat berada di depan gerbang masuk penjara. Disanalah mereka akan menyerang, dengan serangan kejutan. Rencana masih belum matang dikarenakan tempat mereka akan serang ini baru diketahui. Mereka perlu informasi dan informasi untuk menyempurnakan langkah.
Wajah Owen memang nampak begitu yakin, namun keraguan masih ada untuk melahap dirinya jika gagal. Kekuatan pelajar Supernova disini memang rendah, ditambah jumlah mereka sedikit. Tunjangan senjata mereka juga tidak banyak, pengiriman senjata dari bunker oleh Jendral Jatson sayangnya tidak membantu banyak kali ini.
Satu-satunya cara adalah meakali dengan prototipe. Kemampuan benda itu cukup bervariasi, asalkan mengunakan tepat sasaran maka tidak ada bedanya dengan benda asli dari konstelasi pemanggilan.
Owen hanya bisa menunggu informasi tambahan datang padanya mengenai berapa jumlah pemberontak disana, senjata jenis apa dipakai, dan seberapa ketatnya penjagaan. Yang mana data itu tidak mudah didapatkan, dan nyawa selalu dipertaruhkan.
Sejak malam tadi saat Aeus ditawan pemberontak Owen tidak kunjung menutup mata untuk waktu lama. Alasannya kepada orang lain adalah susah tidur, sedangkan dalam hati nuraninya dia merasa enggan diam saja saat ada prajurit dia yang berusaha berani melawan ketakutan di sekelilinnya.
Walau seorang Supernova, pemimpin pasukan kota Jeldan, dan pernah mendapat gelar pahlawan dia tetap manusia dengan satu jiwa. Dengan bersandar pada kayu keras kursi di kantor Owen mulai memejamkan mata. Barangkali alam mimpi setidaknya dapat menyejukan pikiran. Tak lama dia terlelap tenang diatas kursi.
Sehari tanpa Aeus dilewati. Akhirnya informasi datang, dimulai dari jumlah pemberontak di penjara itu sekitar empat puluh lima orang bersenjata dan nampaknya terlatih. Waktu pemberontak berjaga di gerbang juga diperhitungkan, saat malam setidaknya tiga puluh personil akan menjaga gerbang masuk. Dan beberapa informasi lain mengenai penjara tersebut.
Informasi itu sederhana tapi berguna bagi Owen. Dia sudah bisa melihat masa depan dengan rencana miliknya. Langkah berikutnya dia mengumpulkan orang-orang penting di kantornya lagi.
"Kita akan melakukan serangan dua hari lagi, tepat pada tengah malam saat jalan itu kosong oleh warga sipil." Owen menyilangkan tangan seraya menatap mata-mata tidak percaya itu. Yang Owen maksud Mira, Tiffany, Ralon, dan tiga orang perwakilan kota Jeldan.
"Apakah itu tidak terlalu cepat?" Laki-laki berusia dua puluh delapan tahun berambut hitam kecoklatan, wajahnya ada sedikit tirus dan mata ungu dia cukup terang. Dia adalah perwakilan walikota kota Jeldan ini. Fred.
"Kalau begitu itu akan menjadi serangan kejutan, Fred," jawab Owen singkat.
"Kalau begitu apa rencananya?" tanya Tiffany.
Owen berusaha menatap delapan orang diruangannya setenang dan sekokoh tembok besi. "Sedang kuusahakan."
Ruangan minim cahaya yang setiap sudut terbuat dari batu kasar serta banyaknya debu yang beterbangan adalah tempat dimana lima pelajar Supernova berdiri memakai topeng gas dan senter tambang di kepala sedang sibuk mengeruk bebatuan dengan bor dan sekop. Jumlah orang disana tidak banyak, dan semakin sedikit yang bisa saling dilihat karena debu menutupi seluruh ruang.
"Hei cepatlah bekerja, gunakan tenagamu," sergah seorang Xordas perempuan memperingatkan Xordas lain. "Jangan terlalu keras juga, jika kau mengikis seperti itu maka akan tembus keluar."
"Memangnya seberapa besar kita harus menggali ini? Sudah lima meter panjang terowongan ini," keluh Xordas lain.
"Pertanyaannya bukan seberapa besar tapi seberapa banyak."
Sedangkan di sebuah bengkel dalam garasi semua nampak kusam dengan setiap perkakas dan mesin tertutup noda hitam oli begitu juga lantai dibawah mobil dimana sang montir berada disana sedang memperbaiki.
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Sang montir itu merasa bingung, karena seingatnya pintu garasi miliknya tertutup.
"Apa yang kau cari? Bengkel ini tutup." Suara montir agak teredam dibawah sana.
"Tapi selalu buka untuk Supernova bukan?"
Montir itu membeku kemudian berusaha keluar untuk berdiri menatap pengunjung ini. Seorang perempuan berambut hitam panjang, bermata biru, mengenakan jaket kulit warna coklat.
"Jasmine? Aku tidak tahu kau bisa selamat kesini." Montir itu mendekati gadis yang bernama Jasmine ini. "Ada apa?"
"Sudah kuserahkan ke anakku. Kau kesini bukan untuk bertanya bukan? Apakah motormu rusak?" Montir itu mengambil lap diatas meja didekatnya, langsung menyeka wajah kemudian tangan.
"Tidak paman, aku kesini ingin minta bantuan untuk meminta motor bekas yang masih berfungsi."
Montir itu langsung menghisap keras udara di hidungnya saat mendengar ucapan itu. Tapi tanpa pikir panjang berkata, "hm... berapa yang kau inginkan?"
Senyum merekah diwajah Jasmine. "Kami hanya perlu tiga."
Suasana dalam kantor Owen kembali mencekam. Tiga Supernova perwakilan berdiri menanti dengan tidak sabar apa yang akan Owen rencanakan dengan segala kekurangan yang ada ini.
"Ada tiga mobil box yang akan datang dari ketiga jalur di gerbang depan penjara daerah. Mobil itu akan menyamping, mengepung gerbang depan penjara." Owen diatas kursinya.
"Hanya gerbang depan? Kenapa kita fokus menyerang itu?" tanya Tiffany.
"Kita akan menarik perhatian mereka untuk melawan kita disana, setelah kita berhasil mengurangi jumlah pemberontak penjaga disana, maka yang di dalam akan keluar juga untuk membantu, kita akan bertempur habis-habisan disana, sepuluh menit kemudian tim penyelamat masuk."
Semua diam mendengarkan, itu rencana cukup bagus memancing pemberontak menghadap mereka di area yang sudah diatur jadi tidak perlu lagi susah payah mendatangi mereka untuk mati. Hanya saja apakah kemampuan mereka cukup? Owen berkata seperti itu seperti sudah melihat pertempuran mereka saja. Katakan saja naif, barangkali nekad, atau mungkin kedua-duanya.
"Bagaimana dengan markas utama pemberontak? Mereka akan mengirim sepasukan pemberontak yang kelaparan untuk melahap kita." Ralon terdengar sedikit histeris.
"Dengan alat canggih kita selain prototipe, proyektor tiga dimensi. Kita akan memprogram agar menampikan gambar mobil lengkap dengan sepaket Supernova gadungan sehingga mereka kira itu adalah kita yang sebenarnya hanyalah citra buatan."
"Alat itu tidak bisa berjalan sendiri, bagaimana untuk itu?" Ralon menentang.
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari motor, kendaraan itu kita akan pasangkan prototipe Auriga sehingga bisa kita kendalikan dari jarak jauh," ucap Owen santai.
"Tetap saja penyamaran itu tidak asli," kata Tiffany singkat dan tepat.
"Kita tidak bisa melakukan apapun untuk itu." Owen menunduk lalu mendongak ke semua orang diruangan dengan yakin berucap, "waktu kita benar-benar singkat jadi kuharap kalian membunuh sebanyak kalian berkedip nanti."
"Setelah pemberontak terkejut lalu mati, regu penyelamat akan masuk?" tanya Ralon.
"Tepat, untuk itu aku menunjukmu menjadi pemimpin regu penyelamat yang berjumlah lima belas orang. Regu penyelamat tidak berrtempur permulaan, kalian tetap bersembunyi dalam mobil, setelah perintah maju muncul, langsung bergerak."
Ralon langsung berdiri tegak lalu mengangguk tegas. "Saya akan berjuang keras Komandan!" Janjinya sebagai laki-laki dan Supernova.
"Setelah itu?" tanya Tiffany lagi.
"Kita kabur dengan menggunakan mobil dalam penjara membawa semua Supernova ke terowongan rahasia," jelas Owen. "Setelah itu kita bisa mengatakan tugas kita selesai."
Andai saja nanti begitu mudahnya, maka Tiffany dan Ralon tidak perlu terlihat khawatir. Ucapan Owen sama sekali tidak nampak dusta, seakan yakin sekali akan terjadi seperti itu. Kenyataannya banyak pertempuran tidak sesuai ekspektasi, apakah nanti akan begitu?
Untuk saat ini tidak ada jawaban pasti. Kabut hanya akan menuntun ke kabut lain yang lebih pekat. Diam adalah pilihan terbaik, menunggu angin menyapu semua itu nanti. Tidak diragukan lagi di setiap pertempuran akan ada yang gugur, dan saat itu terjadi badai akan datang menyambut yang selamat.
Persiapan demi persiapan dilakukan hingga sampai saatnya bulan tergigit meninggi bergabung bersama para bintang. Rencana yang sering dibahas akan diwujudkan. Semua yang ikut misi ini menunggu dengan jantung berdetak keras.