SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Raven



Aeus jarang berpergian apalagi perjalanan dengan menggunakan mobil pengangkut dan itu buruk nenurutnya. Mereka harus saling bersesakan dalam ruang barang belakang mobil dengan kotak-kotak berisi produk makanan dalam kondisi berdiri pula. Belum lagi Farhaz bilang jalanan tidak terlalu mulus dan memakan waktu empat jam. Benar-benar kegiatan yang tidak akan dilakukan untuk kedua kalinya dalam hidupnya.



Dari tiga pemeriksaan oleh pemberontak yang dilakukan beruntungnya mereka berhasil dikelabui. Ketidaknyamanan itu akhirnya terbayar oleh keselamatan mereka. Sekarang disinilah mereka dalam gudang besar penuh kotak-kotak produk makanan yang sepi.



Supir keluar lalu menyuruh mereka mengikutinya ke sebuah ruangan bawah tanah lagi. Seketika benak Aeus mengingat tempat dingin dan sunyi namun sebaliknya. Ruangan bawah tanah itu cukup luas tapi langit-langitnya agak dekat sehingga menimbulkan rasa pengap. Yang mengejutkan disini ialah pemadangannya, puluhan pelajar Supernova.



Anehnya tidak satupun pelajar memakai baju sama seperti Aeus. Hampir semuanya Xordas sedangkan sisanya terlihat memakai seragam hitam bergaris emas, Lucos.



Tempat ini lebih mirip seperti tempat penampungan bencana menurut Aeus, ada bantal, selimut dan beberapa kardus makanan cepat saji. Memang agak menyedihkan tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya tempat aman di sarang musuh. Siapa pun boleh berkhayal jika tempat aman adalah hotel bintang lima namun kenyataannya bisa dilihat sendiri.



"Kenapa hanya ada pelajar disini? Mana pasukan resminya?" tanya Farhaz ke sang supir.



"Kalian akan tahu nanti, kurasa kalian bisa mencari tempat untuk istirahat sendiri bukan? Kurasa masih ada sudut kosong, selamat beristirahat." Supir itu pergi meninggalkan mereka bertiga.



Mereka bertiga sama-sama masih mematung ditempatnya menonton para pelajar Supernova itu yang masih ada tidur, bercanda, atau makan cemilan. Mereka sepertinya tahu kehadiran mereka tapi memilih bersikap abai, mereka pastilah bukan yang pertama kali yang di selundupkan kesini.



"Disana kosong." Aeus menunjuk sudut ruangan di sebelah kiri.



"Kau tidak lihat? Di sudut ruang kiri tempat untuk perempuan sedangkan kanan untuk laki-laki," jelas Farhaz.



Aeus memperhatikan lebih rinci. Ternyata pengamatan Farhaz benar, bagian kiri dihuni perempuan sedangkan kanan untuk laki-laki. Sekarang dia harus mencari tempat lagi untuknya bisa beristirahat namun tidak kunjung ketemu. Semua tempat sepertinya sudah ada pemiliknya karena barang-barang pribadi seperti sepatu, baju, atau selimut dibiarkan tergelatak mengisi petak kosong.



"Ternyata kalian disini," ucap seseorang dari suaranya yang agak besar bisa dipastikan itu laki-laki.



Farhaz dan Mira berbalik sedangkan Aeus sepertinya tidak peduli, dia terlalu asyik mencari ruang kosong karena semangatnya untuk tidur tidak bisa diukur lagi. Sampai Mira disebelahnya harus memaksanya berbalik juga untuk menghadap orang itu.



Orang yang dihadapan mereka bertiga sekarang adalah seorang pria buncit dengan pipi berisi, rambut dia coklat kehitaman, matanya biru, serta kulitnya putih. Umur pria ini tiga puluh delapan tahunan dia juga memakai seragam Xordas resmi.



"Perkenalkan, namaku Owen Gariak. Aku yang mengomando disini. Jadi kau bisa panggil aku komandan Owen. Selamat datang di kota Jeldan."



Semua bingung termasuk Mira dengan sedikit menekuk alisnya. Orang ini berkata dia mengomando, yang artinya pimpinan tertingi disini. Sulit dipercayai karena sedikitpun wajahnya tidak menampilkan kebijaksanaan, malahan seperti seorang pemuda sombong.



Orang yang mengaku dirinya komandan itu memperhatikan mereka bertiga lalu terpaku pada Aeus. "Tidak kusangka ada Unvon yang selamat, pemberontak sangat ambisius pada para Unvon bahkan untuk pelajar, maka dari itu ada beberapa Xordas dan Lucos yang berhasil lari. Dari dua akademi militer yang sudah direbut, kalian bisa lihat hanya ini yang berhasil."



"Kau...," ucap Farhaz yang terlihat kebingungan dalam dirinya lebih besar daripada Aeus dan Mira. "Owen Gariak, pemimpin termuda yang memimpin penyerangan teroris tahun lalu? Kau yang dikenal sebagai pahlawan laut florida itu?"



"Wah tidak kusangka kabar itu menyebar cepat, iya aku yang memimpin penyerbuan itu."



"Tapi kau tidak mirip seperti di foto," ucap Farhaz lagi.



Aeus sepertinya samar-samar ingat berita itu. Tentang penyerangan kapal pesiar wisata yang ternyata markas teroris, saat itu pengintaian mereka ketahuan dan sang komandan mati, merasa operasi tidak bisa lagi dimundurkan seorang yang gagah mengambil tindakan berani. Dengan anggota hanya tiga puluh lima orang, dengan menggunakan konstelasi pemanggilan Aquarius, mereka menyerang teroris berjumlah seratus dua puluh orang serta berhasil menyelamatkan sandera sebanyak lima puluh orang.



"Kau tidak mungkin dia," kata Aeus setuju pernyataan Farhaz. "Di koran dikatakan dia prajurit gagah sedangkan kau prajurit payah."



Perkataan itu membuat mata Owen tajam, urat dikepalanya mulai muncul. "Kau tidak boleh menghina pemimpinmu! Itu satu hal penting yang harus dimiliki seorang prajurit Supernova. Karena kau masih belum pernah bertugas aku bisa memaklumi, tetapi aku akan menghukum kalian untuk tidak beristirahat melainkan untuk mengintai malam ini sebagai pelajaran."



"Tunggu dulu, kalian?" Farhaz bingung.



"Tentu saja kalian." Owen menunjuk Farhaz dan Aeus.



"Tidak bisa begitu, dia yang berkata itu." Farhaz menatap dan menunjuk penuh kebencian Aeus yang berdiri tidak karuan sekarang.



"Kau juga hampir mengatakan aku payah bukan? Sama saja, kalian akan patroli malam ini."



Farhaz mengatupkan giginya kuat bibir dia terbuka marah sedangkan mata hijaunya berkilat-kilat menatap Aeus yang mulai keringat dingin.



"Kuharap kalian dapat memanfaatkan waktu istirahat dengan benar sekaligus menyiapkan penyamaran terhebat kalian."



"Aku tidak mendengar apapun darimu, kau bisa istirahat malam ini, itu perintah."



Sama seperti sebelumnya mendengar kata "perintah" Mira langsung tertunduk sendiri seperti anjing peliharaan yang taat.




Sekarang masih jam dua siang, Aeus dan Farhaz masih punya waktu untuk beristirahat menjelang malam pengintaian nanti. Untuk pertama kali mereka bertiga terpisah, Aeus berada di sudut ruangan, sedangkan Farhaz berada di samping kanannya, bersekat lima orang yang tengah tidur.



Dengan ransel keras berisi senjata dan makanan dari Natalie, Aeus gunakan itu sebaiknya yaitu sebagai bantal. Sensasinya tidak senyaman bantal kapuk hanya saja itu satu-satunya barang yang bisa digunakan. Itu salah satu alasan Aeus tidak bisa tidur sekarang selain takut bertemu pemberontak diatas sana dan juga suhunya yang tidak bersahabat disini–panas.



Tiba-tiba Aeus teringat kamar asmara miliknya di akademi. Tempat kecil yang berantakan oleh buku, baju, dan barang lainnya. Walaupun begitu Aeus tetap merindukannya. Dia hanya bisa bertanya-tanya apa nasib kamar itu? Dia harap tempat itu bukan target pemboman pemberontak karena pekerjaan rumah minggu lalu dari guru terkejam seantero akademi belum selesai, dia tidak akan menerima apapun alasannya, bahkan kalau sampai buku tugas itu sudah jadi debu tetap harus dibawa sebagai bukti. Benar-benar mengerikan.



Ini bukan waktu tepat memikirkan buku payah itu, Aeus harus fokus pada misi dia mendatang. Tanpa sadar kesadaranyaa terkikis, rasa lelah perlahan menghanyutkannya hingga ke lautan mimpi tanpa batas.



Kesadaran Aeus yang jatuh perlahan naik saat merasa bokongnya ditendang keras bagaikan bola. Dia bangun terduduk lalu mencari si penendang yang tidak lain dan bukan adalah pemuda bermata hijau, Farhaz.



"Cepat bangun, kita disuruh menghadap pemimpin Owen sekarang." Farhaz melangkah pergi meninggalkan Aeus yang masih mengusap mata kirinya.



Setelah merapikan diri Aeus dan Farhaz menghadap pemimpin Owen di ruang pribadinya di salah satu tempat dalam gudang, bukan dibawahnya. Ruangan itu seperti tempat untuk para pemimpin lain, ada kursi yang menghadap meja lebar dari kayu mahoni. Yang berbeda adalah tidak terlalu berkelas dengan dinding kayu sederhana, dan juga kipas angin kecil yang berisik.



Owen sedang berdiri memperhatikan peta di atas mejanya. Peta lengkap mengenai seluk beluk kota Jeldan. Kota yang akan dia intai nanti.



Mata dia sangat fokus melihat setiap titik di peta, sedangkan telinganya terlalu asyik mendengarkan kipas angin yang ributnya seperti di pertunjukan konser band rock. Karena jika tidak, dia pasti sudah sadar akan kehadiran Aeus dan Farhaz disana. Mereka sedari tadi diam saja menonton pemimpin mereka itu, sebab Farhaz tidak ingin salah kata lagi lalu di hukum seenaknya seperti sekarang. Terpaksa Farhaz menepuk bahu Aeus lalu dengan dagu menunjuk Owen sebagai isyarat bahwa Aeus harus bicara.



Pukulan Farhaz tidak terlalu kencang, hanya saja karena kulit Aeus agak tipis dia bisa rasakan sakit di tulang bahu. Dia ingin menggeleng enggen namun jika diingat alasan mereka disini karena dia, maka dia menyerah lalu membuka mulut hendak bicara.



"Ada apa?" tanya Owen.



Aeus agak kecewa dia sudah bersiap bicara malah terpotong.



"Anda menyuruh kami kesini bukan?" tanya Farhaz seformal mungkin.



"Tentu," ucap Owen lagi.



Bukan hanya Aeus yang kesal dengan tingkah pemimpinya ini, Farhaz juga sama murkanya. Sejak dari tadi Owen hanya memandangi peta itu saja tanpa memandangi mata mereka tanpa sedikitpun curiga bahwa mereka ini mungkin saja hantu. Tidak bisa dipercayai orang ini sempat diberi gelar pahlawan.



"Kami disuruh mengintai bukan? Sekarang jelaskan apa misi kami itu." Tidak ada lagi ruang sopan santun di hatinya.



"Baiklah." Owen meringsut duduk kemudian memandangi mereka berdua lalu ke peta lagi. "Kalian akan mengintai, kuharap kalian akan memakai baju yang pantas untuk menyamar nanti."



Tanpa sadar Aeus memandang seragam pelajar Farhaz juga sebaliknya yang dilakukan Farhaz dengan matanya ke arah Aeus.



"Ada beberapa baju dan celana, kalian bisa cari nanti di ruang ganti. Sekarang rute kalian adalah ini." Owen menekan peta seperti sebuah tombol tak kasatmata dengan telunjuknya. "Kalian bisa mulai dari distrik sebelas ke dua belas, lalu tiga belas dan lima belas."



"Kami mengerti." Farhaz menyentuh dagunya sekaligus mengangguk paham.



Aeus terpaksa meniru gerakan Farhaz walau hanya mengerti sedikit.



"Satu hal lagi," ucap Owen. "Kalian butuh kode nama."



Kode nama biasanya digunakan saat bertugas di lapangan sebagai tanda pengenal antar sesama prajurit dan penyamaran bagi musuh untuk tidak mudah mengetahui jati diri si prajurit. Kode nama beragam, di setiap pertempuran, tapi bagi Supernova Kode nama untuk laki-laki adalah dari jenis burung, sedangkan perempuan dari jenis bunga. Hanya untuk prajurit lapangan, yang itu berarti kebanyakan oleh para Xordas. Bukan Lucos dan Unvon seperti mereka.



Owen meneliti mereka berdua. Dia sedang menentukan nama apa yang tepat untuk mereka hingga berjalan lima menit dia memberi tahu pemikirannya.



Jari telunjuk Owen mengarah ke Farhaz. "Kau Falcon." Lalu berpindah ke Aeus. "Dan kau, Raven."