
"A-apa maksudmu." Terheran nampaknya tidak cukup menggambarkan perasaan Aeus. Apa yang baru saja dia dengar terasa... tidak masuk akal.
"Profesor Aldor memang dianggap penciptanya Stardet, tapi Stardet ditemukan di masa depan beberapa dekade dari sekarang."
Percakapan ini terlalu berat untuk Aeus ikuti tapi entah kenapa dia harus tahu. "Mesin waktu itu benar-benar nyata? Luar biasa." Dia menggeleng takjub. "Jadi kau disini untuk memperbaiki masa depan?"
"Salah," jawab Starla dingin. Wajahnya kini mulai terlihat sedikit marah, mungkin karena seharusnya dia tidak membicarakan ini. "Masa depan tidak bisa diubah, konsep waktu itu seperti ini. Saat kau berada di tahun sekarang dan kau pergi ke masa lalu dan mengubah kejadian disana maka itulah masa depan dunia itu, dunia awalmu yaitu tahun ini masih tetap akan sama."
Aeus merasakan sikap Starla sudah benar-benar berubah, namun dia hanya kecerdasan buatan, emosi itu tidak berarti padanya tapi tetap saja Aeus merasa sedikit takut. "Bisa kau jelaskan lebih sederhana lagi," ucapnya karena masih bingung.
"Anggap saja waktu yang kau jalani saat ini juga adalah sebuah tali, kau ke masa lalu berarti kembali ke satu titik, masa depan akan terus berjalan, juga masa lalu yang kau tinggali akan tetap sama, jika kau mengubah kejadian apapun itu maka anggap saja tali itu akan terbelah menjadi satu realitas lain lagi, tali baru, dunia baru."
"Maksudmu..."
"Kembali ke masa lalu tidak mengubah masa depan, hanya akan menciptakan dunia baru bagi sang penjelajah. Dunia paralel."
Permasalahan waktu ini ternyata juga memakan waktu bagi Aeus untuk memahami. Dia sudah cukup mendapat gambaran besarnya, tapi dia perlu sedikit hal lagi. "Jadi Stardet adalah benda dari masa depan?"
"Itu ciptaan dari masa milikmu sekarang, tapi itu rancangan dari masa depan yang dibawa penjelajah untuk diciptakan di era ini."
"Ada penjelajah waktu? Bisa aku bertemu dengannya?" Entah kenapa Aeus bertanya seperti itu.
"Tidak," sahut Starla dingin.
"Kalau kau dari masa depan di semesta lain... apa tujuanmu? Kau sendiri bilang ke masa lalu tidak bisa mengubah masa depan."
"Tapi aku bisa mengubah masa lalu kalian." Kini perkataan Starla sudah mulai tidak menusuk lagi.
"Untuk apa?"
"Menjadikannya lebih baik, tentu saja. Kami ingin menciptakan semesta yang lebih baik. Itulah mengapa kami berikan kalian senjata, kami berikan kalian kekuatan untuk melindungi dan menjaga umat manusia dari segala masalah. Kami hanya ingin membantu."
Aeus tertegun, maksud Starla memang baik. "Lalu kenapa dengan duniamu?"
"Itu...." Starla menunduk ragu. "Tidak bisa dijelaskan, kami hancur karena berperang antar sesama, dengan senjata mengerikannya masing-masing kami dapat menghancurkan satu buah planet. Dengan mudah. Saat kami sadar bahwa itu sia-sia, tapi kami sudah terlambat."
Bisakah sebuah perangkat lunak tidak berjiwa sedih? Tapi itulah yanh Aeus lihat sekarang. "Aku minta maaf."
"Tidak masalah, sekarang kau harus percaya bahwa tujuanku adalah menciptakan semesta yang lebih baik. Seperti kataku, kau harus mengatakan pada raja bahwa Hypernova sudah dekat."
Jika yang dikatakan Starla tentang mesin waktu beserta teorinya itu memang benar Aeus tidak yakin pada orang lain yang mendengarkan cerita itu. Mungkin di kesempatan lain dia akan menemukan cara. Entah bagaimana yang pasti itu akan sulit.
"Kalau begitu sampai jumpa, Starla."
Dalam ruangan yang berada di jantung dari pangkalan militer Adaroth dengan model bentuk segi enam warna abu-abu hitam di dinding, berlantai putih keramik dan bagian langit-langitnya melukiskan sebuah luar angkasa tanpa batas lengkap dengan bintang serta planet, bahkan jika diperhtikan lagi benda-benda di ruang hampa itu seakan bergerak perlahan, tentu itu tidak benar berada disana tetapi gambar pemandangan itu nyata dikirim langsung dari satelit Aproud lalu diterapkan disini. Di ruangan ini juga terdapat meja lebar yang mengikuti bentuk heksagon tempat ini. Disanalah David sang Jenderal Xordas duduk bersama dengan tiga lelaki tua berseragam hitam bergaris motif emas lengkap dengan jubah yang panjang.
Ada lima lagi bangku kosong yang bewarna disesuaikan jenis prajurit. Dua bangku Xordas dan Tiga bangku Unvon tidak berisi. Dari suasana yang hening nampaknga merkas masih menunggu.
"Maaf aku terlambat," ucap seorang pria dua puluh tahun berambut warna merah agak kusut dengan seragam sama seperti yang dikenan David, dia adalah Jenderal Xordas, Jatson.
Dibelakang Jatson berjalan seorang perempuan mengikuti dia, Natalie, yang kali ini sudah resmi menjadi wakilnya.
"Ruangan ini khusus untuk para Jenderal Jatson, apa alasan dia kemari?" sergah David tanpa menatap Jatson karena dirinya sedang melihat ke depan tepatnya di sebrang, dimana tiga Jendral Lucos duduk dengan tenang.
"Maafkan aku, tapi bolehkan aku bertanya apakah rapat ini akan lama? Aku memiliki beberapa urusan penting, kalau lama akan kusuruh Natalie mengurusnya sekarang."
"Rapat ini sangat penting Jatson," ucap David masih tidak memandangi langsung Jatson.
Waktu terus berjalan kemudian datang lagi seorang berseragam Unvon berumur empat puluh tahun, berwajah persegi dengan kumis hitam tebal dan rambut gelap yang di beberapa sisi sudah memutih. "Maaf terlambat tuan-tuan, aku harus mengurus istriku yang terkena kanker parah hari ini."
Semua orang disana memang awalnya diam, akan tetapi saat mendengar itu atmosfer disana tiba-tiba berubah.
"Hanya bercanda," ucap Jenderal Unvon itu terkekeh pelan. Dia berjalan mendekati meja, menarik kursi perak lalu duduk.
"Kau tidak pernah berubah Leodas." Lucos delapan puluh sembilan tahun yang berwajah oval berambut putih lurus sepanjang leher menatap Unvon bernama Leodas tadi dengan satu mata birunya karena satunya lagi ditutupi perban. "Selalu dengan lawakan yang tidak lucu sedikitpun."
"Jika lucu aku tidak bekerja disini Jenderal Elmich," jawab Leodas tersenyum simpul. "Dan maaf untuk interupsinya, Jenderal Maggie dan John bilang tidak bisa hadir, aku akan mewakili mereka sebagai salah satu Jenderal Unvon."
Semua mengangguk mengerti. Memang tidak mudah mengumpulkan orang-orang penting ini secara mendadak.
"Jenderal Doug nampaknya tidak bisa hadir karena ada urusan." Kali ini Jatson bicara.
"Itu berarti semua orang sudah berkumpul, baiklah akan ku mulai rapat mendadak ini." David langsung berdiri. Ditangannya ada suatu alat persegi dipenuhi dengan tombol, sebuah remot. Dia menekan salah satunya.
Bunyi bip terdengar kemudian tepat ditengah meja muncul hologram setengah badan seorang pria tiga puluh lima tahun, berkulit putih, berkumis dan janggut tipis. Disampingnya dengan jelas melayang sebuah tulisan Anderson Wright serta data lainnya.
"Dia seorang pengurus penting dalam perdagangan manusia, timku baru saja menangkap dia beberapa jam lalu dan melakukan interogasi." David menautkan tangganya di bawah ikat pinggang. "Seperti diketahui incaran utama Supernova adalah salah satu dari tiga ketua besar ******* internasional yakni Asadun, dia memiliki adik bernama Malic yang berbisnis ilegal perdangan manusia, menurut informasi yang kudapat dari Jenderal Elmich, Anderson ini bekerja dibawah naungan Malic langsung."
Semua disana mendengarkan dengan seksama kemudian ada yang bertanya.
"Jadi apa yang kau dapatkan Jenderal David?" tanya Lucos disamping kiri Elmich, lelaki yang telah berusia sembilan puluh dua tahun memiliki rambut putih hampir botak dengan mata beriris coklat yang sudah agak sipit dengan kelopak besar tanda tidak tahan lagi pada cahaya.
"Tidak banyak Jenderal Mora tetapi bagian pentingnya sudah berhasil diketahui, kami mendapat informasi mengenai kediaman Malic di kota palestina dan informasi tambahan lagi tentang area perdagangan manusia," jawab David tanpa ekspresi senang walau untuk kerja kerasnya dia patut dipuji. "Tapi informasi itu sedang ditindak lanjuti langsung. Yang aku herankan adalah dalam operasi ini kami mendapat tiga orang tentara amerika yang tewas dalam misi beberapa tahun menurut data PBB lalu kini hidup kembali diatas kapal dagang manusia."
Orang-orang disana cukup terkejut tapi mereka semua memilih diam untuk memberikan kesempatan David menjelaskan.
"Anderson sendiri perlu disiksa berat terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi yang tersambung dengan itu. Dia bilang dia diberikan oleh seorang yang nampaknya anggota C.I.A."
"Yang benar saja, C.I.A menyediakan budak? Ini lelucon?" Leodas menggelengkan kepala dengan mata tertutup.
"Kuharap memang lelucon, tapi Anderson beralasan lagi bahwa dirinya saat melakukan transaksi dia selalu memantau kliennya dan dia sadar bahwa orang itu adalah C.I.A, tapi majikannya Malic mengatakan orang yang diduga C.I.A dapat dipercaya maka anjing bisa apa selain menurut?"
"Ini masalah rumit." Jatson menyapu rambut merah kusutnya sambil terus menatap keatas meja sedang berpikir keras.
"Aku sudah tahu arah perbincangan ini David," kata Elmich datar. "Kusarankan kau untuk berhati-hati, kita tidak punya alibi kuat bahwa amerika berbisnis dengan perdangan manusia atau bekerjasama dengan *******."
"Tapi bagaimana dengan bagaimana mantan veteran yang diberikan amerika begitu saja untuk dijadikan budak? Mengapa melakukannya?" Jenderal Lucos berbadan bungkuk disamping kanan Elmich menyanggah. "Kita tahu budak itu dikirim ke kawasan timur tengah, tempat ******* internasional Cerberus bersembunyi, mungkin dengan begitu cara mereka menyelunduplan bantuan. Hanya saja kali ini mereka tertangkap basah."
Elmich tiba-tiba berdiri. Mata biru Elmich menatap mata hitam Jenderal Lucos yang baru saja bicara tadi. "Jangan tergesa-gesa dulu Alex, masalah ini nenyangkut dengan negara lain, negara yang sudah percaya membangun kerjasama dengan kita. Salah sedikit saja maka kita akan memutuskan hubungan kita, bahkan paling parah kita akan berperang karena masalah ini."
Para hadirin penting disana mengangguk setuju. Masalah ini begitu sensitif, akan tetapi juga tidak bisa diabaikan. Semua informarsi mengejutkan ini ... fakta-faktaini memang menimbulkan kemungkinan sangat aneh. Para Lucos pasti sudah berpikir ribuan kemungkinan saat ini dengan otak cemerlang mereka namun juga tetap bungkam.
"Aku akan berhati-hati," ucap David akhirnya.
"Kurasa masalah ini kita bahas di lain waktu lagi." Elmich mulai melangkah keluar dari meja dengan tertatih-tatih. "Wakil negara Filipina sedang menungguku."
*****
Saya kembali lagi, apakah ada yang menunggu cerita ini? sudah mulai paham atau malah tambah bingung? Tenang saja, misteri pasti akan terpecahkan jika kalian sabar menunggu. Dan tentunya terimakasih bagi yang udah sempat berkunjung, membaca, kasih like, dan koment. Tanggapan kalian sangat berarti bagi saya. Maaf juga tidak bisa update sering-sering karena cerita nggak akan bagus kalau cepat-cepat butuh proses kreatif yang memakan waktu, tapi jangan khawatir, saya selalu berusaha yang terbaik.
luciver, salam...