
Banyak yang terjadi dalam seminggu ini. Tapi yang paling penting semua sudah kembali seperti sedia kala. Damai dan tentram, tapi entah sampai kapan.
Untuk semua pelajar akadem militer Supernova yang sudah berjuang keras ikut dalam pertempuran perebutan kota di Jeldan sudah kembali aman ke tempat belajarnya masing-masing, menjalankan tugas mereka sedia kala yaitu belajar dan berlatih.
Dari jumlah pelajar di akademi Supernova di ibukota yang hampir menyentuh angka seribu kebanyakan memang tidak berhasil kabur dan akhirnya jadi tawanan selama kota di duduki Pemberontak. Namun itu sudah berlalu, Supernova menang dan mereka baik-baik saja. Setidaknya kebanyakan, karena ada beberapa yang memilih jalan kurang tepat dengan melawan sehingga akhir dari mereka tragis.
Hari-hari terkurung di beberapa kota Aproud oleh Pemberontak akan menjadi sejarah berdarah yang akan selalu dikenang sebagai pelajaran berharga bagi semua. Semua kejadian, pertempuran, kehilangan, semuanya telah diarsipkan.
Kematian tetaplah kematian, merelakannya adalah hal terbaik bagi orang hidup lakukan. Sebagai pelipur lara bagi kesedihan Raja dari negara Aproud sudah menyiapkan upacara penghargaan sekaligus penghormatan bagi prajurit yang gugur saat bertugas menyalamatkan kota. Acara besar itu akan dihadiri sang raja sendiri dan orang-orang penting Aproud lainnya.
Semua orang yang dimaksud juga termasuk para pelajar yang telah ikut membantu merebut kota, dan saat mengetahui itu Aeus yang salah satu dari prajurit yang bertempur melawan pemberontak dia langsung mual.
Aeus sedang berada di koridor putih panjang yang mana di depannya berdiri loker besar para pelajar yang bewarna biru gelap. Disana dia mendapatkan surat resmi undangan itu tepat di dalam tempat penyimpanan.
Banyak yang sudah terjadi, namun Aeus tidak bisa mengalahkan sifat anehnya seperti malu. Apa yang telah dia lalukan di Jeldan menurutnya tidak seberapa, orang lain banyak mati, orang-orang yang baik. Ketimbang dirinya yang pecundang ini dia rasa takdir amat tidak adil. Tetapi yang lalu biarlah berlalu.
Aeus meraih tas punggung hitam di samping kakinya kemudian memakainya setelah itu sambil membawa kartu undangan itu dia bergegas pergi keluar akademi untuk pulang di hari yang sudah agak kekuningan.
Ada satu hal aneh lagi saat dia kembali ke akademi, entah kenapa setiap berselisihan dengan pelajar lain dia selalu melihat dirinya dilirik bahkan sampai dibicarakan. Aeus tahu tetapi seperti biasanya dia tidak ingin meyakininya. Jadi dia mencoba bersikap biasa saja dan terus melangkah.
Sore itu matahari sudah tidak terlalu panas lagi sehingga dari dinding kaca lantai tiga ini, di lapangan bawah nampak orang sibuk menyusun bangku dan panggung megah. Itu ada kaitannya dengan surat di tangan Aeus. Tepat sekali, upacara itu akan diadakan di lapangan utama akademi Supernova kota Adaroth ini.
Kabar baiknya dia tidak perlu seperti pelajar di akademi militer Supernova satunya yang perlu untuk terbang kesini menghadiri upacara. Mungkin jumlah mereka ada dua puluh jika semuanya masih hidup saat pertempuran final, Aeus tidak ingat.
Kalau untuk pelajar disini dia ingat ada empat belas orang termasuk dirinya, ditambah ada enam orang mati. Tetapi untuk yang sudah gugur tetap akan ada di upacara, bukan wujud hantu tentunya melainkan gambar diri orang tersebut.
Aeus tetap saja kurang yakin untuk hadir disana, dia selalu merasa kurang pantas. Akan tetapi misalnya dia tidak datang di acara yang dihadiri oleh orang nomor satu Aproud dan juga orang terkuat yang memimpin pasukan Supernova akan dilihat bagaimana dia? Seorang pmberontak? terlalu berlebihan, mungkin prajurit lancang, katakan saja begitu.
Pada akhirnya dia memang akan hadir disana, Aeus berikrar dalam hati akan melakukan dan melupakannya.
Di lapangan hijau luas yang berada di tengah akademi militer Supernova, disana diberlangsungkan upacara di pagi hari yang syukurnya sangat mendukung.
Untuk pesisir lapangan tengah diramaikan dari kalangan penonton yaitu pelajar akademi, masyarakat, wartawan, dan juga beberapa tentara Supernova sebagai keamanan. Kalau untuk di tengah lapangan sendiri berdiri panggung putih persegi panjang mewah untuk menampung jajaran orang-orang penting Aproud. Tepat di depan panggung berbaris para prajurit yang telah berjuang melawan pemberontak, kini mereka akan diberi imbalan setimpal atas kontribusi itu.
Prajurit senior Supernova berbaris rapi tanpa cacat disamping kiri. Sedangkan untuk para pejuang yang masih menjadi pelajar diberikan kemudahan yaitu duduk di bangku yang telah disediakan karena mereka masih dianggap tidak akan kuat berdiri selama berjam-jam kedepan saat upacara penghargaan berlangsung. Lalu ada kursi lain lagi yang kali ini tidak diisi seseorang melainkan bingkai berisi foto tentara yang telah gugur.
"Sayapmu patah Raven?" tanya Tiffany yang duduk di belakangnya.
"Dia gugup," suara laki-laki dari sebelah kanan membuat Aeus penasaran sehingga berbalik menoleh kebelakang dan melihat Chad.
Aeus ingat dia adalah mutan, dia memiliki kekuatan untuk mendeteksi perasaan atau semacam itulah. Dia hendak protes pada Tom namun sadar bahwa mutan itu tidaklah salah. Dia benar, seratus persen tepat sasaran.
"Tentu saja gugup dia seharusnya tidak berada disini." Nada bicara ketus itu, siapa lagi kalau bukan Mitohara yang sialnya bersebalahan dengan Aeus. "Aku benar bukan?"
Biarkan mereka bicara sesukanya Aeus dalam hati. Upacara ini tidak berlansung selamanya, bertahanlah. Aeus menarik napas dan duduk tegak kali ini.
Dugaan Aeus salah lagi, Upacara yang seharusnya dimulai delapan lewat tiga puluh ternyata baru saja dimulai pukul sembilan karena raja Aproud telat hadir. Aeus sadar hanya tiga puluh menit akan tetapi kegugupannya bukan main sehingga semenit berarti sejam baginya.
Raja dari Aproud itu berdiri di mimbar, mengenakan setelan jas putih rapi dengan dasi panjang hitam. Umur dia sekitar enam puluh tahun lebih, terlihat dari beberapa keriput di wajah bewarna tan miliknya. Rambutnya coklat hampir botak dan kedua bola matanya bewarna hitam pekat. Itulah pemandangan dari orang nomor satu Aproud ini, raja Gellias ke tujuh.
Dengan segala faktor menua dia tetap terlihat sehat saat ini, kira-kira dia masih bisa memerintah negara ini beberapa tahun lagi.
Upacara dimulai dari sambutan dari orang-orang penting, disusul pidato mengenai perjuangan para Supernova, dan kemudian penyebutan nama dari para pejuang yang berjumlah lebih dari dua ratus yang hidup dan puluhan yang mati. Aeus kira itu berlebihan tetapi akan lebih rumit lagi jika memanggil tiap pejuang maju dan memberikan pin.
Raja bersikeras menyebut nama setiap pejuang sendirian. Dia memulai dari nama dari anggota senior dan setelah lewat setengah jam sampailah pada nama para pelajar.
"Doukhart Rezo," ucap raja Gellias dibalas berdiri dengan membungkuk rendah menghormati oleh pelajar berkulit hitam dengan mata biru.
"Mitohara Karen." Gadis blasteran Aproud dan jepang itu berdiri dan melakukan penghormatan. Seketika Aeus berhenti bernapas karena selanjutnya adalah gilirannya.
"Aeus." Dengan gemetar Aeus berdiri kemudian membungkuk rendah memberi penghormatan, saat itu juga jantung Aeus terdengar hendak meledak.
"Rudolf Eforze," kata raja.
Aeus langsung duduk disusul laki-laki disampingnya berdiri melakukan penghormatan. Kemudian nama selanjutnya disebutkan.
Sudah berakhir, sekarang Aeus bisa kembali bernapas. Dia akhirnya bisa menghadapinya.
Yang terakhir disebut adalah para pejuang yang telah gugur, setiap nama yang keluar dari mulut raja pasti selalu saja terdengar isakan nyaring dari arah penonton. Keluarga dan kerabat dekat, merekalah yang benar-benar sedih di hari perayaan seperti ini.
Kemudian Aeus teringat kembali salah satu nama kosong. Owen seharusnya ada namun dia pergi saat seperti saat ini. Aeus berniat mencarinya setelah acara usai.
Tanah di kuburan tentara memang tidak rata, terlihat seperti perbukitan rendah namun akses kesana cukup mudah karena jalan berbatunya rapi. Di tengah tanah orang mati terdapat pohon besar yang berfungsi sebagai naungan berdiri satu orang disana yang sedang minum soda langsung dari botolnya.
Aeus mendekati orang yang bertubuh agak gempal itu yang tengah termenung memperhatikan para peziarah di beberapa nisan.
"Kenapa kau tidak hadir di upacara itu?" Aeus bertanya.
"Aku terlambat," jawab Owen.
Alasan, semua orang tahu itu, bahkan Aeus juga sadar. "Kau mengatakan pelajar yang gugur tidak mendapat tempat disini tetapi kulihat jasad mereka dibawa kesini."
Owen mengangkat botol soda itu lalu meminumnya, menyapu dagunya dengan lengan bajunya, setelah selesai dia mulai bicara, "pejuang butuh dorongan bukan jaminan."
Aeus tersenyum hambar. Dia tahu bahwa Owen sedih saat ini walau ekspresinya seperti biasa. Mantan komando di kota Jeldan ini begitu pintar menyembunyikan rasa sakit yang seharusnya dia tidak tanggung sendiri.
"Aku boleh bertanya," ucap Aeus. "Saat kau memberi kode nama padaku, mengapa kau memberi nama Raven?"
Owen melirik Aeus sekejap. "Yah entahlah, rambut dan matamu hitam pekat, seperti burung Raven."
"Tetapi... mengapa Raven?" tanya Aeus lagi karena ada yang janggal di hatinya.
Owen menghela napas. "Sudah kukatakan aku juga tidak tahu, aku mengatakan apa yang terlintas di otakku saja."
Bicara tentang kebetulan dia teringat akan Starla.
Tujuan Starla memang aneh dari awal, apalagi mengenai sesuatu bernama Hypernova. Aeus berdoa itu semoga itu hal baik, namun jika buruk dia tidak bisa membayangkannya sekarang.
Tapi yang penting, pertempuran telah berakhir. Semoga. Tapi ingatan mengenai kejadian itu benar-benar tidak bisa dilupakan kekejamannya. Kematian memang kadang terasa manis jika pihak musuh yang merasakan, akan tetapi nyawa teman seperjuangan yang telah pergi bagaimanapun tidak bisa digantikan. Artinya membunuh memang bukanlah jalan terbaik.
Aeus mendapat pencerahan, dia tahu langkah apa yang akan dia ambil nanti. Untuk sekarang dia hanya harus menunggu bersama Owen, melakukan penghormatan terakhir.
Di perbukitan tidak jauh dari tanah pemakanan. Dua orang berjubah putih tengah mengintai Aeus beserta Owen. Tidak terlalu tepat sebenarnya menyebut mengintai karena hanya salah satu dari mereka saja yang memegang sebuah binokular hijau sedangkan seorang lagi duduk berjongkok di rerumputan bukit sedang menulis di buku bersampul cokelat.
Yang memegang teropong adalah seorang perempuan berumur delapan belas tahun, berambut panjang dikuncir dua kebelakang sudah memerhatikan Aeus dan Owen begitu lama. Entah apa tujuannya.
"Saat mereka kira permainan telah berakhir, ini baru saja dimulai." Gadis itu masih senantiasa mengintai.
"Hn," balas malas seorang lagi yakni laki-laki berusia tujuh belas tahun berambut hitam belah tengah yang masih terpaku pada buku catatan yang ditulisnya.
"Kuharap yang lain juga berhasil," ucap perempuan itu lagi.
"Hn," singkat laki-laki tadi masih saja sibuk menggores pena ke buku catatan itu.
Akhirnya si wanita menjadi kesal dan berbalik menghadap laki-laki yang saat ini masih saja sibuk menulis.
"Kita ditugaskan bersama untuk mengawasi disini, kau dengar tidak!?" Suara perempuan itu mulai meninggi.
Nampaknya ketenangan dan kefokusan laki-laki ini harus diberi apresiasi tinggi. Amarah gadis tadi hanya dia anggap angin lewat, daripada takut, dia tetap menulis tenang.
"Dasar bodoh, ku laporkan pada Master baru tahu kau!"
Hanya perlu ucapan itu agar laki-laki itu kembali ke dunia nyata. "Hei jangan begitu! tugas ini mudah, hanya mengintai kau tidak perlu bantuanku bukan?"
Gadis itu menarik mundur mukanya untuk memperhatikan wajah lawan bicaranya, dengan penuh konsentrasi mencari kata balasan. "Memang benar, tapi bukan berarti kau bisa berleha-leha. Dasar!"
Laki-laki itu berdiri lalu meregangkan tubuhnya."Tugas kita sudah selesai bukan? Ayo kembali." Buku catatan bersampul coklat dia apit antara lengan dan dadanya.
"Baiklah." Gadis berkuncir dua itu mengangkat tangan memperhatikan jam tangan yang berdesain aneh karena ukurannya lebih besar dari arloji biasanya, alat itu bewarna emas bercampur merah serta untuk penunjuk waktu yang seharusnya inti dari jam malah tidak ada sama sekali. Hanya ada layar persegi kosong di atas alat itu.
Laki-laki itu juga mengangkat tangannya memperhatikan jam yang serupa dengan sang gadis. Bersama-sama mereka menakan tombol lalu memutar poros jam itu sehingga mengeluarkan bunyi desing halus beseta kilatan kecil listrik biru.
"Kau siap?" tanya laki-laki itu.
"Jangan banyak tanya," ucap si gadis dengan apatis.
Laki-laki itu hanya mengangkat bahu tanda menyerah. Kilatan listrik tadi bertambah banyak dan cepat diikuti suara desingan kian nyaring. Tak lama mereka dibungkus bola hitam yang muncul ditengah-tengah mereka, kemudian bola hitam yang memakan mereka tadi mengecil sampai ukuran atom dan menghilang. Mereka telah pergi.
saya akui memang bukan akhir yang baik tapi yah setidaknya ada beberapa hal penting disini. dan satu hal lagi, ini adalah chapter terakhir, untuk kelanjutannya masih belum saya buat, tapi tentunya cerita ini masih bersambung. Mungkin jika pembaca mencapai 10k dan likenya 500 mungkin saya akan bekerja lebih cepat hehehe. saya rasa hanya itu saja, terima kasih telah membaca, saya Luciver salam.