
Persiapan dan persiapan dilakukan, malam yang tenang menjadi gaduh dan ramai.
Dengan bantuan dari masyarakat secara diam-diam senjata dan prototipe semuanya berhasil dipindahkan. Barang-barang itu mulai dihitung dan diperiksa berkala.
Kemudian tentang formasi tiga kelompok saat pertempuran nanti. Aeus sudah melihat daftar dimana dia ditugaskan, ternyata Aeus berada di posisi tengah dipimpin Xordas bernama Goldstein. Melihat daftar lagi dia menemukan bahwa Tiffany berada disana juga, hebat.
Tiap kelompok sedang mengadakan rapat masing-masing, regu Aeus tidak mau ketinggalan. Diketuai oleh Xordas berumur empat puluh tahun bernama Goldstein, sesuai umurnya kerutan sudah tercipta beberapa di bawah mata serta pipi. Jangan salah, Aeus tidak pernah menyebut orang ini tua, walau benar begitu tapi semangatnya tidak, tatapan dari mata abu-abu Goldstein benar-benar nyalang, ditambah tubuh besar lagi tegak.
Bersama prajurit kelompok tengah lain Aeus duduk dibarisan pinggir, mendengarkan Goldstein bicara di depan sebagai pembimbing, pemimpin, dan teman siap mati di pertempuran akhir.
"Dengan tiga puluh orang termasuk diriku kita akan mempertahankan serbuan pemberontak berjumlah dua kali lipat. Aku yakin kalian takut, apakah ada yang tidak?" tanya Goldstein.
Hanya angin yang menjawab.
"Tapi itu hal bagus, benih keberanian tumbuh subur di orang yang takut. Dan...." Goldstein menatap Aeus. "Para anak muda ini telah mengajarkan hal berhaga tentang keberanian."
Dari sekian banyak remaja Aeus hendak tidak percaya Goldstein menatap dia. Menurutnya itu sebagai pujian tidak langsung, walau begitu dia tetap tidak pantas untuk itu.
"Baiklah kita ke rencana utama kita. Medan pertempuran kita kali ini adalah hutan." Goldstein merogoh kantong celana hitamnya kemudian mengeluarkan kertas yang merupakan gambar peta dari hutan. "Titik silang merah adalah jebakan yang kita buat."
Semua memperhatikan tiap titik dan tanda. Di wilayah hijau yang berarti hutan di bagian kiri tertulis kata "Pemberontak" sedangkan di sebrangnya tertulis "Supernova", dan di tengah-tengah ada kumpulan tanda X bewarna merah membentuk garis perbatasan, memisahkan antara Pemberontak dan Supernova.
"Aku akan bagi kita lagi menjadi beberapa tim, tim pertama berisi lima belas orang akan berada dekat garis jebakan. Satu hal bagi kalian yang menjadi tim pertama adalah jangan terlalu memaksakan diri, tugas kalian sebenarnya adalah membuat pemberontak mendekati jebakan kita."
Setengah mengangguk, separuh mengusap dagu, dan sisanya diam gugup.
"Tapi tetap usahakan bunuh sebanyak apapun pemberontak. Baiklah, selanjutnya jika pemberontak maju dengan jumlah besar, tim pertama harus mundur dan tim kedua sebanyak sepuluh orang yang berjarak sepuluh meter dari garis depan akan melindungi tim pertama yang mundur. Jika ada yang terluka langsung bawa ke tim medis dan bagi yang kehabisan amunisi segera isi ulang. Untuk sepuluh orang tadi yang melindungi tim pertama, harus kukatakan kalian tidak boleh mundur apapun yang terjadi, kalian harus bersiap mati kalau perlu untuk melindungi teman kalian."
Goldstein meneruskan, "kini hanya ada lima prajurit, dua akan kutunjuk sebagai tim medis dan tiga orang lagi sebagai prajurit yang bertugas di udara. Menurut informasi pemberontak juga menggunakan prototipe, aku percaya yang bisa menggunakan senjata Supernova hanya Supernova tapi kita harus punya rencana cadangan jika mereka memakai alat untuk terbang seperti sayap Aquila atau Corvus, jika tidak kita akan tamat karena naif, untuk itu tiga penerbang kita tidak boleh maju sebelum Pemberontak mengeluarkan penerbang mereka."
Aeus menghela napas berat. Seperti lainnya, bagaimanapun banyaknya harapan mereka miliki untuk menang, kekalahan selalu saja menghantui ibaratkan cahaya yang tidak bisa muncul tanpa kegelapan.
"Baiklah sekarang saatnya untuk menentukan tim kalian. Bagi kalian yang ingin berada di tim pertama angkat tangan kalian."
Dua Xordas langsung mengangkat tangan, diikuti tiga orang lagi. Melihat tiap tangan teracung itu Aeus merasa lemah, dia diantara orang-orang penakut akan tetapi memilki suatu keyakinan, sedangkan Aeus apakah bisa melakukan itu? Dengan percaya diri memutuskan pilihan untuk dirinya. Yang dia bisa hanya berupaya menumpuk dan menumpuk rasa keberanian.
Aeus menutup mata kemudian langsung berpaling ke samping. Dia muak, jijik untuk menjadi seorang pengecut. Selama ini dia selalu pasrah oleh arus takdir yang membawa dia ke sungai kotor dan busuk. Kali ini saja dia ingin mempunyai pilihan, biarpun buruk. Aeus mengangkat tangan.
Dia menjadi orang terakhir di tim pertama. Selanjutnya pemilihan tim kedua, medis, dan penerbang dilakukan begitu singkat.
"Saatnya kita mengimbangi kekuatan, aku ingin kalian yang memiliki kemampuan buruk, perhatikan, benar-benar buruk dalam menembak kusarankan mengambil senapan sagitarius."
Lima orang mengangkat tangan ditambah Aeus yang menjadi ke enam.
"Baiklah, sisanya akan mendapat senjata biasa atau prototipe juga." Goldstein berdiri. "Pegang rencana itu seerat mungkin, dan pastikan tidak pernah lepas. Kalian boleh istirahat sekarang."
Dua puluh sembilan prajurit dihadapan Goldstein mulai berdiri, bersiap bubar.
"Satu hal lagi, aku ingin kalian tahu bahwa aku senang berjuang bersama kalian." Goldstein tersenyum puas.
Kemudian tengah malam itu menjadi tersunyi Aeus rasa. Semua berbaring, menutup mata, dan juga mulutnya, tapi katakanlah itu bentuk kecil usaha untuk tidur karena semua orang tahu malam esok bisa saja adalah tanggal dari kematian mereka.
Matahari setengah terselimut di cakrawala muncul kembali di kota Jeldan, seperti hari dulu, sekarang, dan nanti. Yang berbeda adalah penguasa mereka disana yang secara hukum tidak resmi.
Pagi itu suasana sudah heboh di kantor polisi. Itu semua berkat Owen yang muncul tiba-tiba disana dengan jaket tebal yang dibaliknya seragam Supernova.
Diruangan sempit dengan sepuluh orang membidik kepalanya tidak sedikitpun membuat dia gentar. Ekspresinya tetap santai saja saat itu.
"Apa yang kau mau?" tanya salah satu pemberontak pada Owen.
"Aku ingin kalian menggiringku dengan aman ke kantor walikota, tempat pemimpin kalian berada, paham?" kata Owen.
Semua pemberontak bertukar pandang.
Pernyataan itu membuat lain gusar, akan tetapi kalau dipikir apa yang akan dilakukan atasan mereka kalau membunuh salah satu Supernova sepenting Owen. Hukuman paling tepat bagi orang itu nampaknya dibunuh.
Salah satu Pemberontak menurunkan senjatanya. "Baiklah, tetap awasi dia, yang lain siapkan kendaraan."
Mobil jip hitam yang sekarang sudah ada perubahan di kap dan kedua pintunya yaitu tanda tengkorak sebagai lambang pemberontak tengah membawa penumpang khusus hari ini. Seorang Supernova yang dikenal sebagai pahlawan Laut Florida.
Sepuluh menit perjalan mereka telah berhasil membawa Owen ke gedung walikota seperti rumah mewah dengan cat dominasi putih, teras belangkan lebar, dan pintu masuk mewah berukir cantik setinggi empat meter.
Owen digiring kasar dengan pistol selalu setia mencium punggung lebar miliknya. Bisa dilihat arti dari "aman" tidaklah pasti nyaman atau juga sebaliknya.
Dia masuk lewat pintu mewah tadi, ketika sampai di aula dia langsung dikepung selusin pemberontak dengan senapan mematikan di kanan dan kiri. Hanya sedikit ruang di depan dia yang kosong dan dia mulai tahu artinya saat seorang perempuan berambut pirang cepak ke kiri, bertato di pipinya ular menggeliat. Pakaian serba hitamnya tidak sedikitpun membuat Owen khawatir.
Owen sudah tahu orang ini. Dia wakil pemimpin disini menurut informasi, Greta Eludia si belut betina. Dia pernah terkait kasus kriminal pembunuhan seorang keluarga kerajaan beberapa tahun lalu dan dia tidak pernah tertangkap.
"Owen? Si pahlawan laut Florida? Kau hamil sekarang ya, sudah berapa bulan?" Greta menyeringai senang oleh hinaan dia buat sendiri.
"Hampir sembilan, dan kau tahu? Jika dia hamil aku akan memberi dia nama Arnold Eludia."
Seketika wajah Greta berubah drastis menjadi muak. Tatapan dia benar-benar tajam ke Owen. Tapi Owen tidak peduli, jika itu yang ingin dia lakukan silahkan, perlu lebih dari tatapan untuk menyakitinya.
Seorang pria jangkung berumur empat puluh tahun berambut, berjanggut, dan berkumis hitam keluar. Bahu begitu tegak, matanya yang bewarna merah dilengkapi kacamata kecil bundar menatap Owen penuh tanda tanya.
Bahkan kehadiran orang ini membuat Owen sedikit gugup. Itu bukan karena pistol atau pisau di sabuknya melainkan kabar mengerikan yang telah orang ini dapatkan dari kegiatan yang dia lakukan dulu sebagai *******, seperti kriminal dunia lain nama asli dia tidak pernah diketahui hanya beberapa julukan dan untuk dia lebih dikenal sebagai Cutjack. Dia bukan orang Aproud, dia orang asing disini akan tetapi jabatan sepertinya membuat orang lain tutup mulut.
"Apa yang kau lakukan disini Owen?" tanya Cutjack.
"Seperti biasa, melakukan hal bodoh. Tapi sebenarnya tidak hanya itu, aku kesini ingin bernegosiasi denganmu."
"Apa yang ingin kita negosiasikan Owen? Kota ini sudah menjadi milikku."
"Itu tidak akan lama terjadi selagi Supernova masih ada disini."
"Kalau begitu." Cutjack meraih pistol perak berjenis glock di sabuknya lalu mengarahkan tepat ke kepala Owen. "Akan ku kurangi jumlahnya."
Owen menyeringai ironis. "Kau tahu aku sudah bersiap mati disini, saat ini juga. Silahkan tembak aku dan kau akan mati penasaran karena tidak memberiku waktu menawarkan kesempatan bagus."
Keadaan menjadi hening. Perlahan Cutjack menurunkan pistolnya lalu mulai terkekeh pelan. "Apa yang kau tawarkan?"
"Pertempuran untuk menentukan siapa penguasa dari kota ini." Owen mengeluarkan kertas di sakunya yaitu sebuah surat resmi tanda penyerahan kota bagi pemenang pertempuran.
"Kau menantang kami? Kulihat kau hanya punya prajurit bocah, kau berhasil membebaskan tawananku berkat keberuntungan, bukan berarti jumlah kalian saat ini terkecukupi. Kami masih dua kali lebih banyak dari kalian."
"Kalau begitu kenapa kalian tidak ambil? Kita tuntaskan ini secara jantan."
Cutjack terdiam untuk berpikir. "Kau kira aku bodoh? Kalian mempunyai Unvon cukup untuk membuat konstelasi pemanggilan."
"Yang akan dipakai oleh prajurit bocah yang tidak berpengalaman. Itukah yang kalian takutkan?"
"Kau menantang kami?" Cutjack menatap mata Owen dengan penuh kekesalan.
"Jika kau menganggap seperti itu, ya. Kita akan berhadapan, kau dengan semua kekuatanmu, aku dengan semua kekuatanku. Pemenang dari pertempuran akhir ini akan mendapatkan Jeldan secara resmi." Owen melepar kertas pernyataan itu kedepan yang kemudian melayang ke kiri dan ke kanan lalu jatuh mencium lantai porselen putih di dekat Cutjack.
"Dimana kita akan mengadakan pertempuran akhir ini?"
"Didekat Jembatan Beruang, di hutan kota."
"Kalian semua sudah sampai disana bukan? Sudah siap dengan kejutan lainnya." Cutjack tersenyum sesaat mencoba berpikir. "Baiklah akan kuambil. Kapan kita bisa bertempur pahlawan?"
Owen menatap Greta dan beberapa pemberontak lain kemudian dengan yakin menatap Cutjack. "Tengah malam ini, kalian bisa pergi saat sore dan bersiap disana."
"Baiklah," ucap Cutjack merentangkan tangan tanda setuju. "Aku sarankan kau bersiap kalah Supernova. Jeldan milikku."