SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Kode



Tidak mendapatkan apa-apa membuat Farhaz sedikit kesal. Terkadang seseorang bisa sangat sentimental karena sesuatu sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. Mau bagaimana lagi, Aeus tidak belajar seperti Lucos dalam pengendalian sikap.


Sia-sia saja.


Dia kembali ke pangkalan militer menuju ke ruang interogasi. Dia memakai lift bersamaan dengan dua Lucos yang lebih tua darinya namun jabatannya hampir sama. Mereka menuju lantai sepuluh bawah tanah.


"Baru saja terjadi kasus bunuh diri di jalan dua belas," ucap seorang Lucos yang lebih tua pada teman disampingnya.


"Aku sudah mendengar itu juga, bunuh diri yang aneh bukan? Mengapa menulis kata 'Supernova Pembunuh'? Dia lahir disini, tumbuh besar disini, apakah keluarganya adalah salah satu Pemberontak?" balas Lucos disampingnya ikut penasaran.


"Woah kau masih belum tahu? Pria yang tewas bunuh diri ini tidak memiliki satu pun keanehan, itulah masalahnya. Keluarga dia utuh, dia tidak tersangka sebagai pemberontak, dan satu hal lagi, dia sama sekali tidak gila. Istrinya mengatakan suaminya itu agak berbeda, tapi dia sangat amat yakin bahwa masih waras. Apa yang terjadi aku juga tidak tahu." Setelah mengatakan itu mereka berdua terdiam.


Farhaz yang sedari tadi berada di belakang mereka mendengarkan langsung pembicaraan itu dan dia sedikit tertarik. Sudah wajar sebagai Lucos harus memiliki pikiran yang luas dan tajam, biasanya masalah-masalah kriminal yang diurus pada polisi juga dikerjakan oleh Lucos sebagai permainan, mereka hanya menganalisa dan memberi fakta sesungguhnya pada kepolisian. Seingatnya dia sudah melakukannya empat atau lima kali dan semuannya sangat membantu aparat keamanan. Itu jumlah kecil dibandingkan Unvon lain, tetapi dia melakukan karena ada sesuatu, sesuatu yang baginya menyenangkan.


Lift berhenti pintu bergeser dan koridor bewarna abu-abu dari beton langsung menyambut ketiga Lucos ini dalam keadaan sepi.


Dua Lucos di depan Farhaz melangkah pergi begitu juga dengan Farhaz yang sengaja menjaga jarak dengan mereka karena butuh kefokusannya dalam berpikir. Bukan hanya tentang tadi tapi banyak hal sebenarnya, seperti jangka waktu ******* menguasai amerika serikat dan juga masalah utamanya yakni mencari tahu apa yang terjadi dengan Unvon bernama Dylan. Karena sejauh ini yang dia temui hanya jalan buntu.


Dia sampai di depan ruangan bertuliskan kamar tahanan tingkat pertama yang dijaga dua Xordas. Para penjaga itu seperti patung. Bahkan sekilas tidak terlihat bernapas, akan tetapi itu sebenarnya karena dadanya tertutupi rompi anti peluru hitam tebal dan wajahnya tertutup helm balistik biru gelap menutupi seluruh kepala.


Tanpa banyak bicara Farhaz mengeluarkan kartu pengenal militernya dan mengangkat wajah tepat ke atas pintu masuk dimana ada kamera disana untuk mengidentifikasi status dan urusannya di dalam sana. Beberapa detik kemudian setelah bunyi bip bip ringan pintu bergeser membuka dan Lucos itu langsung masuk.


Dia berjalan lebih dalam lagi melewati lorong panjang polos yang padahal banyak jebakan tertidur disana andai dia dianggap musuh, perangkap itu sangat mematikan dan selalu diganti setiap bulannya kalau menurut informasi antar Lucos yang tersebar. Dia berjalan dengan percaya diri seperti biasa.


Langkahnya berhenti di sebuah ruangan luas berbentuk lingkaran dengan enam kamar bernuansa putih yang bersebalahan tiap di dindingnya. Ini adalah ruangan spesial untuk istirahat bagi tahanan spesial yang hendak diinterogasi, dengan pembatas berupa kaca sehingga segala gerak-geriknya bisa dilihat langsung. Karena dinamakan tempat istimewa berarti fasilitasnya cukup lengkap, ada ranjang serta selimut, ada pendingin ruangan, dan ada televisi yang senantiasa menghibur kalau tawanan merasa bosan. Saat ini kenyamanan itu dimiliki satu orang saja.


"Ah Farhaz," ucap seorang Lucos laki-laki berumur dua puluh tiga tahun dengan rambut pirang bergaya belah tengah dengan kulit bewarna putih pucat dan mata coklat. "Apakah kau menemukan informasi mengenai Dylan?"


Dengan membuang wajah Farhaz menjawab dengan kesal. "Belum."


"Ah begitu ya," kata Lucos tadi lemas.


Lucos yang berdiri Farhaz ini adalah Justin, dia lebih tua dan ukuran tubuhnya lebih tinggi sekepala dari Farhaz namun sikapnya kadang masih mengecewakan. Untuk informasi tambahan dia juga lulus terlambat satu tahun di akademi sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa dia sudah sering mengecewakan.


"Lydia," ucap Justin lagi kearah lorong di belakang Farhaz.


Seorang Lucos perempuan berjalan dengan angkuh kearah mereka. Perempuan itu memiliki ciri mata bewarna biru, berambut hitam pendek diikat, dan berkulit putih. Tingginya kira-kira sedikit lebih tinggi dari pada Farhaz. Dia datang dan langsung memandangi dua sosok lelaki di depannya berkali-kali, meminta dirinya di tanggapi.


Dengan cepat Justin bertanya, "bagaimana duel Supernova tadi?"


Gadis bernama Lydia itu hanya menggangkat bahu. "Aku membunuh semua Xordas miliku dan susunan Unvonku salah sasaran. Intinya adalah aku gagal." Kalimat gadis itu sama sekali terdengar tidak sedih atau marah melainkan tidak peduli.


Mendengar itu membuat Farhaz sedikit terkekeh. Duel Supernova pada dasarnya adalah latihan simulasi yakni menggunakan Unvon dan Xordas virtual. Seperti permainan catur, Lucos memilih konstelasi pemaggilan dan Xordas memakainya, dalam permainan ini pemainnya adalah Lucos melawan Lucos, walau sebuah hiburan tetap saja dibutuhkan strategi kuat untuk memenangkannya. Yang lucu bagi Farhaz adalah seharusnya Lydia bisa menang mengingat menciptakan konstelasi pemanggilan membuat siasat adalah pondasi utama seorang Lucos. Kemenangan harus diraih nyata atau sekedar permainan. Tetapi dia tidak mau protes lebih banyak karena dia tahu Lydia tidak akan senang.


"Bagaimana perkembangan kasus kita?" tanya Lydia sesekali melirik tajam ke arah Farhaz.


Justin menjawabnya dengan lesu. Dia pasti berharap besar untuk bisa memecahkan misteri ini karena ini adalah misi perdana baginya di jabatan Letnan atau Supernova juga sebut Rigil.


"Bisakah aku bertanya dengan Dylan?" tanya Farhaz memandangi salah satu sel dimana seorang pemuda tengah berbaring tidak bergerak sedikit pun. Orang lain pasti akan mengira dia tertidur, tetapi sebenarnya tidak, dia hanya berbaring seharian di kamar jika tidak ada kepentingan. Kini Farhaz akan beri dia kepentingan itu.


"Silahkan saja," ucap Justin menuju ke meja persegi dengan empat kursi ditengah ruangan. "Dia selalu siap saat kita bertanya, dan jawabannya juga selalu sama."


Farhaz melangkah ke kiri menuju sel Dylan. Sebelum masuk dia meletakan telapak tangan pada mesin pembaca sidik jari. Setelah proses selesai pintu terbuka dan pemuda yang dulunya adalah Unvon—tidak bisa disebut Unvon karena Stardet dalam dirinya hilang—langsung saja bangun.


Farhaz duduk di kursi yang tersedia menghadap Dylan yang duduk tegak di ranjang membalas tatapan sang Supernova. Mereka terdiam. Farhaz menganilisa perilaku tahanannya, dan Dylan menunggu pertanyaan dengan patuh. Persis seperti sebelum-sebelumnya.


"Aku hendak bertanya sesuatu Dylan, lagi," ucap Farhaz akhirnya.


"Silahkan saja, anda bisa bertanya apa saja," ucapan Dylan terhenti. "Tapi saya harus beritahu sesuatu, kalau anda ingin memanggil saya Dylan, silahkan saja namun kalau diijinkan untuk bertertus terang nama saya sebenarnya bukanlah Dylan tetapi Jack dan saya bukan Supernova."


Informasi semacam itu tidak berguna bagi Farhaz. Segala hal telah dia pikirkan bagaimana Stardet dalam tubuh Unvon bisa di keluarkan oleh tangan orang-orang tidak berpengalaman? Operasi itu sangat sulit, Farhaz sudah berulang kali melihatnya. Tapi mungkin saja penculik yang mana masih dugaan adalah ******* telah mengetahui rahasia pembedahan saat pemberontakan terjadi. Namun keganjilan lain timbul, bekas luka di punggung sama sekali tidak ada. Bagaimana caranya? Seakan orang di depannya ini memang bukan Dylan. Tapi jika penculik tahu caranya untuk melakukan itu, sebenarnya untuk apa? Walau sudah bisa dicabut, alat canggih Supernova itu tidak bisa digunakan sembarangan, kode DNA yang tertanam pada Stardet jika dipaksakan akan membunuh sendiri inang tersebut.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud dari semua ini? Untuk pertama kali, Farhaz frustasi dalam teka-teki.


Setelah sudah bermuram durja di atap gedung akademi dia kembali lagi di siang hari ke pangkalan Supernova untuk melaksanakan tugasnya yakni membersihkan barak tempat dimana tentara istirahat yang berisi sepuluh ranjang sederhana bertingkat. Ini adalah tempat biasanya tentara bersiap bertugas atau baru saja pulang dari misi dan tidak bisa kerumah.


Tempat ini termasuk sepi karena hanya dihuni barang dari satu orang saja yang berada di ranjang paling pojok. Mungkin karena banyak yang sudah berangkat menjawab panggilan jiwa di medan perang sana. Tanpa menunggu waktu bertambah lebih banyak lagi dia langsung mengambil sapu, pel, dan ember di lemari ujung tengah ruangan.


Dia melaksanakan tugasnnya dengan bagus dan cepat. Dia menyapu dari sudut ke sudut, lalu mengepel keseluruhan lantai. Ini tugas sederhana, tugas yang mudah baginya yang dikerjakannya dulu di panti asuhan.


Setelah selesai mengerjakan tugasnya, dia ke ruangan dari Kapten Jonathan Aeus berdiri mendengarkan penjelasan apapun yang keluar dari mulut atasannya itu. Semua hal. Baik dan buruk jika itu kenyataannya.


"Mereka masih hidup?" tanya Aeus memastikan.


Kapten Jonathan yang berada di mejanya menganggukan kepala dengan pelan. "Tetapi hanya Diana dan beberapa orang lain yang terlihat. Tentata nasional Iran masih melakukan pengintaian."


"Berarti akan ada misi penyelamatan?" tanya Aeus kembali.


"Misi pembantaian Aeus, setelah menyelamatkan sandera, kita dan tentara Iran akan menghancurkan markas ******* terbesar di Iran itu."


"Aku ikut," sahut Aeus langsung dengan yakin.


Jonathan berdiri untuk menatap Aeus lebih dalam lagi. "Kau benar-benar ingin? Kuberitahu misi ini melawan ******* di wilayah mereka sendiri. Ini misi tingkat tinggi."


Aeus sudah berpikir untuk itu. Dia memang ragu, tetapi dia merasa ini adalah satu-satunya kesempatan untuk dia bisa menolong teman-temannya. "Aku akan tetap ikut kapten. Lagi pula saat ini kita kekurangan tentara bukan? Apalagi saat ini ada insiden di Washington DC."


Tentu Aeus benar, dan Jonathan juga sadar akan hal itu. "Aku tahu kau akan mengatakan itu, tapi kau sudah kuperingatkan Aeus. Melaporlah lagi nanti dan tunggu kabar berikutnya."


Mendengar itu membuat dirinya senang karena bisa kembali melihat temannya dan takut karena dia akan melihat luka, darah dan kematian. Namun kali ini berbeda, dia sudah melewati hal-hal buruk ditambah kemampuannya sudah berkembang pesat. Dia tidak akan melihat jiwa melayang, dia yang akan melakukannya. Dia harus yakin. Benar-benar yakin.


Jatson memasuki kantor dari David tanpa mengetuk. Dia sedang buru-buru saat itu.


"Aku sudah menguatkan perbatasan kita, dan seluruh kota Aproud sembilan puluh persen sudah melaporkan tanda-tanda penyusup tidak ada," ucap Jatson di ambang pintu kepada David yang duduk tenang menghadap ke dinding kaca untuk melihat hiruk pikik malam hadi Adaroth dibawah sana.


"Bagaimana sepuluh persennya lagi?" tanya David masih menatap pemandangan kota.


"Masih proses," ucap Jatson yang melangkah masuk ke dalam ruangan lalu duduk di depan meja kerja David yang pemililnya masih saja tidak menatapnya. "Bagaimana konferensi antar negara yang akan kita lakukan mengenai masalah ini?"


Akhirnya David memutar kursinya untuk menghadap tentara setara dengannya itu. Jatson menatap mata hitam David dengan tatapan tegas sambil menyilangkan tangan di dadanya.


"Dalam tiga hari kita akan melaksakan rapat untuk membahas musibah yang terjadi di Amerika Serikat disini. Konferensi itu akan diadakan di Aproud. Itu waktu tersingkat yang telah di setujui hampir seluruh negara."


David diam sesaat berpikir kemudian tidak lama berkata, "kau pasti juga memikirkannya bukan? Kemungkinan yang akan terjadi nanti saat petinggi berkumpul di satu tempat yang sama? Dalam kasus ini adalah kota kita, Aproud."


"Tentu saja," ucap Jatson langsung. "Aku sudah lakukan semua protokol keamanan negara. Kita tidak akan kecolongan kali ini."


Tiba-tiba saja David tersenyum mengejek namun langsung dihapus secepat datang. "Kali ini kau harus benar-benar yakin."


Jatson tahu dirinya sedang direndahkan sekarang. Ini bukan pertama kali baginya. Memang benar kalau pemberontakan waktu lalu bisa dikatakan kesalahannya karena dia adalah Jendral yang bertanggung jawab dalam pengamanan kota. Akan tetapi dia sudah berusaha semaksimal mungkin saat itu, tidak ada yang bisa menebak masa depan dan nyatanya Supernova juga punya kelemahan. Apa yang terjadi sudah dia pasak dengan pasak yang tertajam di hatinya sendiri agar dia tidak lupa rasa sakit itu selamanya. Rasa sakit semua yang menderita.


"Bagaimana dengan menteri pertahanan Amerika Serikat? Jaringan di Washington DC benar-benar di blokir. Tidak ada yang bisa masuk atau keluar selain udara disana."


"Kau tidak perlu khawatir," balas David dengan santai. "Elmich sudah mengatasinya dengan menggunakan alat konstelasi pemanggilan telinga Lupus. Tuan Mattis menggunakan telepati untuk berkomunikasi dengan petinggi yang terjebak."


"Benarkah? Bagus kalau begitu. Tetapi aku rasa ******* akan mencoba mengantisipasi itu," sahut Jatson.


"Dan itu berkatmu." Dengan ucapan David, Jatson sudah mulai merasa tersinggung. Seragam Xordas Jatson mulai mengetat sebab seluruh badannya mengencang berusaha menahan sesuatu di dalam hatinya.


"Kau benar sekali," balas Jatson masih menjaga nada bicaranya. "Apakah ada informasi penting yang dikatakan tuan menteri pertahan amerika pada Supernova?" Dia sengaja tidak menggunakan kata kita dalam kalimat.


Dengan santai David menjawab, "kurasa tuan Mattis masih menyembunyikan sesuatu dan sayangnya kita tidak bisa merekam panggilan telepati dia dan pejabat Amerika Serikat disana. Namun dia mengatakan satu hal menarik yaitu mengenai rudal nuklir Amerika Serikat."


Jatson tidak terkejut. Bukan rahasia lagi Amerika Serikat memiliki rudal nuklir dalam jumlah besar yang tersimpan di persatuan NATO mereka. ******* telah menunggangi puncak kepala dari sebuah monster terkuat di dunia selain Supernova. Sekarang mereka mencoba menjadikannya hewan perang.


"Kode keamanan pasti akan memperlambat mereka," ucap Jatson menatap atas meja David.


"Oh kau benar. Tapi kurasa ... tidak," ucap David menautkan tanganya di depan wajah sambil terus menatap Jatson. Sebuah tatapan dingin. "Mereka sudah memecahkan kodenya."


*****


Saya datang membawa kabar tidak mengenakan sebenarnya. Setelah proses pertimbangan saya rasa akan ada perubahan pada cerita, bukan untuk alur ceritanya, cerita akan masih sama seperti yang telah dibaca. Yang berubah adalah dari segi peralatan yang dipakai, dulunya adalah alat konstelasi sekarang saya batalkan jadi cuma teknologi canggih jaman sekarang. Untuk penejelasan lebih lanjut akan saya letakan di komen nanti. Yang saya ingin kalian tahu adalah ceritanya sama sekali tidak berubah, hanya perubahan di alat prototipe dulu.


Maaf saya menciptakan kesalahan seperti ini. Saya harap pembaca akan mengerti.


Luciver, salam...