
Lubang ke tiga adalah nama tempat Aeus tempati saat ini. Terowongan kecil berpenerangan minim hanya dengan lampu senter darurat yang di gantungkan di langit-langit. Disini, saat malam tiba dingin menjadi raja sedangkan siang panaslah berkuasa, satu-satunya keadaan menjadi bersahabat adalah pagi, seperti saat ini.
Terlihat masih ada yang terlelap dengan selimut namun ada beberapa yang sudah bangun dan memilih melakukan pemanasan seperti push up dan sit up. Aeus yang baru bangun telah duduk bersandar dinding batu keras dengan kaki tertekuk ke dada dan selimut yang menututupi hampir seluruh tubuhnya kecuali kepala.
Sudah sehari lewat setelah operasi penyelamatan itu, sekarang Owen sebagai komando utama Supernova bertugas merebut kota ini masih menyuruh beristirahat untuk tiap personil, itu kata Tiffany yang bertugas sebagai penanggung jawab disini. Menurut pengalaman Aeus dengan Owen, pasti saat ini dia telah melakukan sesuatu untuk misi kedepannya.
Aeus sudah kehabisan saran jadi dia diam untuk sekarang sebagai bantuan yang dia bisa berikan. Dia perhatikan lagi sekeliling, jumlah orang disini berjumlah sekitar dua puluhan dari pelajar juga prajurit Supernova. Jika jumlah disini sama dengan tempat lain maka mereka masih kalah jumlah. Tidak, jumlah tidak lagi penting saat para Unvon terkecukupi untuk membuat konstelasi pemanggilan.
Yang menganggu, benar-benar menganggu Aeus adalah nyawa yang hilang saat operasi penyelamatan. Ralon Strade, putra dari Jendral bernama Garon Strade telah gugur dia sendiri yang melihat mayatnya. Untuk Tiffany sepertinya dia baik-baik saja saat ini, bagaimana dengan Mira? Dia sendiri merasa aneh mengkhawatirkan gadis itu, tapi mereka pernah bertemu, bicara, dan melewati keadaan sulit bersama.
Ini memang berat, itu pasti, setidaknya mereka yang telah mati gugur sebagai pejuang, bukannya remaja labil.
Jam berlalu, semua personil disana menyantap sarapan bersama yaitu sepotong roti dan segelas air mineral saja tidak ada cemilan atau makanan instan seperti di ruang bawah tanah gudang. Bahkan jadwal makan hanya ada dua, saat ini dan sore nanti. Beberapa bilang Pemberontak mulai mengawasi pasokan makanan dengan ketat.
Ini berarti Owen harus lebih cepat lagi merebut kota ini. Aeus ingin sekali melihat ekspresi frustasi komandan itu namun dia tidak pernah menampilkannya. Selalu berwajah keras dan tenang.
Cahaya ditempat ini remang-remang membuat Aeus mengantuk ditambah dia tidak bisa melakukan apa-apa membuat dirinya bosan. Jadi untuk mengusir rasa itu dia menemui Tiffanya di ujung ruangan yang kelihatannya masih sibuk dengan persenjataan dari membongkar, meminyaki, dan mencek amunisi.
"Ada apa?" Sambar Tiffany tanpa menoleh sedikit pun ke Aeus yang sudah berdiri di belakangnya.
"Aku... apakah boleh melihat daftar nama korban atau personil hilang dari operasi penyelamatan?"
Mulanya tidak ada jawaban. Tiffany masih terus menggosok ujung laras dengan kain berminyak seperti senjata-senjata itu adalah benda berharga yang perlu perawatan serius. "Untuk apa?"
Tentu saja untuk dibaca ucap Aeus dalam hati biar begitu dia tetap tidak ingin mencari masalah untuk juara penembak. "Apakah tidak bisa?"
Tiffany berpaling kearahnya kemudian merogoh sakunya lalu mengeluarkan kertas putih terlipat. "Setelah kau baca kembalikan langsung." Tiffany berbalik, kembali lagi ke anak-anaknya yaitu beberapa pucuk senapan.
Setelah lipatan di buka kertas itu langsung menampilkan kumpulan nama dari tinta merah. Sekitar dua puluh lima nama orang terukir disana. Kesedihan merayap diri Aeus seketika, tapi dia sudah meneguhkan hati bahwa dia harus menerima kenyataan apapun yang terjadi. Itu sebelum dia melihat daftar nama, sebab ada sebuah nama yang membuat depresinya tidak dapat terbendung lagi, itu saat nama Jasmine tertulis disana.
Aeus tahu itu, seharusnya dia tahu siapa saja bisa mati. Hanya saja untuk orang seperti Jasmine yang baik dan ramah ada perasaan tidak rela di hati. Sekuat mungkin dia menahan air mata yang ingin jatuh.
Dia tidak bisa lagi lama-lama memegang kertas itu jadi dia kembalikan ke Tiffany. Kemudian dia melangkah ke sudut ruangan, duduk bersandar di batu kasar dan termenung hingga tak lama tertunduk menangis pelan.
Waktu bergulir sampai sore telah Aeus lewat hanya dengan duduk dan tertunduk. Dia masih kepikiran tentang Jasmine, dia tidak tahu kenapa tapi begitulah adanya. Jujur Aeus suka pada Jasmine, dia tidak ingin menyangkal hal itu lagi, untuk apa memangnya? Lagipula dia sudah mati. Setiap detik memikirkan hal itu membuat hati dia membeku.
Lubang tiga jadi agak heboh karena kedatangan tambahan makanan lagi. Aeus tidak peduli hal itu, perut dia kosong namun otak dia penuh kesedihan hingga cukup juga untuk menyumbat rasa laparnya.
Ada langkah mendekat, Aeus tidak perlu repot menoleh, jika itu penting dia pasti di panggil.
"Dia merasakan sedih. " Dari suaranya itu seorang laki-laki menurut Aeus. "Benar-benar sedih."
Dia tertarik melirik siapa orang ini, seenaknya mengatakan dia sedang bersedih. Karena terlalu malas dia enggan melakukan itu. Bisa saja orang itu bukan menyinggung dirinya, disini banyak orang.
"Benarkah?" suara seorang perempuan lagi. Kali ini Aeus merasa pernah mendengar suara ini. "Seharunya dia senang berkat dia kita bisa mengumpulkan tambahan prajurit dan bahkan juga informasi. Benar begitu Aeus?"
Bukan karena terpanggil dia menoleh melainkan ingin bertanya pada gadis yang bukan lain adalah Mira. "Apa maksudmu informasi?" Sesekali mata Aeus melirik seorang Xordas delapan belas tahun berambut hitam dengan mata hijau disamping prajurit putih itu.
"Kau rela menyimpan prototipe Auriga dalam tanganmu sendiri lalu sengaja tertinggal untuk bisa menyusup ke ruang komunikasi pemberontak dan meletakan prototipe Auriga disana bukan? Berkat kau ada lima informasi berguna kita dapatkan."
Itu memang benar dia melakukan itu, hanya saja Farhaz adalah otak dari itu semua. "Farhazlah punya ide itu."
"Tidak, dia bilang kau yang punya ide itu," ucap Mira datar.
"Dia yang menyuruhku, kau kira orang bodoh sepertiku memiliki ide seperti itu?"
"Dia... jujur," ucap Xordas disamping Mira yang menatap Aeus dengan mata aneh.
"Aku lupa memperkenalkan diri, namaku Chad," sahut Xordad bermata hijau itu.
"Ah... aku Aeus." Aeus dengan enggan.
"Aku tahu kau, hampir semua orang tahu."
Sejak obroloan Aeus dengan Chad, Mira terdiam berpikir.
"Kalau kau benar kenapa Farhaz berbohong?" tanya Mira entah pada siapa.
Pertanyaan itu membuka jalan ke pertanyaan lainnya bagi Aeus. Apa tujuan Farhaz menyebut dirinya yang punya niat seperti itu. Aeus lalu teringat kata Farhaz "bukan begitu cara Lucos" mungkin inilah maksudnya.
"Entahlah, tapi yang membuatku bingung kenapa kau tahu ucapanku benar?" Satu pertanyaan untuk Chad berhasil Aeus luncurkan.
"Dia mutan," kata Mira langsung. "Dia memiliki kekuataan untuk mengetahui perasaan seseorang, atau seperti itulah."
Sedangkan Chad sendiri yang ditanya masih terdiam yang berarti itu benar. Aeus hanya tahu makna itu dari film yang dia tonton mengenai manusia yang memiliki gen yang berevolusi sehingga punya kekuatan beragam diantara membaca pikiran atau mengendalikan logam. Itu hanya cerita fiksi baginya, bagi orang lain juga.
"Yang Mira katakan itu benar," sahut Chad. "Aku memiliki kemampuan merasakan perasaan, lihatlah." Dia menghadapkan telapak tangan ke Aeus lalu jari manisnya bergetar kian kencang. "Jariku memiliki semacam penerima sinyal perasaan, jempol untuk marah, telunjuk untuk tulus, dan jari manis untuk kesedihan. Semakin tinggi perasaan yang diterima getarannya makin kuat."
"Semua mutan di negara yang tidak diingankan dikirim ke Aproud untuk diberi rumah dan makanan. Mereka juga memiliki kebebasan pilihan ingin menjadi apa, seperti diriku," kata Mira.
Chad mengangguk ke arah Aeus tanda setuju. Banyak hal yang ternyata Aproud simpan. Dia bertanya-tanya apakah ada hal lain lagi yang menunggunya untuk diketahui, bisa saja, jika dia tetap hidup dan meninggalkan kesedihannya. Dan itulah yang akan dia lakukan sekarang.
Malam kembali tiba dengan membawa pasukan hawa dingin menusuk. Biar begitu semua orang disini sudah terbiasa, termasuk Aeus. Dengan selimut biru dia meringkuk di sudut ruangan yang kini tanpa ada kesedihan di wajah.
Pagi kembali, kali ini disambut Aeus dengan malas. Itu karena dia dan yang lain dibangunkan paksa oleh penanggung jawab lubang tiga, katanya ada yang perlu diumumkan, sesuatu tentang yang disebut rencana kedepan.
Semua orang duduk merapat menghadap satu arah dimana Tiffany berdiri dengan percaya diri berbicara mengenai status keadaan sekarang. Kalau Aeus pasti sudah gugup diperhatikan oleh anggota senior Supernova. Tidak disangka bakat kepemimpinan juga dimilikinya Aeus kira yang Tiffany tahu hanya menembak dan menembak.
"Pemberontak kini lebih ketat lagi melakukan pengawasan, mereka melakukan sepuluh kali patroli di segala penjuru kota ditambah adanya jam malam," tutur Tiffany dengan nada kencang lagi tegas. "Tapi itu bukan masalah besar, kita masih bisa mengelabui mereka dengan penyamaran. Hanya saja kita tidak bisa pergi bersamaan jika tidak ingin dicurigai, nanti ada pembagian kelompok dengan waktu berbeda."
Aeus memang mendengarkan tapi tidak memerhatikan sama sekali. Sebab kesadarannya masih setengah-setengah hingga susah untuk fokus. Dia melirik ke orang disamping. Di kanan ada seorang prajurit Xordas yang sepertinya berumur tiga puluh tahunan asyik mendengarkan Tiffany, sedangkan di kiri untungnya ada pelajar Lucos yang juga khidmat memandangi Tiffany. Aeus beranikan diri bertanya pada Lucos itu tentang tujuan mereka.
"Kita akan pergi ke hutan kota Jeldan yang di dekat jembatan Beruang."
Aeus baru tahu ada nama jembatan bernama Jembatan Beruang. Tapi untuk hutan kota di Jeldan hanya ada satu setahu dia saat dulu memperhatikan peta kota Jeldan. Kalau saja ada Jasmine dia pasti akan menjelaskan tempat itu padanya.
Badan Aeus langsung seperti tersetrum saat pikiran itu terlintas. Berbeda dari sebelumnya kenangan itu tidak lagi bisa menyakitinya. Dia sudah berniat untuk hidup untuk masa depan, karena itu dia rela memikirkan hal aneh tentang sosok gadis itu, seperti, hanya daging dan tulang.
Itu pemikiran kejam tapi kalau itu yang dibutuhkan dia rela. Banyak hal yang telah dia lalui membuat Aeus harus berubah sifat dia, seperti cengeng misalnya.
"Kalau begitu kelompok pertama akan kuberitahu dan mereka akan pergi siang ini. Bagi yang lain kusarankan agar sedikit melatih tubuhnya karena saat pertempuran nanti semua tenaga kita sangat dibutuhkan. Itulah pemberitahuannya, terima kasih telah mendengarkan." Tiffany beranjak pergi.
Setelah kembali fokus hanya kalimat akhir itu Aeus dengarkan. Semua orang berdiri hendak bubar. Aeus juga berdiri kali ini dengan kebingungan bertanya pada Lucos tadi mengenai pertempuran apa yang Tiffanya maksud.
"Pertempuran di dekat Jembatan Beruang? Itu adalah pertempuran antara Supernova dengan pemberontak. Itu akan menjadi pertempuran besar karena kita menantang seluruh pemberontak di kota Jeldan. Siapa yang bertahan paling akhir maka itulah pemenangnya."
*****
kali ini akhirnya bisa update juga walau telat. bagi yang masih setia membaca cerita ini terima kasih sekali atas pengorbanan waktunya, padahal cerita ini nggak bagus amat. Dan juga jangan lupa like dan klik favorit ya kalau suka, sekian.....
saya pamit.