SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
(Episode Spesial) Zombie Apoclypse: Gedung Putih



(ini bukan sambungan cerita Supernova: Raven memang tapi semacam cerpen fanfic tentang prajurit Supernova menghadapi situasi mengerikan misalnya seperti kiamat zombie ini. saya berencana akan membuat cerita pendek tentang Supernova lagi dengan tema-tema unik lain jadi tetap dukung cerita saya ya! saya Luciver selamat membaca!)




****




Terbang melesat ditengah awan dimana langit sedang cerah seharusnya menjadi pengalaman yang indah bagiku, hanya saja kini bukan waktu yang tepat karena dunia masih diselimuti kekacauan. Hari indah namun bukan yang baik, bisa dibilang begitu.



Sudah empat belas hari berlalu sejak tragedi munculnya penyakit aneh yang menyerang manusia, menjadikan mereka mayat hidup berjalan tanpa akal. Yang mereka tahu hanya makan saja. Tidak ada yang tahu pasti dimana, bagaimana, dan kapan wabah ini terjadi, tapi ini semua sudah menyebar ke berbagai benua.



Masyarakat yang masih belum terinfeksi berkumpul di zona hijau–area aman–untuk sementara. Pemerintahan sempat kacau balau di hampir diseluruh tempat, tapi mereka berusaha profesional untuk bekerjasama dengan negara lain untuk mencari solusi yang tepat. Sungguh lucu mengetahui tindakan mereka ketika dunia diambang kehancuran, karena setiap negara pasti dalam lubuk hati masih mencurigai satu sama lain, keberadaan pasukan Supernova membuat mereka terpaksa menyimpan perasaan itu. Demi keberlangsungan umat manusia.



Konferensi tingkat tinggi akan diadakan, tapi mereka masih kekurangan satu orang. Presiden amerika serikat, Micheal, yang kini hanya bisa berdiam diri dengan menteri-menteri lain yang selamat di bunker bawah tanah gedung putih.



Dan disanalah tujuan kami, pasukan Supernova terpilih. Kami diberi perintah untuk menyelamtkan presiden amerika untuk dijemput lalu dibawa ke konferensi antar kepala negara itu. Bagaimanapun tugas ini tidaklah mudah, karena itu Supernova sebagai pasukan keamanan yang telah diakui dunia di minta langsung terjun ke amerika dimana 97% masyarakatnya telah terjangkit menjadi Zombie ganas.



Dengan pesawat jet yang butuh tiga pengendara–dua di depan dan satu dibelakang–juga model badan yang aneh berbentuk huruf T, kami melesat menembus awas dan menabrak angin kencang.



Pesawat ini tidak biasa dari pesawat lain karena selain bentuk dan suara mesin yang hampir tidak dapat didengar juga karena wujudnya yang tidak nampak atau transparan. Aku tidak bercanda, berkat teknologi canggih yang dimiliki Supernova hal ini biasa bagi kami. Aku hampir lupa mengatakan nama kendaraan ini bernama pesawat Perseus.



Kau tahu, legenda yunani kuno tentang kesatria yang pernah membunuh medusa yang matanya bisa membuat orang menjadi batu. Seharusnya dia memang mustahil mengalahkan makhluk yang tidak bisa dia tatap, namun berkat helm tak kasatmata, perisai cermin, dan senjata magis lainnya dia dapat mengalahkannya. Jika menurutmu ini di ada-adakan, percayalah kau tidak sendiri. Lagipula ini hanya mitos bukan?



"Perkiraan, lima menit lagi kita sampai," kata Drigar, pemimpin unit dari golongan Xordas. Dia seorang yang cukup atletis menurutku, dengan rambut merah gelap, dan janggut yang baru saja dicukur, serta wajah ovalnya dia cukup gagah. Pantas saja dia dipilih sebagai pemimpin untuk para Xordas.



"Lihat!" seorang Xordas berseru sambil mengetuk kaca jendela. "Dunia benar-benar berubah sekarang."



Tanpa pikir panjang aku mendekati jendela, berdiri disamping Xordas laki-laki berambut kuning, kira-kira berumur dua lima atau dua puluh tujuh, dan namanya adalah Ghem.



Sempat terlintas untuk bertanya padanya, namun pikiranku tersita oleh pemandangan yang bergerak di bawah. Kurasa kami sedang melewati salah satu kota di amerika yang sekarang telah berubah menjadi kota mati. Mobil-mobil yang beragam warna terhenti di salah satu perempatan, kertas serta sampah bergelimpangan di trotoar.



Mayat hidup atau lebih dikenal kami dengan sebutan zombie telah menguasai hampir seluruh negara, tak terkecuali kota ini. Mereka kuat, buas, dan banyak, faktor itulah yang membuat mereka dapat menduduki seluruh tempat. Hanya butuh satu gigitan atau cakaran mereka agar berubah persis seperti mereka. Tidak mustahil perkembang biakan mereka lebih cepat dari katak di musin penghujan.



Dengan mulut terbuka mereka menahan lapar, memakai baju kotor nan compang-camping mereka meunggu mangsa. Hanya itulah yang mereka lakukan jika tidak ada manusia sehat untuk dimakan.



Dari sekian banyak orang yang telah disantap dan terjangkit virus, aku selalu menduga ada yang bertahan hidup sekarang, bersembunyi di kamar, ventilasi udara, atau mungkin di tong sampah. Mereka menunggu dengan hanya bisa berharap ada penyelamat, dari tuhan maupun manusia. Sebagai seorang manusia aku ingin menolong mereka, tetapi sebagai prajurit aku harus tunduk pada perintah yang diberikan, sesuai dengan semboyan Supernova.



Pesawat berhenti lalu mulai bergetar turun. "Kita sampai, persiapkan diri kalian, dan ingat ini, mereka peka terhadap suara jadi jika kalian ingin hidup tetaplah diam." Drigar mengangkat senapan serbu miliknya lalu memasang wajah serius. "Dan satu lagi, komunikasi boleh di lakukan apabila genting dan situasi mendukung. Kuharap kalian paham."



Semua Xordas bergeming, karena pesawat sudah mendarat di lapangan depan gedung putih. Semua orang gugup, termasuk aku. Bagaimanapun juga yang kami lawan adalah zombie yang gigih ditambah berjumlah banyak serta dapat menularkan virus berbahaya. mustahil kami tidak takut, tapi kami adalah prajurit, terlebih lagi prajurit Supernova.



Drigar sang pemimpin disini menunjuk Xordas yang membawa riffle Gamo G-MAGNUM 1250 bewarna hitam. Setelah menunjuk dia mengalihkan jari telunjuknya keatas. Xordas tadi mengangguk paham. Dia membuka atap pesawat menyiapkan tangga lalu memanjat naik.



Sekarang kami hanya berlima, dua Xordas duduk di bangku pengemudi yang sedang bercakap melalui saluran komunikasi, dan aku beserta Drigar sedang membuka kotak mengeluarkan senjata. Disini ada orang lain, bukan Xordas, Unvon, atau juga Lucos, tapi dia adalah kementrian keamanan negara amerika serikat, Smith.



Smith berumur sekitar empat puluh tahunan, bermata biru terhalang kacamata, serta rambut hitam pendek layu. Sama seperti warga amerika lainnya dia tentunya bekulit putih dengan sedikit bintik kecil merah di pipinya, tubuhnya besar namun karena kurang berolahraga dia agak buncit saat ini.



Smith menaikan kacamata hitam miliknya. "Bisakah kita cepat? Presiden sudah menunggu lama disana."



Drigar melirik tajam Smith. "Kami tahu itu tuan Smith, tapi gegabah hanya akan menimbulkan kegagalan dalam misi. Prajurit kami sedang mengintai diatas sana. Tunggu saja laporannya." mata Drigar berpaling kearah dua pengemudi di depannya. "Bagaimana?"



"Hummingbird sudah melapor," kata salah satu pengemudi di bangku kanan. "Di depan kita adalah gedung putih, sudah ada lima puluh lima zombie yang terlihat, mereka terpencar, dia sedang membersihkannya. Oh tunggu dulu, dia sudah selesai."



"Jalur kita sudah aman, ayo beraksi." Drigar mengangkat senjatanya, begitu juga aku.



"Sekedar mengingatkankan, konstelasi pemanggilan perseus ini sudah berlangsung lima belas menit, sebaiknya kalian cepat kalau masih ingin pesawat pulang pakai pesawat ini." Supir dikursi kanan memperingatkan.



Di belakang lantai menurun membukakan jalan untuk keluar. Pengemudi yang duduk di kiri melepas sabuk pengamannya lalu mengambil senapan serbu hitam miliknya.



"Baiklah ingat posisi kita, aku dan Owl akan berada di belakang Smith, sedangkan kau Robin." Drigar memandangiku. "Kau akan didepan bersama Smith menuntun kami.



Aku mengangguk siap.



"Baiklah yang kita hadapi mayat hidup, kelemahan mereka adalah kepala. Dan yang terpenting mereka peka terhadap suara. Komunikasi jaringan masih akan kita terima tapi tentu jangan dibalas jika masih ingin hidup. Satu hal lagi, aku ingin kalian mencek peredam beserta amunisi kalian."



Aku memperhatikan senjata ku, sepucuk senapan serbu bernama P99 bewarna hitam lengkap dengan pembidik serta tentunya peredam untuk mencegah bunyi nyaring dari ledakan bubuk mesiu saat menembak. Kualihkan pandangan ke ikat pinggang, disana sudah ada empat magasin yang siap pakai. Kurasa ini sudah cukup.



"Baiklah, aku ingatkan jangan bersuara. Gunakan kode tangan mengerti?"



Aku dan Xordas berambut hitam cepak berjulukan Owl mengangguk paham.



"Baiklah, ayo berpesta!" Drigar tersenyum penuh arti.



Aku dan Smith berjalan beriringan turun keluar sedangkan Drigar dan Owl berada dibelakang menjaga kami. Rerumputan hijau yang teramat bagus itulah yang sedang kuinjak sekarang. Cahaya dari matahari yang sudah mulai meninggi membuat rumput itu mengkilat.



Kami melangkah penuh perhitungan agar tidak megeluarkan banyak suara. Terus berjalan kedepan kami tak sedikitpun mengendurkan kewaspadaan karena mereka masih berkeliaran disana-sini, yang ditembak mati oleh sniper kami yaitu Hummingbird adalah jalan yang kami lalui ini.



Perjalan ini cukup menegangkan ketika kami harus melingkahi mayat hidup berwajah pucat dan bahkan ada yang hancur tapi kami tahu dari lubang kecil di kepala mereka bahwa mereka benar-benar mati sekarang.



Langkahku mulai ragu ketika dari gedung putih keluar dua zombie yang kini mengarah kearah kami. Tapi seperti yang kami rencanakan, Hummingbird telah menembak mati mereka dari jarak Kurang lebih sepuluh meter. Setidaknya kami bisa menghemat amunisi disini.



Melewati undakan putih yang telah ternoda oleh zombie yang telah dibasmi, perlahan kami masuk ke gedung putih. Tempat vital bagi pemerintahan negara adidaya gedung putih. Perlahan cahaya matahari mulai pudar seiring kami berjalan masuk. Sekarang kami akan berjuang dengan usaha kami sendiri.



Ruangan bundar pertama yang kami masuki cukup gelap, sehingga kami menyalakan senter yang terpasang di laras senapan milik kami. Aku beserta smith maju perlahan. Pegangan tanganku dengan popor makin kencang.



Samar-samar aku mendengar suara aneh, dan itu membuatku dan Smith berhenti. Di jalan masuk tanpa pintu kami melihat mayat hidup berbaju kaos oblong yang kotor akibat darah kering. Tatapan dia menuju pada kami, namun dia tetap diam saja. Kurasa dia masih menimbang apakah kami manusia atau hanya patung.




Maju dan terus maju, melewati ruangan bundar yang sekarang benar-benar gelap gulita sekarang. Sesekali kuarahkan senter ke kiri dan ke kanan secara perlahan untuk berjaga-jaga kalau saja ada zombie yang sedang berdiri.



Dua zombie terlihat lagi di depan dan langsung ditembak di kepala hingga mati. Kami maju lalu berbelok ke kiri, hingga sampai di kantor sang presiden yang tidak terlalu gelap karena ada jendela yang memaparkan sinar matahari. Untungnya disini tidak ada lagi zombie.



Aku melirik Drigar yang jari telunjuknya dia arahkan keatas kemudian diputarnya. Itu tanda kami untuk membuat lingkaran mengelilingi Smith yang sekarang sibuk membuka bunker yang ada di bawah tikar biru mewah.



Bunyi bip-bip tombol akses bunker itu berbunyi. Waktu seakan berjalan lambat karena penantian kami begitu besar.



"Lapor," ucap Hummingbird dari saluran komunikasi yang membuatku hampir jantungan. "Aku melihat ada lima zombie masuk ke gedung, bersiaplah"



Perintah Drigar jelas, kami tidak perlu menjawab "diterima" atau "ganti". Yang perlu adalah bersiap karena lima zombie sedang menuju kesini.



Disini hanya ada dua jalan masuk tanpa pintu,, salah satunya menuju dapur. Drigar menghadap pintu masuk, aku kearah meja presiden dan Owl ke arah dapur.



Bunyi bip berhenti. Smith berhasil. Sesuai rencana aku berbalik lalu menbantu mengangkat pintu logam berat itu dengan Smith. Butuh waktu tapi akhirnya kami berhasil. Tinggal membuka pintu segi empat ini maka misi kami bisa diselesaikan.



Smith menyambar daun pintu segi empat lalu membukanya, pemandangan lubang segi empat dengan tangga menurun muncul.



"Tuan Presiden!" Smith mengucapkan kata terlarang saat ini.



Sontak dua Xordas lain melirik Smit tajam. Orang tua bodoh, dia memanggil kematian mendekat. Sayang sekali aku terikat perintah untuk menjaga orang ini dengan baik, jika tidak aku bisa pastikan wajahnya akan biru sekarang.



Drigar dan Owl tidak ambil emosi tidak ada lagi pilihan sekarang selain fokus bertahan.



Dari lubang segi empat itu aku dan Smith mengintip dan melihat empat zombie berbaju rapi menjulurkan tangan ingin menggapai kami. Aku langsung menutup mulut Smith sebelum dia berucap dengan nada sedih "presidenku".



Dua zombie masuk dengan tiga zombie dibelakangnya. Drigar menjatuhkan empat dan Owl satu. Senyap dan mematikan.



Drigar mengangkat tangan sejajar kepala lalu memaju mundurkan telapak tangan yang artinya harus pergi.



Smith masih menangis pelan untuk presidennya yang kini sudah berubah menjadi zombie. Tidak ada waktu untuk memikirkan itu, kami sudah melihat presiden itu sudah bukan presiden, misi dibatalkan, sekarang yang penting adalah kembali dengan selamat.



Tidak ada lagi mengendap, kami lari dalam barisan memanjang menembak setiap zombie yang mendekat bahkan baru melirik. Keluar dari gedung putih ternyata begitu berat tapi setidaknya kami berhasil. Masalahnya kami sedang dikejar gerombolan zombie yang ternyata begitu banyak di gedung putih.



Ini bukan saatnya mengikuti formasi. Kami lari secepat yang kami bisa, melompati tiap zombie yang tumbang dijalan. Aku, Owl, dan Smith berlari hampir sama cepat, sedangkan Drigar agak tertinggal tidak jauh karena sambil menghadap kebelakang berusaba menembaki gerombolan zombie yang jumlahnya kira-kira lima puluh lebih.



Jantungku berdetak lebih kencang dan bertambah kencang saat dari ujung lapangan luas gedung putih zombie berlari mendekati kami. Gawat benar-benar gawat. Kami seperti kelinci yang dihujani anak panah.



Jarak kami hampir sampai ke pesawat yang sudah membukakan tangga lantai agar naik. Diatas sana Hummingbird nampak kepayahan saat menembaki zombie yang ada di ujung lapangan ke arah kami untuk membantu.



Aku ingin mengasihani Hummingbird tapi hadiah di belakang kami juga sangat mengerikan. Lari mereka secepat orang sehat, sulit dipercaya kalau mereka itu sudah mati.



"Kalian semua," suara si xordas yang menjadi supir pesawat Perseus. "Aku akan menembaki zombie sialan itu, kalian harus lebih dekat lagi dan menunduk kalau tidak ingin kena."



Kami semua sepertinya paham betul. Tidak ada alasan berhenti, kami terus berlari secepatnya.



"Baiklah!" seru Drigar yang sudah mengejar kami. "Aku akan menghitung mundur, saat itu kita harus menunduk mengerti!"



"Siap mengerti!" Owl dan aku berucap dengan lantang.



"Baiklah satu..."



Walau jantungku berbunyi nyaring suara Drigar begitu keras dan mengerikan hingga terdengar jelas.



"Dua..."



Sedetik setelah hitungan itu Smith jatuh tersungkur. Secepat mungkin kami membantunya berdiri lagi sehingga jarak kami dengan gerombolan zombie hanya sepanjang tangan orang dewasa. Benar-benar menegangkan sampai bau amis darah dan busuk mereka tercium jelas. Tidak menutup kemungkinan bau kematian kami juga mendekat.



"Kita tetap akan! ... kena kalau jaraknya seperti ini! Kalian harus! ... melakukan hitungan sendiri! Sampaikan salamku pada Nate!" Drigar dengan suara tercekat-cekat.



Saat itu aku bingung apa maksudnya tapi ketika Drigar berbalik lalu menghujani zombie dengan timah panas aku mengerti. Itu adalah kata-kata terakhir dari prajurit Supernova terbaik yang pernah kutahu.



Aku sudah terlalu lelah dan sedih untuk melihat Drigar di keroyok zombie disana agar kami semua bisa selamat. Seketika keinginan untuk bertahan hidup lebih besar daripada keinginan memiliki dunia. Mataku mulai kabur karena air mata.



"Kita bisa," ucap Owl getir. "Kita hitung bersama!"



"YAH!" teriakku marah atau sedih atau juga keduanya. "Tiga!"



"Dua!" sahut Owl.



Jarak kami dengan pesawat cukup dekat sekarang. Hitungan terakhir akan menjadi penentuan, akhir atau awal baru. Tapi aku tidak ingin berharap. Aku ingin selamat!



Owl memandangiku Smith kemudian aku lalu mengangguk bersamaan. Ini saatnya.



"TIGA!" ucap aku dan Owl. Kami bertiga langsung menjatuhkan diri. Suara tembakan berdesing diatas kami.



Selama lima detik mencium tanah akhirnya supir pesawat perseus memberitahukan untuk cepat bergerak. Kami bangkit lalu berusaha berlari secepat kijang. Sekilas bisa kulihat, gerombolan zombie tadi sudah menjadi patung batu mengerikan bahkan rumpu yang mereka injak juga berubah putih abu-abu seperti batu.



Hummingbird yang sudah kelelahan bergegas turun masuk ke dalam pesawat. Begitu juga kami, yang sudah berhasil masuk ke dalam. Menutup lantai tangga memang agak lambat sehingga terpaksa aku dan Owl sambil duduk menembaki mereka yang berusaha naik hingga merasakan dua kali mati. Tangga berhasil ditutup dan kami pun melayang.



Aku, Owl, dan Smith langsung tumbang. Setelah apa yang kami lewati, lantai keras ini terasa senyaman kasur. Nyaman sekali. Dan yang terpenting, kami berhasil selamat.