SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Panggilan Takdir



Aeus tidak percaya dia kembali ke tempat gelap seperti dalam mode Stella dengan gadis berambut pirang lurus yang ditarik ke belakang sehingga sepasang telinga tipis milik dia dapat jelas dilihat.


"Kau berhasil kesini," ucap gadis itu tanpa ekspresi.


Apapun sebutannya Aeus merasa tidak kemana-kemana dengan kakinya, bagaimana bisa gadis ini katakan sampai? "Baiklah biar kuluruskan, ini mimpi?"


"Benar."


"Jadi... maksudmu... aku..."


"Kau tertidur, tapi kesadaranmu tidak."


Selagi ada waktu sebaiknya bertanya bukan? Aeus mencari pertanyaan di tiap rongga otaknya. "Bagaimana bisa ini terjadi?"


"Akan kujelaskan sesederhana mungkin, alat penyimpanan yang ditanamkan dalam tubuhmu yang dinamakan Stardet itu tidak hanya berfungsi sebagai penyimpanan senjata melainkan ada teknologi canggih komunikasi antar pikiran disana. Aku seorang kecerdasan buatan."


Aeus berusaha mencerna tiap kata kemudian bertanya, "antar pikiran yang bagaimana?"


"Aku tidak bisa jelaskan itu untuk saat ini, belum waktunya, apakah kau sudah memberitahu sang raja?"


Dengan lantang dan tegas Aeus bersuara, "tidak, aku tidak bisa melakukan itu, kami dalam keadaan berperang dengan pemberontak."


Gadis kecerdasan buatan itu mengangguk sedikit. "Tidak apa, masih banyak waktu."


"Aku masih bingung, tujuanmu memangnya sebenarnya apa? Siapa penciptamu? Apakah kau program pemberontak yang berusaha meracuni pikiranku?"


"Bukan Raven, aku tidak bisa menyebutkan asalku, tapi yang jelas aku bukan Supernova ataupun musuh Supernova," ucap gadis itu dengan tenang. "Untuk tujuanku, sudah jelas, aku ingin kau mengabarkan tentang Hypernova pada sang raja. Itu saja untuk saat ini."


Hypernova... kata itu lagi. "Memangnya apa itu?"


"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, ada waktu untuk semua hal Raven, kau harus paham itu."


Aeus kesal, tapi mau bagaimana lagi. Jawabannya ada kalau menunggu. Saat itu juga wujud dari gadis tersebut berkedip cepat selama sedetik.


"Wah, apa itu?"


"Butuh energi besar untuk melakukan panggilan antar pikiran yang jauh, setiap percakapan kita memiliki batasan waktu." Suara gadis itu tidak lagi seperti gadis karena nada suaranya begitu berat sehingga terdengar mengerikan.


"Jadi aku hanya bisa melakukan panggilan singkat saja?" Tak usah dijawab Aeus yakin itu benar saat wujud gadis itu hancur seperti gelombang suara berantakan kemudian kembali seperti semula. Tidak ada lagi waktu. "Kalau begitu siapa namamu?"


Gadis itu terdiam memandangi Aeus. "Aku tidak memilikinya," suara dia semakin berat dan aneh.


Aeus tidak bisa memanggil sang gadis hanya dengan seorang kecerdasan buatan. Dia pasti punya julukan, karena dia sebuah program mungkin namanya aneh sehingga dia tidak mau berbagi. "Baiklah, apa ada yang lagi yang ingin kau sampaikan?"


"Aku tahu ini sulit bagimu Raven, tapi kau memiliki peran penting disini. Kau telah ditunjuk sebagai pembawa pesan, itu adalah tugas yang penting. Kau harus yakin itu."


Aeus tidak yakin karena memang tidak pernah memiliki rasa kepercayaan diri. Dia selalu bimbang bahkan disaat ujian, yang membuatnya bertahan adalah rasa pengecutnya yang tidak mau mati. "Baiklah, satu hal lagi ... apakah aku satu-satunya Unvon yang bisa bertemu denganmu? Kumohon kali ini jawablah."


"Kau satu-satunya, sekaligus bukan satu-satunya, aku tahu kau bingung tapi kau harus yakin Raven. Untuk sekarang kau hanya harus melakukan tugasmu disini," tegas gadis kecerdasan buatan itu sambil melangkah mendekati Aeus dan menatap lekat dirinya.


Aeus tidak meminta menjadi yang terpilih, entah kenapa menyakini hal itu begitu berat. Tanpa diduga tubuhnya melumpuh dan pandanganya menghitam gelap. Seperti tenggelam dalan benaknya sendiri.


Waktu berlalu cepat dan akhirnya semua personil telah terkumpul. Kira-kira ada seratus lima orang sudah disini jika ditotal.


Malam hari barulah diadakan rapat besar setelah petugas pemasang jebakan di hutan sudah kembali. Dihadapan semua Supernova disana Owen berdiri didepan sebagai ketua yang akan bicara, membahas rencana serius mengenai pertempuran akhir. Disini, saat ini juga.


"Rencana pertempuran akhir telah selesai, setelah banyak perbaikan dan masukan," ucap Owen lantang. "Rencana ini hanyalah omong kosong, jika tidak ada usaha keras untuk mewujudkannya. Berbeda dari pertempuran sebelumnya kita melakukannya dengan elemen kejutan, sekarang kita menantang mereka di depan mata mereka sendiri, dengan mempersilahkan mereka membawa dua ratus prajurit dan segala kekuatan mereka miliki."


Aeus meneguk liur menatap wajah Owen dengan cemas. Bagi orang penakut seperti dia, emosi suram terasa sekali saat ini, dari diri sendiri atau orang lain.


"Aku harus mengatakan ini sebelum membahas rencana pertempuran akhir. Kali ini kita tidak akan menggunakan konstelasi pemanggilan," suara Owen datar namum terasa menyayat dalam.


Aeus ingat Owen bukan orang yang suka bercanda apalagi didepan prajurit senior yang umurnya ada yang melebihi dirinya sendiri. Seketika emosi bingung dan kesal memuncak saat itu dan siap digambarkan oleh amarah, tapi itu teredam karena dia melihat seorang Lucos delapan belas tahun mengangkat tangannya hendak bertanya.


"Kita memiliki Unvon, kita bisa menghabisi mereka sekaligus dengan kekuatan penuh bukan?" Lucos itu dengan tenang.


Owen menatap Lucos itu sesaat lalu menjawab, "aku sudah mempertimbangkan semua hal dan itu rencana terbaik kita."


"Rencana terbaik untuk bunuh diri!" Xordas muda berdiri menatap tajam Owen.


"Aku sudah menduga kalian akan tidak setuju, tapi mau tidak mau itulah rencana kita. Berkat Aeus yang selain berhasil membantu operasi penyalamatan sehingga kita punya tambahan prajurit dia juga berhasil mengumpulkan informasi penting tentang pemberontak."


Disebut di hadapan semua orang hebat tidak bisa membuat Aeus lebih malu lagi. Dia langsung menduduk saat ada yang menatap atau melirik dirinya. Dalam hati dia bertanya apakah Farhaz sudah puas mengerjainya.


"Informasi yang kami dapatkan adalah tentang di beberapa titik di kota Jeldan telah tertanam bom. Banyak bom. Kami perkirakan itu diletakan sebelum Pemberontak berhasil merebut kota ini. Kita tidak bisa mengancam keselamatan Jeldan jika memukul telak musuh. Tugas kita adalah menyelamatkan kota ini seminimal mungkin menimbulkan korban dan kerusakan."


Owen melanjutkan, "dan itu tidak akan terjadi jika musuh bukan menganggap kita adalah musuh lemah bagi mereka. Aku ingin kalian mengerti dalam pertempuran tidak hanya kepercayaan teman harus ada, musuh juga harus mempercayai sesuatu tentangmu. Saat ini jika mereka tidak melihat peluang berhasil mereka akan meledakan kota ini bersama mereka didalamnya. Tapi itu tidak akan terjadi jika kita perlihatkan mereka juga punya peluang untuk menang. Karena itu kita tidak akan menggunakan konstelasi pemanggilan."


Hal rumit itu sayangnya masuk akal. Semua terdiam, tidak lagi berniat berdiskusi untuk merubah rencana. Satu hal yang pasti, takut tetaplah takut.


"Menurut kalian Supernova selama ini lemah? Berkat senjata kita bisa dikenal dunia dan menjadi pelindung dunia? Tidak, itu semua dilakukan dengan memeras keringat dan darah. Kita pernah berhasil melakukan operasi penyelamatan tanpa memakai konstelasi pemanggilan, kita juga bisa saat ini," kata Owen yakin.


Bagaimana pun disebutnya, dengan keyakinan setinggi gunung dan seterang matahari setiap ada kekurangan disanalah prajurit terfokus. Aeus memang tidak lama mengenal Owen tapi dia yakin dan semoga saja selalu yakin bahwa tindakan dia ambil untuk menyalamatkan kota ini benar lagi tepat.


"Jangan terlalu khawatir akan hal itu. Supernova adalah pelindung dunia, teman keadilan dan badai bagi musuh ingatlah selalu itu. Aku menugaskan beberapa orang tinggal di kota untuk membantu kita, mereka disana yang akan melakukan konstelasi pemanggilan Lyra. Dengan alat itu kita akan menjinakan bom bahkan juga setiap senjata yang mereka pakai saat di medan pertempuran nanti. Pokoknya kita harus bertahan dulu apapun yang terjadi sampai konstelasi oleh tim kita di kota selesai."


Itu yang semua tunggu, harapan, kepercayaan baru. Mereka disini untuk itu, hanya untuk hal itu bukannya takut seperti tadi.


Ketakutan memang sulit dihadapi dan Owen mengajarkan untuk menghadapinya dengan mengatakan kebenaran tadi. Beberapa yang bisa memahami menunduk bersalah, seperti Aeus. Tentara seharusnya memiliki keyakinan kuat.


"Baiklah, sudahi untuk hal itu. Kita akan membahas rencana besar kita," kata Owen. "Akan ada tiga kelompok yang tiap kelompok berisi sekitar tiga puluh orang. Sayap kiri akan dipimpin oleh Jaron." Xordas dua puluh delapan tahun berambut dan mata warna hijau maju sedikit. "Formasi tengah akan dipimpin Goldstein." Xordas empat puluh tahun berambut coklat beriris mata abu-abu melangkah maju. "Dan sayap kiri aku sendiri yang memimpin."


Owen akan bertugas dilapangan? Itu hal hebat yang dia dengar hari ini. Aeus tidak ingin meremehkan tapi dia belum pernah melihat Owen beraksi jadi kemungkinannya ada dua. Dan Aeus lihat condong ke arah memalukan.


Owen melanjutkan, "segeran ketahui nama kalian berada dimana, rencana selanjutnya akan diberitahukan oleh tiap pemimpin regu. Baiklah, semua sudah paham, malam besok bersiaplah karena pertempuran akhir menunggu kita semua."


 


Terima kasih telah membaca cerita ini, jangan lupa like komen, dan klik favorit ya. Satu lagi, ini adalah logo baru Supernova ya, yang dulu itu udah saya hapus dan ini yang versi paling sesungguhnya.