SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Danau Di Langit



Katana, bunga Sakura, dan wajah asia yang cukup kentara. Bahkan bagi pribadi seperti Aeus masih bisa menebak orang ini adalah orang jepang. Setidaknya keturunan jepang. Pertanyaanya adalah bagaimana bisa? Dia tidak ingin terdengar rasis tapi Supernova adalah prajurit yang berasal dari negara Aproud.


"Jangan melongo saja, cepat bergerak." Dengan katana bewarna merah di tangan Sakura pergi.


Aeus tidak punya pilihan, dia nengikuti Sakura dengan berlari. Daerah diatas siku dia masih menjerit pedih saat dia ikut memainkan tanganya maju mundur saat berlari. Dia memilih untuk diam, lagipula gadis ini bilang dia ingin membantu Aeus yang artinya salah satu penderitaan akan berkurang sebentar lagi.


Keluar dari sel tetap membuat pemandangan Aeus tidak menjadi lebih baik. Sebab jumlah mayat bertikar darah serta berbau amis makin banyak terkapar mengerikan dari pemberontak maupun Supernova. Mata Aeus yang sudah ingin menangis saat melihat Ralon kini tidak mungkin dihalangi lagi. Bulir air mata meluncur di pipinya. Namun dia berusaha menggelengkan kepala, tetap ikut Sakura berlari.


Sakura yang berlari di depan melambat ketika bertemu dua persimpangan ke kanan dan kiri. Dia berhenti untuk menimbang lalu mengambil jalan sebelah kiri.


Gadis itu cepat Aeus akui. Bahkan saat sakura tadi berhenti dia tetap tidak bisa menyusul. Kalau begitu baguslah, sebab dia tidak perlu melihat mata merah Aeus serta pipi basahnya yang pastinya memalukan bagi seorang laki-laki.


Koridor lain kini membentang lurus. Kali ini tidak gadis itu abaikan saja, dia memeriksa setiap ruangan. Dia tidak sama sekali takut, dengan pedang ditangan dia selalu siap mencincang musuh yang bersembunyi jika ada. Syukurlah sejauh ini dia tidak menemui satupun pemberontak.


Pintu ke tujuh terletak hampir di ujung koridor membuat Sakura terdiam. Dia mengalih pandangan ke Aeus. "Ini ruang komunikasi mereka, cepatlah!"


Aeus bergegas masuk melewati Sakura di ambang pintu menjaga. Dia tidak sempat menyeka air mata namun Sakura nampaknya tidak peduli.


Sakura dan Aeus masuk bersamaan. Di ruangan tidak berpenghuni itu terhampar meja panjang didekat dinding, dengan tiga komputer di atasnya yang masih menyala. Sekarang tinggal keluarkan prototipe Auriga di tangannya dan tempelkan, maka selesai.


Aeus menyisingkan lengan hitam seragam miliknya sampai bahu. Memasukan prototipe Auriga ini begitu menyakitkan, dan Aeus rasa tidak jauh berbeda dari mengeluarkannya. Dia berpaling ke Sakura.


"Apakah kau punya belati?" tanya Aeus antara yakin dan tidak yakin untuk apa yang akan dia lakukan.


Sakura sedikit menungging memperlihatkan pantatnya—maksudnya belati ungu gelap yang tersangkut disana. Aeus tergoda meraihnya namun sadar bahwa jika diperhatikan benda tajam itu nampak terkenal di ingatannya. Ternyata itu sebuah prototipe.


"Itu belati Scorpion." Prototipe belati Scorpion jika yang aslinya hanya butuh sayatan kecil untuk meracuni setidaknya benda ini butuh sayatan besar dan dalam.


"Aku tidak punya yang lain," balas sakura singkat. Lalu dia termenung memandangi katananya.


Firasat buruk entah kenapa muncul dikepala Aeus. "Jangan katakan kau akan menggunakan itu." Itu bukan pertanyaan.


Sakura mendekati Aeus dengan katananya. "Kau tidak punya pilihan." Sakura menjulurkan tangan lalu menarik pergelangan tangan Aeus.


Aeus ketakutan seperti anak kecil yang sedang berhadapan dengan dokter berjarum suntik di tangan. Saking takutnya rasa sakit mengiris dapat dirasakan lebih dulu padahal katana itu saja belum bergerak sama sekali.


"Aku ahlinya, percayalah," kata Sakura pelan. Dia mengangkat katananya ke atas siku kiri Aeus lalu mengirisnya secepat mata berkedip.


Perih yang amat sangat membuat Aeus sempoyongan. Jika tidak ada Sakura yang menahannya sekarang kemungkinan bibir dia akan mencium lantai.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura masih memegangi Aeus.


Dengan kekuatan penuh dia kencangkan kaki untuk berdiri. Setelah badannya sudah seimbang dia keluarkan prototipe Auriga dari dalam tubuhnya sampai tangannya kini berlumuran darah dia sendiri. Agak tertatih dia mendekati komputer lalu menempelkan Auriga di belakang monitor. Misi rahasia yang Farhaz berikan sudah selesai.


"Apakah... kau membawa prototipe Ophiucus?" Dari nada Aeus yang tertahan bisa dipastikan dia masih menderita.


"Tidak." Sakura menggeleng. "Prototipe itu sangat dibutuhkan saat ini di markas rahasia baru kita. Tapi...." Sakura mengeluarkan gulungan kecil putih, sebuah perban.


Aeus mengambilnya lalu tak lama terdengar bunyi besi jatuh keras. "Suara apa itu?"


Mereka berdua tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia tidak suka akan hal itu.


Di area parkir penjara daerah kumpulan Supernova sedang naik ke mobil patroli polisi yang terparkir tidak terpakai. Mereka sudah memenuhi tiga mobil dengan semua Supernova dari prajurit muda atau para supernova mantan tawanan pemberontak. Tidak lama setelah bunyi desingan mesin terdengar lampu kendaraan itu menyala, mereka berangkat.


Mereka maju lalu berbelok ke kiri melewati jalan setapak sempit merusak tiap semak taman di sampingngnya. Didepan mereka lebih bahaya lagi. Gerbang depan penjara daerah tidak dibuat khusus untuk mobil, begitu juga jalan setapak ini. Tetapi mereka tetap lewat sana, membuat pintu gerbang depan terpaksa lepas hingga palang tanda selamat datang ikut roboh.


Mereka sampai di pertigaan yang terhalang mobil box yang sudah berlubang seperti sarang lebah. Seperti nasib taman dan gerbang depan tadi mobil para Supernova itu menabrak mobil box itu, kali ini ketiga mobil itu berpisah menelusuri jalannya masing-masing.


Di jalan raya arah selatan Jeldan empat mobil jip berisi masing-masing tiga puluh pemberontak yang bersesakan sedang melaju menuju arah utara, ke penjara daerah yang dikabarkan diserang oleh hal yang membuat kepala bergeleng, kumpulan bocah.


Mereka baru saja berangkat setelah mendengar kabar bahwa pemberontak disana kewalahan. Menurut informasi mereka datang dengan tiga mobil box lalu menyerang gerbang depan, anehnya pemberontak tetap kalah. Tidak ada lagi pilihan, pemberontak yang berada di markas utama yaitu di gedung walikota langsung menancap gas pergi membantu.


Pengejaran itu hanya dilakukan oleh tiga mobil pemberontak sedangkan satu tetap pada jalan menuju penjara daerah.


Aeus sudah memperban lengan kirinya seadanya. Dia dan Sakura sama sekali tidak tahu menahu tentang hal medis. Setidaknya untuk sesaat pendarahan Aeus berkurang.


Kemudian mereka melanjutkan pergi yang Aeus yakini bukan ke gerbang depan penjara, malah ke area belakang. Ada alasan tersendiri bagi Sakura tentunya namun Aeus juga bertanya apakah Sakura tahu bahwa penjara ini di kepung oleh dinding tinggi dan tebal, satu-satunya jalan hanya di gerbang depan.


Setelah koridor panjang akhirnya mereka sampai di ujung dari penjara ini. Sebuah halaman kecil, didepan mereka ada sebuah dinding beton tinggi dengan sengaja di mahkotai kawat berduri.


"Sekarang apa idemu?" Aeus melirik Sakura lalu kembali ke dinding tinggi.


Tangan Sakura langsung melesat masuk ke tas kecil di pinggangnya kemudian dia mengeluarkan sepasang sarung tangan berwarna coklat bercakar. Aeus ingin menebak prototipe apa lagi kali ini tapi pikirannya sudah kacau.


"Kau bisa melubangi dengan sarung tangan bukan?" Sakura baru sadar lawan bicaranya adalah seorang pelajar Unvon. "Mudah saja kau tinggal mengeruknya"


Penjelasan singkat tidak membuat Aeus mengerti sedikitpun. Namun sekarang ini keadaan gawat maka dia mencobanya. Mengabaikan rasa sakit di tangan, dia hadapkan telapak tangan ke dinding dan mulai mengeruk.


Menghela napas pelan Sakura langsung berbalik memunggungi Aeus. Mata dia kesana kemari, cengkramanya pada katana Cancer ditangannya makin kencang. Dia bersiap.


Lubang yang Aeus gali makin dalam dan lebar tapi dinding ini tebalnya dua meter. Bukan mustahil, hanya saja butuh waktu. Waktu yang sangat banyak apalagi untuk orang seperti dirinya.


Sepuluh menit berlalu sebuah sosok hitam bertopeng tengkorak membuka pintu. Dia terkejut bukan main saat melihat Sakura dan Aeus. Sebelum sempat bergerak bahkan bersuara Sakura berlari mendekati dia lalu langsung menusuk dalam jantung pemberontak itu.


Satu kematian pemberontak pasti akan memancing yang lain. Mereka hanya punya waktu sedikit sekarang.


Langit malam kini makin gelap dan semakin gelap. Kemudian tetesan demi tetesan air jatuh. Ini hujan tapi saat Sakura melihat ke langit bukan awan yang menyebabkannya. Kumpulan air terbang yang amat banyak seperti sebuah danau di atas langit adalah pelakunya.


Hujan terus turun. Membasahi baju Sakura dan Aeus sekarang, tetapi tidak mengurangi kefokusan mereka. Sakura pada penjagaanya, Aeus pada temboknya.


Dua pemberontak muncul lagi dari pintu. Secepat tetesan air turun Sakura mendekati mereka lalu membelah dua senapan mereka lalu memisahkan kepala dari tubuhnya. Seharusnya itu sulit tapi dia melakukannya dengan mudah.


Dinding itu sudah berlubang. Hanya saja terlalu kecil, jika Aeus dan Sakura bisa berubah jadi tikus bisa saja mereka kabur saat ini. Sayangnya tidak ada keajaiban seperti itu.


Lima menit berlalu sudah dan baju mereka benar basah sekarang. Keinginan mereka untuk hiduplah membuat mereka mengabaikan udara dingin yang menusuk seperti ribuan jarum beku.


Dari ributnya air yang jatuh keras menghantam. Samar-samar mereka dengar suara langkah kaki yang begitu banyak. Sakura mungkin hebat menebas dan menusuk, tapi dia tidak bisa melakukan itu seharian dengan jumlah banyak. Malam ini benar-benar menguras tenaganya. Dia mulai terlihat ragu pada dirinya sendiri.


Aeus sudah berusaha mengeluarkan semua tenaganya. Sampai tidak ada kekuatan cukup untuk menghentikan tubuhnya yang gemetar kedinginan. Insting bertahan hidupnya yang membuat dia bertahan sekarang. Lubang di dinding sudah selebar ukuran tubuh mereka tapi celahnya masih kurang.


"Aku sudah mencapai batasku," lirih Sakura hampir tidak terdengar. Dia bertopang pada pedangnya yang menancap pada tanah saat ini.


Aeus juga ingin berkata demikian namun sadar bicara hanya buang-buang tenaga. Dia masih perlu hal itu.


Derap langkah kaki makin dekat. Sakura memejamkan mata berpikir keras untuk kali ini. Dia mendekati Aeus lalu mendorong dia ke samping. Dengan kedua tangan memegang erat gagang katana dia mulai terpejam. Detik kemudian dia menebas searah jarum jam lubang di dinding Aeus buat tadi.


Bunyi derak terdengar. Katana Cancer itu patah namun tidak sia-sia. Lubang di dinding sudah cukup lebar untuk dilewati dengan menunduk.


Sakura memegang erat Aeus lalu bersama-sama mereka menunduk keluar dari lubang langsung ke sungai lebar dan tercebur disana.


Aeus tidak tahu yang menunggu dia adalah sungai. Jika saja dia tahu, dia akan memperingatkan Sakura bahwa dia tidak bisa... berenang.


Pegangan Sakura pada tangganya terlepas. Dia tenggelam makin jauh sekarang. Hanya bisa menggerakkan tangan kedepan berusaha menggapai sesuatu namun hanya ada air dan air disana. Pandangan dia mulai gelap dan semakin gelap.


Setelah berhasil selamat dari pemberontak tidak disangka kematian dia disebabkan air. Ketakutan amat sangat mulai membekukan dia yang makin jatuh kedasar. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan, satu-satunya yang dia bisa sekarang adalah mengaktifkan mode Stella.


Melakukan itu tidak akan menyelamatkan dirinya. Sekadar untuk mengurangi ketakutan yang dia alami. Jika kegelapan adalah wajah malaikat kematian dia saat ini, setidaknya kegelapan dari mode Stella yang dia kenali menjemput ajalnya


*****


Dengan bangga saya umumin bahwa Supernova: Raven akan terbit seminggu sekali, tiap hari rabu karena naskahnya udah selesai. saya masih berharap ke pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya. Dan kalau suka bisa di share di medsosnya dan berikan like kalau merasa cerita ini memang bagus. Saya Luciver undur diri...