
Satu-satunya harapan adalah kapal pengangkut ini, yang rela berlayar di laut Enoshima di jepang yang sedang berguncang oleh angin yang mengamuk dan petir bercampur air tidak henti-hentinya berjatuhan. Ini akan menjadi malam yang benar-benar panjang lagi mengerikan.
Ruang kemudi kapal yang terletak hampir di buritan kapal adalah tempat tertinggi di kapal itu, kini tengah berayun tidak beraturan karena air yang tidak tenang. Akibatnya semua orang disana tidak bisa menahan lagi rasa mual sehingga terpaksa memuntahkan isi perut di lantai. Cuaca sudah buruk ditambah aroma memusingkan berada dimana-mana membuat semua orang disana benar-benar terlihat buruk.
Keadaan itu mengenaskan, tapi mereka tetap berusaha tegar di pos masing-masing seperti kapten dengan kemudi, operator dengan radio, dan pemantau dengan teropong yang memiliki kemampuan melihat dalam gelap yang berguna betul saat ini.
Dalam sana tidak hanya ada para pelaut jepang, ada juga tentara berseragam hitam dengan garis perunggu, Xordas, dari militer Supernova yang sedang memegang tiang ditengah ruangan menahan gravitasi menariknya menghantam lantai. "Apakah sudah dekat!" Seharusnya dia tidak perlu teriak karena ruang disana tertutup maka badai yang tertawa di luar tidak akan mengacaukan satupun suaranya. Tapi siapa bisa membantah, semua orang disana ketakutan.
"Hampir sampai Daeulus san," sahut kapten berusia tiga puluh lima tahun berwajah persegi dengan mata dan rambut hitam dalam bahasa umum yang tentunya dipahami Daeulus.
Tinggal sebentar lagi, Daeulus berusaha tetap tegar, tidak ingin kalah dari semua orang disana. Karena dia tahu dua ratus orang yang berada dalam kapal ini sama-sama menjadi pejuang malam ini. Mereka harus begitu kalau ingin selamat, karena penduduk yang tengah mereka bawa dulunya tinggal di sebuah pulau terpencil, disana tempat damai dan indah, tapi tidak sekarang, dimana monster raksasa selalu muncul di balik air dan menyerang daratan terdekat. Sudah seminggu kejadian ini berlangsung akibatnya lalu lintas laut menjadi tidak aman sehingga pasokan kebutuhan hidup yang biasanya dikirim melalui kapal dialihkan menjadi memakai pesawat. Mau tidak mau mereka harus ikut kalau ingin bertahan hidup.
Monster raksasa atau biasanya disebut kaiju ini mirip reptil namun berkali-lipat lebih kuat, dan ukurannya bisa dikatakan akan seimbang dengan ukuran gedung besar berlantai dua puluh. Semua senjata kelas berat tidak mampu melawan, rudal telah habis dan kapal perang hancur lebur, dan kini tinggal satu keajaiban tersisa di dunia, Supernova.
Karena Supernova adalah tameng dunia, penjaga perdamaian, maka sudah tugas mereka untuk ikut serta melindungi tiap negara yang berada di pinggir laut untuk melawan monster. Apalagi untuk jepang yang telah melakukan kerjasama dibidang militer.
"Lapor!" seru anak buah kapal berkepala pelontos dengan teropong di wajah. "Pulaunya sudah terlihat, kita hampir sampai!"
Mungkin disini badai, tetapi saat mendengar ucapan tadi hati Daeulus secerah pagi. Kekhawatirannya terbayar sudah.
Tak lama lambung kapal sebelah kiri berbunyi keras seakan ditabrak oleh sesuatu. Semua orang di ruang kemudi bergeming sambil dalam pikiran memerangi prasangka buruk masing-masing. Sudah hampir lima hari tidak terlihat tanda kaiju di perairan sini, jika sekarang ada... maka satu-satunya jalan adalah melawan.
"Pusat mengirim pesan bahwa radar mendapatkan tanda kaiju di sekitar kita," ucap pria berjaket tebal memakai kacamata di dekat mesin radio.
Dari awal sebenarnya ini memang misi bunuh diri, berlayar di laut yang tengah ditinggali monster. Tidak ada lagi pilihan, semua pesawat kini sibuk mengirimkan barang karena laut tidak lagi bersahabat ke segala penjuru daratan. Sebenarnya pelayaran ini dilarang untuk dilakukan, tapi atas kehendak warga jepang sendiri mereka rela dengan kapal dan tenaga pribadi berjuang demi menyelamatkan jiwa yang terabaikan. Mendengar itu Supernova tidak bisa diam saja, mereka memang tidak bisa meminta pemerintah negara matahari terbit ini untuk turun tangan karena petinggi memiliki kesibukan luar biasa, karena itu satu hal yang bisa dilakukan adalah menjaga mereka dengan kekuatan Supernova.
Kali ini hantaman keras terjadi di buritan sehingga membuat kapal ini oleng hendak jatuh. Semua berusaha dari kapten dan anak buah kapal lainnya mengatur kecepatan, menahan kemudi agar kembali seimbang. Daeulus tidak bisa diam saja, dengan tertatih dia menuju radio.
"Pusat ini aku, Daeulus Horgan, kami butuh bantuan segera!" ucapnya melalui telepon yang tersambung ke radio.
Daeulus tidak punya waktu untuk menunggu tanggapan, yang harus dilakukan sekarang adalah tindakan. Sambil membawa alat komunikasi nirkabel beruap walkie talkie dia bergegas turun ke dalam kapal menjumpai dua ratus orang yang kini tengah luar biasa ketakutan sampai mata mereka tidak bisa bergerak.
"Semua Unvon dan Xordas menuju geladak!" Perintah Daeulus yang ditanggapi secepatnya oleh para Supernova berseragam hitam.
Mereka hanya memiliki dua puluh personil Unvon dan sepuluh Xordas. Daeulus yang memimpin disini bingung memilih konstelasi pemanggilan apa yang tepat melawan monster itu. Sambil berpikir tiba-tiba di tangga yang menuju naik ke geladak Daeulus dan para personil lain langsung roboh ketika hantaman terjadi lagi mengakibatkan kapal miring ke kiri.
Dunia seakan berubah empat puluh lima derahat dalam kapal, tapi Daeulus memaksa dirinya dan personil lain tetap bergerak dengan tertatih. Untung saja transportasi air ini sudah kembali seimbang saat mereka telah sampai di geladak.
"Bagaimana keadaan dalam sana kapten!" ucap Daeulus melaui walkie talkie.
"Kami... kami...." Kata-kata menggantung itu membuat Daeulus geram.
"Ada apa!" Tegas Daeulus.
"Turbin kapal mengalami kerusakan, kita terjebak, ditambah ada kebocoran di dalam kapal."
Ini bukan kapal perang yang berbahan metal kuat. Akan tetapi hanya kapal ini yang mau berlayar. Keadaan begitu runyam, Supernova harus melawan kaiju dan menyelamatkan dua ratus jiwa secara sekaligus. Daeulus yang tengah memikirkan solusi seakan hilang di dunia nyata, tak peduli sebanyak apa air mengguyur, angin menerpa, pandangan dia tetap tegang.
"Aku memiliki saran," ucap Unvon pada Daeulus, "kita bisa memunculkan kapal pisces lalu memindahkan dua ratus orang ke daratan terdekat."
"Itu tidak akan berhasil, monster itu akan melenyapkan kita sekejap disini, dan kalau kita tiada kapal pisces yang mengantar mereka akan ikut hilang dan semua orang akan tetap tenggelam," kata Xordas lain berpendapat.
"Orion!" seru Daeulus langsung menatap setiap prajurit disana. "Kita akan mengeluarkan tiga robot orion, satu untuk mengangkat kapal ini ke pesisir dua lainnya akan menghadang monster itu."
Semua terdiam kemudian mengangguk setuju. Kemudian para Unvon tadi langsung berbaris di titik yang sengaja di tandai agar dapat melakukan konstelasi pemanggilan tanpa bantuan drone. Setelah mata Unvon berubah jadi emas melelah cahaya keluar dari punggung mereka kemudian berkumpul di samping kapal membentuk badan raksasa lengkap dengan kepala, tangan, dan kaki. Sinar meredup dan tercipta tiga robot berbentuk manusia dengan warna jingga dan kuning diseluruh permukaannya ditambah mata yang menyala merah.
Robot ini memiliki tinggi delapan muluh meter tapi karena sedang berada di laut maka hanya setengah badan mereka muncul. Senjata ini begitu membantu saat bertempur dengan objek besar misalkan monster. Tanpa menunggu lagi, masing-masing robot Orion di panjati oleh tiga Xordas untuk dikendalikan. Ternyata kaiju yang masih berenang dalam air mulai menyereng salah satu dari robot orion hingga jatuh membawa ikut tiga Xordas kedalam air.
Daeulus yang tengah memanjat tiba-tiba terhenti saat melihat itu terjadi. Mungkin robot Orion tidak akan rusak walau tenggelam, tapi bagaimanan nasib tiga Xordas tadi? Lautan ini masih ganas. Dengan berat hati menyatakan ketiga prajurit tadi telah tewas, Daeulus meneruskan perjalananya memasuki ruang kemudi mesin raksasa ini yang berada di dada. Dia serta dua personil lain berhasil masuk dan langsung duduk di tiga bangku kendali kemudian langsung memegang kemudi yaitu berupa tuas di tangan kanan dan kiri.
Selanjutnya dua robot Orion beraksi, satu mengangkat kapal itu lalu memeluknya, sedangkan yang lain sudah bersiap dengan tangan kiri berupa senapan gatling dan tangan kanan memegang pedang perak panjang. Mesin raksasa yang bertugas membawa kapal mulai bergerak maju mendekati pantai yang jaraknya sekitar tiga puluh kilo.
Robot Orion yang tengah mengangkat kapal itu kini kian jauh, itu membuat semua orang senang. Sekarang yang harus Daeulus dan lain lakukan adalah mencari monster tadi dan membunuhnya. Radar dalam ruang kendali robot tadi mulai mendapatkan tanda berupa titik yang tengah mengelilingi mereka. Lantas saja itu membuat robot itu berputar mengikuti pergerakan Kaiju, ntuk berjaga layaknya pemburu di hutan gelap, mirip seperti cerita konstelasi tersebut mengenai seorang pemburu raksasa.
Diikuti gelombang besar monster itu muncul dan memperlihatkan wujudnya yaitu binatang seperti tyranosaurus dengan tangan bercakar lebih besar, kepala yang sedikit lebih kecil, ditambah punggungnya di lengkapi duri putih tajam yang memanjang dari leher sampai ke ekor. Tidak bisa dibantah itu memang mengerikan, tapi tiada yang lebih mengejutkan dari ukurannya yang lebih tinggi dua puluh meter dari robot Orion.
Kelas tertinggi yang diketahui sampai saat ini adalah berukuran seratus meter, dan nampaknya itulah yang Supernova itu hadapi. Ketakutan muncul di tiap hati personilnya, tapi dengan bangga Daeulus berseru, "kita akan hadapi monster itu apapun yang terjadi! Apa kalian siap!?"
Tantangan itu sudah dijawab lewat seringain mereka. Hidup atau mati tidak lagi berpengaruh saat mereka memilih berjuang, semua kemungkinan mustahil yang menanti tidak lagi penting.
Supernova yang melangkah lebih dulu dengan berusaha menebas kepala dari monster. Itu tidak mudah karena mahluk itu bergerak lebih cepat sehingga menyerang balik dengan menggigit pedang perak besar berusaha menghancurkannya. Hasilnya nihil, taring kaiju itu hanya bisa mempenyokkannya. Ini kesempatan mereka menyerang balik secara dekat, setelah menempelkan laras gatling ke perut monster ini tembakan demi tembakan mulai dilancarkan.
Serangan telak tadi membuat kaiju ini memilih kembali secepat kilat ke air. Memperhatikan radar sepertinya monster raksasa ini lebih memilih menjauh tapi ternyata mengincar robot Orion lain dengan cepat. Pergerakan robot ini lambat berkat air sehingga yang bisa dilakukan adalah menembak dari sana. Kali ini serangan jarak jauh mereka dihindari begitu mudah. Jarak mesin raksasa yang tengah membawa kapal itu kini kian dekat makhkuk buas. Daeulus memaki sambil berusaha bergerak secepatnya.
Terlambat, kaiju berhasil menabrak robot Orion penyelamat hingga jatuh, tapi Supernova tidak menyerah, sambil terus mengangkat kapal keatas, mesin raksasa itu tenggelam perlahan mengakibatkan ombak besar, karena jaraknya sudah dekat dengan pantai maka bencana tidak sengaja tercipta, tsunami setinggi dua puluh meter bersiap menghantam pesisir.
Kapal tadi juga mengalami guncangan sehingga barisan konstelasi pemanggilan pastilah bubar mengakibatkan tiga robot orion tadi berubah jadi cahaya yang kembali ke punggung Unvon. Untuk tiap orang yang berada di dalam mesin raksasa tadi akan tetap berada disana, seperti Daeulus dan dua orang lainya yang kini tengah jatuh bebas saat robot tadi menghilang.
Syukur jarak mereka tidak terlalu tinggi ke air sehingga tidak membuat mereka tewas. Mungkin sebaiknya begitu, karena mereka telah gagal menyelamatkan kapal dan bahkan mengancam nyawa penduduk di pesisir pantai oleh gelombang tinggi yang tidak sengaja.
Naluri bertahan hidup yang menggerakan badan Xordas itu untuk berenang ke permukaan. Disana Daelus bersama yang lain melihat tirai air tinggi itu melaju, namun seketika berhenti, dan berangsur-angsur menurun dan akhirnya hilang menampilkan sepuluh orang Xordas dengan sarung tangan biru tengah mengadahkannya ke arah laut.
Kapal tadi juga sudah ditarik mundur dengan air, sedangkan untuk monster raksasa dia terkurung dalan pusaran air yang sengaja para Supernova ciptakan.
Lalu suara masuk dari pikirannya yang tidak lain karena telinga lupus. "Kau masih punya pertarungan untuk diselesaikan."
Daelus tersenyum lalu menjawab telepati itu, "berikan aku senjata raksasa kalau begitu."
Delapan belas kilatan cahaya dari pantai merayap di langit hitam kemudian berkumpul di dekat Daeulus dan dua Xordas lainnya yang kini tengah berenang agar tak tenggelam. Pendaran tadi berkumpul dan berubah menjadi robot humanoid raksasa bewarna jinga dan kuning keemasan. Robot Orion kembali.
Secepat mungkin ketiga Xordas tadi memanjat dada robot itu, setelah berhasil masuk ke ruang kendali tanpa menunggu detik bertambah, robot Orion beraksi dengan mendekati kaiju yang tengah berputar ria dalam pusaran air.
Pusaran tadi berhenti, monster raksasa itu kini sudah siap menumbangkan Supernova lagi, atau malah sebaliknya. Kali ini Daeulus dan yang lain tidak perlu khawatir lagi mengenai keselamatan kapal. Tidak ada lagi bimbang, yang ada hanyalah kekuatan.
Masing-masing mereka melakukan serangan, robot orion dengan pedang terayun, monster raksasa itu dengan kepala yang siap menyeruduk. Kaiju itu ternyata lebih kuat lagi cepat, belum sempat bilah besar tajam Supernova kena makhluk raksasa itu menghantam dada besi robot Orion begitu dahsyat sampai laut disekitar mereka beriak kencang mengakibatkan ombak besar tercipta lagi.
Supernova tidak perlu khawatir akan hal itu, dengan sarung tangan Aquarius pantai akan tetap aman. Masalahnya adalah waktu, kian menit bertambah energi Unvon yang membentuk konstelasi berkurang. Daeulus dan yang lain harus mencari cara membunuh monster ini lebih cepat dari kilat dalam badai.
Kaki kiri robot Orion mundur satu langkah mencoba menahan tabrakan mosnter ini. Mereka telah mencoba memukul, menusuk, dan menembak punggung monster tapi kulit disana begitu keras sehingga tidak ada yang berubah. Titik kelemahan monster ini berada di area sekitar dada, yang saat ini tidak bisa dijangkau karena monster ini tengah menyeruduk sehingga tubuh bagian depan tertutup.
Robot Orion telah berusaha mencengkram bahu monster dan mendorongnya balik tapi tetap tidak berpengaruh. Kekuatan monster ini memang mengerikan, Supernova hanya bisa mengimbanginya.
"Aku memiliki rencana," ucap Daeulus di ruang kendali. "Tarik tangan kita ke pinggang."
Perintah itu dilaksanakan, tangan mesin raksasa itu telah turun ke pinggang. Tapi karena itu kekuatan robot ini menjadi berkurang sehingga satu-satunya penyangga hanyalah kaki. Kedua Xordas tadi masih bingung tapi mereka yakin Daeulus tidak bercanda disaat seperti ini.
"Baiklah, kita akan sengaja menjatuhkan robot ini, bersiaplah!" kata Daeulus kencang.
Walau masih heran Xordas tadi melakukan apa yang disuruh. Robot ini jatuh ke belakang dan mulai tenggelam sedangkan untuk monster rakasasa itu dia masih kuat menyerudup layaknya banteng tapi tanpa ada benda yang menghalangi lagi. Ini kesempatan yang harus diambil cepat, karena jatuh celah untuk menyerang dada kaiju terbuka. Langsung dengan pedang besar Supernova menusuk makhluk mengerikan itu hingga terhenti dan mulai meraung kesakitan.
Lalai sedikit saja mungkin monster ini bisa saja lolos, tapi Supernova memastikan tidak akan kabur dengan terus menusuk pedang itu sedalam mungkin hingga darah biru menyembur layaknya air terjun. Makhluk ini benar-benar tangguh, dia masih hidup saat senjata tajam ini mulai mencuat dari punggungnya. Untung saja di tangan kiri Orion masih memiliki senjata, maka setelah membidik dagu monster rakasasa, laser berkekuatan besar meluncur keluar melubangi kepala kaiju dari bawah.
Monster ini tidak bisa lagi meraung sempurna saat mulutnya dihancurkan. Namun menyerah tetap bukan pilihan makhluk ini ambil, tubuhnya masih kuat bergerak mencoba melepaskan pedang walau dalam keadaan ditembaki seperti saat ini. Kalau begitu Supernova juga tidak akan berhenti untuk terus menyerang.
Moncong besar monster dengan banyak gigi tajam kini terburai diangkasa saat tembakan dari robot Orion menyerangnya tanpa henti. Posisi ini tetap bertahan selama lima menit sampai darah biru yang keluar dari tiap luka robot berhenti muncul disertai tidak ada lagi perlawanan maka Supernova memutuskan berhenti menyerang.
Robot Orion itu berdiri lebih dulu lalu mencabut pedangnya. Monster itu jatuh lemas ke laut sehingga menimbulkan ombak yang begitu besar ke sekitar. Jiwa tangguh makhluk ini telah pergi, sekarang saatnya menghormati perjuangannya.
Tangan Orion menyentuh kepala dari monster tersebut lalu mengusapnya lembut. Mereka adalah makhluk kuat dan cepat, bisa dipastikan mereka nanti akan mewarisi dunia, sayangnya lawan mereka adalah Supernova. Pejuang yang tidak berhenti melindungi dunia.