
"Selamat pagi tuan yang terhormat, perkenalkan namaku David Troy, Jenderal Xordas dari Supernova."
Tidak perlu penjelasan lebih lanjut lagi karena nampak dari wajah sang nakhoda yang terkejut bahwa orang terpampang di layar komputer ini bukan insan sembarangan. Seseorang dengan pangkat yang selangkah lagi menjadi raja, seseorang yang dimana pun disegani, dan bagi jenis kriminal seperti pria tua ini sangat amat ditakuti.
"Kurasa kita tidak perlu berbasa-basi lagi bukan? Aku tahu di salah satu peti kemas di kapal ini diisi dengan manusia yang akan dikirim ke Lebanon, Somalia, dan Irak bukan? Yang ingin kubahas adalah apa yang kau ketahui mengenai majikanmu?" tanya David tegas dengan mata terkunci pada sang nakhoda.
"A-aku tidak tahu maksudmu," jawab sang nakhoda gemetaran. "Ma-ma-majikan yang mana?"
"Kau mau bermain denganku ya?" David menyeringai kejam. "Biar kuperjelas, majikanmu yang bernama Anderson Wright adalah anak buah dari adik ketua ******* dunia, jika kami bisa menangkap dia maka akan kami jatuhkan para ******** itu, jadi akan kutanya sekali lagi dimana dia!" Jenderal itu hampir berteriak.
Sang nakhoda menarik diri mundur karena ketakutan, akan tetapi dia tahu dia sedang terikat di bangku. Tidak ada jalan keluar, dia sudah tamat.
"Ku jamin jika kau mau bekerja sama maka masa kurunganmu akan berkurang." Kini David berbicara agak santai berusaha membangun korelasi yang lebih baik.
Nampaknya kalimat itu memikat sang nakhoda, dia sempat menunduk berpikir walau masih bergetar ketakutan. "Bagaimana dengan anak dan istriku?"
"Kau tidak bisa bertemu lagi dengan mereka, tapi aku akan memberi kompensasi jika kau bekerjama dengan baik maka kuperbolehkan bertemu hanya lima menit untuk mengucapkan perpisahan."
Wajah sang nakhoda yang awalnya tidak terlihat keriput, kini jelas di bawah mata dan pipinya ada garis lipatan kulit yang panjang. Kesedihan melemparnya jauh ke masa tua. "Baiklah." Pandangan pria tua ini mulai berair. "Dia memiliki banyak tempat tinggal, untuk bersembunyi seperti penjahat lain, terakhir aku bertemu dengannya di Brooklyn. Kumohon, hanya itu yang aku tahu."
David berpikir untuk sejenak lalu berkata, "Terima kasih banyak, bantuanmu akan dihargai bila terbukti." Kemudian David mengangkat tangannya menuju telinga dimana sebuah interkom tergantung disana. "Lakukan pengintain segera."
"Ka-kau langsung menangkapnya?" Sang nakhoda itu memberanikan diri bertanya karena terkejut bahwa walau dengan informasi baru saja didapat mereka akan melakukan penangkapan.
"Kami sudah memantau Anderson Wright tapi dia cukup rapi melakukan pengalih perhatian, dia memiliki tiga tempat persembunyian seperti katamu, semua timku sudah berada di ketiga tempat itu diam-diam, kami hanya perlu menentukan target sedikit lebih jelas lagi."
Sang nakhoda itu hanya mengangguk masam lalu menunduk, menunjukan penyesalan yang tidak berarti.
Tiba-tiba pintu terketuk dan Lucos tadi masuk langsung memberi hormat pada Jenderal David melalui perantara komputer.
"Lapor Jenderal, setelah kami memeriksa kapal ini kami menemukan tiga puluh perempuan yang siap di perdagangkan."
"Bagus, berikan mereka perlengkapan dan makanan seperlunya, putar balik kapal ini kembali ke pelabuhan," perintah David.
"Laksakan," jawab Lucos itu seraya menunduk patuh. "Tapi saya juga mendapat hal menarik, ada sepuluh orang lagi, kali ini laki-laki dan... dalam pengaruh obat bius." Lucos itu mencuri pandang ke arah sang nakhoda.
David memajukan tubuh agar raut keseriusannya bisa dibaca. "Katakan padaku mengapa laki-laki juga kau jual? Untuk dijadikan seorang ******?"
"Kau tahu aku hanya mengantar," ucap sang nakhoda seperti memohon.
"Lalu mengapa di bius?" sela Lucos itu.
"Karena aku diperintahkan begitu, lagipula jika mereka sadar maka mereka akan melawan. Berbeda dengan kaum perempuan yang hanya diam pasrah saja."
"Cukup masuk akal," ucap Lucos pada sang nakhoda tiba-tiba. "Tapi kenapa tiga diantara calon budak laki-laki itu adalah mantan prajurit amerika yang tewas beberapa tahun lalu?" Pertanyaan Lucos ini juga menimbulkan keheranan bagi David disana.
"Apa maksudmu?" Kali ini David bertanya pada Lucos. "Disini ada tentara amerika yang tewas?"
"Maaf tidak memberitahu anda terlebih dahulu," ucap Lucos itu. "Kami agak susah menentukan tanda pengenal mereka karena ternyata catatan mereka dibuang karena telah tewas, kami meminta data kematian oleh PBB langsung untuk mengecek mereka. Hasilnya tiga veteran yang telah tewas kembali hidup di kapal ini."
"Apa maksud semua ini." David menatap tajam sang nakhoda.
Sang nakhoda itu dilanda kepanikan lagi. "A-a-aku hanya seorang pengantar, aku tidak tahu sama sekali."
"Kurasa informasi ini akan kita dapatkan tidak lama lagi setelah Anderson tertangkap. Permisi tuan-tuan." David berdiri pergi lalu diikuti layar komputer itu berkedip menghitam.
Malam di kota Adaroth begitu hening apalagi di suatu rumah kontrakan kecil dari beton bewarna biru muda dimana itulah tempat tinggal Aeus sekarang. Hunian itu memiliki satu kamar, ruang dapur dan kamar mandi yang langsung terhubung.
Beberapa kardus berisi buku atau pakaian yang masih terbuka dibiarkan tidak tersentuh di lantai sedangkan Aeus sendiri berada di kasur sederhananya tengah terbaring menatap lanngit-langit.
Dia baru saja pindahan siang tadi jadi dia agak kelelahan sekarang menyiapkan barang serta menyusunnya disini. Hanya beberapa hal lagi yang belum diurus dan itu tidak terlalu penting menurutnya. Jadi kenapa tidak sedikit bersantai?
Sembari terbaring di kasur dia juga berpikir mengenai saran dari Farhaz mengenai bicara pada kecerdasan buatan yang tidak dia tahu namanya itu. Ide itu sepertinya cukup bagus tetapi Aeus selalu ragu apakah berhasil.
Maka dari itu dia mengaktifkan mode Stella, menutup matanya kemudian mencoba rileks. Entah kapan dia tertidur tapi dia sudah berada di tempat gelap yakni dalam pilirannya sendiri.
"Kau melakukan panggilan, ada apa?" Itu suara Kecerdasan Buatan yang berupa seorang gadis.
"Kau bilang bisa membaca pikiranku bukan? Kenapa kau harus bertanya?"
Gadis itu tersenyum. "Benar sekali Raven, aku tahu apa yang kau pikirkan, dan aku juga tahu kau ragu tentang itu. Sampaikan saja maka akan kulihat apakah kau yakin bertanya atau tidak."
Gadis itu benar, Aeus ragu.
"Sampaikan saja Raven, pada akhirnya nanti kau akan menyampaikan banyak hal."
Aeus menyakinkan diri menatap mata gadis itu yang nampak asli, nyata dan hidup. "Aku tidak dapat memanggilmu kecerdasan buatan terus menerus atau gadis misterius... tidakkah kau punya nama? Kalau kau sebuah perangkat lunak kau pasti punya kode bukan? Kumohon sebut saja kau mau kupanggil apa?"
Tidak diduga kecerdasan buatan itu terkejut walau ekspersinya akan cepat memudar kembali. "Tidak," dia nampak menimbang sesuatu. "Aku tidak memiliki itu."
"Pasti ada," ucapan Aeus begitu menyakinkan.
Gadis itu memalingkan wajah dari Aeus, masih terlihat berpikir. "Baiklah kau bisa panggil aku Starla."
Aeus sedikit terkejut karena ternyata berhasil. "Nama yang bagus."
"Baiklah jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Starla menatap Aeus dalam-dalam.
"Rahasia besar, tentang kau," kata Aeus tegas.
"Aku tidak diprogram untuk memberitahukan rahasia." Mata Starla kini terlihat menusuk.
"Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk memberitahu raja, kalau kau mau membantuku maka aku akan membantumu."
"Kau tinggal katakan saja pada sang ra-"
"Tidak semudah itu," sahut Aeus langsung dengan wajah frustasi. "Dia seorang raja sedangkan aku hanya prajurit kecil. Bantu aku memahami sesuatu, apapun itu tentangmu."
Perkataan itu membuat Starla terdiam. "Akan kujawab apa yang bisa kujawab."
"Terima kasih," kata Aeus hampir tersenyum senang. "Pertanyaan pertama, kau pernah bilang Stardet dalam tubuhku ini untuk berkomunikasi antar pikiran bukan? Berkomunikasi hanya denganmu?"
"Benar."
"Karena Stardet adalah ciptaan dari Profesor Aldor maka berarti kau ciptaannya?"
"Aku sama sekali bukan ciptaan dia." Starla menggelengkan kepala.
"Lalu bagaimana bisa kau terhubung dengan alat ciptaannya?" Aeus kebingungan.
"Faktanya, akulah yang menciptakan profesor Aldor, Raven," ucap Starla tegas.
Saat itu juga Aeus membelakkan mata hitamnya. Seharusnya dia tidak bertanya, dia melihat kabut saat melihat Starla, kini dia memasukinya.
Apakah ini suatu kesalahan?
******
Bagaimana dengan episode kali ini? Bingung bukan? Seperti sebelumnya saya sangat menganjurkan untuk like kalau suka, atau beri semangat, kritik, dan saran di kolom komentar. Terus selalu dukung cerita dan saya hampir lupa untuk berterima kasih kepada pembaca yang masih setia mengikuti Supernova ini. Saya harap saya masih sebaik yang dulu atau lebih bagus, yang terpenting saya bukan apa-apa tanpa kalian. Sekali lagi terimakasih.
Dan oh saya juga ada sedikit ilustrasi tokoh Mira dan Farhaz. Bagaimana menurut kalian?